PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Goresan Kerikil


__ADS_3

Sungsang Geni masih menatap Karang Dalo, pemuda itu tidak peduli dengan ancaaman yang Karang Dalo katakan.


“Dewangga berada di dalam penjara, jika kau berusaha menyerangku maka Surasena akan membunuh Pangeranmu itu.” meski sedikit bergetar, ucapan Karang Dalo terdengar serius.


Karang Dalo melihat Sugsang Geni terdiam, dia yakin pemuda itu sekarang mulai mendengarkan perkataannya. Jadi dia sedikit lega, setidaknya untuk sekarang Sungsang Geni tidak akan menyeranngnya.


“Sekerang lepaskan pedangmu! Dan menyerahlah!” Printah Karang Dalo.


Sungsang Geni masih menimbang rasa, namun posisinya saat ini memang tidak menguntungkan. Andai kata dia hanya sendirian di Kerajaan ini, bukan perkara sulit baginya untuk pergi dari sini. Namun tanggung jawabnya sebagai pengawal Dewangga, dan bukti patuh pada gurunya, Sungsang Geni tidak memiliki pilihan lain, selain menyerah.


Karang Dalo tersenyum puas melihat pedang Sungsang Geni, jetuh ke dasar. Dia yakin sudah memenangkan pertarungan ini.


“Bawakan rantai!” Karang Dalo memerintahkan para prajuritnya, mendapati tidak ada prajurit yang berada didekatnya, Karang Dalo berteriak. “Bawakan 2, 3 rantai kesini, dan ikat pemuda itu, CEPAT!”


Beberapa prajurit datang buru-buru dengan 4 buah rantai, wajah mereka terlihat pucat ketika dipaksa mendekati Sungsang Geni. Rupanya Karang Dalo tidak ingin Sungsang Geni melarikan diri, hingga empat rantai harus terlilit di lengan dan kaki pemuda itu.


“Sekarang kurung dia di penjara penyiksaan!” printah Karang Dalo lagi.


Melihat lengan dan kaki Sungsang Geni yang telah dirantai, beberapa prajurit mulai berani mendekatinya. Kemudian beberapa prajurit yang lain, menarik paksa tubuh Sungsang Geni.


***


Sungsang Geni dibawa kedalam sebuah ruangan bawah tanah, yang hampir mirip seperti goa. Lantainya berkecah karena air merembes dari dinding goa, membuat suasana terasa dingin. lampu dari obor merupakan satu-satunya penerangan di goa itu.


Setelah memasuki lorong yang cukup panjang, Sungsang Geni tiba di sebuah ruangan besar yang dikelilingi ruangan kecil yang tersekat dengan jeruji besi. Meski cahaya obor sedikit remang, Sungsang Geni masih dapat melihat ada banyak alat penyiksaan diruangan itu.


Sebuah alat pemancung nampakanya yang paling mengerikan diantara alat penyiksa yang lain.


“Masuklah !” Petugas yang menyeret Sungsang Geni berkata kasar.

__ADS_1


Sebuah pintu jeruji besi terbuka lebar, menyambut Sungsang Geni masuk kedalam sel tahanan.


“Huh....” Sungsang Geni menghembus napas panjang, pikirannya masih tertuju kepada Dewangga dan yang lainnya.


Beberapa jam dia berada disana, berteman dengan cericit tikus yang mencari makan atau suara tokek yang terdengar bergema, membuat Sungsang Geni berniat melakukan meditasi.


Tapi niatnya segera diurungkannya, manakala dia mendengar suara rintihan seseorang. Awalnya Sungsang Geni tidak begitu peduli dengan suara itu, dia mengira mungkin hanya ilusinya saja, namun semakin lama suara itu semakin jelas terdengar ditelinganya.


Setelah cukup lama dia memperhatikan sebuah sosok yang tergantung didepannya, Sungsang Geni lantas menjadi terkejut, dan sangat marah. Sosok itu jelas sangat dikenalnya, Muksir.


“Paman Muksir, Paman Kantu!” Pekik Sungsang Geni, “Apa yang telah terjadi kepada kalian?”


Disebelah Muksir nampak Kantu sedang terikat pada sebuah kayu hitam, dengan leher yang digantungi besi bulat dan kaki yang terikat rantai. Leher itu meneteskan darah, sebab beban yang dia pikul terlalu berat.


Sungsang Geni hampir tidak merasakan lagi tenaga dalam dari kedua orang temannya. mungkin karena itu pula, dia tidak menyadari ada dua orang selain dirinya berada di penjara pengap itu.


Tanpa menunggu waktu lama, Sungsang Geni melepas belenggu rantai yang sedari tadi membuatnya risih. Dia meremas rantai itu, seperti meremas kentang goreng.


“Paman Kantu telah meninggal!” ucap Sungsang Geni lirih.


“Huu...hu...” Muksir mencoba mengatakan sesuatu, tapi Sungsang Geni tidak mengerti apa yang Muksir katakan.


Sungsang Geni tersentak, kemudian memeriksa Muksir dengan teliti, kemudian wajah Sungsang Geni lebih tersentak lagi mengetahui lidah Muksir telah terpotong.


“Paman!” ucap Sungsang Geni, matanya menjelit marah, napasnya menjadi tidak beraturan, wajahnya merah sebab emosi yang membara. Sekekali lengan kanannya memancarkan aura merah.


“Huu...hu...” Muksir berkata, kemudian menggelengkan kepalanya, tangannya berusaha menepuk dada Sungsang Geni, mengisyaratkan untuk menahan emosinya.


“Paman katakan apa yang terjadi sebe...” ucapan Sungsang Geni terhenti, percumah saja dia menanyakannya, sebab Muksir tidak mungkin dapat berkata lagi dengan benar.

__ADS_1


Sungsang Geni menarik napas panjang, kepalanya terasa sakit, dadanya terasa sesak. Jika bukan karena kabar Dewangga yang masih ditahan, Sungsang Geni berniat untuk menuntut balas atas perbuatan orang-orang Surasena.


Satu-satunya hal yang Sungsang Geni dapat lakukan ialah, memulihkan tenaga dalam Muksir secepatnya. Bukan mustahil, dia bernasip sama dengan Kantu jika Sungsang Geni tidak lekas mengobatinya.


“Paman apa kau sudah bisa bergerak?” tanya Sungsang Geni, yang kemudian dibalas dengan anggukan Muksir.


Muksir perlahan menggerakan tangannya, dia mencari sesuatu seperti kerikil. Setelah menemukannya, Muksir menulis sesuatu pada lantai. Meski tidak begitu nampak, tapi sudah cukup jelas untuk dibaca Sungsang Geni.


“Ternyata begitu cerita selengkapnya.” Sungsang Geni menggarut dagunya, “Lalu informasi apa yang telah paman dengar?”


Krek...krek...krek...Muksir kembali menulis pada lantai, kali ini sedikit panjang, Sungsang Geni terpaksa meraih obor untuk memastikan dia tidak salah baca.


“Kurang ajar, mereka ternyata berniat mencuri keris Panca Dewa. Mungkin hanya kebetulan, tapi Raja Cakra Mandala telah tewas. Apa mereka juga yang telah melakukan pembunuhan ini?” Sungsang Geni berpikir keras, kepalanya terasa sakit memikirkan situasi ini.


Muksir kembali menggoreskan kerikil dilantai, menjelaskan seberapa hebat keris panca dewa. Senjata pusaka kerajaan Surasena yang merupakan senjata kelas tertinggi.


“Aku sungguh terkejut mendengarnya Paman, keris Panca Dewa?” Sungsang Geni berpikir sejenak, “Salah satu dari 5 senjata tertinggi yang katanya bisa meluluh lantakan satu bangunan besar hanya dengan sekali tebas.”


Muksir mengangguk, kemudian menulis kembali.


“Entahlah paman, aku tidak yakin!” jawab Sungsang Geni, wajahnya terlihat ragu.


Muksir menuliskan harapannya kepada Sungsang Geni, jika ternyata keris itu memang telah keluar dari Surasena, maka dapat dipastikan akan ada pertumpahan darah untuk memperebutkan keris itu, baik dari golongan hitam maupun putih.


Sebenarnya tidak ada yang berhak untuk mendapatkan keris itu, baik Sungsang Geni ataupun sang pencuri. Bukan hanya sebagai senjata, keris itu juga simbol kesatuan Surasena, keberuntungan dan kemakmuran.


“Pusaka yang diwariskan turun temurun!” ucap Sungsang Geni.


Setelah beberapa lama mereka saling bertukar pikiran, tiba-tiba terdengar suara pintu utama penjara terbuka. Dari sana terlihat beberapa orang prajurit membawa obor, ditengah-tengah prajurit itu, Sungsang Geni sangat mengenalnya.

__ADS_1


“Bebaskan Geni sekarang Juga!” ucap Darma Guru, “Kalian mau menghilangkan mukaku dihapadan tua bangka Alam Sakti.”


__ADS_2