PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pengakuan Sungsang Geni


__ADS_3

Pasukan berpakaian putih, mirip seperti asap yang melayang-layang tanpa kaki. Wajah mereka terlihat hitam legam, kecuali mata nanar berwarna merah, dan juga berkuku seperti kuku burung elang.


Sungsang Geni tidak ingin tinggal diam, meski tubuhnya tidak begitu sehat tapi jika membunuh satu atau dua mahluk mengerikan itu bukanlah hal sulit.


Sekarang jaraknya dengan mereka mungkin tinggal 150 meter lagi, dan srigala besar hitam mulai mengendus bersiap untuk menyerang.


Namun ada yang aneh di mata pemuda itu, memperhatikan seluruh rakyat di bawah sana masih terlihat tenang dan tanpa ada wajah panik, bahkan salah seorang anak kecil masih sibuk menyantap goreng di kedai kecil dengan pelayan bertubuh besar.


Beberapa saat kemudian, dua orang wanita kembar dengan pakaian bulu domba datang dengan pedang energi berbentuk ular yang terhunus kedepan. Dan mereka juga memiliki 4 garis putih di keningnya.


“Bukankah musuh mereka sangat banyak?” gumam Sungsang Geni. Menjadi sangat heran, sebab bantuan yang datang hanya dua orang saja, “Baiklah aku akan membantu...”


“Jangan dipikirkan, kau? Hem...Siapa namamu, aku melupakannya?”


“Geni! Sungsang Geni.”


“Benar Geni. Sekarang beristirahatlah lebih dahulu!” ucap Pramudhita, lalu dia mengeluarkan sebilah pedang lurus bermata tunggal dengan gagang panjang, “Mereka memang banyak, tapi kami bertiga sudah lebih dari cukup untuk menghadapinya.”


“Tapi kenapa kau membunyikan lonceng jika ternyata bisa menanganinya?” Sungsang Geni tidak mengerti, biasanya lonceng digunakan sebagai peringatan bahaya.


“Hem...tiga bunyi loncneng adalah bahaya, 5 lonceng adalah pesta.” Ucap Pramudhita.


“Dan kau membunyikan 5 lonceng?” sambung Sungsang Geni, dia tidak paham kenapa pertarungan dianggap sebagai pesta oleh orang ditempat ini, tapi sebelum dia bertanya lebih jauh, Pramudhita telah hilang dari pandangannya diikuti auman keras dari Srigala Besar.


Sungsang Geni merasakan energi lawan yang tidak biasa, sesuatu yang sangat menakutkan. Ini seperti gabungan aura membunuh puluhan orang yang sangat pekat, atau lebih menakutkan dari pada hal itu.

__ADS_1


Tapi yang paling mengejutkan Sungsang Genial adalah, tiga orang dari perguruan pedang bayangan bahkan tanpa kesulitan menghancurkan lawan-lawan yang jumlahnya mungkin ratusan. Ketika mereka hancur, tubuh mereka pecah menjadi asap dan dan menghilang.


Sungsang Geni bahkan melihat Pramudhita menguap ketika sedang bertarung, padahal terlihat bahwa lawannya sangat gesit menyerang. “Pertempuran ini bahkan terasa membosankan untuknya!”


Jika diperhatikan gerakan Pramudhita terlihat lebih gesit dari si kembar, permainan pedang yang pernah dilihat Sungsang Geni ketika melawan Yunirda bahkan lebih apik jika di gunakan oleh pria itu.


Dilain sisi, srigala hitam besar mulai mencengkram kuku tajam pada 3 dan 4 orang lawannya sekaligus. Cabikan giginya mungkin setara dengan serangan Sungsang Geni dengan menggunakan jurus pertama pedang awan berarak. Kuat dan tajam


Sungsang Geni tidak bisa menyembunyikan keterpukauan ketika Pramudhita melayang dengan cepat keatas lalu melepas sebuah serangan berbentuk 4 pedang bayangan yang bisa meliuk seperti ular dan mengikat lawannya hingga hancur.


Sekarang meski hanya tiga orang, tapi Sungsang Geni dapat melihat seperti belasan orang yang sedang bertarung. Dan dalam hitungan menit saja, semua lawannya telah lenyap tanpa tersisa.


“Jadi seperti ini kekuatan dari pendekar pedang bayangan yang sesungguhnya?” gumam Sungsang Geni, “Lebih hebat dari teknik pedang emas bahkan mungkin pedang awan berarak.”


“Apa?” Sungsang Geni tidak melihat pergerakan pria itu sama sekali, “Gerakan yang luar biasa cepat.”


Pemuda itu menoleh kearah si kembar, tapi begitupun dengan keduanya yang telah hilang. Sungsang Geni kembali menatap Pramudhita dengan sejuta pertanyaan.


“Karena kau memiliki lencana Yunirda, aku yakin kau telah melihat teknik ini.” Ucap Pramudhita, kemudian meminum ramuan yang dia buat, “Ah, ramuan ini benar-benar enak. Baiklah, sekarang aku ingin bertanya, bagaimana kau bisa mendapatkan lencana itu?”


“Dia memberikannya kepadaku, sebelum kematiannya tiba.” Sungsang Geni menjawab spontan saja, tapi perkataan itu membuat Pramudhita menjadi murung, tanpa sengaja dia melepaskan cawan air ditangannya dan air jatuh berceceran.


“Dia sudah mati...?” Pramudhita berkata tidak percaya, meski dia menyadari kehidupan diluar sana memang keras, tapi dia tidak terima jika kakaknya mati sebelum sempat kembali ke tempat ini, “Apakah kau adalah temannya? Apakah dia mati ditangan orang yang benar-benar hebat? Apakah dia memiliki tenaga dalam?”


Sungsang Geni menarik napas panjang, “Tidak, aku bukan temannya. Dan dia tidak memiliki tenaga dalam, tapi energinya berasal dari kegelapan. Dia menjadi jahat, dan membunuh ratusan orang tak bersalah.”

__ADS_1


Pramudhita lantas tertegun, dia berpikir beberapa saat kemudian dia menjadi tersentak tak percaya, “Kau yang membunuh dirinya?”


Pramudhita tidak memiliki alasan yang cukup untuk menuduh Sungsang Geni membunuh kakaknya, tapi kalimat yang mengatakan 'aku bukan temannya' menjadi alasan kenapa dia berpikiran seperti itu.


Jika Sungsang Geni bukan temannya, mustahil lencana Yunirda berada di tangannya kecuali Sungsang Geni merampasnya? Itulah yang dipikirkan Pramudhita sekarang.


Tapi tanpa diduga, “Memang aku yang membunuhnya!” Sungsang Geni mengakui perbuatannya, seakan tidak merasa bersalah. Tapi itulah Sungsang Geni, dia benci berkata bohong.


“Jadi begitu? Sekarang setelah membunuhnya kau datang ke sini dengan ratusan luka, dan aku malah menolongmu?” Pramudhita menjadi sangat geram, Sungsang Geni merasakan aura membunuh tertuju ke arahnya, tapi pemuda itu masih terlihat tenang.


Malah dia kemudian, menarik sebuah bangku dan duduk menghadap Srigala Hitam besar yang kembali tertidur. “Apa kau ingin menuntut balas atas kematian saudaramu?”


Pramudhita ingin mengatakan 'iya' tapi kata itu tidak keluar dari mulutnya. Melihat Sungsang Geni masih bersikap tenang, dia menjadi lebih waspada.


'Apa dia berniat menipuku? Atau dia memang tidak berniat bertarung, karena kondisinya yang lemah? Tidak. Kenapa dia masih bersikap tenang, dia meremehkan aku?' batin Pramudhita menggerutu.


“Dengarkan aku, jika kau tidak percaya tidak masalah, tapi aku benci berkata bohong. Luka yang kudapat, bukan dari Yunirda tapi dari orang yang mempekerjakan dirinya. Saudaramu itu menyesali segala tindakannya, tapi ikatannya dengan orang itu tidak bisa menyelamatkan jiwanya.” Sungsang Geni berkata pelan, bahkan dia sama sekali tidak mengeluarkan energi api saat ini, agar Pramudhita sedikit tenang dan memahami maksudnya.


“Kakakku tidak mungkin melakukan hal itu?”


“Jika kau tidak percaya bukanlah masalah!” Sungsang Geni berdiri dan mendekati Pramudhita lalu menarik pedang pria itu tepat di jantungnya, “Kau bisa membunuhku selagi sempat. Tapi, diluar sana pasukan Kelelawar Iblis sedang melakukan sesuatu yang mengancam jutaan manusia, dan aku harus menolong mereka. Jika kau memang menuntut balas, harusnya kau membunuh orang itu, kelompok yang menyeret saudaramu ke jalan hitam dan gelap.”


Pramudhita masih terlihat ragu mendengar perkataan Sungsang Geni, tapi dia memilih untuk menurunkan pedang energi dan melenyapkannya.


Sungsang Geni menatap Pramudhita sangat tajam, "Kau baru saja melepaskan nyawa orang yang telah membunuh keluargamu?"

__ADS_1


__ADS_2