PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kesedihan Pendekar


__ADS_3

Butuh lebih banyak waktu untuk menghabisi semua musuh yang berusaha melarikan diri. Ketika hari sudah ¼ siang, barulah beberapa orang kembali dari dari perburuan.


Orang terakhir yang kembali adalah Darma Cokro, pria itu tampaknya benar-benar menghabisi musuh tanpa tersisa.


Saat ini tempat mereka berkumpul hanya di dalam hutan di dekat puing-puing tembok Surasena. Tiada lagi tenda darurat dan tiada pula ada lagi arak untuk menemani.


Masih dalam keadaan letih, ratusan orang mengumpulkan mayat-mayat musuh. Hampir dua kali rumah bertingkat, tingginya tumpukan mayat. Semuanya dibakar, sehingga saat ini selain bau anyir tercium pula bau gosong daging manusia.


Sekitar 50 pendekar medis bekerja lebih sibuk dari biasanya. Tidak banyak obat-obat saat ini, jadi terpaksa memanfaatkan ramuan seadanya. Beberapa ratus prajurit mengalami luka ringan, tapi tidak jarang mengalami luka berat.


“Ambilkan obat disana!” Terdengar teriakan pendekar medis.


“Kosong, kita kehabisan ramuan.” Menjawab pula pendekar medis yang lain.


“Bagaimana ini, kita harus mencari obat-obat lain, situasi mereka tampak buruk.”


50 pendekar medis sekarang berperang melawan waktu. Jika mereka terlambat sedikit saja, nyawa ratusan orang dalam bahaya.


Salah satu pendekar medis tiba-tiba terdengar memaki pendekar medis yang lain, suaranya terdengar cukup lantang membuat Lakuning Banyu serta beberapa Sesepuh lain mendekati pria itu.


“Apa yang terjadi?” tanya Lakuning Banyu.


“Dia, pria ini sengaja membunuh prajurit disana!”


Wajah Lakuning Banyu terlihat merah bara. Pada saat ini bukannya menyelamatkan orang, pendekar itu malah membunuh orang, sehingga raja itu spontan menarik pedang salah satu prajurit yang berdiri di dekatnya, menghunuskan pedang itu tepat di batang leher pendekar medis itu.


“Apa yang kau lakukan, beginikah naluri menolongmu sebagai manusia?”

__ADS_1


Pendekar medis itu terlihat cukup muda, mungkin masih berusia 25 tahunan. Dia mengenakan pakaian putih, yang terlihat menjadi sangat merah karena darah. Terlihat pula ada banyak sekali percikan darah di wajah pemuda itu.


Mendapatkan pedang menempel di batang lehernya, dia sujud dua kali kemudian duduk sambil bersimpuh dengan mata terpejam, seolah sudah siap menerima kematian.


“Yang Mulia, tahukah kau orang ini adalah saudaraku sendiri...” Pendekar Medis itu terisak menahan tangis. “Sebelum musuh datang beberapa bulan lalu, dia memiliki satu putri cantik dan istri yang sangat berbakti. Mereka hidup dengan bahagia, meski hidup miskin di pinggir kebun. Lalu, musuh datang menghancurkan rumah dan kebun mereka, membunuh anak dan memperkosa istrinya sebelum akhirnya dibunuh pula.”


Pria itu terdiam sesaat, matanya terbuka kecil tapi dipenuhi dengan linangan air pilu. “Dia kehilangan segalanya, hidup tak tahu arah. Saudaraku itu kemudian menjadi prajurit sukarelawan, dia tidak ingin diupah kecuali hanya dengan makan dan minum saja, terkadang juga secawan arak untuk meredakan rasa rindu kepada istri dan buah hati. Hari ini dia terluka parah, memintaku untuk membunuhnya. Dia ingin bertemu dengan keluarganya, apakah itu salah.”


Lakuning Banyu terbungkam mulutnya, tidak tahu harus mengatakan apa saat ini. Perkataan pria itu seperti sambaran petir di siang bolong. Bulu kuduknya terasa merinding, matanya hendak pula meneteskan air mata.


“Jika kau ingin membunuhku, akupun sudah siap, Paduka Raja...” Berkat lagi pria itu dengan isak tangis.


Tak kuasa lagi, Lakuning Banyu membuang senjatanya, lantas jatuh ke tanah menundukkan kepala memberi hormat kepada mayat pejuang di depannya.


“Ma'afkan aku, ma'afkan aku...” Hanya itu kalimat yang diucapakan Raja Surasena itu, dia menangis sedu sedan, terlihat sangat bodoh tapi nurani manusianya berteriak, membrontak merasa bersalah atas kekacauan di negri yang dia pimpin.


Hari itu, semua orang berduka cita. Ratap tangis tertahan di dalam hati masing-masing. Tidak ada taburan bunga di pemakaman besar yang mereka ciptakan. Yang ada hanya hujan air mata, mungkin itu cukup atau pula tidak.


Benggala Cokro menangis sedari dia tahu bahwa Kakeknya, Darma Guru gugur di dalam tembok Surasena. Baru pula beberapa bulan dia berkumpul dengan Kakeknya, belajar menyempurnakan pedang, tapi waktu begitu cepat berlalu.


“Nakmas, tenangkan dirimu...” Berkata lirih Darma Cokro di samping putranya. “Eyangmu, dia telah berjuang dengan baik, namanya akan kita kenang untuk selamnya. Orang tidak benar-benar mati, selagi yang masih hidup masih mengingatnya.”


Untuk beberapa waktu kemudian, ketika hari mulai beranjak petang, seorang pemuda lusuh baru pula kembali. Semua orang tentu saja mengetahui pemuda itu, dia berjalan terkatung-katung dengan raut wajah gusar.


Ketika Sabdo Jagat mendekatinya, wajah pemuda itu lebih gusar dari sebelumnya.


“Geni...” Sabdo Jagat memeluk pemuda itu untuk beberapa lama,kemudian dia menoleh ke belakang, tampak mencari sesuatu tapi dua detik kemudian, pria itu menyadari, Cempaka Ayu tidak bersama pemuda itu.

__ADS_1


“Paman Guru, Aku tidak bisa mencegah dirinya...” Sungsang Geni berkata lirih. “Dewi bulan, dia membawa tubuh Cempaka...”


Perkataan pemuda matahari itu tidak berlanjut.


Sabdo Jagat juga tidak bertanya lebih pajang, dia hanya menepuk pundak pemuda itu pelan sekali kemudian membimbingnya menuju Lakuning Banyu beserta Sesepuh yang lain.


“Paman Guru, dua komandan sudah dikalahkan.” Sungsang Geni menghentikan langkahnya. “Untuk saat ini, aku tidak berniat berbicara dengan siapapun, bolehlah kiranya aku istirahat sendiri tanpa diganggu oleh orang lain.”


Sadbo Jagat mengerti apa yang dimaksud pemuda itu. Jadi dia pergi seorang diri menemui Lakuning Banyu untuk memberikan kabar, bahwa dua Komandan Kelelawar Iblis sudah dikalahkan.


Sementara itu, Sungsang Geni melompat pada salah satu batang besar. Dia duduk diatas dahan paling tinggi, menghadap pada matahari yang saat ini akan tenggelam. Dipandanginya sang surya hingga benar-benar hilang di ufuk barat.


Di bawah pohon itu, Mahesa dengan bertelanjang badan seolah tidak terusik dengan dinginnya angin malam berdiri dengan kepala mendongak keatas. Dia berniat menghibur temannya, tapi mungkin untuk saat ini, sendiri adalah hal baik bagi Sungsang Geni.


“Dia benar-benar menyukai gadis itu?” Rerintih datang mendekati Mahesa, mencium pelan pipi pria berkulit keras itu sambil memberi satu pakaian untuk melindungi tubuhnya.


“Aku tidak pernah melihat dia bersikap seperti ini...” Mahesa menghela napas berat.


“Percayalah, pemimpin kita akan baik-baik saja. Dia akan menemukan solusi atas masalahnya sendiri.” Rerintih mencium sekali lagi pipi Mahesa kemudian berlalu meninggalkan pria itu.


Tidak beberapa lama, Siko Danur Jaya, Ratih Perindu dan juga Benggala Cokro berdri pula di bawah pohon besar itu. Mereka semua mendongak ke langit, memperhatikan Sungsang Geni yang sekarang duduk bersandar di salah satu dahan tinggi.


“Apakah Cempaka Ayu akan kembali?” Benggala Cokro membuka suara setelah ke empat orang itu terdiam cukup lama.


“Tidak ada yang tahu, Dewi Bulan tidak pernah muncul dengan wujud seperti ini sebelumnya.” Siko Danur Jaya menjawab. “Aku harap, jiwa Cempaka Ayu masih ada didalam sana.”


“Dia masih ada, tentu saja masih ada didalam sana!” menyahut lirih Ratih Perindu.

__ADS_1


Kiranya ada yg mau vote, authro ucapkan banyak terima kasih. Semoga kalian selalu suka dengan cerita ini.


__ADS_2