PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Watu Kencana


__ADS_3

Wajah yang dilihat Sungsang Geni kemudian perlahan keluar dari mulut Singa Merah, menjadi sebuah kepala utuh, bersamaan dengan hawa panas yang semakin tinggi.


“Kau Si Anak Sulung?” Sunsang Geni berkata terbatah-batah, bukan hanya terganggu dengan energi panas yang bergelora, tapi penampakan mahluk di depannya yang semakin mengerikan.


Setelah kepala Anak Sulung benar-benar keluar dari mulut Singsa Merah, belum terjadi apapun beberapa saat.


Namun kemudian, ketika mata merah terbuka dan menatap Sungsang Geni, tiba-tiba seluruh tubuh pemuda itu terasa lemas tak bertenaga. “Siiialll...dia berhasil mengintimidasiku, aku merasakan ketakutan, sampai-sampai tubuhku terasa menggigil.”


Melihat Sungsang Geni tidak berdaya, mahluk itu yang entah harus menyebutnya dengan apa, memusatkan energi panas dengan jumlah besar di antara Sungsang Geni dan dirinya.


Mula-mula segumpalan api terbentuk, namun semakin lama semakin besar dan terangakat keatas membuat lantai dihujani cairan bebatuan yang sangat panas, dari lelangit ruangan yang meleleh.


Energi itu kemudian berhenti membesar, ukuran lingkarnya hampir sebesar roda kereta kuda. Tidak lama lagi, tempat ini akan menjadi lautan magma.


“Matilah, matilah, matilah kau Manusia!” Ucapan mahluk itu terdengar seperti orang gila yang haus darah.


Bola api, yang terlihat seperti bayi matahari itu lalu melesat menuju Sungsang Geni. Pemuda itu tidak akan sanggup menghindarinya, dan juga tidak akan sanggup menahannya.


Satu-satunya penyesalan yang ada dibenak Sungsang Geni adalah, mati sebelum berhasil bertemu dengan Kelompok Kelelawar Iblis.


5 meter mendekati, kemudian 4 meter kemudian 3 meter, Sungsang Geni mulai merasakan jubah Kilatan Naganya terbakar. Membuat api mulai menjilat kulit wajahnya, tapi pemuda itu tidak dapat melakukan apapun, sebab bayi matahari telah di depan mata.


Sebelum semuanya berakhir menjadi lelehan magma, dan debu, suara berdengung seperti ribuan laba-laba terdengar mendekat dengan sangat cepat.


Dum...Batu Bintang terpasak di tengah-tengah bayi matahari, membuat waktu di ruangan itu tiba-tiba berubah pelan, atau hanya perasaan Sungsang Geni saja.


Batu Bintang Kemulung kemudian menghisap bayi matahari dengan cepat, seakan menemukan makanan kesukaan yang telah lama dia idamkan. Suft...seluruh aura panas di ruangan mendadak lenyap ditelan oleh benda hitam itu.


Sungsang Geni memperhatikan batu bintang di depannya dengan mata terjelit, beberapa kali dia tersedak napasnya, lalu terbatuk keras dan memuntahkan darah segar.


Jubah yang dia kenanakan nyaris tak tersisah, meninggalkan celana yang telah berlombang besar pada bagian betisnya.

__ADS_1


Terlihat luka bakar di bagian dada, kaki sebelah kanan dan juga lengan kanan. Luka di lengan kanan, merupakan sesuatu yang tidak pernah disangkanya, sebab energi matahari selalu berasal dari lengan itu.


Disisi lain, wajah Siiluman Anak Sulung terlihat marah melihat apinya lenyap tak tersisah. Dia menatap batu Bintang Kemulung dengan benci, kemudian mahluk itu melompat dan berniat menghancurkan batu itu, tapi yang terjadi.


Bomm...mahluk itu terpental puluhan meter, menyasar di lantai ruangan, hingga menciptakan siring yang dalam. Dia baru berhenti setelah tiang besar menghadang laju tubuhnya.


“AGHKKKK...!” Siluman itu meraung kesakitan, lengan kanannya terluka. Sungsang Geni masih dapat melihat, lengan siluman itu terluka bakar lebih parah darinya.


‘batu ini tidak hanya menyerap dan menyimpan panas, tapi juga mengeluarkan panas yang disimpannya.’ Sungsang Geni bergumam pelan, “Uhuk...uhuk...”


Pemuda itu melihat pada Siluman itu, nampak belum berdiri dan masih meraung kesakitan. Kemudian dia kembali menatap Batu Bintang Kemulung yang retak dibeberapa bagian. Krek..krek...


“Serangan Siluman itu berhasil membuatnya retak,” gumam Sungsang Geni, tidak percaya ada kekuatan yang mampu meretakan batu paling keras dan langka di dunia ini. Tapi.


Sungsang Geni terperanjat, “Batu ini tidak retak karena serangan Siluman itu, tapi dia sengaja meretakan diri. batu ini sedang berusaha menghancurkan kekangan, seperti kupu-kupu yang menghancurkan kepompongnya. Api yang dia hisap barusan membuat dia mampu melepaskan kekangan.”


Sebenarnya Sungsang Geni sulit untuk mempercayai apa yang terjadi saat ini. Otaknya telah berputar beberapa kali, tapi tetap tidak mendapatkan penjelasan yang masuk akal selain, batu itu bernyawa dan hidup.


Dia sekali lagi mencoba peruntungan, kembali menyerang dengan kuku-kukunya yang merah, tapi sekali lagi dentuman energi membuat mahluk itu terpental ketempat semula dengan luka bakar yang sama.


Bersamaan lepasnya energi api yang menyerang Siluman Singa, permukaan luar batu bintang kemulung pecah berkeping.


Asap tipis menyelimuti batu itu, setelah asap tipis menghilang, Sungsang Geni mendapati inti batu yang sekarang berwarna hitam kemerahan dengan bentuk yang sangat menakjubkan.


“Sebuah Pedang?” Sungsang Geni tersentak mendapati bentuk baru dari batu itu. Ukiran pada pangkal mata pedang yang indah bermotip gadis kecil yang menyangga sinar matahari yang menyebar sampai ujung mata pedang.


Sungsang Geni perlahan meletakan jari-jemarinya pada gagang pedang, setiap jari yang tersentuh membuat energi dari pedang mengalir ke dalam tubuhnya.


Sungsang Geni mengangkat pedang barunya, sekarang terasa sangat ringan. Aliran energi panas masih merayap di sekujur tubuhnya, seakan mengisi energi matahari yang telah habis di lengan kanannya.


Satu hal yang dirasakan oleh Sungsang Geni, energi pedang itu tidak dapat memulihkan tenaga dalammnya. Tapi bukan masalah, energi itu murni dan halus, seperti energi alam yang selaras dengan berkah matahari di lengannya.

__ADS_1


“Sekarang kau baru saja dilahirkan!” Sungsang Geni tersenyum kecil, “Aku tidak memiliki banyak tenaga dalam serta tenaga pisik, jadi sekarang kita harus mengalahkan dia dengan sekali tebas.”


Pedang itu tidak menjawab seperti keris panca dewa, mengartikan dia tidak memiliki roh, atau mungkin memiliki roh hanya saja masih bayi.


Tapi, Sungsang Geni merasakan keris itu berdenyut di telapak tangannya dub...dub...dub..., seperti hentakan pelan detak jantung. “Aku akan memberimu nama, ‘Watu Kencana’, kau menyukai nama itu, sobat?”


Disisi lain, siluman Singa Merah terlihat benar benar marah. Wajah si Anak Sulung terlihat meringis, kemudian sesuatu bergerak dari leher singa besar, seperti tikus yang berusaha keluar dari jebakan.


Tidak lama kemudian, dua buah tangan keluar dari mulut Singa Merah, beriring dada kemudian perut kemudian seluruh tubuh utuh keluar dari dalam mulut singa itu.


Siluman Sebaba, Sungsang Geni menerka mahluk yang baru saja keluar dari tubuh Singa Merah. Setelah keluarnya Si Anak Sulung yang bertubuh pendek, Tubuh Singa Merah berangsur-angsur lenyap menjadi cairan yang menjijikan.


“Manusia!” ucap mahluk itu kemudian mengeluarkan energi merah dari telapak tangannya, membentuk sebuah pedang energi, “Kita akhiri pertarungan ini secepatnya!”


Memeng itulah yang direncanakan Sungsang Geni, jika menunggu lebih lama lagi, pemuda itu takut tidak mampu menahan energi pedang Watu Kencana.


“Tarian Dewa Angin, api penyucian.” Sungsang Geni melakukan gerakan jurus terkuat pedang awan berarak, digabungkan energi besar pedang watu kencana.


Disisi lain, pedang milik Si Anak Sulung mengeluarkan aura api yang dua kali lebih panas dari bayi matahai.


Kemudian dengan sangat cepat, dua energi api bertabrakan. Gelombang kejut yang panas berhasil membuat semua benda di ruaang itu menjadi terbakar, beberapa besi memuai beberapa kayu menjadi arang dan ada banyak batu yang meleleh seperti lahar.


BOM...Energi api berbentuk pedang berhasil mendorong tubuh siluman hingga terpental ratusan meter dan mendarat pada dinding goa, tapi tidak berhenti disitu energi Sungsang Geni terus mendorongnya pada batas terakhir Istana Saka.


“HAAAAA....” Sungsang Geni berteriak, mengeluarkan kemampuan sekuat tenaga, menghabiskan semua energi yang tersimpan didalam watu kencana.


Kakinya yang penuh luka menahan energi yang berat, terpaksa membuat lantai retak, hingga membuat setengah betisnya masuk ke dalam lantai.


Dia masih berteriak keras, seiring rintihan menyayat siluman sebaba yang kemudian meledak menjadi abu.


Pemuda itu menatap lobang besar yang tercipta dari serangannya dengan napas yang ter-engah-engah,“Aku kehabisan tenaga!” gumam Sungsang Geni, kemudian terjatuh di selah-selah lantai yang belum mencair menjadi magma.

__ADS_1


__ADS_2