
Sabdo Jagat dan Rogo Loro saling menekan di udara. Kekuatan dua orang itu terlihat seimbang. Percikan energi terkadang merobek pakaian yang mereka kenakan, dan hembusan angin menyibakkan rambut mereka.
“AHHHH!” pekik Rogo Loro, menambah energi pada mata tombaknya sehingga tubuh Sabdo Jagat mulai tertekan.
Energi ungu mulai mendominasi energi putih, demikian pemikiran semua prajurit Surasena. Sabdo Jagat mulai mundur dari tempatnya semula, tapi tidak lama kemudian dia kembali bertahan.
Hingga tiba-tiba terdengar seorang berbisik di kepala Sabdo Jagat. Seperti suara seorang kakek-kakek yang serak dan berat. Sabdo Jagat tidak menghiraukan suara atau bisikan di kepalanya dia tetap fokus terhadap lawan.
“Bertahanlah sedikit lagi...” suara itu terdengar cukup jelas kali ini. “Kerahkan segala energi yang kau punya!”
Deg.
Sabdo Jagat tersentak, suara itu jelas ada di dalam kepalanya. Mengatakan kalimat yang sama setiap saat, sampai Sabdo Jagat terpaksa menjawab pula. “Siapa kau, kenapa berada di dalam pikiranku?”
“Dasar manusia tidak tahu di untung, sudah lama bersama denganku, tapi tidak tahu siapa aku.” Suara itu terdengar serak dan penuh makian.
Untuk sesaat kesadaran Sabdo Jagat terbagi dua. Suara itu semakin jelas terdengar, dan itu benar-benar mengganggu. “Aku adalah ruh penunggu tongkat penghancur gunung...Eyang Kala Prahayang.”
Astaga, Sabdo Jagat baru tersadar saat tini. Rupanya ruh dari tongkat penghancur gunung bisa masuk ke dalam alam pikiran si penggunanya. Bagaimana bisa? Selama ini tongkat penghancur gunung selalu tertidur.
Hanya ada sekali momen tongkat pusaka itu menunjukkan kekuatannya, yaitu ketika melawan Kaki Baja wakil komandan Banduwati. Selebihnya kekuatan tongkat itu tidak terlalu ketara, meski memang disadari mengalami peningkatan.
“Aku bisa masuk ke dalam pikiranmu, karena tubuhmu yang sekarang sudah cukup kuat.” Eyang Kala Prahayang segera menjawab apa yang terpikir di kepala Sabdo Jagat. “Sekarang dengarkan aku, kau harus menyalurkan sedikit lagi energi dalam tubuhmu, dan kupastikan kau akan melihat musuhmu kalah.”
“Apa kau yakin?” Sabdo Jagat masih merasa ragu.
__ADS_1
“Manusia sombong, lakukan saja apa yang kupinta, atau kau akan mati konyol saat ini. Kekuatan musuh mulai menerobos pertahananmu.” Suara Eyang Kala Prahayang terdengar tinggi. “Turuti saja perkataanku!” setelah mengatakan hal itu, suara di kepala Sabdo Jagat menjadi hilang.
Kakak dari Cempaka Ayu itu terlihat ragu, karena jika dia menyalurkan semua energi yang tersisa saat ini sebagai makanan tongkat penghancur gunung, tubuhnya akan mengalami kelumpuhan untuk sesaat. Lalu bagaimana jika si ruh tadi tidak membantunya?
“Kali ini aku harus melakukan pertaruhan sama seperti Geni.” Sabdo Jagat memantapkan jiwanya. Kemudian dia menyalurkan segala energi yang ada didalam tubuh untuk diberikan kepada tongkat penghancur gunung.
Satu menit kemudian, cahaya terang benar-benar memancar dari tongkat tersebut. Rasanya semakin berat, tapi yang aneh Sabdo Jagat tidak merasa sulit untuk mengangkatnya. “Ajian Tongkat Penghancur Gunung, Kemarahan Batara Kala!”
Wush... gelombang energi berhembus deras sebanyak tiga kali, menekan mata tombak Rogo Loro. Dan,
“Tidak mungkin?” ucap Rogo Loro, tongkatnya patah menjadi serpihan kecil. Dan bukan hanya itu, laju tongkat Sabdo Jagat tidak bisa terbendung dan kali ini mendarat tepat di kepala.
“Pergilah ke alam Baka!” teriak Sabdo Jagat.
“Menjauh dari reruntuhan!” Rerintih berteriak karena bangunan mulai berderik. “Energi itu bisa menghancurkan tempat ini jika letaknya cukup dekat.”
Begitu cepatnya, dan hampir tidak sempat dilihat oleh Sabdo Jagat. Tongkat penghancur gunung membawa dirinya menukik ke bumi. kepala Rogo Loro entah telah menjadi seperti apa? Tapi yang jelas pria itu tidak akan selamat.
Kkrak...
Bumi terbelah besar ketika tongkat itu tiba di tanah. Rekahannya sepuluh kal lipat dari rekahan yang bisa dibuat oleh Gentar Bumi dalam mode terkuatnya. Tanah-tanah terangkat untuk sesaat, kemudian ¼ dataran menjadi telaga oleh Sabdo Jagat sendiri.
“Itu adalah kekuatan sebenarnya dari tongkat penghancur gunung...” Siko Danur Jaya menelan ludah melihat kekuatan itu. “ Rupanya begitukah kekuatan dari salah satu lima pusaka terkuat di tanah Java.”
Sabdo Jagat terkapar tepat di tengah kawah kering yang dia ciptakan. Seluruh energinya terkuras habis tanpa tersisa. Cahaya dari tongkat penghancur gunung mulai meredup dan hilang.
__ADS_1
Pandangan pria itu gelap gulita, dengan sekujur tubuh terasa sangat sakit. “Hah...” dia mendesah berat. “Aku harus lebih kuat lagi...Eyang, setidaknya kau sisakan sedikit energi untukku kembali kepada teman-temanku.”
Suara Eyang Kala Prahayang terkekeh di benak Sabdo Jagat. “Anak manusia, jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri karena terlalu lemah.”
“Ya, terima kasih karena telah membantuku.”
“Hikhikhikhik...Aku akan kembali bertapa, jika tiba saatnya aku akan keluar dan melahap semua energi yang kau miliki. Hikhikhik...” setelah mengatakan hal itu, berangsur-angsur suara Eyang Kala Prahayang lenyap di benak Sabdo Jagat.
Sabdo Jagat tersenyum pahit, kemudian dengan segenap kemampuannya berusaha bangkit dan mendaki keluar dari kawah kering. Pria itu masih bisa mendengar suara beberapa orang bertarung.
Di atas awang-awang, Resi Irpanusa masih bertukar ratusan, mungkin sudah ribuan serangan dalam melawan Mungkarna. Di sisi lain, Lakuning Banyu bertempur hebat melawan Wakil Komandan ke empat, kemudian Ki Alam Sakti yang harus berurusan dengan Wakil Komandan ke tiga.
Sedikit jauh dari tempatnya, barangkali Ki Lodro Sukmo juga sedang melawan wakil komandan ke enam. Dan terakhir Bangau Putih, yang mengamuk melawan ratusan prajurit Kelelawar Iblis seorang diri.
Bangau Putih tidak mendapat jatah wakil komandan, dan baginya itu tidak adil. Sebagai seorang pendekar yang kuat, setidaknya dia harus melawan satu wakil komandan yang tangguh. Wakil komandan yang lain sudah lebih dahulu mati dihajar oleh bangsa lelembut, tidak menyisakan sama sekali untuk dirinya.
“Ayo kalian semua...” ucap Bangau Putih. “Lawan aku sendirian, aku bisa membunuh kalian semua meski jumlah kalian ada ribuan, datang dan lawan aku!” pekik pria tua itu kesal setengah mati.
Tidak ada yang berani melawan Bangau Putih yang sedang mengamuk bak orang kesetanan. Bahkan sifat pak tua itu sedikit mirip dengan Komandan Kelelawar Iblis yang sedang kerasukan.
“Tidak ada yang mau melawanku?” tantangnya. “Baiklah jangan lari kalian semua, aku sendiri yang akan mendatangi kalian satu-satu.”
Meski sudah tua, tapi Bangau Putih memiliki perasaan yang tajam akan kekuatan lawannya. Apalagi terhadap energi kegelapan, pria itu begitu sensitif dan segera tahu dimana letak musuh berada. Seumpama musuh bersembunyi di tumpukan mayat, dan menekan energi kegelapan mereka sampai tidak terasa, Bangau Putih akan tetap menemukan mereka.
Semenjak dia berhasil melewati level tanpa tanding, Bangau Putih memiliki ke sensitifan lebih tinggi akan energi negatif dari pada pendekar yang lain selain Sungsang Geni.
__ADS_1