
6 wakil komandan bergegas mencari Komandan mereka, Banduwati. Di beberapa reruntuhan dan pada gundukan tanah, tapi tidak mereka temukan wanita itu. Salah satu dari wakil komandan itu, pria buta masih bergetar seluruh tubuhnya, wajahnya terlihat tegang.
“Mata setan!” ucap Pria berwajah seram, Kebo Ijo. “Kau bisa mencari tahu di mana Komandan Banduwati, aku yakin dia masih hidup, serangan pemuda itu memang mengerikan tapi Komandan Banduwati tidak akan kalah dengan serangan itu.”
Mata Setan belum menjawab, masih bergetar dengan wajah pucat pasai. Dia tadi melihat dengan jelas, energi besar yang hampir pula mengenai dirinya. Meski dia bisa berlari tepat waktu, tapi pria itu tidak bisa menghindari tekanan dari pedang energi yang tercipta. Menghempaskan tubuhnya.
Andaikan Banduwati tidak memiliki batu penyerap, Mata Setan yakin wanita itu akan hancur menjadi abu. Sekarang karena perasaan takut, pria itu tidak bisa mengontrol mata setannya, jadi saat ini dia tidak tahu pasti keberadaan Banduwati.
“Tapi yang jelas, dia masih hidup!” Mata Setan berkata pelan.
***
Sungsang Geni melayang dengan menggendong Cempaka Ayu yang kehilangan kesadarannya. Gadis itu terlalu memaksakan tubuhnya, membuat seluruh tenaga dalamnya habis tak tersisa. Tapi sebenarnya bukan hanya Cempaka Ayu, Sungsang Geni juga merasakan hal yang sama.
Seluruh Energi api yang dia miliki nyaris tak tersisa, pedang watu kencanapun nampaknya juga demikian.
Tapi dia masih memiliki sedikit tenaga dalam untuk melarikan diri dari tempat itu, dengan tenaga dalam yang tipis, Sungsang Geni kesulitan mengontrol laju terbangnya.
“Aku tidak menduga, kekuatan kami berdua tidak dapat membunuh wanita itu!” Gumam Sungsang Geni dengan kesal, “Sialnya, sekarang tenaga dalamku...tidak, tidak, jangan sekarang, bertahan sedikit lagi, jangan....”
Sungsang Geni mendarat bebas di pinggir hutan, nyaris saja terhempas. Sekarang dia menyadari bahwa laju terbangnya sedikit meleset dari bukit batu dimana tempat Lembah Ular mengungsi. Mungkin karena terlalu buru-buru kabur dari tempat itu.
__ADS_1
Tanpa ada pilihan lain, pemuda itu terpaksa menggendong Cempaka Ayu, berlari kearah beberapa pohon yang berbatang tinggi. Insting pemuda itu mengatakan, Banduwati sedang mencarinya saat ini. Tentu saja, pendekar manapun tidak akan melepaskan orang yang telah membuat dia terluka.
Jika dia perhatikan, sekarang dia berlari sedikit ke arah sungai deras. Dan ini bukanlah hal yang baik, karena dia akan menaiki air terjun agar sampai di kem pengungsian Lembah Ular.
Satu-satunya cara adalah mengambil jalan memutar, menglilingi air terjun, tapi butuh waktu satu minggu agar tiba disana. Dan Sungsang Geni tidak memiliki waktu sebanyak itu.
“Aku tidak memiliki tenaga yang tersisa saat ini!” gumam Sungsang Geni, dia tidak akan bisa terbang lagi. “Astaga, kenapa wanita itu mendekat!”
Pemuda itu terperanjat, melihat sosok Banduwati terbang ke arahnya seperti seekor kelelawar. Dia segera bersembunyi pada batu besar yang sedikit berongga, kemudian dia menutupi rongga itu dengan beberapa dedaunan dahan semak.
Banduwati mendarat tepat di atas batu itu, Sungsang Geni masih merasakan tenaga dalam wanita itu masih cukup tersisa untuk membunuhnya dan Cempaka Ayu. Namun jika dia memiliki tenaga dalam setingkat pendekar pilih tanding saat ini, Banduwati tidak akan kembali dengan hidup-hidup.
“Padahal aku melihat mereka disini!” Banduwati menajamkan matanya, di keremangan malam, dia tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas, lagipula dia tidak dapat melacak tenaga dalam Sungsang Geni dan Cempaka Ayu, karena mereka sudah kehabisan energi itu. Jika dipikirkan lagi, ada untungnya tenaga dalam mereka tidak tersisa.
Banduwati lalu pergi meninggalkan Sungsang Geni dan Cempaka Ayu menuju bukit tinggi. Dia berpikir, Sungsang Geni dan Cempaka Ayu telah tiba ditempat itu.
Tapi Jika berhasil tiba diatas bukit, Banduwati akan berhadapan dengan Sabdo Jagat. Itulah rencana dari Sungsang Geni. Dengan kekuatan Banduwati yang sekarang, Sabdo Jagat tidak akan kesulitan mengalahkannya.
Sungsang Geni keluar dari semak-semak setelah merasakan energi pisiknya mulai kembali, dan merasakan Banduwati telah pergi dari hutan ini. Dia kemudian menggendong Cempaka Ayu, dan mulai menyusuri hutan menuju aliran sungai yang deras.
Cukup lama pemuda itu berjalan dengan membopong Cempaka Ayu, sekarang tulang kakinya mulai terasa bergetar. Hari mungkin sudah memasuki fajar saat ini, pemuda itu mulai melihat cahaya kuning dari arah timur. Merambat dengan pelan, menyentuh ujung-ujung pohon yang berdaun lebat. Sungsang Geni akhirnya berhenti pada batu besar di pinggir sungai.
__ADS_1
Pemuda itu membersihkan seluruh tubuhnya, ada banyak darah hitam yang menempel pada baju dan celananya, yang sedari tadi berbau bangkai. Dia meminum beberapa tegakkan air, terkadang dia berpikir kenapa tanah di balik bukit menjadi gersang, sedangkan air mengalir dari arah sana.
Pemuda itu berniat menunggu mentari bersinar, menunggu Cempaka Ayu sadar dan menunggu sesuatu yang bisa dia tunggu, misal mendapatkan ikan yang lewat di dekatnya.
Jika Mentari bersinar terang, ada harapan energi api mataharinya terhimpun, dan dia mungkin bisa menggunakan energi itu untuk terbang keatas sana.
Sekitar jam 7 pagi, sang surya berhasil menjagakan Cempaka Ayu, gadis itu masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia mulai menghimpun kesadaran, dan menemukan tubuhnya tersandar di dekat batu besar di pinggir Sungai. Cempaka Ayu memandangi sekitarnya, pemandangan yang jarang dia lihat, air yang jernih.
Dia menyapukan pandangan, lalu menemukan Sungsang Geni sedang membakar beberapa ikan besar. Cempaka Ayu tidak tahu jika, Sungsang Geni pandai menangkap ikan.
“Kau sudah Bangun!” ucap Sungsang Geni, menghampiri Cempaka Ayu, “Bersihkan dirimu, kemudian kita akan makan!”
Cempaka Ayu masih berusaha beranjak dengan susah, Sungsang Geni menyadari bahwa gadis itu tidak memiliki kemampuan tanpa tenaga dalamnya. Tapi dia bersukur, tidak ada satu serangan yang sempat melukai gadis itu.
“Kita akan keatas, setelah matahari berada di atas kepala!” ucap Sungsang Geni setelah selesai menyantap 2 ekor ikan panggang, “Aku akan mengumpulkan tenaga dalam sebisa mungkin.”
Cempaka Ayu tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan. Wanita itu sebenarnya sedang memikirkan banyak hal, salah satunya Banduwati yang ternyata selama ini menyamar menjadi ibunya. Dan lebih mengejutkan lagi, wanita itulah yang telah membunuh ibu kandungnya.
“Tidak usah dipikirkan, kenyataan bahwa wanita itu bukan ibumu akan lebih memantapkan kita untuk menghabisi wanita itu nanti.” Ucap Sungsang Geni, “Simpan kemarahanmu pada perang selanjutnya.”
Cempaka Ayu tersenyum kecil memandangi Sungsang Geni, “Tadi, terima kasih telah menyelamatkan hidupku.”
__ADS_1
Sungsang Geni hanya terdiam, lalu memejamkan matanya dengan sedikit tersenyum. “Tidak, tadi kita bersama-sama saling menolong. Seharusnya aku yang berterima kasih, karena dirimu rencana ini berhasil dilakukan.”