PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Akhir dan Awal


__ADS_3

Sungsang Geni mengerutkan kening, memperhatikan sekujur tubuh Welasari, dan benar, ada susuk terpasang di lehernya.


Sungsang Geni dapat merasakan, Susuk itu membuat Welasari kehilangan akalnya, sebagai balasan atas kekuatan yang dia terima.


“Dengan susuk di lehernya, kau mengendalikan tubuh wanita ini?, melihat apa yang dia lihat, dan mendengar apa yang dia dengar?” Terka Sungsang Geni.


“Kau cerdas, Putra dari Dewa Surya?” suara parau kembali terdengar, “Aku sang pembawa perubahan, kedatanganku akan menghancurkan kalian manusia serakah dan sombong.”


“Ma’afkan aku, tapi sepertinya obrolan kita tidak terlalu menarik, mengingat kau menggunakan prantara susuk itu, lain kali jika kita bertemu berbicaralah dengan pedang.” Setelah berkata demikian, Sungsang Geni melesat kearah Welasari, lalu dengan api mataharinya dia mencabut Susuk hitam yang terpasang di leher wanita itu.


Suara pekikan Welasari terdengar hingga angkasa raya, memekakan telinga binatang seisi hutan. Setelah tercabutnya susuk itu, dari tubuh Welasari keluarlah energi hitam yang membuat aura tubuhnya menjadi tenang.


“Welasari...!” ucap Mahesa, dia berlari meraih kekasihnya yang terhuyung dan akan terhempas kelantai reruntuhan.


“Kakang Mahesa, ma’afkan aku.” Welasari berkata lirih dipangkuan Mahesa, air matanya mulai membasahi pipinya yang saat ini terlihat pucat, “Jiwaku telah lama mati, namun susuk magandana menjebaku ditubuh ini. Ma’afkan aku, mereka memperalatku untuk menguasai ajian mali rupa, membunuh Lalatah Sari dan menggantikan posisinya.”


“Tidak...aku yang harus meminta ma’af karena terlalu lemah, aku tidak bisa melakukan sesuatu terhadap kampung halaman dan keluarga kita.” Mahesa membalas tangisan Welasari lebih pilu lagi, “Aku mohon jangan pergi!”


“Kau...pasti temanya Suamiku?” tanya Welasari, memaling kearah Sungsang Geni yang berdiri terpaku di belakang Mahesa.


Sungsang Geni mengangguk pelan, tapi dia tidak dapat mengatakan sesuatu yang dapat menenangkan mereka berdua.


“Kalau begitu terima kasih, karena telah menjadi teman suamiku ini, dia sedikit keras kepala, bukan?” Welasari terkekeh kecil.


“Benar, dia sedikit keras kepala.” Jawab Sungsang Geni.


“Terima kasih pula telah membebaskan jiwaku dari penderiata.....an.” napas Welasari terlihat sulit, Mahesa menyadari ini adalah waktunya, “Aku berharap akan bertemu denganmu dikehidupan selanjutnya...Suamiku.”


Setelah mengatakan demikian, Welasari menghembuskan nafasnya di pangkuan suami tercintanya. Meninggalakan penyesalan, kesedihan, dan air mata di jiwa Mahesa.


Kematian Welasari nampaknya membuat alam turut berduka, langit tiba-tiba mendung, lalu menurunkan hujan deras dari awan hitam yang menjadi saksi cinta sepasang kekasih yang terhalang takdir memilukan.

__ADS_1


Aliran air membasuh darah yang menggenang di tanah Surasena, menghanyutkan puing-puing kapal dan rumah yang hancur di Pelabuhan.


Menjagakan Surasena, bahwa perang memang selalu memakan banyak korban nyawa harta dan juga keluarga.


Susang Geni memperhatikan setiap mayat para gadis yang tergeletak di altar tumbal, 11 mayat. Sebagian tinggal tulang belulang, dengan gaun yang telah usang.


Kemudian dia mendapati tubuh yang tinggal tulang-belulang masih mengenakan kalung yang sama persis dengan kalung yang dipakai Putri Rambut Emas. Tanda Keluarga Kerajaan Surasena.


“Putri Lalatah Sari!” dia bergumam diantara derasnya air hujan.


***


Ini adalah 2 hari setelah pertarungan selesai, Surasena sedang mengadakan ritual pemakaman masal di halaman Istana Kerajaan. Ada ratusan orang yang datang, mengikuti ritual itu, sebagian besar adalah keluarga prjaurit yang telah ditinggal pergi.


Suasana masih terlihat basah karena darah, sekarang lebih basah lagi karena air mata. Mereka membakar para prajurit Tombok Tebing dan ratusan prjaurit yang menghianati Surasena, dan mengubur kesatria Surasena yang setia dalam satu liang besar.


Lakuning Banyu menamakan makam itu, Makam Derita Surasena, dia akan membangun candi di atas tanah pemakaman, sebagai penghargaan bagi prajurit yang telah berkorban demi Negri Surasena. Juga sebagai pengingat.


Jauh dari ritual itu, Sungsang Geni hanya menatap mereka dengan perasaan sedih, Dia tidak ingin mendekati makam itu, tidak.


“Menangislah Surasena, berteriaklah!” ucap Sungsang Geni tatapannya setajam pedang, dadanya terasa sesak karena kemarahan. “Kemudian bangkitlah, dan hancurkan belenggu dunia memuakan ini.”


Pemuda itu menyadari satu hal, ini baru awalnya saja. Sebuah peringatan dini, pertempuran yang lebih besar ada didepan mata. Tapi dia tidak akan tinggal diam, Sungsang Geni berniat menanggung semua beban ini, dengan mengalahkan Sumbernya.


***


Setelah genap satu minggu setelah ritual pemakaman, Surasena mulai berbenah diri, berbenah rumah, dan berbenah semuanya yang bisa dibenahi.


Ratusan orang terlihat sibuk di pelabuhan, secepat mungkin Surasena harus memperbaikinya. Jika tidak, hubungan Surasena dengan 8 kerajaan kecil disebrangnya akan terganggu. Sedangkan 2 kerajaan yang tersisah, memang satu daratan dengannya.


Para rakyat yang rumahnya hancur terpaksa mengungsi di penampungan yang dibuat Surasena. Tapi sebagian rakyat lebih memilih kembali kerumah mereka, dan mulai memperbaikinya dengan bertahap.

__ADS_1


Kerugian Surasena mungkin jutaan keping emas, itu adalah harga mahal yang mungkin baru terkumpul selama 10 tahun lamanya.


Dilain sisi, sebuah aula besar dengan meja panjang dan kursi-kursi tertata rapi, di duduki oleh puluhan orang penting. Lakuning Banyu duduk memimpin rapat.


Mereka membahas banyak masalah, dan yang pertama, nasib Kerajaan Tombok Tebing.


“Tahta Tombok tebing telah kosong, Puntura berhasil dikalahkan dan putranya Warkudara menjadi tahanan. Aku berniat mengesekusinya di tiang pancung.” Ucap Lakuning Banyu membuka rapat itu.


“Aku setuju!” Pancur Lara berkata, dan nampaknya tidak ada yang menolak dengan usul itu, mengingat perbuatan yang Warkudara rencanakan memang bukanlah hal ringan. “Bahkan matipun tidak bisa menebus segala dosanya.”


“Lalu bagaimana dengan tahtanya?” Tanya Datu Wenda, “kita tidak mungkin melepas Tombok Tebing begitu saja, harus ada yang memimpin negri itu, atau akan menjadi medan pertempuran bagi rakyatnya sendiri, atau bahkan akan munculnya kelompok yang mengincar tahta.”


Semua orang terdiam, mulai menimbang-nimbang siapakah yang cocok menjadi pemimpin Negri itu.


“Bagaimana jika sang pahlawan kita?” Salah satu wakil Senopati berkata, “Pendekar Sungsang Geni.”


“Apa...?” yang dari tadi Sungsang Geni lakukan hanya memakan hidangan diatas meja, sekarang terperanjat dan terkejut bukan kepalang. Dia meminum beberapa gelas air, lalu memukul dadanya kerena tersedak makanan. “Tidak...aku tidak berniat menjadi raja.”


Semua orang kemudian saling bertatap wajah, beberapa orang terlihat sedang berbisik-bisik termasuk Dewangga dan Mahesa.


“Kami setuju!” Datu Wenda mengangakat tangan.


“Begitu pula denganku,” sambung Pancur Lara.


Kemudian semua orang disana serentak mengangkat tangan, bahkan Dewangga dan juga sahabatnya, Mahesa.


“Tunggu...dengarkan! aku tidak bisa menjadi raja, kenapa kalian memutuskan sebelah pihak! Tanpa persetujuan dariku?” Sungsang Geni berujar kesal.


“Terima kasih atas sambutannya, raja Sungsang Geni!” Datu Wenda segera berdiri, kemudian menundukan kepala memberi hormat.


“A’...apa yang kalian pikirkan sebenarnya?”

__ADS_1


__ADS_2