
Bentara juga dijuluki sebagai Kecapi Berdengung, sebab setiap petikan yang dia lakukan ketika dialiri tenaga dalam seperti dengungan yang mencoba memecahkan gendang telinga.
Sang ibu juga dijuluki sebagai ratu Petikan Kematian, sebab dia bisa menciptakan gelombang suara yang berbentuk seperti ratusan pisau kecil yang menikam musuhnya. Ilmu bela diri seperti ini sudah sangat langka di dataran java.
Kesulitannya tentu saja berada pada bakat seseorang didalam memainkan alat musik, tidak semua bisa memainkan alat tersebut meski harus berlatih bertahun-tahun. Ketiadaan Guru yang mengajari aliran itu juga kendalanya, disamping itu anak-anak muda lebih memilih pedang dan tombak sebagai senjata.
Kematian kedua orang tua tentu saja menjadi luka terdalam yang dialami Bentara. Bukan hanya itu akan menjadi kenangan yang menakutkan, tapi juga membentuk kepribadian yang sedikit kejam.
Pada saat itu, Bentara bahkan berniat melawan semua pasukan yang membantai seluruh keluarganya jika bukan karena kakek tua yang bertugas menjadi pengasuhnya segera membawanya melarikan diri.
“Jadi dia adalah pelayan keluargamu?” tanya Sungsang Geni.
“Dia sudah kuanggap sebagai kakek kandungku...” ucap Bentara. “Jika bukan karena dia, aku pasti sudah tewas beberapa bulan yang lalu.”
Satu hal yang ditinggalkan oleh orang tuanya, yang menjadi pegangan Bentara. “Seni adalah kehidupan tapi juga seni adalah kematian.”
“Jadi apa tujuanmu sekarang Bentara?” tanya Sungsang Geni.
“Aku akan menjadi pendekar dan bergabung dengan serikat pendekar.” Bocah itu berkata mantap, bahkan tidak terdengar keraguan dari suaranya. “Aku akan melindungi semua orang dari orang-orang yang berniat jahat.”
“Kau sangat berani.”
“Tapi tuanku lebih berani,” balas Bentara.
“Tidak, aku sebenarnya ketakutan. Bahkan ketakutanku lebih besar dari siapapun orang yang hidup di dunia ini.” sambung Sungsang Geni.
“Kau takut tuanku? Padahal kau sangat kuat.”
“Aku takut jika tidak bisa melindungi orang-orang, aku takut kehilangan sahabat dan teman karib.” Sungsang Geni sebenarnya mengatakan hal yang sebenarnya, dia tidak berbohong atas ketakutannya.
“Tuanku pendekar...Aku yakin ketakutan mereka tadi lebih dari dirimu.” Bentara tersenyum kecil penuh makna.
__ADS_1
“Karena mereka menghadapiku?”
“Ya, mereka terlihat sangat ketakutan hingga terkencing-kencing.” Bentara tertawa kecil, sambil kembali memetik dawai kecapinya.
“Oh? Apakah selain pandai menggunakan kecapi, kau juga pandai berbicara?” Sungsang Geni mengacak rambut kering bocah itu.
***
Dua minggu berjalan akhirnya mereka tiba di wilayah Tombok Tebing. Sungsang Geni berjalan perlahan, memperhatikan kerajaannya yang sudah tidak berbentuk lagi. Seperti setiap desa yang di temui, wilayah ini juga sudah hancur.
“Brewok Hitam!” ucap Sungsang Geni. “kita istirahat sebentar di tempat ini!”
Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni terbang menuju pusat kerajaan. Dari atas dia bisa melihat rumah-rumah warga yang hangus terbakar, jalan-jalan yang putus dan juga bekas pertempuran yang meninggalkan sisa perlengkapan perang.
Pemuda itu mendarat di reruntuhan Istana, berjalan perlahan sambil melihat setiap sisi tiang yang berdiri tanpa atap. Wajahnya terlihat sangat murung, meski hanya 1 minggu dia berada ditempat ini, tapi statusnya sebagai raja membuat sesalan yang dalam di hatinya.
“Aku berharap mereka semua baik-baik saja...” Sungsang Geni kembali melayang jauh, tepatnya di depan gerbang Zambala yang masih berkabut ilusi.
Gerbang itu tidak terjamah oleh prajurit Kelelawar Iblis nampaknya. Tempat itu menjadi satu-satunya yang tertinggal di wilayah itu. Ada banyak tapak kaki manusia di sekitar jurang yang hitam.
Setelah hampir satu jam dia berkeliling di kerajaannya, Sungsang Geni segera memutuskan untuk kembali lagi berkumpul bersama dengan rombongan.
***
Di pesisir barat dataran java, ratusan tenda-tenda berdiri seadanya. Ini sudah 5 bulan semenjak mereka tiba ditempat ini, tanaman jagungpun sudah hampir dua kali panen.
Ratusan orang tampak bekerja keras, tidak jarang itu adalah para orang tua dan anak-anak. Sedang beberapa orang lain, tampak sedang menebang pohon-pohon tinggi untuk pelebaran lahan pertanian. Atau mungkin sebagai bahan bangunan.
Tempat itu juga dikelilingi oleh pagar-pagar tinggi yang terbuat dari pohon-pohon yang berjejer sedemikian rupa. Tidak terlalu buruk, pagar itu cukup aman untuk melindungi ribuan penghuninya dari serangan hewan buas.
Tidak beberapa lama, seorang berteriak keras menginstruksikan rombongan pengungsi ke tiga baru saja tiba.
__ADS_1
Jumlah mereka hampir 2000 orang, ini adalah jumlah terbanyak dari dua rombongan pengungsi yang baru saja tiba satu minggu yang lalu.
Wajar saja, para pengungsi itu terdiri dari 2 kerajaan yang setahun terakhir menjadi sahabat karib. Tombok Tebing dan Majangkara.
“Itu adalah rakyat dari Tombok Tebing dan juga Majangkara.” Ucap seorang yang berdiri dengan tongkat emas tergenggam ditangannya, tidak lain adalah Sabdo Jagat.
“Dua kerajaan itu mampu menyelamatkan rakyatnya lebih banyak dari 4 Kerjaan yang lain.” Jawab temannya, yang tak lain adalah Darma Cokro, pemimpin dari Serikat Pendekar.
“Majangkara mampu menyelamatkan hampir 1000 orang lebih berkat Ki Alam Sakti,.” sambung Darma Cokro. “Kakek tua itu benar-benar mengerikan, dia bisa bertarung imbang melawan 2 komandan Kelelawar Iblis sekaligus.”
"Tapi kemampuan kerajaan Tombok Tebing benar-benar diluar dugaan kita." Sabdo Jagat juga memberi tanggapan. "Aku tidak menduga, patih Mahesa ternyata masih sangat muda dan juga cerdas. Dia bisa bertahan 11 hari di dalam tekanan, seraya mengungsikan seluruh rakyatnya."
“Aku juga berpikiran begitu.” ucap Darma Cokro. “Tapi sangat disayangkan saat ini Guru Alam Sakti mengalami luka yang sangat parah, pendekar medis sudah melakukan semua cara tapi sejauh ini kita belum bisa menyembuhkannya.”
"Jika saja dia..." Sabdo Jagat berniat mengatakan nama Sungsang Geni, tapi dia tidak melanjutkan ucapannya. 'Pemuda itu masih hidup, dia pasti punya solusi dari masalah ini.'
Beberapa saat kemudian, Patih dari Kerajaan Tombok Tebing datang mendekati Darma Cokro dan Sabdo Jagat.
“Perjalanan kalian tentu sangat melelahkan. Beristirahalah! Adipati Tombok Tebing.” Ucap Darma Cokro, menyodorkan sebuah kursi kayu kepada pria itu.
“Tidak juga ketua, kami hampir kehilangan 200 orang ketika melewati Jalur Kelabang.” Ucap Mahesa sambil menegak air yang diberikan Sabdo Jagat. “Lagipula, jangan panggil saya sebagai Adipati, Kepemimpinan Tombok Tebing adalah milik...”
Sabdo Jagat mengerti maksud perkataan Mahesa, pria itu adalah orang yang paling tidak terima ketika isu Sungsang Geni telah mati ditangan Banduwati.
Kayakinannya terhadap Sungsang Geni bahkan sekeras baja. Hingga saat ini, dia masih sangat yakin Sungsang Geni akan kembali suatu saat nanti, selama itu dia akan menjadi penggantinya meski harus beberapa tahun lagi.
Setelah berbincang-bincang sedikit lama, Mahesa pamit untuk pergi dari hadapan Darma Cokro dan Sabdo Jagat.
“Aku harus melihat Dewangga, dan juga keadaan Ki Alam Sakti.”
Pada saat pria itu hampir keluar dari tenda pengungsi, dia bertemu dengan seorang gadis cantik nan anggun yang memiliki tanda dikening. Mahesa sedikit tertegun, merasakan energi yang terpancar dari tubuh gadis sangat luar biasa besar.
__ADS_1
“Apa aku pernah bertemu denganmu?” tanya Mahesa, namun Cempaka Ayu hanya menggeleng kecil. “Kalau begitu mungkin hanya perasaanku saja...”
‘Tapi kenapa dia memiliki energi yang mirip dengan Sungsang Geni di tengah keningnya?’