PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Jalur Kelabang


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka mulai meninggalkan Penginapan Bunga Mawar. Hari terlihat cerah, matahari bersinar terang di upuk timur, berteman dengan awan tipis berwarna putih. Kabut mulai menghilang, meniggalkan embun pagi didedaunan.


Ketika perjalanan mulai jauh, mereka melihat beberapa gadis kota membersihkan halaman rumah dengan sapu lidi. Saat kereta kuda mewah Dewangga melewatinya, para gadis menunduk memberi hormat.


Mereka akhirnya meninggalkan Kota Tenggang, perjalanan menuju Kerajaan Surasena baru setengah jalan. Sekerang mereka melewati rawa gambut yang luas, ditengah rawa Sungsang Geni melihat gundukan tanah yang tinggi.


“Apa kau melihatnya, gundukan tanah itu?” ucap Durada, menatap pada Sungsang Geni.


“Gundukan apa itu senior? Kenapa banyak sekali batu diletakan disana?”


“Itu adalah kuburan para pemberontak yang tewas ketika berhadapan dengan Kerajaan Surasena.”


“Benar-benar mengerikan,” ujar Sungsang Geni, kemudian batinnya bergumam ‘sepertinya dari dahulu pemberontakan memang telah ada, biasa jadi Kelelawar Iblis merupakan sisa-sisa atau mungkin anak cucunya, yang masih memiliki paham yang menyimpang.’


“Geni, masuklah kedalam kereta temani aku!” ucap Dewangga, “Berbicara dengan Gadhing bisa membuatku menjadi gendeng.”


“Apa kau pikir aku tidak gendeng bersama denganmu Dewangga.” Gading berkata ketus.


“Maafkan aku Dewangga, saat ini aku ingin berada diluar untuk melihat-lihat pemandangan.” Tolak Sungsang Geni.


Setelah kejadian perampokan kemarin, Sungsang Geni tidak lagi menyembunyikan kemapuannya, dia lebih senang melayang dengan jubah kilatan naganya.


“Dapat terbang setiap waktu apa tidak membuat tenaga dalamnya habis?” Gadhing berucap heran.


“Memangnya kamu, yang tenaga dalam baru seupil.” Ejek Dewangga, lalu terjadi lagi keributan didalam kereta kuda.


Sungsang Geni masih memikirkan perihal Pendekar Pemabuk tadi malam, aura membunuh yang begitu pekat menunjukan seberapa bahaya dirinya. Dia kemudian berhenti melayang, hinggap diatas atap kereta kuda.


Dewangga dan Gadhing mendongak keatas, tubuh Sungsang Geni yang mendarat diatas atap kereta kuda, sedikit mengejutkan mereka.


“Sekarang dia mempunyai hobi baru, duduk diatas atap!” Gadhing berbisik.

__ADS_1


Sungsang Geni menjulurkan kakinya, menguntai diatas atap kereta. Dia menopang keningnya dengan telapak tangan. Namun larinya kerta kuda tidak membuat dirinya kehilangan keseimbangan.


“Jika kekuatan salah satu komandan Kelelawar Iblis setinggi pendekar Pemabuk, akan sangat sulit untuk menghalau gerakan mereka. Bisa jadi, pendekar pemabuk bukanlah komandan yang terbaik, itu artinya masih ada 6 komandan lagi yang kemampuan mereka lebih dari pendekar Pemabuk.” Sungsan Geni berkata sendiri.


Sungsang Geni berpikir keras, berusaha menemukan cara agar dapat bertahan dari derasnya gerakan Kelelawar Iblis. Dia harus mencari beberapa orang yang kuat, lalu mengajaknya bekerja sama. Sebuah kelompok yang terorganisasai secara baik, tidak akan bisa dihancurkan seorang diri, itu perbuatan konyol.


Sekekali Durada melirik kebelakang, pada Sungsang Geni yang masih termenung. Kaki pemuda itu beberapa kali mengenai dinding kereta kuda, membuat dia terkejut.


Beberapa saat kemudian, Durada berkata, “Geni, sesaat lagi kita akan memasuki Jalur Kelabang, sebaiknya kau segera menunggangi kudamu! Terbang melayang atau duduk diatas atap, akan manarik perhatian orang disana.”


“Baik Senior, yang kau ucapkan ada benarnya.” Sungsang Geni menghentakan kakinya, kemudian jubah kilatan naga membawa dirinya melayang menuju seekor kuda yang berlari tanpa penunggang.


Kuda itu, meringkih gembira. Seperti mengatakan ‘aku merindukan dirimu’. Sungsang Geni tersenyum, tak ingin dia membebani kudanya, akhirnya Sungsang Geni lebih memilih melayang sedikit, hanya satu centi dari punggung binatang itu.


Jalaur Kelabang merupakan jalan yang keberadaannya tidak termasuk kedalam wilayah kerajaan manapun, bahkan beberapa peta Kerajaan menghilangkan jalur ini dari gambarnya. Sebagian orang mengatakan jalur itu adalah sarangnya iblis, namun tak jarang pendekar beraliran putih berada di jalur itu.


Tidak banyak orang lemah yang ingin melalui jalur itu, namun bagi kerajaan Majangkara yang dikelilingi bukit yang terjal, ini adalah satu-satunya jalan yang menghubungkan dengan kerajaan Surasena.


“Selamat datang di Jalur Kelabang.”


Palang nama itu dihiasi dengan tulang belulang yang diikat dengan tali, lalu bergelantungan. Saat angin meniup tulang belulang itu, suara bergemeretak terdengar dari tulang yang beradu.


Ditengah-tengah palang nama jalan, sebuah lonceng perunggu besar dan rusak tergantung. 5 ekor burung gereja keluar dari bawah lonceng, nampaknya sedang membuat sangkar.


Sebelum sampai ke Jalur Kelabang, ada banyak pertigaan jalan yang mereka temui, setiap jalan menghubungkan setidaknya satu wilayah. Bagi Sungsang Geni jalur kelabang nampak seperti muara, atau titik temu semua jalan.


Tidak lama kemudian, Sungsang Geni beserta rombongnanya telah tiba dijalur itu. Panjangnnya hanya 2 mil, namun sepanjang jalur penuh dengan manusia yang berdesak-desakan.


Tidak ada yang aneh ditempat itu, sangat jauh dari perkiraan Sungsang Geni.


“Senior Durada!” ucap Sungsang Geni, “Aku kira Jalur Kelabang adalah jalan yang diapit oleh dua cadas tinggi, dan terdapat banyak bandit dijalur itu.”

__ADS_1


Durada terkekeh mendengar perkataan itu, dia berdehem beberapa kali lalu berkata. “Kau mungkin terlalu banyak membaca buku anak-anak, Geni!”


Sungsang Geni tersenyum kecil, perkataan Durada ada benarnya, bahkan lima tahun terkahir tidak ada satu bukupun yang dia baca. Tentu saja membuat pemuda itu sedikit bodoh, jika bukan Pitaloka yang mengatakannya, Sugsang Geni bahkan tidak akan tahu jalur itu pernah ada.


Namun yang menariknya adalah, ratusan pedagang berjualan disepanjang Jalur Kelabang dengan berbagai macam barang yang dijualkan. Jalur ini seperti tokoh raksasa yang menjual apapun, mulai dari sanjata hingga manusia.


Harga barangpun cukup murah dibanding toko yang berada diwilayah kerajaan, alasan inilah membuat banyak orang yang nekat untuk datang ketempat ini.


Hari ini suasananya begitu ramai, 2 mil panjangnnya seperti 20 mil, kuda rombongan Sungsang Geni hampir tidak berjalan.


“Durada!” Dewangga mengelurakan kepalanya dari kereta kuda, “Sebaiknya kita menepi, cari tempat untuk istirahat, situasi ini membuatku menjadi sesak.”


“Baiklah pangeran!” Durada segera mengunjungi 3 pedangang dikiri jalan.


Setelah memberi uang beberapa keping emas, akhirnya 3 pedagang itu lekas pergi, dan mebiarkan kereta kuda Dewangga menempati lapak miliknya.


“Pangeran, sebaiknya anda tetap didalam! jika ada orang yang mengetahui wajah anda, perjalanan kita akan sulit.” Durada mengingatkan, lalu dibalas anggukan kepala Dewangga yang terlihat kesal.


“Tunggu kau mau kemana?” Dewangga menarik kerah baju Gadhing yang berniat keluar meninggalkannya.


“Tentu saja keluar, didalam kereta membuat tubuhku gerah.” Jawab Gadhing.


“Tidak boleh!”


“Kenapa?”


“Sangat bahaya, kau mungkin akan tersesat lalu diculik pedagang budak!” Dewangga tersenyum kecil, mengejek kebodohan Gadhing, dia berniat untuk membuat Gadhing tetap berada didalam kereta, bersama dirinya.


“Dewangga, saya minta izin untuk melihat-lihat.” Sungsang Geni berucap, seumur hidupnya dia sama sekali belum pernah bertemu pedagang sebanyak ini.


“Silahkan Geni!” Dewangga melempar sekantong koin perak, “Ambilah, meski barang disini murah, tapi beberapa cukup bagus.”

__ADS_1


“Kau!” Gadhing menunjuk-nunjuk kearah Dewangga, terlihat kesal karena Dwangga malah mengizinkan Sungsang Geni. “Sungguh tidak adil, pangeran bodoh dan egois.”


__ADS_2