
Setelah berhasil bertahan di atas sampan selama satu jam, akhirnya mereka bertiga sampai juga di tempat yang dituju.
Mereka menepi di sebuah laguna kecil yang begitu cantik, penuh dengan pasir putih yang berkerlipan seperti tebaran mutiara. Di sisi barat gunung ini, ada sebuah air terjun kecil yang menderu dari atas dinding cadas.
Sungsang Geni turun dari sampan dengan tubuh merangkak, tidak akan terulang lagi hal seperti ini, pikir pemuda itu. Dia mencengkram pasir di tepi pantai, kemudian merebahkan tubuhnya menghadap langit.
Pandangannya masih berputar-putar, langit terlihat melengkung seakan menjauhi bumi. Pemuda itu benar-benar mabuk laut.
Wulandari tidak bisa menghilangkan tawanya, menyadari pemuda terhebat di Surasena rupanya masih seperti orang biasa pada umumnya.
Butuh usaha keras untuk tiba di bawah pohon palem di tepi pantai, Sungsang Geni berjalan merangkak diiringi Panglima Ireng yang bahkan tidak bisa menarik lidahnya. Selalu terjuntai.
Sungsang Geni menyandarkan tubuhnya dengan sedemikian rupa, mencari posisi paling nyaman saat ini, tapi tidak menemukannya. Dia akhirnya bersandar hanya setengah tubuhnya saja, dengan dagu menyentuh dada.
“Kau benar-benar menyedihkan,” canda Wulandari, dia akhirnya memilih duduk di batang bakau yang dipenuhi dengan akar-akar bergantungan. “Tapi usahamu akan terbayarkan, kau bisa menyerap energi alam dengan baik di tempat....”
Ucapan Wulandari tidak bersambung, berganti dengan suara gemerisik sesaat. Sungsang Geni segera menoleh ke arahnya, tapi gadis itu tidak ada lagi. Pemuda itu bisa melihat ada sesuatu bergerak di antara semak-semak. Gerakan itu semakin menjauh.
“Celaka!” Pemuda itu terperanjat seketika. “Tempat ini ada pemiliknya, Ireng gadis itu sudah diculik.”
“Gerr...” Panglime Ireng menggeram dia dengan susah payah berdiri dari bibir pantai, berjalan gontai ke arah pohon bakau. Srigala itu mengenduskan hidungnya, menyelusuri jejak gadis itu dan hilang pula di balik pohon bakau, dan masuk ke dalam semak.
“Ireng!” Sungsang Geni memanggilnya beberapa kali. “Apa yang terjadi? Tidak mungkin kau juga hilang.”
Tanpa menunggu lama, pemuda itu dengan tubuh gontai berjalan dengan membuntuti jejak Panglima Ireng.
Pemuda itu masuk kedalam hutan. Dia memperhatikan dengan seksama, beberapa jejak mereka berdua masih tertinggal di ranting-ranting kecil yang patah.
__ADS_1
“Kenapa harus dalam keadaan seperti ini.” Pemuda itu berdecak kesal.
Segera pedar cahaya pedang energi keluar dari telapak tangannya. Pemuda itu sudah bersiap siaga atas kemungkinan yang akan terjadi. Entah siapa musuh yang ada ditempat ini, bangsa lelembut ataukan manusia, atau mungkin sesuatu yang lain?
Setelah cukup jauh mengikuti jejak mereka berdua, sekarang pemuda itu dihadapkan pada jalanan yang sedikit berlumpur. Ada jejak telapak kaki di atas permukaan tanah itu, berukuran kecil tapi dengan jari-jari yang besar. 4 pasang jejak kaki.
“Ini bukan jejak telapak kaki binatang, tapi bukan pula jejak kaki manusia.” Sungsang Geni masih mengikutinya dengan hati-hati. “Mahluk apa gerangan mereka ini? jelas bukan bangsa lelembut.”
Beberapa ratus meter pemuda itu mengikuti jejak-jejak di tanah. Tapi sampai sekarang belum pula menemukan siapa pemilik jejak itu, bagaimana rupanya?
Langkah Sungsang Geni berhenti pada rawa kecil yang dipenuhi dengan tanaman air, genjer, kangkung, dan talas serta tumbuhan-tumbuhan lain. Nyaris rawa kecil itu tertutup dengan tumbuhan.
Jejak kaki berhenti di tempat ini. Sungsang Geni memperhatikan setiap sisi ditempat ini, menoleh beberapa kali ke pohon-pohon tinggi memastikan akar-akar yang mungkin digunakan untuk bergelayutan. Tapi tidak ada.
Selang beberapa menit kemudian, ada pergerakan dari arah belakangnya. Sepontan saja, pemuda itu menoleh tapi hantaman keras mengenai wajahnya. Dalam kondisi tubuh yang belum begitu baik, pemuda itu tidak bisa menghindari serangan.
Sebelum hilang kesadarannya, dia bisa melihat mahluk-mahluk berhidung besar dan telinga lancip menatapnya dengan bengis.
***
Pemuda itu tersadar pada sebuah tempat yang dipenuhi dengan kayu-kayu besar di sekelilingnya. Kayu-kayu itu menyerupai sel tahanan, atau mungkin sangkar.
“Kau sudah sadar, Geni?” terdengar suara Wulandari di sisi kirnya, tepatanya di sangkar lain yang bergabung dengan Panglima Ireng.
Tubuh gadis itu sudah dipenuhi dengan memar, bahkan bibir tipisnya yang begitu menarik ketika berpose cemberut sekarang ternoda dengan darah. Rambutnya sudah acak-acakan, bahkan terlihat lebih pendek dari sebelumnya, nampaknya sengaja dipotong oleh penculik mereka.
Panglima Ireng tidak kalah menderita dari gadis itu, kaki depannya terlihat patah. Kepalanya berdarah, mungkin saja dihantam dengan gadah atau juga sejenisnya. Hewan itu hanya rebah di pangkuan Wulandari, dengan lidah menjulur dan salah satu mata yang bengkak.
__ADS_1
“Dia masih baik-baik saja,” ucap gadis itu pelan. “Kami mengalami beberapa kali penyiksaan selama kau tidak sadarkan diri. Mahluk itu sangat mengerikan, tidak hanya itu mereka memiliki pisik yang luar biasa kuat. Seperti seorang pendekar tanpa tanding, tapi mereka bukan pendekar. Tidak, tapi mereka itu bukan manusia.”
Sungsang Geni mengeraskan rahang, dia kemudian sekuat tenaga mencoba keluar dari tempat ini. Tapi entah mengapa, seolah tubuhnya tidak memiliki daya dan upaya.
“Mereka telah memberi kita racun...” Wulandari berkat lirih. “Racun ini tidak akan membunuh kita, tapi efek yang diakibatkan oleh racunnya dapat membuat tubuh kita menjadi sangat lemah. Meski jenisnya berbeda, tapi di Negeri Sembilan ada racun seperti ini, Racun Rogo Melarat.”
“Tenang saja, aku akan menyelamatkan kalian berdua,” ujar pemuda itu. “Bertahanlah sebentar saja, kita akan selamat...”
Belum usai perkataan pemuda itu, tiba-tiba seorang mahluk datang menendang sel tahanannya. Tendangannya begitu kuat, membuat kandang tahanan melayang beberapa meter. Sungsang Geni terpaksa jungkir balik di dalam sana.
Kerangkeng tahanan berhenti tepat di antara puluhan mahluk di dataran luas.
Sungsang Geni belum pernah melihat mahluk seperti mereka ini sebelumnya. Bertubuh kerdil, hanya seukuran pinggangnya dengan tubuh kekar dan jari-jari kasar lagi berbulu tipis. Mereka seperti monyet, tapi bukan monyet.
Dan hal yang paling mengejutkan pemuda itu adalah, tumit kakinya terbalik. Jari-jari mahluk itu menghadap ke belakang, berbeda dengan manusia maupun mahluk manapun.
Layaknya manusia, mereka juga memiliki keluarga. Beberapa diantara mereka memiliki dada yang besar, itu tampak seperti wanita. Tidak ada yang mengenakan baju, tapi mereka sedikit memiliki malu dengan menutup alat vital mereka dengan kulit-kulit binatang.
Dan menariknya, bahkan mereka menyusui anak-anak mereka seperti manusia. Jumlah mereka tidak kurang dari 50 orang, semuanya kerdil dan berotot besar.
Salah satu dari mereka, mengenakan mahkota yang terbingkai dari gigi-gigi binatang atau mungkin manusia. Ada banyak jenis gigi melingkar di kepalanya.
Sungsang Geni yakin dia adalah wanita, terbukti dari dadanya yang besar, tapi pemuda itu juga yakin dia adalah pemimpin dari sekelompok mahluk aneh ini.
“Sebaba...sebaba...” dia berkata kepada Sungsang Geni. “Sebaba...sebaba...” kemudian wajahnya menjadi marah, lubang hidungnya yang besar semakin besar saja. “SEBABA!” dia berteriak.
“Apa maksud mahluk ini?” Sungsang Geni membatin dengan kesal.
__ADS_1