PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Berlatih Meringankan Tubuh


__ADS_3

Keesokan harinya, Sungsang Geni mendatangi Sabdo Jagat dengan buru-buru. Kedatangan pemuda itu membuat perasaan Sabdo Jagat sedikit tidak nyaman, tentu saja, Sungsang Geni selalu datang dengan kejutan-kejutan tak terduga. Dan hari ini dia berharap tidak ada kejutan lain dari pemuda itu.


“Paman Sabdo!” Sungsang Geni tersenyum kecil, “Apa boleh aku masuk?”


Sabdo Jagat mempersilahkan pemuda itu memasuki ruang santai miliknya. Tapi wajahnya masih terlihat risau, pria itu tidak bisa tidur semalaman panjang karena memikirkan rencana Sungsang Geni kemarin siang.


“Bukankah hari ini sangat cerah paman!” ucap Sungsang Geni, tapi bagi Sabdo Jagat perkataan itu terdengar seperti basa-basi belaka, karena memang di tempat ini setiap harinya selalu cerah.


“Geni, apa kau memiliki rencana lain?” tanya Sabdo Jagat curiga.


“Benar paman, aku ingin kau mengajariku ilmu meringankan tubuh. Aku mohon jadikan aku sebagai muridmu.” Jawab Sunsang Geni, pemuda itu kemudian menyunggingkan senyum manisnya.


Sabdo Jagat terdiam sesaat. Dia tidak pernah memiliki murid sebelumnya, jadi permintaan semacam ini adalah kali pertama dalam hidupnya. Pria itu sebenarnya merasa bahwa Sungsang Geni tidak pantas menjadi muridnya, nyatanya pemuda itu lebih hebat dari siapapun saat ini yang berada di Lembah Ular.


“Apa kau yakin ingin belajar ilmu meringankan tubuh dariku?” tanya Sabdo Jagat, memastikan kebulatan tekat Sungsang Geni. “Sebenarnya ilmu ini bisa dipelajari oleh siapapun, hanya saja beberapa orang tidak mengetahui triknya.”


“Aku melihat ilmu meringankan tubuhmu telah sempurna, Paman.” Ucap Sungsang Geni, “Tanpa ilmu itu, teknik bertarungku berkurang 30% saat ini.”


Sabdo Jagat kembali berpikir sejenak, kemudian menemukan tawaran bagus untuk Sungsang Geni. “Aku tidak akan mengajarimu ilmu meringankan tubuh, kecuali...”


“Kecuali apa paman?” Potong Sungsang Geni, “Aku akan menuruti keinginan paman, apapun itu selagi tidak menyimpang dari jalan kebenaran.”


“Sungguh!”


“Aku berjanji!” ucap Sungsang Geni.


“Baiklah! Kalau begitu kau harus menikah dengan adiku, Cempaka Ayu.”


Sungsang Geni mendadak terdiam, mulutnya terbuka saking terkejutnya mendengar perminataan Sabdo Jagat. Dia tidak menduga Sabdo Jagat meminta sesuatu yang sulit dia lakukan, pernikahan bukanlah perkara main-main.


“Tapi paman, aku...”


“Dengar Geni, ketika dewi bulan kembali keluar dari dalam tubuhnya. Kau pikir siapa yang akan menahannya selain dirimu?”


“Paman, aku tidak berpikir akan menikah secepat ini. Aku dengar pernikahan itu sesuatu yang sakral. Kami belum saling mengenal, dan kami butuh waktu untuk saling...”

__ADS_1


“Apa kau tidak menyukai adikku?”


Sungsang Geni mendesah napas berat. Cempaka Ayu memang sangat cantik, tapi Sungsang Geni tidak berpikir sampai terlalu jauh hingga pernikahan, dia mungkin akan mengenal Cempaka Ayu dengan perlahan. Saling memahami satu sama lain, hingga akhirnya memutuskan apakah mereka pantas menikah atau tidak.


“Paman, ma’afkan aku. Aku tidak bisa menerima pernikahan ini, masih banyak musuh di depan sana yang mungkin suatu saat nanti akan membunuhku. Dia akan menjadi janda, jika hal itu terjadi.” Sungsang Geni berkata dengan bergetar, “Tapi mungkin, jika kau mengizinkan, biarlah kami saling mengenal terlebih dahulu.”


Sabdo Jagat tidak membantah perkataan Sungsang Geni, yang diucapkannya memang benar. Dia terlalu buru-buru mengambil keputusan, tapi Sabdo Jagat meyakini bahwa mereka berdua saling terikat.


“Baiklah aku tidak memaksa, tapi bolehkah aku memintamu untuk menjaga dirinya!”


Sungsang Geni kembali bernapas lega, “Tentu saja paman, aku berjanji akan menjaga dirinya.”


Tanpa diduga, Cempaka Ayu mendengar obrolan mereka berdua dari balik bilik bambu. Dia sedikit kecewa Sungsang Geni menolak permintaan kakaknya, tapi mendengar pemuda itu mau menjaganya, hati Cempaka Ayu mendadak berbunga.


“Kalau begitu aku akan mengajarimu ilmu meringankan tubuh.” Tutup Sabdo Jagat, lalu segera beranjak keluar dari dalam gubuk.


***


“Hal pertama dalam ilmu meringankan tubuh adalah konsentrasi dan tetap tenang, jika pikiranmu tiba-tiba saja buyar kau akan jatuh saat berada di ketinggian.” Sabdo Jagat mulai menjelaskan dasar-dasarnya.


Sungsang Geni mulai menyalurkan sedikit tenaga dalamnya ke bagian kaki seperti yang dicontohkan Sabdo jagat, namun belum terjadi apapun saat ini.


“Apa yang kau rasakan pada bagian kakimu?” tanya Sabdo Jagat.


“Sedikit hangat.”


“Kalau begitu, jadikan hawa hangat itu menjadi hawa dingin yang sejuk seperti angin.”


Sungsang Geni kemudian mencipatakan hawa dingin pada bagian kakiya, tidak terlalu sulit bagi pemuda itu.


“Jika sudah kau kau rasakan, sekarang saatnya kau mengendalikan tenaga dalam pada bagian kaki untuk mengangkat tubuhmu.” Sabdo Jagat berkata sambil mencontohkan.


Sungsang Geni kembali menuruti semua perkataan Sabdo Jagat, dan sialnya dia tidak bisa melakukan hal yang pria itu perintahkan.


“Fokus dan konsentrasi!” ucap Sabdo Jagat tak henti mencontohkan, sekarang dengan mudahnya tubuh pria itu terangkat dengan pelan.

__ADS_1


Tidak berhasil, Sungsang Geni terlihat kesal saat ini. Kemudian dia berlatih hampir satu hari lamanya, hingga sampai malam ini, Cempaka Ayu membawakannya sepotong ubi dan segelas air untuk menemani dirinya berlatih.


“Istirahatlah sebentar!” ucap Cempaka Ayu, “Aku membawakanmu makanan, tidak baik jika terlalu memaksa diri.”


Sungsang Geni dengan sedikit kecewa menyudahi latihannya, hari ini dia belum berhasil untuk mengangkat kakinya meski hanya se jengkal. Dia sudah yakin, bahwa tidak mudah untuk menguasai ilmu itu, buktinya hanya segelintir yang bisa melayang.


“Kau sangat beruntung bisa mengendalikan tenaga dalam sesuka hatimu!” Sungsang Geni mulai berkata diselah-selah ubi yang dia santap.


“Aku tidak sempat berterima kasih karena kau telah mencabut susuk yang tertanam di tubuhku.” Cempaka Ayu berkata dengan kepala tertunduk, dia sedikit malu jika mengingat kejadian tempo hari. “Bukannya berterima kasih, aku malah menyerangmu!”


Sungsang Geni tertawa kecil, membuat wajah Cempaka Ayu menjadi merah. “Bagaimana kau melakukannya?”


“Apa?”


“Mengangkat semua benda di dekatmu, itu bukanlah hal yang mudah!”


“Entahlah, aku hanya membayangkan bahwa aku memiliki tangan seperti tentakel. Kemudian tenaga dalamku mengalir mengikuti pikiranku, dan mengangakat benda-benda itu.” jawab Cempaka Ayu.


“Luar biasa, kau memiliki pikiran yang kuat.”Puji Sungsang Geni, membuat gadis itu semakin tersipu.


“Aku akan memberimu trik agar bisa menguasi ilmu meringankan tubuh!” ucap Cempaka Ayu, dengan sekekali mencegahkan kepala melirik mata Sungsang Geni. “Aku tidak yakin trik ini dapat berhasil untukmu, tapi aku dapat terbang karena ini.”


“Benarkah? Tunjukan kepadaku? Aku akan sangat berterimakasih kepadamu.” Sungsang Geni menjadi antusias.


“Jika kau tidak bisa mengontrol tenaga dalam pada kaki, untuk mengangkat tubuhmu. Kau bisa mengikuti caraku, aku membayangkan bahwa aku memiliki sayap seperti kupu-kupu, kemudian tenaga dalamku membentuk sayap tak terlihat, dan mulai membawaku terbang.”


“Benar, kenapa aku tidak terpikirkan hal semacam itu.” ucap Sungsang Geni, “Aku akan mencobanya besok pagi, kuharap metode itu juga berhasil diterapkan padaku.”


Setelah beberapa lama mereka saling bertukar cerita, akhirnya Cempaka Ayu mulai tertidur pula. Gadis itu merebah pada pundak Sungsang Geni, dan entah kenapa pemuda itu tidak berniat mengusiknya.


Dia menatap Cempaka Ayu dengan seksama, kemudian pemuda itu tersenyum kecil dan membenarkan posisi tubuh gadis itu. Sungsang Geni lalu memejamkan matanya, mengatur napas dan memulai meditasi.


Jauh beberapa meter dari sana, Sabdo Jagat melayang berniat melihat perkembangan latihan Sungsang Geni. Tapi seyum kecil segera tersungging di bibirnya, mendapati adiknya tertidur pulas di dekat Sungsang Geni.


“Rupanya, Aku datang pada waktu yang salah!” Ucap Sabdo Jagat, lalu kembali ke gubuknya.

__ADS_1


__ADS_2