
“ Itu sebuah sarang!” ucap Sungsang Geni, sangat yakin sebab permukaan luar dipenuhi dengan rumput ilalang putih yang sudah layu seperti memang disengaja untuk menutupinya. Tapi yang tidak diketahui Sungsang Geni adalah sarang apa yang terpampang di depannya.
Panglima Ireng menoleh kerah Sungsang Geni, seperti enggan untuk masuk kedalam. “Gerrr...”
“Udaranya terasa lembab, kita akan bermalam di sarang itu!” jawab Sungsang Geni, merasakan bahwa mungkin akan turun hujan beberapa saat lagi.
“Gerrr.” ucap Panglima Ireng.
"Jangan hhawatir kita akan baik-baik saja." Sungsang Geni menangkap rasa takut di mata Panglima Ireng, tapi sekarang berada di dalam hutan juga bukan pilihan baik.
Sungsang Geni terdiam beberapa saat, nampaknya srigala besar hitam menang tidak menyetujui rencananya. Dia pasti lebih tahu dari Sungsang Geni mengenai sarang itu, dan mahluk apa yang akan keluar dari dalam sana.
Tapi para mahluk hasrat terasa semakin mendekat, Sungsang Geni tidak memiliki waktu banyak untuk berpikir lebih jauh mengenai sarang besar di depan, yang terbentuk dari dua pohon besar yang melengkung dan menyatu ujung dahannya hingga membentuk sebuah celah besar di tengahnya.
Pemuda itu lantas mengeluarkan pisau energi kecil dan melempar ke dalam sarang. Menunggu beberapa saat, tapi tuan rumah tidak kunjung keluar dari kediaman, jadi Sungsang Geni melepaskan hingga 3 pisau kecil lagi.
“Aku rasa tidak ada mahluk apapun, aku akan masuk kedalam sana!” ucap Sungsang Geni, merasa yakin dengan keputusannya.
“Ger...ger...” jawab Panglima Ireng tampak ketakutan.
Sungsang Geni dengan santai melangkah mengendap di bibir sarang, besarnya mungkin dua kali roda kereta kuda.
Setelah berhasil memasuki sarang, dia melihat bagian dalam yang cukup luas dengan tumpukan ilalang putih.
Dindingnya berwarna merah ketika cahaya pisau energi di dekatkan, tapi yang aneh tekstur lantai meski tertumpuk ilalang sedikit lebih lembek. Mungkin karena akar rambat yang kusut dan menjadi dasarnya, pikir Sungsang Geni.
“Hei panglima ireng? Menurutmu hewan apa yang tidur di tempat ini?” tanya Sungsang Geni, “Ini bukan sarang kijang, tapi mungkin seekor kucing besar. Harimau?”
“Ger...ger...!” wajah Panglima Ireng tampak gusar mendengar kata harimau, dia mengendus beberapa kali dan menoleh kearah pintu masuk sarang, berharap jika harimau yang dikatakan Sungsang Geni tidak datang menerengkam.
__ADS_1
Sungsang Geni tertawa cekikikan, tidak menduga srigala besar itu juga memiliki sisi takut di raut wajahnya yang menyeramkan.
Setelah memastikan tidak ada satupun mahluk yang mereka temukan di tempat ini, Sungsang Geni menutup mulut sarang dengan serpihan kayu dan juga ranting kasar, kemudian kembali menutup dengan rumput ilalang.
Dia mengeluarkan pisau kecil, digunakan sebagai penerangan ditempat ini. Dan diluar sana, Sungsang Geni mulai mendengar suara seperti cekikikan dari ratusan anak yang terbang mengitari mereka.
“Apa mereka mengetahui keberadaan kita?” tanya Sungsang Geni, pisau kecil di arahkan ke Panglima Ireng yang duduk menghadap Sungsang Geni.
Dugaan Sungsang Geni sementara ini, mereka tidak akan mengetahui keberadaannya karena pemuda itu hanya menyimpan 1% dari tenaga dalamnya. ' Jika benar, mungkin mereka bergerak dengan mengikuti tenaga dalam seseorang. jadi sekarang mungkin Pramudhita yang jadi sasaran.'
“Ger...” Panglima Ireng menggeleng-gelengkan kepala.
“Begitukah? Jadi mereka tidak akan mengetahui...” Perkataan Sungsang Geni berhenti ketika sarang itu bergetar pelan, bergerak pelan dan juga membuka sebuah lorong, “Astaga! Apa kau berpikiran sama denganku, Panglima Ireng?”
“GERRRR!”
“HAAAAAA!” Sungsang Geni bersamaan dengan srigala hitam besar.
Sungsang Geni maupun Panglima Ireng menyadari bahwa ini bukanlah hal baik. Panglima Ireng menunjukkan wajah takut lebih parah dari biasanya, nampaknya sekarang dia juga memahami hal apa yang telah terjadi.
Kebenaran dari dugaan Sungsang Geni terbukti pada cairan yang sesaat lagi mengotori mereka.
Tapi sebelum hal itu terjadi, Sungsang Geni menciptakan sayap tak kasat mata dan sekuat tenaga berhasil membawa Panglima Ireng pada permukaan yang tidak ber air.
“Kita berada didalam perut ular?” ucap Sungsang Geni tak percaya, “Benar, kenapa aku tidak menyadari sebelumnya, jika Srigala ditempat ini bahkan hampir sebesar gajah jadi bukan mustahil ular ditempat ini juga mengalami kondisi demikian.”
Tidak pernah terbayangkan ditelan oleh ular hidup-hidup, di dunia luar menemukan ular sebesar pohon kelapa lumayan sulit, kecuali beberapa silumuan.
Tapi berbeda dengan ular di tempat ini, Sungsang Geni bahkan tidak merasakan energi siluman keluar, yang menandakan ular ini bukan siluman. Ini adalah ular biasa yang mengalami mutasi genetik yang berbeda.
__ADS_1
Srigala Hitam bernapas kesulitan di dalam perut ular besar, itu mungkin karena asam lambung yang sedang mencerna beberapa hewan. Tempat ini lumayan besar, cukup untuk menampung 10 ekor gajah atau mungkin 15 ekor gajah.
“Ular ini tidak bisa lagi bergerak, karena terhimpit beberapa pohon besar yang melengkur...” Gumam Sungsang Geni, “Karena kabut tebal, kita jadi tidak begitu memperhatikan bentuk aslinya, dan penciumanmu juga terganggu akibat kabut itu.”
'Pantas saja tekstur dasarnya tadi terasa lembek.' batin Sungsang Geni menggerutu beberapa kali.
Kabar baiknya adalah, di dalam perut ular besar ini mereka tidak akan di repotkan dengan para hasrat yang sedang gentayangan.
Dan kabar buruknya tentu saja mereka tidak tahu kapan ular akan meggeliat dan membuat asam lambung naik dan menghancurkan tubuh mereka.
Panglima Ireng menggeram beberapa kali, kesal dengan nasip buruk yang menimpanya.
“Kita akan berjalan menuju bagian perut disana!” ucap Sungsang Geni menunjuk pada bagian ujung ekor ular, dia berharap ada sesuatu yang menarik ditempat ini selain suara detak jantung sang ular itu sendiri.
"Jika ular ini adalah siluman, aku akan mengambil mustikanya!' gumam Sungsang Geni sambil menggaruk kepalanya, "Sayang sekali dia hanya ular biasa."
Sungsang Geni berjalan pelan menyusuri tepian perut, tempat ini begitu licin. Berwarna merah gelap dan urat-urat besar yang mengelilingi tulang-tulang sebesar betis yang tersusun rapi di atas kepala.
Tingginya mungkin 2 meter, dan semakin lama semakin menciut. Sungsang Geni tersenyum kecil ketika ingat bahwa Basudewa Krisana juga pernah ditelan siluman ular besar.
“Dia berusaha mencerna kita?” ucap Sungsang Geni.
Pemuda itu bisa saja menebas perut sang ular saat ini, keluar dengan cukup mudah. Dia yakin dengan pedang energi yang sekarang sudah keluar dari telapak tangannya bisa menebas ular ini, tapi Sungsang Geni tidak ingin mengambil resiko terhadap para hasrat.
Sekarang satu-satunya yang menghalangi mahluk hasrat menemukan mereka adalah karena berada didalam perut ular. Tidak masalah bertahan sedikit lama di dalam tubuh ular, sebelum keadaan cukup memungkinkan.
Jika saja saat ini tenaga dalam Sungsang Geni dalam kondisi prima, dia tidak mungkin melakukan hal ini.
“Panglima Ireng?” bagaimana jika aku membunuh ular ini, apa kau bisa bertahan dari guncangan?” tanya Sungsang Geni, melirik pada bagian atas dimana mungkin jantung ular ini berdetak.
__ADS_1
“Gerrr.” Jawab Panglima Ireng sambil menggeleng-gelengkan kepala, 'Perbuatan yang bodoh, dasar manusia tidak berotak.'