
Malam harinya Sungsang Geni pergi mengendap-endap menemui Buyung Upiak. Pemuda itu tahu, meski malam sudah begitu larut, dan semua orang nyenyak dalam mimpi, Buyung Upiak belum tertidur.
Orang tua itu masih akan terus terjaga hingga matanya menyerah. Biasanya dia tertidur hanya satu jam setiap malam, dan akan terjaga ketika mendengar suara tikus berjalan di kotak penyimpanan koin emas miliknya.
Sungsang Geni melewati beberapa penjagaan yang terhuyung-huyung menahan kantuk. Dengan sangat cepat, pemuda itu segera menotok leher mereka hingga benar-benar terpejam.
Di antara dua penjaga itu, sebuah pintu besar yang sangat tebal dan kokoh. Dari dalam ada belasan rantai yang mengunci pintu itu. Buyung Upiak memegang kuncinya.
Sungsang Geni berniat mendobrak saja pintu itu, tapi niat itu diurungkannya. Dia kemudian mengetuk pelan.
“Siapa di sana?” terdengar suara Buyung Upiak dari dalam.
“Pengirim pesan.” Sungsang Geni menjawab.
Kemudian Buyung Upiak dengan ragu membuka pintu itu, menyodorkan kepalanya di antara celah pintu yang terbuka. “Apa yang kau inginkan? Kenapa kau datang ke kamarku malam-malam begini, apa kau cari mati?”
Sungsang Geni meletakkan jari telunjuk di bibir, kemudian terdengar suara 'Hustt' yang berdesis kecil. “Aku memiliki informasi penting yang harus kuberi tahu kepadamu, ini sangat darurat.”
Buyung Upiak mengernyitkan keningnya, tidak percaya.
“Ini mengenai jabatan, jika kau tidak mendengarkanku jabatan itu akan lenyap dari tanganmu, dan kau hanya bisa menggigit jari melihat orang lain naik menjadi pemimpin cabang.”
Wajah Buyung Upiak lebih merah dari sebelumnya, dia buru-buru membuka pintunya kemudian mengeluarkan kepala lalu menyapukan pandangan disekitar, setelah dia rasa cukup aman, diseretlah tubuh Sungsang Geni ke dalam kamarnya.
Sungsang Geni cukup terkejut, di dalam kamar itu ada banyak sekali perhiasan dan juga harta benda yang lumayan berharga.
Kemudian sebuah peti emas yang dikunci dengan hampir 8 lilitan rantai terletak dibalik pembaringan, Sungsang Geni yakin di dalamnya ada sekitar 100 ribu keping emas.
Buyung Upiak menyeret Sungsang Geni pada kursi, mendudukkan pemuda itu dengan kasar.
Orang tua itu lantas mencabut pedangnya, dan menghunuskan tepat di batang leher Sungsang Geni. “Tidak ada orang yang boleh melihat barang-barangku. Katakan apa yang kau maksud tadi, aku akan membunuhmu jika kau berbohong!”
Sungsang Geni tersenyum kecil, dia mengangkat tangannya. “Buyung Upiak, apa kau pikir Markas Utama hanya mengirimkan surat itu kepadamu saja?”
__ADS_1
Buyung Upiak merenung sejenak, tapi mata pedangnya belum juga diturunkan. “Siapa yang mendapatkan surat itu selain aku?”
Sungsang Geni tertawa riang di dalam hatinya, sekarang Buyung Upiak sudah mulai mempercayai perkataannya.
“Baiklah, Markas kecil di seberang sungai juga mendapatkan surat yang sama dengan surat yang kau miliki. Bahkan dia lebih dahulu mendapatkan suratnya daripada dirimu.”
“Kurang ajar, pemimpin Markas itu lebih lemah daripada aku.” Buyung Upiak terlihat geram sekali.
“Benar, karena itulah aku memihak dirimu.” Sungsang Geni berdiri dari tempat duduknya, mencoba menurunkan pedang Buyung Upiak dengan ujung telunjuknya. “Diantara pengantar pesan ada mata-mata yang diutus oleh lawanmu. Kau tidak percaya, periksa saja identitas mereka masing-masing!”
Buyung Upiak tidak lagi mengarahkan pedang ke wajah Sungsang Geni.
“Apa kau ingin tahu informasi yang lebih hebat lagi?” pancing Sungsang Geni.
“Katakan!” ujar Buyung Upiak.
“Desa kecil yang kau kuasai, menurutmu siapa yang menyerangnya?” Sungsang Geni memasang wajah begitu serius. “Menurutmu Surasena? Tentu saja bukan, mereka ingin namamu tercoreng, Markas Kecil di seberang sungai itu, merekalah penyebabnya.”
“Aku ragu 400 pasukannmu mungkin sedang dalam bahaya, lebih baik kau tarik mundur dan mulai menyusun rencana.” Sungsang Geni kemudian menatap Buyung Upiak sedemikian rupa agar terlihat meyakinkan. “Lebih baik kau serang Markas kecil di seberang sungai! Sebelum terlambat.”
Buyung Upiak mengernyitkan keningnya, memandang Sungsang Geni dengan tajam lalu meletakkan kembali ujung pedangnya ke leher pemuda itu. “Kenapa aku harus mempercayai perkataanmu, bisa saja kau bukanlah pengantar surat, bisa saja kau adalah pemberontak.”
Sungsang Geni sudah menduga hal itu, jadi dia segera menunjukkan lencana kelelawar yang dia curi dari petugas pengantar pesan. “Aku adalah pengantar pesan, Tuan. Jika kau tidak percaya maka tidak masalah. Sebaiknya kau periksa pengantar pesan yang lain, salah satunya adalah mata-mata sainganmu.”
Tanpa mengucapkan salam Sungsang Geni segera pergi dari kamar Buyung Upiak. Dia melangkah buru-buru, sementara orang tua itu dalam keadaan bimbang.
Wajah Buyung Upiak merah bara, perkataan Sungsang Geni benar-benar membuatnya berpikir keras.
Tapi jika ternyata perkataan pemuda itu semuanya benar, maka bukan hanya dia akan kehilangan kesempatan menjadi pemimpin markas cabang, tapi jabatannya di markas kecil juga bisa terancam.
“Tidak ada cara lain, aku harus bertindak...” Buyung Upiak menampar meja dengan kuat.
Keesokan harinya, tiga orang petugas pengantar pesan berniat kembali ke Markas Cabang, tapi Buyung Upiak segera menghadang laju kuda mereka.
__ADS_1
Orang tua itu membawa pedang tanpa sarung, membuat puluhan prajurit yang melihatnya diliputi dengan tanda tanya.
“Buyung Upiak apa yang kau lakukan?” Salah satu dari petugas pengantar pesan bertanya. “Kenapa kau membawa pedangmu dan mencegat kuda kami?”
“Sebelum kalian pergi dari sini, aku ingin melihat identitas kalian, tunjukkan lencananya!”
“Apa maksudmu, tentu saja kami adalah petugas pengantar pesan.”
Buyung Upiak tidak bercanda, “Tunjukkan atau kalian akan kubunuh!”
Satu persatu dari mereka akhirnya menunjukkan lencana kelelawar yang bertuliskan, 'pengantar pesan' di bawah kaki kelelawar. Tapi salah satu dari mereka mulai mencari lencananya di beberapa saku baju, tapi tidak ditemukan.
Dia masih memeriksa di buntelan barang, juga di saku baju temannya, tapi lencana itu tidak akan pernah ditemukan karena sekarang ditangan Sungsang Geni yang melihat ketiga orang itu dari jauh.
“Dimana lencanaku?” orang itu bertanya pada temannya. “Apa jangan-jangan...”
Dia teringat dengan pemuda yang berpura-pura ingin menjadi prajurit, dia yakin orang itu yang telah mencuri lencananya.
Tapi sebelum dia ingin mengatakan sesuatu, Buyung Upiak segera menyerangnya dengan tebasan pedang.
Nayris saja pedang orang tua itu mengenai batang lehernya jika dua detik saja dia tidak merebahkan tubuh di punggung kuda.
Pada saat posisinya seperti itu, Buyung Upiak menusukkan pedangnya, tapi sekali lagi pengantar pesan bisa menghindar. Pedang Buyung Upiak menembus punggung kuda hingga mati.
“Tunggu dulu, kenapa kau melakukan hal ini?”
Belum kering air liur pria itu, Buyung Upiak mendaratkan satu pukulan dengan kuat membuat petugas pesan itu melayang beberapa lama di udara dan jatuh tepat di tong air.
“Rupanya orang ini benar-benar gila seperti yang dikatakan semua orang, seharusnya dia tidak pantas menjadi pemimpin Markas Cabang.” Salah satu dari mereka yang masih duduk di punggung kuda melontarkan tanggapan.
Mendengar hal itu, Buyung Upiak menjadi sangat marah. “Sekarang kau mengatakan aku gila, jadi kalian bertiga memang berniat menghilangkan kesempatanku menjadi pemimpin markas cabang. Matilah kalian bertiga!”
Semoga cukup menghibur.....
__ADS_1