PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Situasi Memburuk


__ADS_3

Empu Pelak berusaha mengangkat pedang waktu kencana, tapi dia tidak memiliki cukup keberuntungan untuk melakukan itu. Jadi Sungsang Geni segera menghentikan perbuatannya.


"Benar seperti yg ditulis pada kitab seratus pusaka, batu ini tidak bisa diangkat selain tuannya." gumam pria itu.


Setelah pemuda matahari itu menyalurkan tenaga dalamnya kepada Empu Pelak, sekarang pria itu nampak memiliki sedikit tenaga untuk berjalan. Dia melangkah dengan bantuan sepatu perunggu, yang membantu pergelangan kakinya yang buntung.


“Kita harus mencari makan!” ucap Empu Pelak, “tulangku bergetar saat ini!”


“Jika kita tiba di kuda nanti, ada beberapa ubi yang bisa kau makan!” ucap Sungsang Geni.


Setelah selesai berbincang-bincang, mereka kembali melewati jalan sebelumnya, jalan rahasia yang dibuat keluarga Suaraya. Empu Pelak berjalan tertatih-tatih di papa oleh Sungsang Geni, sedangkan ke 8 bawahannya terlihat lebih buruk lagi.


“Aku akan mengangkat kalian!” ucap Cempaka Ayu. Gadis itu dengan kemampuan tenaga dalamnya yang besar, mengangkat 9 orang itu tanpa kesulitan. Seperti mengangkat benda pada saat menyerang Sungsang Geni.


“Kekuatanmu semakin meningkat saja, Cempaka Ayu!” ucap Empu Pelak, dibalas senyuman manis gadis itu.


Ketika mereka keluar dari ruang rahasia tanpa diduga, ribuan prajurit Kelelawar Iblis telah menunggu mereka dengan senjata yang terhunus. Akan sedikit sulit saat ini, jadi Sungsang Geni akan membuka jalan bagi Cempaka Ayu dan 'barang' bawaannya.


“Lari! Cepatlah!” teriak Sungsang Geni.


Pemuda itu kemudian mulai menebas setiap orang yang mencoba menghalangi laju Cempaka Ayu. “Jalan atas”! perintah Sungsang Geni.


Dan seketika Cempaka Ayu terbang dengan cepat melewati ribuan orang yang sekarang melempari dengan ratusan tombak. Saat ini pikiran wanita itu hanya fokus melarikan diri secepat mungkin, dia menyadari situasinya tidak pas untuk balik menyerang mereka.


Ratusan Tombak yang di lempar oleh mayat hidup, beberapa bilah balik mengenai mereka lagi. Tapi karena tidak adanya pikiran, ribuan prajurit itu tidak menghiraukan rekan-rekannya yang mati, oleh tombak yang mereka lemparkan.


Sungsang Geni terlihat sibuk menebas orang yang menghadang laju mereka, ternyata ada banyak dari mayat hidup itu yang bisa meringankan tubuh. Sekarang sudah 30 lebih, kepala yang terpisah dari badannya ditangan Sungsang Geni, dan bau busuk seperti bangkai mulai menggelitik bulu hidung.


Beberapa menit akhirnya Sungsang Geni mulai melihat Guru Tiraka menunggu di luar reruntuhan tembok, nampaknya dia juga telah membunuh puluhan orang disana.


“Cepatlah!” wanita itu berteriak keras.

__ADS_1


***


Tujuh wakil komandan yang duduk di kediaman Nyai Serindit Emas menunggu perintah dari komandan mereka. Di luar ruangan itu, sekitar 500 orang pendekar level pilih tanding siap menerima perintah.


Dan dari wajah-wajahnya, mereka nampaknya adalah orang-orang yang masih hidup. Masih makan dan minum banyak arak, dan beberapa di antara mereka terlihat sedang mengasah pedang.


Seperti yang di pikirkan Sungsang Geni beberapa orang menggunakan susuk berbeda dengan yang terpasang pada mayat hidup.


Memang sama-sama menguatkan tubuh pada titik terkuat, tapi susuk magadana tidak mencuri kesadaran mereka. Itu artinya, mereka adalah kelompok asli dari Kelelawar Iblis, merekalah manusia yang menjadi landasan terciptanya Kelompok ini.


Serindit Emas keluar dari dalam kamarnya, dengan pakaian setengah transparan menampakkan lekuk tubuhnya. Diatas pembaringan terlihat dua pemuda meregang nyawa setelah di paksa memuaskan nafsu perempuan tua itu demi tujuan konyol, agar awet muda. Selanjutnya sudah dapat dibayangkan, para pemuda malang itu akan menjadi bagian dari mereka. Mayat hidup.


“Komandan, dua orang terlihat memasuki wilayah kita dan mereka sedang bergegas membebaskan Empu Pelak.” Salah satu wakil komandan level tanpa tanding berkata, dia tidak memiliki mata, tapi justru karena itu dia bisa melihat segala hal.


Serindit Emas tersenyum kecil, dia masih terlihat santai dan percaya diri. Masih sempat menuangkan arak kedalam cawan perak, dan meminumnya.


“Mereka bodoh sekali, datang jauh-jauh hanya mengantar nyawa!” ucap Nyai Serindit Emas.


“Tapi Komandan, Cempaka Ayu adalah salah satunya!”


“Tangkap mereka semua, kalian boleh membunuh tapi Cempaka Ayu adalah bagianku.” Serindit Emas melambaikan tangannya, segera 7 komandan Kelelawar Iblis bergerak.


***


Sungsang Geni masih menebas setiap orang yang berusaha menghalangi jalan Cempaka Ayu. Tapi dia merasakan kekuatan beberapa orang sedang mendekatinya dengan cepat, dan ternyata benar.


Seseorang telah berada di depannya, mendaratkan tendangan keras kearah dada. Sungsang Geni sempat menangkis, tapi momentumnya tidak tepat, Pemuda itu terpental ke beberapa bangunan dan terhempas ke tanah.


“Geni!” teriak Cempaka Ayu, dia berniat membantu.


“Tidak!” ucap Sungsang Geni, “Pergilah lebih dahulu! Aku akan menyusul kalian!”

__ADS_1


“Menyusul, kau pikir bisa pergi dari tempat ini hidup-hidup!” entah sejak kapan telah ada seorang lagi sedang berdiri di dekatnya.


Sungsang Geni menjadi siaga, bukan hanya terlihat menyeramkan orang di dekatnya juga memiliki energi kegelapan yang luar biasa besar. Pria itu menyerangnya dengan gerakan cepat, Sungsang Geni sempat menghindar tapi seseorang tiba-tiba muncul kembali dan berhasil mendaratkan pukulan keras ke wajahnya.


Pemuda itu melayang beberapa saat, namun seorang lagi telah menyambut tubuhnya dengan hujan energi membuat pria itu terhempas lagi ke tanah dengan baju yang telah banyak berlubang.


Satu persatu orang turun dari langit, para wakil komandan kelelawar Iblis. Tidak ada yang memiliki kemampuan rendah, semuanya setara bahkan lebih tinggi dari guru Gentar Bumi atau mungkin Sabdo Jagat.


Jika hanya satu atau dua orang, Sungsang Geni tidak akan kesulitan menghadapinya. Tapi sekarang ada 7 orang yang berada pada level yang sama dengan dirinya. Pemuda itu harus berhati-hati kali ini.


Dia segera menciptakan sayap energinya yang tak kasat mata, kali ini teknik pedang berarak benar-benar diuji kemampuannya.


Di sisi lain, Cempaka Ayu telah tiba di dekat Guru Tiraka, dia memberikan Empu Pelak kepada wanita itu dan berniat menyusul Sungsang Geni.


“Sayang! Apa kau mau meninggalkan ibumu lagi?” suara Serindit Emas terdengar dari arah belakang, “Aku akan kesepian?”


Cempaka Ayu segera menoleh, dia menjadi sangat geram. “Kau bukan ibuku, ibuku telah lama mati bersama dengan penghianatan dirimu?”


Serindit Emas tertawa cekikikan, membuat Cempaka Ayu semakin jijik. “Kau benar gadis kecil, aku memang bukan ibumu. Dia sudah lama mati, 3 tahun yang lalu di tanganku sendiri.”


Cempaka Ayu terpaku mendengarnya, belum mengerti dengan penjelasannya, atau mungkin menolak untuk mengerti. Sekilas terbayang olehnya sosok Nyai Serindit Emas yang dia kenal, belaian, pelukannya dan juga nasehatnya. Tapi sekarang, di depannya, wanita itu mengatakan bukan ibunya.


“Apa maksudmu?” ucap Cempaka Ayu, “Jelaskan apa yang kau maksud dengan 'mati di tanganku sendiri' .”


Senyum kecil masih menghias bibir Nyai Serindit Emas, dia melayang mendekati Cempaka Ayu. Tapi jelas terasa oleh gadis itu, aura membunuh yang keluar dari tubuh wanita itu berusaha mengintimidasi.


Guru Tiraka yang telah berada di dekat ikatan kuda, tidak bisa melakukan apa-apa, dia hendak menolong gadis itu, tapi Empu Pelak mencegahnya.


“Jangan, atau semua yang kalian lakukan akan sia-sia!” Empu Pelak berkata pelan, “Percayalah! pemuda itu pasti mampu menjaga Cempaka Ayu. Dan aku berjanji akan membuat senjata untuk menghabisi mereka semua!”


Setelah membaca komen teman-teman kemaren, ternyata banyak yang pilih 2 capter satu hari, okelah kalo begetoo.

__ADS_1


Oh ya, author boleh minta votenya gak? Boleh ya, boleh? Siapa tahu masuk 20 besar ranking vote. Hehe, sebenarnya pinginnya author aja sih.


Ah author makasa? Gak, gak, gak! Author gak makasa, seiklasnya aja. Hehe.


__ADS_2