PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Mengendalikan Pedang


__ADS_3

Sungsang Geni kembali terbang ke tempat dimana dia tadi berada, sekarang dia sudah cukup puas berkeliling cukup lama dan melihat situasi serta mempelajari keadaan Perguruan Lembah Ular dari kejauhan.


Jika rencananya tidak ada halangan, Sungsang Geni berniat melakukan penculikan Empu Pelak besok malam. Tapi yang terpentig saat ini, mengambil kembali pedang watu kencana. Tanpa pedang, dia tidak bisa mengeluarkan kemampuan bertarungnya dengan baik.


Setelah tiba di tempat semula, tidak menunggu lama Sungsang Geni segera duduk bersila. Dia mengatur napas dan mulai memfokuskan pikirannya, sayap tak kasat matanya segera hilang sebab Sungsang Geni sedang memfokuskan hal lain. Pedang watu kencana.


Dia mengingat semua gerakan Mahapatih Darma Guru ketika kakek tua itu mengendalikan pedang hitamnya. Sungsang Geni berniat melakukan hal yang sama dengan pedang watu kencana.


Ada beberapa alasan mengapa dia melakukan hal itu, pertama pedang itu mampu bergerak sendiri, terbukti saat dia terbang melintasi gerbang zambala untuk menyelamatkan Sungsang Geni dari siluman Singa Merah.


Yang kedua, dengan berhasilnya dia mengendalikan pedang watu kencana seperti yang dilakukan Darma Guru dan nampaknya juga dilakukan oleh sebagian perguruan Pedang Emas, Sungsang Geni memiliki serangan jarak jauh.


Teknik pedang awan berarak yang di kuasai pemuda itu adalah serangan jarak dekat, dengan menguasai teknik pedang emas, teknik yang dimiliki Sungsang Geni akan menjadi lengkap.


Dan yang ke tiga, Dia tidak memiliki waktu banyak untuk pergi menuju Beringin Hitam, mungkin akan banyak menguras tenaga dalammnya jika terbang terus-menerus.


Sungsang Geni mulai mengikuti gerakan yang dilakukan Darma Guru, gerakan lentur dan sedikit lambat, tahap demi tahap dia lakukan. Jika seseorang melihat gerakan Sungsang Geni saat ini pastilah mereka mengira pemuda itu berasal dari Perguruan Pedang Emas.


Sungsang Geni menyadari perbuatannya akan membuat perguruan pedang emas memburunya, karena dianggap sebagai pencuri jurus. Oleh karena itu, dia tidak berniat menggunakan jurus pedang emas, selain dari teknik mengendalikan pedang saja.


Satu jam berlalu, kemudian satu jam dan satu jam lagi. Sungsang Geni tidak melihat tanda-tanda pedang watu kencana terbang ke arahnya. Letak pedang yang terlalu jauh, pedang yang terlalu kuat, dan tidak ada ikatan antara dirinya dengan pedang watu kencana mungkin saja menjadi penyebabnya. Benar, kenapa dia melupakan point terakhir, Ikatan?


Darma Guru pernah mengatakan dia dan pedang hitamnya telah terikat, jadi meski letaknya sejauh mungkin Mahapatih itu bisa mengendalikannya.


“Ini bukan masalah gerak atau jurus, ini masalah hubungan pengguna dan pedangnnya.” Sungsang Geni menyudahi latihannya, dia kembali berpikir beberapa saat. “ Pedang adalah pedang, tapi bagi pendekar pedang, adalah bagian dari dirinya, tangannya, pikirannya atau juga perasaannya.”


Selanjutnya pemuda itu kembali memejamkan mata, dia menyatukan pikiran dan hati. Mencoba menyatukan segala yang ada pada dirinya dengan pedang watu kencana. Setelah memahami trik yang dipelajarinya dari Cempaka Ayu, harusnya itu bukanlah hal yang sulit.


Benar, pemuda itu merasakan keberadaan pedang itu, tertancap di selah-selah akar pohon beringin. Dia membayangkan bahwa pedang itu terangkat, kemudian melayang dan meluncur ke arahnya.

__ADS_1


Ternyata usahnya berhasil, setelah cukup lama, dari kejauhan dia mendengar sesuatu seperti pasukan lebah berdengung mendekati.


Sungsang Geni membuka mata, melihat sebilah pedang sekarang meluncur kerahanya. Kemudian pedang itu berputar-putar mengelilingi dirinya, dan sekekali mendekati tapi segera melayang kembali.


“Bocah nakal!” Sungsang Geni tersenyum kecil, “Bagaimana kabarmu hari ini!”


Deruan suara berdengung perlahan-lahan menghilang, pedang watu kencana sekarang berada di genggaman Sungsang Geni. Pemuda itu terlihat bahagia, tidak menduga usahanya mengendalikan pedang watu kencana berhasil.


***


Hari ini Sungsang Geni mendatangi Sabdo Jagat, pemuda itu sekarang terlihat lebih gagah dengan pedang watu kencan tersandang di belakangnya. Meski tidak bersarung, dan nampakanya Sungsang Geni tidak akan menyarungi pedang itu karena cukup panjang, membuat Sabdo Jagat dan tiga guru yang lainnya terpukau.


“Geni! Nampaknya kau memiliki pedang yang unik!” guru Jelatang Biru yang pertama kali memperhatikan pedang watu kencana dengan teliti, meski pria itu bukan pendekar pedang tapi dia terlihat sangat takjub dengan motip unik pedang berwarna merah kehitaman itu.


“Apa itu pedang yang selalu kau katakan?” tanya Sabdo Jagat. “Bagaimana sekarang berada di tanganmu, apa kau pergi menuju beringin hitam?”


“Seperti pendekar pedang emas? Kudengar mereka yang berhasil menjadi pendekar tanpa tanding dapat melakukan hal itu?” sambung Sabdo Jagat.


Di sisi lain, guru Gentar Bumi terlihat sangat ingin menyentuhnya, dia berbicara bahasa isyarat dengan Rati Perindu, lalu gadis itu menterjemahkannya kepada Sungsang Geni.


“Silahkan, tentu saja aku tidak keberatan!” ucap Sungsang Geni, dia meletakan pedangnya di atas meja bambu.


Gentar Bumi nampak bersemangat sekali, dia dengan tubuh kekarnya dan kepercayaan diri yang besar meletakan kelima jarinya pada gagang pedang. Dan!


“EGHHHHH...!” wajahnya menjadi merah bara, urat-urat biru mendadak mengintip dari kulit leher dan lengannya. Tidak menyerah, dia menggunakan kedua tangannya, tapi seperti akan lepas bola mata dari kelopaknya, pedang watu kencana tidak bergeming sedikitpun.


Beberapa menit kemudian, Gentar Bumi menggelengkan kepala. Dia mengaku tidak sanggup mengangkat benda itu meski dia menggunakan tenaga dalam sekalipun. Dan sekarang, peluh telah membasahi sekujur tubuhnya.


“Ehem...!” Sungsang Geni berdehem, ketika guru Jelatang Biru berniat mengangkatnya pula, “Aku rasa ini tidak berguna paman, ma’af. Tapi sebaiknya kita mempersiapkan segala hal untuk melaksanakan rencana kita malam nanti!”

__ADS_1


“Oh...Benar, kau benar Geni!” Jelatang Biru berkata sedikit kecewa, “Lalu bagaimana menurutmu, siapa yang akan bertugas dalam rencana penculikan Empu Pelak.”


“Cempaka Ayu akan ikut bersamaku!” ucap Sungsang Geni, perkataan pemuda itu membuat seorang gadis yang duduk di dekat Rati Perindu tiba-tiba tersentak tak percaya.


Cempaka Ayu hanya mengagguk tanda setuju, sedari tadi dirinya hanya tertunduk malu, dia tidak sanggup menatap wajah Sungsang Geni. Tidak, setelah kejadian memalukan kemarin malam.


“Aku mengharapkan seorang guru yang akan membantu Empu Pelak melarikan diri!” Sambung Pemuda itu lagi.


“Aku akan ikut bersamamu!” ucap Sabdo Jagat.


“Tidak,” ucap Sungsang Geni, “Paman Guru harus berada di sini, diatas bukit. Paman Guru akan menjadi pelindung di tempat ini, sekaligus mengawasi pergerakan kami!”


“Kalau begitu biarkan aku yang ikut!” Guru Tiraka buka suara, “Kau ingin seseorang yang pandai menggunakan ilmu meringankan tubuh, aku adalah salah satunya. Lagipula, dengan kemampuanku, aku bisa mengunci pergerakan Empu Pelak jika ternyata dia bertingkah aneh.”


Semua orang nampak setuju, dengan keputusan Guru Tiraka. Guru Jelatang Biru memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang baik, tapi kemampuannya tidak dapat di harapkan untuk mengawasi Empu Pelak yang sedikit gila.


Sekarang rencananya sudah selesai. Sungsang Geni, Cempaka Ayu dan Guru Tiraka yang akan menculik Empu Pelak dari sarang Kelelawar Iblis. Tidak perlu orang banyak, akan sangat mencurigakan bagi kelompok Kelelawar Iblis jika mereka bergerak dengan anggota banyak orang.


“Tunggu!” Jelatang Biru melirik Sungsang Geni, “Apa kau bilang ‘Paman Guru’ barusan? Sejak kapan Sabdo Jagat menjadi gurumu?”


**Menurut teman-teman author harus up bagaimana.


Tiap hari up satu capter tapi malam minggu creazy up.


Atau tiap hari up 2 capter aja.


Pilihanmu ditentukan mulai dari sekarang, cieh.


Makasih udah pada like dan comen serta vote, author ucapkan terima kasih**.

__ADS_1


__ADS_2