
Kedatangan Sungsang Geni di sambut meriah oleh teman-temannya. Mereka sudah menunggu lama, malah beberapa orang berpikiran buruk mengenai pemuda matahari itu. Dibunuh Wulandari, mungkin.
Cempaka Ayu memeluk tubuh pemuda itu, seolah sudah sangat lama tidak bertemu. Gadis itu tiada menghiraukan lagi puluhan orang yang mengelilingi mereka berdua, dengan wajah-wajah iri.
Di belakang Cempaka Ayu ada seorang pria kekar dengan senyum kecil yang menghiasi bibir berkumis tipis. “Geni, bagaimana kabarmu? Apa wanita itu melakukan sesuatu? Kau tidak mendapatkan hal buruk, bukan?”
“Tentu saja tidak.” Sungsang Geni menjawab pertanyaan Mahesa. “Dia benar-benar memenuhi janjinya, untuk memberi penawaw racungnya.”
Setelah mengatakan hal itu, Cempaka Ayu mendadak melepaskan pelukan, memandangi ke arah belakang sambil bermuka masam.
“Cempaka, apa yang sedang kau cari?” Sungsang Geni balik menoleh ke arah gadis itu memandang, tapi tidak menemukan apapun selain kerumunan orang-orang Bayangkara.
“Aku tidak melihat gadis itu, dimana dia?”
“Tentu saja dia tidak akan ikut ke tempat ini, kau bisa membunuhnya kelak.” Sungsang Geni mengacak-acak rambut hitam gadis itu seraya tersenyum kecil. “Sudahlah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Ini!” Sungsang Geni menyodorkan botol giok kecil. “Aku mendapatkan penawar racunnya.”
Cempaka Ayu hendak bertanya lebih lanjut, wajahnya menjadi merah, sekarang terpikir olehnya pemuda yang paling dia sayangi itu, mungkin saja telah melakukan sesuatu bersama gadis berhati iblis di belakangnya.
Namun kemudian, segeralah Mahesa mengambil penawar racun itu. Bergegas membukanya. “Tidak ada aroma...” dia berpikir sejenak, kemudian mengeluarkan isi dari dalam botol giok kecil ke telapak tangannya. “Ini berbentuk bubuk, ku kira bentuknya cair seperti air?”
Mahesa kembali mencium, kemudian menjilat penawar racun itu hanya untuk memastikan kebenarannya.
Namun seketika tubuhnya tiba-tiba terasa panas, jantungnya berdegub lebih kencang dari sebelumnya. Pria itu terpaksa mencengkeram dada untuk beberapa saat, hampir saja menjatuhkan botol penawar jika sedetik saja Sungsang Geni tidak menangkap benda itu.
Hanya sekitar 1 menit kemudian, Mahesa sudah mulai terlihat membaik. Kulit tubuhnya yang merah, sekarang mulai seperti sedia kala. Tidak lama setelah kejadian itu, asap ungu keluar dari mulut dan lubang hidungnya.
“Tubuhku seketika menjadi lebih baik dari sebelumnya.” Mahesa tersenyum lega. “Ini adalah penawar racun yang asli, sekarang aku bisa merasakan aliran dari tenaga dalamku.”
Rerintih mengelus dada, beberapa saat tadi wajah gadis itulah yang paling khawatir.
__ADS_1
Mahesa mulai membagi penawar racun tersebut, kepada hampir 120 orang lebih. Penawar racunnya memang tidak terlalu banyak, tapi hanya dengan mencicipi sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkan tubuh mereka.
***
Tidak jauh dari depan pintu markas Petarangan sosok Benggala Cokro melempar senyum ke arah Sungsang Geni. Pemuda itu terlihat ragu, tapi pada akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Sungsang Geni.
“Aku datang ke sini atas permintaan Paduka Raja Lakuning Banyu.” Benggala Cokro membungkuk pelan sebagai tanda hormat dirinya untuk Sungsang Geni selaku pemimpin pasukan Bayangkara.
“Katakanlah apa yang hendak kau sampaikan!” tanya Sungsang Geni.
“Utusan dari Swarnadwipa telah datang, mereka juga membawa sepuluh ribu pasukan seperti yang kau katakan.” Benggala Cokro terdiam sejenak, lantas melanjutkan ucapannya. “Paduka Raja memintamu untuk kembali ke Surasena, bergabung dengan kerajaan untuk menumpas Kelelawar Iblis.”
“Kami sudah melakukannya...” Mahesa menimpali perkataan Benggala Cokro. “Surasena lebih memilih untuk diam di sarangnya, ketimbang berjuang.”
Sungsang Geni segera menepuk pundak Mahesa, mencoba menenangkan temannya yang sudah jelas terlihat kesal dengan ucapan Benggala Cokro.
Jika dilihat kilas balik ke belakang, Surasena terkesan tidak peduli dengan saran yang di cetuskan Sungsang Geni untuk menyerang Kelelawar Iblis secara langsung, mereka malah memilih untuk tetap bertahan dan menunggu musuh datangn menyerang.
Tiba-tiba deru derap kaki kuda terdengar dari arah luar Markas Petarangan. Terlihat seorang prajurit merupakan Telik Sandi Bayangkara turun dari kuda, berlari tergesa-gesa menemui Sungsang Geni.
“Pemimpin...” Dia membungkukan tubuhnya memberi hormat. “Aku membawa kabar, ada pergerakan musuh dari arah selatan. Menggunakan peralatan perang lengkap, bahkan dari mereka ada 2 orang Komandan Kelelawar Iblis.”
Mahesa tesedak napasnya sendiri, Benggala Cokro batuk kecil sementara ada lebih dari sepuluh orang menjadi pucat seketika.
Dua Komandan kelelawar Iblis sudah bergerak. Sungsang Geni mengira yang lebih dahulu bergerak adalah Negri Sembilan, tapi tidak menduga dua dari 4 Komandan yang tersisa, telah memutuskan untuk menyerang.
“Kemana arah tujuan mereka?” Sungsang Geni bertanya, pemuda itu juga mulai terlihat risau saat ini.
“Surasena...” Telik Sandi menjawab mantap.
__ADS_1
Mahesa mengepal tinju dengan keras, sementara sekarang mulai terdengar gumaman-gumaman yang mengganggu pendengaran.
“Dua orang Komandan, apa Surasena akan selamat?”
“Tidak mungkin...”
“Ini benar-benar berita buruk, kita bahkan belum berhasil merebut 1/4 kekuatan musuh tapi sekarang mereka sudah menemukan markas Surasena.”
Terdengar ricuh sekali. Prajurit Bayangkara mulai merasa ragu.
Tapi belum pula situasi menjadi tenang, ada lagi seorang pria datang dengan menunggangi kuda. Kali ini utusan dari Serikat Pendekar, terlihat dari jubah yang mereka kenakan.
Pria itu berlari tergesa-gesa, lantas memberi hormat kepada Benggala Cokro. Secarik surat diberikannya pada pemuda itu. Bengal Cokro tanpa menunggu lama, merobek segel surat dan membacanya cukup keras agar semua orang bisa mendengar informasi yang di bawa utusan Serikat Pendekar.
“Surasena baru saja menghadapi sepuluh ribu pasukan. Diharapkan untuk semua prajurit yang tersebar di tanah Java kembali ke markas.” Sungsang Geni mengulangi inti dari surat yang dibaca Benggala Cokro.
“Ada banyak prajurit yang tewas, dan lebih banyak lagi yang terluka.” Benggala Cokro bergumam kecil. “Geni, menurutmu apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku akan mengikuti semua saranmu.”
Empu Pelak keluar dari dalam markas Petarangan, wajah pria itu tampak lebih segar setelah meminum penawar racunnya. Tapi demikian, tubuhnya masih sangat lemah.
“Aku sudah sangat tua, tapi semangatku tidak akan kalah dengan kalian yang muda.” Empu Pelak batuk kecil setelah mengatakan hal itu. “Geni, aku ingin melihat perang untuk terakhir kalinya.”
Sungsang Geni mengerti apa yang di maksud dengan pak tua itu. Tentu saja dia meminta Sungsang Geni kembali lagi ke Surasena, guna membantu perang besar yang beberapa hari lagi akan meletus.
Empu pelak sudah menyiapkan banyak bubuk setan, itu akan sangat membantu untuk menumpas prajurit-prajurit Kelelawar Iblis. Setidaknya akan berkurang setengah pasukan di pihak musuh.
Sungsang Geni menatap telik sandi yang dia utus untuk mencari informasi mengenai musuh. “Menurutmu berapa banyak prajurit yang mereka bawa?”
“Kurasa...” Telik Sandi menghitung jari-jemarinya untuk beberapa saat. “20 ribu pasukan, ya jika kurang tidak akan banyak jika lebih juga tidak akan banyak.”
__ADS_1
“Walahdalah...” Salah satu prajurit Bayangkara hampir terpekik. “Itu seratus kali lebih banyak dari kita.”
“Tutup cangkemmu cak, mau seribu kali lebih banyak kita tidak akan mundur selangkahpun.” Menimpali pula salah satu teman pria itu. “Benarkan, pemimpin?”