
“Aku tidak menyelamatkan dirimu, Nona?” Sungsang Geni mengalihkan pandangan kepada beberapa orang budak yang bekerja bagai binatang. “Tentu saja aku bisa membiarkan dia tadi membawa dirimu keluar dari tempat ini. Tapi apa semua budak ini akan selamat?”
Mengorbankan perak untuk mempertahankan emas. Ini strategi ketujuh yang dia baca, Ada suatu keadaan dimana harus mengorbankan tujuan jangka pendek untuk mendapatkan tujuan jangka panjang, atau mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan banyak orang.
Tentu saja semua rakyat Surasena yang menjadi budak akan mati. Dan lebih parahnya lagi, Maha Senopati dari Negri Sembilan akan mengerahkan puluhan ribu untuk menuntut balas atas kematian Wulandari. Itu sangat mungkin terjadi.
Bayangkara dan Surasena tidak akan cukup mampu melawan puluhan ribu prajurit bahkan mungkin ratusan ribu, saat ini.
Gelombang pertama 8 bulan yang lalu sudah cukup untuk menunjukkan betapa kuatnya tentara yang mereka miliki. Hingga seluruh Surasena menjadi lautan api.
Ya, tentu saja 7 jule tenaga dalam yang dimiliki Sungsang Geni sudah sangat hebat, tapi 7 jule bukan apa-apa jika harus berhadapan dengan 8 atau 10 pendekar yang memiliki 4 jule tenaga dalam. Semua harus diperhitungkan.
Bayangkara datang bukan hanya untuk mengalahkan Kelelawar Iblis semata, tapi juga untuk menyelamatkan nyawa rakyat yang menjadi sandra dan budak.
Jika tidak mementingkan hal itu, lalu apa gunanya perang ini, dan apa gunanya dibentuk Bayangkara? Semua ini untuk Rakyat. Sungsang Geni bisa saja datang dan pergi membuat onar di sana-sini, tapi apa tujuannya?
“Kau cerdas Pemuda Asing.” Wulandari hanya tersenyum kecil. “Tentu saja semua budak ini akan binasa, kau tahu jumlah mereka hampir 300 orang di tempat ini.” Gadis itu masih terlihat begitu tenang, meski dia tahu bahwa pemuda di depannya adalah orang yang sangat berbahaya.
“Jadi sekarang, apa kau utusan dari Surasena?” dia kembali bertanya.
“Ah, bukan. Kami bernama Bayangkara, kelompok yang akan menggulingkan Kelelawar Iblis beserta sekutunya.” Sungsang Geni tersenyum kecil.
“Kau mengatakan hal itu di sarang musuh, aku rasa kau tidak cukup pintar pemuda asing.” Wulandari masih bersikap tenang, dia sekekali tersenyum kecil dan sekekali mengunyah makanan. “Kenapa kau tidak bergabung bersama kami?”
Sungsang Geni tidak menjawab perkataan gadis itu, dia segera berdiri dari tempat duduknya berniat melangkah keluar dari kedai itu tapi Wulandari menarik telapak tangan pemuda itu sangat erat.
“Jika kau bersamaku, aku pastikan kehidupanmu menjadi lebih baik....”
Sungsang Geni tersenyum kecil lalu menarik telapak tangannya, “Nona, kau mungkin terlalu dalam menilai perasaanku.”
__ADS_1
“Semua prajuritku akan menangkapmu!” Wulandari mengancam, entah kenapa pikiran gadis itu tiba-tiba tidak ingin melepaskan Sungsang Geni begitu saja.
Dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, meskipun tentu saja dia gadis cerdas mengandalkan otaknya daripada perasaan.
Namun kali ini, semakin dia menatap wajah Sungsang Geni rasa di dalam dadanya semakin terasa aneh. Menyadari pemuda itu adalah musuh merupakan hal yang tidak diinginkannya.
Hal ini tidak pernah terjadi, Wulandari tidak pernah menyukai seorang pemuda sebelumnya. Bagi dirinya, pria hanya mengambil keuntungan dari wanita, tapi entah kenapa Sungsang Geni berbeda.
“Kau akan menjadi apapun dengan bersamaku.” Terdengar parau suara gadis itu. “Jika kau ingin membebaskan semua budak, aku akan menurutitnya.”
Sungsang Geni tersenyum kecil, dia kembali memandangi wajah gadis itu. “Kami akan mengambil budak dan markas ini, Nona. Kau bisa pergi sebelum kami menyerang, atau tetap disini dan mungkin melihat semua orang mati.”
Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni melayang dengan cepat lalu pergi meninggalkan tempat itu. Semua prajurit yang melihat tindakan pemuda itu tidak bisa menutup mulutnya, terpukau beberapa saat.
Namun kemudian Saraswati tiba-tiba datang mendekati Wulandari dengan wajah cemas. “Nona apa yang terjadi, apa kau baik-baik saja?”
“Siapkan pasukan! Kita akan kedatangan tamu!” perintah Wulandari, kemudian dia bergumam pelan. 'Aku tidak akan menyerah semudah itu.'
Sungsang Geni kembali kepada teman-temannya yang menunggu dengan harap-harap cemas.
“Geni apa yang kau dapatkan?” tanya Cempaka Ayu, memburu pemuda itu dengan wajah khawatir.
“Bagaimana kondisi di tempat itu?” Mahesa menyambung pertanyaan.
“Mereka memiliki Benteng yang benar-benar kokoh, dan 9 orang prajurit yang memiliki ilmu kanuragan setingkat dirimu bahkan mungkin lebih hebat lagi dari pada dirimu.” Sungsang Geni menujuk Mahesa. “Dan hal yang paling penting adalah, 300 budak menjadi tawanan.”
Empu Pelak terdiam sejenak, jika bukan karena budak itu Bubuk Setan bukan hal mustahil bisa menghancurkan benteng mereka. Tapi setelah menghancurkan benteng, musuh akan mengancam para budak untuk dibunuh, itu sangat mungkin terjadi.
Sungsang Geni tidak akan bisa memilih antara rakyat atau Bayangkara, Empu Pelak sangat yakin pemuda itu bahkan mungkin akan mengorbankan nyawanya hanya untuk kehidupan rakyat.
__ADS_1
“Tapi aku memiliki sebuah rencana, kemungkinan menang sangat kecil.” Sungsang Geni kemudian mulai menjelaskan.
Pemuda itu akan melakukan tipuan kecil, bagaimana caranya? Dengan menyerang benteng menggunakan bubuk setan yang akan dilakukan Cawang Wulan.
Serangan Panah Cawang Wulan memiliki jangkauan yang sangat jauh, ini tidak akan membuat gadis itu tertangkap.
Lakukan hal ini sebanyak tiga kali, serangan pertama akan membuat mereka menjadi khawatir dan meningkatkan pertahanan.
Tapi serangan kedua akan dilakukan esok harinya, serangan ini bertujuan agar mereka lebih was-was lagi, tapi efek serangan ini adalah jatuhnya mental musuh. Mereka akan menganggap serangan ini hanya gertakan saja.
Tapi serangan ketiga, adalah puncaknya. Jika rencana Sungsang Geni benar, maka serangan ketiga tidak akan pernah diduga oleh musuh.
Sungsang Geni akan menyelinap dari tembok yang paling lemah, bersama dengan Pramudhita, menghabisi semua prajurit di sana dan bertugas menyelamatkan semua tahanan.
Sementara itu, Cempaka Ayu akan memimpin serangan dadakan, yang berjumlah hanya 50 orang yang memiliki kemampuan meringankan tubuh paling baik di Bayangkara. Tujuan mereka untuk memancing musuh mendekati jebakkan.
Benteng adalah tempat paling baik untuk berlindung. Jadi mereka harus mengeluarkan macan dari sarangnya agar Sungsang Geni bisa mengambil anaknya 'Buddak'. Mahesa akan menunggu di dalam hutan, dengan bubuk setan dan ranjau.
Intinya, Cempaka Ayu dan rombongannya harus bisa membawa Pasukan Kelelawar Iblis untuk masuk kedalam perangkap.
Ini adalah strategi 15, Giring macan untuk meninggalkan sarangnya. Jangan pernah menyerang secara langsung musuh yang memiliki keunggulan akibat posisinya yang baik. Giring mereka untuk meninggalkan markasnya sehingga mereka akan terjauh dari sumber kekuatan.
“Aku sangat setuju dengan rencana itu.” Empu Pelak paling bersemangat setelah mendengar penjelasan Sungsang Geni. “Dengan begitu, Markas Petarangan tidak akan hancur dan kita bisa mengambil alih markas itu menjadi milik kita.”
“Yang Paman Empu katakan benar sekali,” sambung Sungsang Geni. “Yang tersisa di dalam markas hanya pendekar-pendakar hebat, dan itu akan menjadi bagianku.”
Kesempatan menang memang sangat kecil, tapi bukan sebuah kemustahilan. Jika Wulandari telat sedikit saja menyadari strategi ini, maka Markas Petarangan akan jatuh ke dalam tangan Bayangkara.
Tentu saja ini sebuah pertaruhan yang besar. Dan semua orang ditempat itu sudah biasa melihat pertaruhan yang dilakukan Sungsang Geni.
__ADS_1
“Kita akan melakukannya besok malam!” Sungsang Geni menutup Rencananya.
Konsep strategi ini seperti pilem upin dan ipin. Tolong-tolong ada serigale, dua tipuan akan membuat semua orang percaya, tapi tipuan ketiga tidak akan dipercaya lagi meski sebenarnya itu adalah kenyataan.