
Pertarungan malam itu begitu berat, semua orang saling menunjukkan kekuatan mereka masing-masing. Pertarungan ini harus cepat diselesaikan selagi Sungsang Geni menahan Topeng Beracun sisi lain pertarungan mereka. Alasan Sungsang Geni bertarung di lain sisi tentu saja agar Surasena tidak terkena imbas dari pertarungan mereka.
Sekarang Pemuda itu berada di puncak tinggi gunung, berjarak satu hari perjalanan dengan kuda dari Markas Petarangan tapi dengan ilmu meringankan tubuh,hanya butuh beberapa menit saja.
Kala itu di puncak gunung, cahaya terang dari kawah menjadi kehangatan satu-satunya. Topeng Beracun tampaknya tidak bisa mendinginkan neraka dari dasar bumi tersebut. Ini hal baik untuk Sungsang Geni yang merupakan manusia penyuka panas.
“Tidak ada ubahnya bertarung di dekat kawah atau di dasar bumi!” Suara Topeng Beracun bergeram. “Kau akan tetap kalah, tidak ada satupun yang luput dari kegelapan.”
Sungsang Geni terkekeh kecil. “Sepertinya kau lupa, kalau gunung ini tidak padam karena kegelapan yang kau punya?”
Perasaan Topeng Beracun tersindir, yang dikatakan Sungsang Geni barangkali ada benarnya. Ya, kegelapan Topeng Beracun tidak cukup pekat, sehingga gunung masih menyalakan magma cairnya.
“Kau masih bisa tertawa meski nyawamu dalam keadaan terancam?”
“Tidak, tidak!” Sungsang Geni masih terkekeh kecil. “Di antara kita, belum ada yang tahu siapa yang akan kalah, dari mana asalnya kalimat yang kau utarakan? Dewa Kegelapan?”
Tidak hendak banyak bicara, Topeng Beracun melesat dengan cepat. Senjata mirip kuku itu menebas ke bagian leher, tapi Sungsang Geni berkelit dengan lihai. Setelah dia berhasil menguasai teknik pedang sapuan jagat, entah kenapa pergerakan pemuda itu terlihat lebih lihai dari sebelumnya.
Seolah sekarang, dia tidak terpaku lagi dengan tiga teknik yang dikuasainya. Lebih dari itu, pemuda matahari tersebut seolah menciptakan gerak dan jurus sesuka hatinya. Pedangnya melayang-layang di udara, tapi tak jarang pedang ditangannya berhasil menekan pergerakan Topeng Beracun.
Tiga kali Topeng Beracun melepaskan serangan, tapi sebanyak itu pula tubuh Sungsang Geni hilang dari pandangannya. Datang-datang sudah dengan tebasan keras yang membuat mahluk kegelapan itu terpukul mundur dan hampir masuk ke dalam kawah.
'Mahluk ini bisa menyembuhkan luka lebih baik dari wanita itu?' Sungsang Geni menjadi kesal, dia sudah lima kali memotong bagian tubuh lawannya, tapi satu menit kemudian bagian itu diliputi dengan asap tebal dan kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
“Tidak mempan, tidak mempan, kegelapanku akan melahapmu.”
***
Pertempuran antara Surasena melawan Kelelawar Iblis sudah berlangsung sangat lama. Sekarang mungkin sudah memasuki 1/3 malam terakhir, artinya pagi akan segera tiba lagi.
Resi Irpanusa tidak memiliki banyak waktu lagi, sesepuh padepokan Pedang Bayangan sudah tahu batasan tubuhnya. Jika hari kembali siang, tidak ada kesempatan lagi untuk mengalahkan Mungkarna.
Di tubuh pak tua itu terdapat tiga tebasan, merobek pakaiannya yang terbuat dari kulit domba hutan yang menutupi setengah bagian tubuh saja. Namun hal yang sama dialami oleh Mungkarna, dia juga mendapatkan banyak tebasan bahkan hampir 11 tebasan yang menghiasi hampir di semua bagian tubuh.
Jika melihat demikian, Resi Irpanusa sedikit menguasai jalannya pertarungan.
Sebelumnya Mungkarna pikir Resi tua itu akan kesulitan bergerak di malam gelap gulita, tapi dia lupa bahwa resi tua bukanlah bangsa manusia. Bagi Resi Irpanusa, malam gelap ini masih terlihat seperti siang. Matanya bisa melihat dengan jelas segala hal yang telah terjadi.
Mungkarna pikir pak tua itu kesulitan melihat? Jangan konyol, Mungkarna hanya akan terus bermimpi jika mengharapkan bangsa lelembut buta di dalam gelap.
Satu serangan tombak datang dari langit. Sebuah serangan dengan pola yang sama, tidak akan melukai Resi Irpanusa. Kesalahan terbesar Mungkarna adalah dia tidak memiliki pola lain dalam setiap serangan.
Sementara itu meski kekuatan Mungkarna lebih dari Resi Irpanusa, tapi sesepuh pedang bayangan memiliki kecepatan, gerakan dan pola serangan yang beruba-ubah. Jika satu cara tidak berhasil melukai lawannya, Resi Irpanusa akan menyerang dengan pola lain.
Tombak besar datang menghujam ke bumi, tertanam cukup dalam dan berhasil membuat getaran hebat. Beruntung pula Resi Irpanusa membawa Mungkaran jauh dari zona perang, karena jika sampai mereka bertarung di dekat Markas Petarangan, tentulah akan mencelakai prajurit Surasena.
“Kenapa? Kenapa? Kenapa kau tidak kunjung mati?” serangan Mungkarna terlihat mulai membabi buta. Tiga jam terakhir, dia sama sekali tidak berhasil mendaratkan satu serangan kepada pak tua itu, malah sebaliknya semakin lama serangan Resi Irpanusa semakin mematikan.
__ADS_1
“Aku tidak akan kalah dengan kekuatan dari hasil suntikan mahluk kegelapan?” Resi Irpanusa melompat dari permukaan tanah di tepi hutan. Pak tua itu melewati tubuh Mungkarna dengan pedang yang telah berdarah.
Mungkarna meringis kesakitan, sekali lagi pak tua itu berhasil menggores perutnya, dan kali ini nyaris terburai. Kecepatan orang tua itu benar-benar gila, atau mungkin karena luka-luka di tubuh, Mungkarna jadi kesulitan untuk melihat gerakan Resi Irpanusa?
Mungkarna kembali menyerang dengan gaya yang sama, membabi buta dengan menjatuhkan semua senjata dari langit hitam dan gelap. Senjata-senjata yang dia turunkan terkadang berukuran besar, tapi tak jarang hanya sebesar pisau dapur.
Teng..teng...teng... Resi Irpanusa dengan santainya menangkis serangan kecil yang mengarah pada dirinya.
Mungkarna tidak berani mendekati pak tua itu, karena setiap kali dia bertarung jarak dekat Resi Irpanusa selalu saja berhasil melukai tubuhnya. Jadi satu-satunya cara paling efektif menurutnya yaitu dengan serangan jarak jauh.
Tapi....
“Teknik Pedang Bayangan sebenarnya memiliki jarak serangan jauh, hanya saja aku tidak belum memakainya. Jika kau pikir bisa mengalahkan tua bangka ini dengan senjata-senjata dari langit, maka kau hanya bermimpi.”
Wushh...Resi Irpanusa menebaskan energi berbentuk bening dari pedangnya. Energi itu mirip seperti bulan sabit, tapi karena suasana begitu gelap tidak ada yang bisa melihat energi pak tua itu.
“Ahkk!” Mungkarna berusaha menangkis serangan itu dengan menekan energi kegelapan tepat di tengah dadanya, tapi tidak berhasil.
Tubuh Mungkarna terluka tebasan dari pangkal tekiak hingga pakal pahanya. Momentum serangan tidak hanya sampai di sana, selain tajam energi itu juga menekan tubuh Mungkarna hingga jatuh dari awang-awang.
Entah berapa depa pria itu terseok dan jungkir balik di tepi hutan, tapi yang jelas suara gemuruh terdengar cukup memekakkan. Mungkarna mengeluarkan darah hitam kental dan berbau busuk dari mulutnya.
Taring tajamnya yang mengintip dari bibir pucat, tidak membuat dia terlihat menyeramkan di mata Resi Irpanusa. Sekarang Mungkarna menyadari, kesalahan terbesar dirinya adalah mengambil pria lelembut itu menjadi lawan bertarung.
__ADS_1