PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Markas Utama Pendekar Pemabuk


__ADS_3

Diam beberapa saat di pinggir pantai yang menderu-deru, ombak berbuih dengan beberapa burung camar terbang kian kemari, menyambar ikan-ikan kecil.


Panglima Ireng merasa iri, memperhatikan sekawanan burung-burung itu. Jangankan terbang, untuk berjalan saja rasanya sekarang amat sulit dilakukan. Kaki depannya sudah mendapat pertolongan dari Wulandari, tapi tidak serta merta bisa sembuh dengan waktu yang singkat.


Tidak beberapa lama, Pramudhita muncul pula di tempat itu. Ini adalah kemunculan yang kedua kali, setelah sebelumnya Sungsang Geni berhasil memanggil teman dari bangsa lelembutnya itu.


“Aku membawa beberapa ramuan, ini dibuat langsung dari tangan Tabib Nurmanik. Wanita tua itu berpesan agar menyampaikan salam untukmu.” Pramudhita menyerahkan bumbung bambu sebesar lengan yang beruas pendek, berwarna kuning dengan tutup yang disumbat dari kayu.


“Paman, sebenarnya aku ingin meminta tolong lagi.” Sungsang Geni menggaruk kepalanya, sudah banyak dia merepotkan Pramudhita tapi pada akhirnya dia berucap pula. “Aku berencana meninggalkan Panglima Ireng di sini, bisakah kau menjaganya untuk sementara waktu. Aku akan pergi ke Markas Musuh untuk mencari obat penawar bagi teman-temanku.”


Pramudhita terdiam beberapa saat, kemudian senyum kecil segera tersungging di bibir pria itu. “Aku akan menjaga dirinya, kau boleh melanjutkan perjalananmu. Sekarang mungkin kau sudah berhasil menguasai energi alam, dan sebagian tenaga dalammu juga sudah kembali. Namun bukan harus kau menjadi ceroboh, kau akan memasuki sarang musuh. Hindari sesuatu yang membuatmu celaka, bocah tengik.”


Sungsang Geni menggaruk sekali lagi kepalanya, kemudian dia mengembalikan bubung bambu kepada Pramudhita. Bumbung bambu itu berisi obat penyambung tulang, jelas saja itu digunakan untuk Panglima Ireng.


“Aku mengingat semua perkataanmu.” Pemuda itu memberi hormat, lalu pergi meninggalkan Panglima Ireng bersama Pramudhita di pinggir pantai.


“Nah sekarang, Ireng.” Pramudhita menoleh ke kiri dan kekanan, kemudian menemukan batu karang yang sedikit membentuk setengah goa. “Kita akan bermalam di tempat itu, kau mungkin butuh waktu 7 hari agar bisa kembali berjalan.”


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng mengendus kesal.


***


Berjalan beberapa hari, Sungsang Geni sudah berada tepat di perbatasan Markas Utama. Dari tempat dia saat ini, masih butuh satu hari lagi perjalanan. Ada semacam pagar yang dibuat dari ranting bambu, kemudian ada lagi pagar yang terbuat dari batang-batang kayu besar sebesar pohon kelapa.


Pagar dari batang-batang kayu tidak berpenjaga, kecuali beberapa orang yang terlihat berdiri mematung di atas tembok itu. Beberapa orang dengan menggunakan baju berwarna merah gelap, dengan panah yang tersandang di pundaknya.

__ADS_1


“Bagaimana ini? apa kita akan memasuki wilayah Markas Utama?” Sungsang Geni bertanya pada Wulandari.


Gadis itu tampak termenung beberapa saat, keningnya mengkerut hingga kedua alisnya menyatu. “Sebenarnya kami tidak terlalu akrab dengan pemimpin Markas Utama Kelelawar Iblis, itulah mungkin kenapa Markas Sekutu berada di tengah-tengah, agar mereka bisa mengawasi pergerakan kami.”


“Jadi kita tidak bisa menggunakan lencana milikmu?” Sungsang Geni sudah menduga hal itu, nampaknya Sekutu Kelelawar Iblis yaitu Negri Sembilan dan Kelelawar Iblis memang tidak bisa saling berbagi kepercayaan.


“Seperti itulah, kami memiliki prosedur yang berbelit-belit.” Wulandari kemudian mengendus kesal. “Aku mungkin bisa masuk ke dalam markas itu, tapi tidak mungkin kau juga bisa.”


Biasanya yang bertugas mendatangai Markas Utama adalah para utusan dari Kelelawar Iblis itu sendiri. Sedangkan perwakilan dari Sekutu alias Negri Sembilan, harus mendapat pengawalan lebih dan di jaga dengan penuh curiga.


Belum pula menyimpulkan rencana apa yang akan dilakukan oleh Wulandarai, Sungsang Geni sudah melepaskan 5 pisau sangat kecil menembus 5 orang diatas tembok hingga tewas.


“Ini adalah jalan paling mudah.” Sungsang Geni menarik tubuh Wulandari lalu membawanya terbang keatas tembok.


Rupanya tembok itu berbentuk seperti lingkaran. Didalam tembok ribuan prajurit sedang melakukan aktivitas masing-masing layaknya para rakyat jelata, ya ampun mereka bahkan ada yang sedang menggarap sawah.


“Tempat ini dijaga oleh Pendekar Pemabuk.” Wulandari memberi keterangan setelah berhasil menyingkirkan 5 mayat diatas tembok. “ Kau semakin mahir saja menggunakan pisau energi, luka mereka tidak terlalu besar tapi mengena tepat di jantung.”


Sungsang Geni hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan gadis itu. Dia juga baru menyadari jika akurasi lemparan pisaunya lebih baik dari sebelumnya, bahkan kali ini dia bisa melepaskan lebih dari satu pisau energi.


Sungsang Geni juga berhasil membuat ukuran pisau energi hanya sebesar mata panah, bahkan sedikit lebih kecil dari mata panah. Tapi energi yang berhasil dipadatkan lebih besar dari pisau kecil yang biasa dia lakukan.


Masih ada sedikit efek dari dua energi yang berkemelut di dalam tubuhnya, tapi mungkin energi alam dan tenaga dalam masih tahap penyesuaian.


“Menurutku jika kita terus berjalan di atas tembok ini, maka kita akan berada disisi timur. Kita bisa melewati tembok ini dan melanjutkan perjalanan menuju Markas Kalian, Negri Sembilan.”

__ADS_1


Wulandari berpikir sejenak, dia bahkan berencana untuk menggunakan pakaian Kelelawar Iblis dan berpura-pura sebagai penjaga di atas tembok kayu ini. Tapi niatnya segera diurungkan melihat Sungsang Geni berjalan melenggang di atas tembok kayu.


“Bukannya teman hantunya mengatakan jangan membuat onar. Apa dia berniat mengibarkan bendera perang di tempat ini.” Wulandari berniat mencegah, tapi usahanya gagal. Sungsang Geni tidak menghiraukan peringatan gadis itu. “Ada 10 ribu pasukan di tempat ini, 100 pendekar tanpa tanding dan ditambah komandan mereka, Pendekar Pemabuk memiliki kemampuan level pendekar iblis.”


Tenaga dalam Pendekar Pemabuk sepertinya sudah berada ditahap berbeda dari sesepuh di Tanah Java. Terakhir orang tua itu telah berhasil mencapai 6 jule tenaga dalam, untuk urutan paling rendah dari 5 komandan yang tersisa.


Sedangkan komandan pertama belum diketahui tingkatan hingga saat ini. Ada rumor dia sudah berada di puncak pendekar Iblis, dengan 9 jule tenaga dalama, komandan itu belum pernah menunjukkan kekuatan tempurnya, kecuali hanya sekekali.


Dan terakhir, dia hanya sendirian menghancurkan sebuah kerajaan di bawah Surasena. Hanya sendirian, tanpa satu orang pasukan.


Wulandari buru-buru menyusul pemuda itu. Sebab tembok kayu ini begitu besar, semua orang tidak menyadari pemuda itu berjalan dengan tenang di atas tembok, bahkan sekekali melemparkan pisau kecil pada prajurit yang dia temui.


“Kita akan mendapat masalah dengan kelakuanmu ini.” Wulandari berdecak kesal. “Aku juga akan terseret kedalam masalah yang kau buat, apa kau ingin Negri Sembilan menganggap aku sebagai penghianat?”


“Ya.”Sungsang Geni terkekeh kecil.


Wulandari berdecak kesal mendengar perkataan pemuda itu. “Ayah akan membunuhku, dia bukanlah orang yang akan berkasian terhadap anaknya jika terbukti berkhianat.” Ketika mengatakan hal itu, raut wajah Wulandari begitu berat seakan memiliki kenangan buruk di masa lalu.


Sungsang Geni segera menggaruk kepalanya beberapa kali, dia lalu memperhatikan ribuan orang di tempat ini untuk sesaat, terlihat sedang merencanakan sesuatu, membuat Wulandari menjadi resah.


“Apa kau mendengarkan aku?!” Wulandari terpekik tertahan.


“Aku mendengarkanmu, aku tidak akan membuat keributan kecuali jika mereka memaksaku lebih dahulu.” Sungsang Geni terkekeh kecil dalam benaknya, dia tidak sabar ingin bertarung dengan salah satu komandan Kelelawar Iblis, tenaga dalamnya sudah kembali sebesar 5 jule tapi energi alam mungkin sudah terkumpul 3 jule. Ada 8 jule kekuatan di dalam tubuh pemuda itu.


“Lalu apa yang sedang kau rencanakan?” Wulandari berkata heran.

__ADS_1


“Aku ingin bertarung dengan salah satu Komandan mereka, tapi aku bingung memikirkan bagaimana caranya agar 10 ribu orang ini tidak menggangu.” Menghadapi 10 ribu orang bukan perkara mudah.


__ADS_2