PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menguasai Istana5


__ADS_3

Sebelum Adipati Lingga bergerak dari Kadipaten Ujung Lempung membawa pasukannya untuk menyerang -dengan kemungkinan menang sangat kecil. Mereka dikejutkan dengan kembalinya Langgis.


“Kakang...” Langgis memberi hormat sementara air mata Lingga sudah berurai. “Aku terlambat pulang, tapi aku baik-baik saja.”


Lingga hanya menangis tertahan, dia membelai pipi adiknya dengan tangan kasar kapalan. “Aku pikir kau sudah pergi meninggalkan aku? Syukurlah kau baik-baik saja.”


Langgis tersenyum pahit, sudah barang tentu Kakaknya khawatir terhadap dirinya. Namun demikian, saling beratap bukan waktunya saat ini. Gadis itu memberikan sepucuk surat dengan segel kuno, segel rahasia dari Tumenang.


Adipati Lingga mengambil surat itu, menyibakkan secarik kertas yang hanya berisi deretan kalimat singkat dan padat. Wajah Adipura Lingga menjadi merah setelah selesai membaca isi surat itu, dia menoleh ke arah Langgis, kemudian pada semua prajurit dan pasukannya.


“Langgis, bagaimana mungkin Senopati Mangku Anom?” Lingga masih berpikir keras, nyatanya dia tahu bahwa Mangku Anom di dalam penjara bersama dengan prajuritnya.


“Kau mengirim pemuda hebat kakang...” Langgis tersenyum kecil. “Geni benar-benar sangat kuat, dia bisa diandalkan. Pemuda itu bisa menguasai Istana seorang diri, tentu saja ada banyak sebab atas keberhasilannya.”


“Pemuda? Pemuda mana yang...” Lingga tersentak, dia menoleh keluar rumahnya memperhatikan seekor Srigala besar yang sedang duduk dengan mata tajam menatap ke suatu sisi, Istana Tumenang.


Sudah semenjak Sungsang Geni pergi meninggalkan Kadipaten Ujung Lempung, srigala hitam itu duduk di sana pada sudut teras rumah Adipati Lingga tanpa ada yang berani mengusiknya, kecuali Ki Demang tua yang sekekali menyodorkan daging bakar.


“Rupanya Geni, sudah berjalan selangkah lebih jauh dari kami.” Adipati Lingga menarik nafas lega.


Langgis tersenyum kecil, mulai menceritakan segala hal yang telah terjadi semenjak pemuda itu masuk ke dalam Istana Tumenang. Ada banyak ekspresi wajah ketika mereka mendengar cerita yang mirip seperti bualan belaka. Tapi semuanya yakin, Langgis tidak mungkin berbohong apa lagi setelah mereka melihat langsung kekuatan Sungsang Geni menghadapi dua pengawal Grilik Suing.


“Senopati Mangku Anom meminta kita bergerak saat ini juga.” Adipati Lingga menggaruk kepalanya, tampak mulai memahami situasi yang telah terjadi di dalam Istana. “Aku tidak tahu, tapi mungkin ini adalah saat yang tepat.”

__ADS_1


***


Seorang pria kekar, mirip algojo berdiri di halaman Istana di atas mimbar. Dia memegang secarik kertas, dua tabuhan genderang membuat semua orang berhenti bekerja dan terpaku menatap pria itu.


“Aku menyampaikan titah Paduka Raja Prajamansara...” berpidato pria itu dengan suara lantang. “Sebab Kelelawar Iblis mengalami kekalahan dalam perang melawan Surasena, mulai hari ini Paduka Raja menetapkan upeti dinaikkan 10 kali lipat dari biasanya. Barang siapa yang menolak kenaikan, seluruh keluarganya akan menjadi tumbal di altar persembahan dewa.”


Setelah mengatakan hal itu, selebaran kertas berterbangan berisi pengumuman yang sama. Wajah para rakyat sontak padam, mereka baru saja memuja Prajamansara kemarin siang tapi hari ini junjungan mereka menaikkan upeti yang jelas akan mencekik rakyat.


10 kali lipat dari biasanya, setiap rumah harus menyiapkan 10 karung beras. Gila, ini benar-benar mencekik mereka.


Kali ini di depan Istana, semua orang menjerit. Berbeda dari hari biasanya, jalanan yang dipenuhi dengan gadis penghibur dan tarian menjijikkan berganti dengan upatan dan cacian dari mulut-mulut mereka.


Beberapa rakyat merobek selebaran kertas yang bertebaran, meremasnya dan membanting ke arah Istana dengan sumpah serapah dan upatan panjang pendek.


“Kenapa kau menetapkan aturan sepihak seperti ini?”


Istana di tutup untuk saat ini, puluhan prajurit bersenjata lengkap keluar dari dalam Istana berjaga di luar pintu masuk. Mengantisipasi jika saja ada para rakyat yang mencoba menerobos dan melawan. Hal yang sama juga dilakukan di pekarangan belakang Istana.


Senopati Mangku Anom tersenyum kecil dari balik Jendela Istana, ini benar-benar berjalan sesuai rencananya. Pria itu menegak arak di dalam kendi labu miliknya, jari-jari keras dan kapalan mencengkram kuat.


“Aku perintahkan kalian menyebar informasi ke empat Kadipaten hari ini juga!” Senopati Mangku Anom mengirim empat prajurit paling kuat yang dia punya. “Negri ini akan hancur sesaat lagi, tinggal menunggu waktu yang tepat. Kalian harus pandai bersikap di depan Adipati, bujuk rayu mereka, cela Istana dan buat cerita menakutkan mengenai Prajamansara.”


Dengan surat yang langsung ditandai dengan segel Istana, semua orang akan percaya jika Raja Prajamansara benar-benar menetapkan aturan baru bagi Rakyat.

__ADS_1


Sungsang Geni tersenyum kecil di sudut ruangan, dia tidak berniat ikut campur dalam -strategi licik Senopati Mangku Anom, tapi disadari cara ini sangat bagus. Rakyat mulai bimbang untuk mematuhi Prajamansara.


“Tinggal satu langkah lagi.” Mangku Anom tersenyum kecil, “Lihatlah di sana!”


Sungsang Geni baru beranjak, kemudian melirik ke bawah pada dua, tidak tapi tiga orang pria yang bergelagat aneh di antara kerumunan.


“Kurang ajar kau Yang Mulia Prajamansara, aku kira kau begitu bijaksana tapi dirimu rupanya lebih mementingkan Kelelawar Iblis dibanding dengan rakyatmu sendiri!” Berteriak pria dengan gelagat aneh itu, yang tak lain adalah prajurit.


“Persetan dengan Upeti, persetan dengan persembahan dan dewa yang kau maksud, kami rakyat tidak akan ditindas, kami akan melawan...KAMI AKAN MELAWAN!”


Tidak lama setelah dua orang pria itu berteriak, orang ketiga berpura-pura jatuh tersungkur di tanah dengan wajah penuh linangan air mata. Dia mencengkram tanah di jalanan, kemudian menaburkan di udara.


“Jikalah Pangeran Miksan Jaya yang memimpin Negri ini...” dia berkata disela-sela tangisnya. “Tentulah negri ini tidak akan mengalami hal menyedihkan seperti ini, kau penuh tipu daya Paduka Prajamansara. Kau jahat berhati keji.”


Semua mata rakyat tertuju ke arahnya, beberapa sontak sadar akan kekeliruan mereka, beberapa yang lain mengernyitkan kening mencoba menelaah. Sementara itu Mangku Anom hampir tertawa melihat tiga prajuritnya menunjukkan sandiwara apik yang berhasil menarik perhatian rakyat di sana.


Sebuah lemparan batu berhasil mengenai patung Topeng Beracun yang berdiri kokoh di per empatan jalanan, sebagai aksi menolak kebijakan baru Istana. Dan itu cara terbaik untuk meletuskan pemberontakan.


Tidak beberapa lama Rakyat mengamuk di jalanan, mulai menghancurkan patung itu hingga runtuh. Tapi sejauh ini belum ada yang berani melawan Istana secara langsung, mereka tidak cukup kuat untuk berhadapan dengan prajurit-prajurit bersenjata lengkap.


“Sekarang tinggal Adipati Lingga, dia harus bisa mengumpulkan rakyat untuk menyerang Istana.”


“Dia ini lebih pintar dari orang yang pernah aku temui.” Bergumam Sungsang Geni. “Ah...jika saja dia seorang penjahat, keberadaannya akan membahayakan Dataran Java.”

__ADS_1


Berlalu Sungsang Geni meninggalkan Senopati Mangku Anom sambil menggelengkan kepala menuju ruangan lain dimana Patih berambut putih masih terkujur lemas. Dia sudah sadar beberapa waktu yang lalu, tapi tubuhnya benar-benar lemah.


__ADS_2