PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 6


__ADS_3

Semua orang bertarung sengit saat ini. Mahesa dan Sabdo Jagat sedang menghadapi dua pria besar, mereka berdua adalah Wakil Komandan. Sementara itu, Benggala Cokro tidak bisa meninggalkan Cawang Wulan saat ini, tidak setelah ratusan anak panah datang bertubi-tubi menyerang ke arah mereka.


Sementara itu di bagian lain, Wira Mangkubumi terpaksa memimpin pasukan bersama dengan Senopati Ratih Perindu dan Siko Danur Jaya. Ini sebenamya bukan wewenang dirinya, tapi Mahesa, Sabdo Jagat, dan Benggala Cokro terlihat memiliki kesibukan tersendiri.


Pasukan yang mereka tinggalkan harus di pimpin oleh seseorang.


“Gunakan Kapak Besarmu untuk menghancurkan barisan musuh!” Pekik Wira Mangkubumi, memberi perintah kepada Ratih Perindu.


Gadis itu segera paham, jadi dia melepaskan serangan ke bumi membuat rekahan besar dan berhasil mengubur puluhan musuh.


“Siko, dengan jarum milikimu, incar pemimpin mereka!” ucap Wira memberikan perintah. “Meski mereka berjumlah ribuan, tetap saja mereka memiliki regu-regu masing-masing. Carilah ketua regunya, dan lumpuhkan!”


Secara naluri, Siko Danur Jaya mengerti seperti apa ketua-ketua regu. Terlihat jelas dari aura yang terpancar dan juga ilmu bela diri yang mereka miliki.


“Ketemu!” ucap pemuda itu, melepaskan jarum sehalus rambut pada 20 orang yang diyakininya sebagai ketua regu, paling tidak mereka yang memiliki level pendekar lebih kuat dari yang lain.


Serangan Siko Danur Jaya seperti tidak ada rasanya, ketika menancap di batang leher mereka. “Efeknya akan terlihat satu menit kemudian,” ucap pemuda itu.


Setelah satu menit, dua puluh orang yang telah Mahesa lumpuhkan tiba-tiba jatuh ke tanah tanpa sebab. Tubuh-tubuh mereka menggeliat, kemudian bergetar hebat sebelum akhirnya cairan putih keluar dari dalam mulut.


Melihat ketua regu mati dengan mudah, musuh menjadi sedikit khawatir. Mereka baru menyadari bahwa sekarang telah terjebak di dalam markas musuh. Jumlah mereka mungkin hanya 1500 orang, tapi Surasena memiliki lebih dari enam ribu prajurit yang mengepung mereka.


“Serang mereka dengan tombak panjang!” ucap Wira Mangkubumi. Tombak panjang dapat memimalisir terjadinya kontak secara langsung. Bukan hanya itu, dengan tombak panjang jangkauan serangan lebih jauh. Semakin jauh jarak, semakin berkurang tingkat ketakutan.


Beberapa musuh hendak menyerang serentak, tapi posisi mereka saat ini sudah dikepung. Jadi tidak ada cara lain saat ini, kecuali bertahan. Barisan tombak maju kedepan, sementara para prajurit dengan senjata golok dan pedang kembali ke barisan belakang.

__ADS_1


“SERANG!” pekik Wira Mangkubumi. Dengan penuh semangat prajurit Surasena mulai bergerak, menyempitkan ruang gerak mereka dengan tombak yang ditarik ulur.


Butuh usaha cukup keras, tapi pada akhirnya 1500 prajurit musuh yang tersisa tidak akan kuasa menahan gempuran yang bertubi-tubi. Mereka mati bergelimpangan.


Barangkali ada yang berniat melarikan diri. Tapi formasi kura-kura adalah perangkap, tidak ada yang bisa keluar dari dalam lingkaran besar.


Lagipula di pintu gerbang ada ratusan prajurit yang berjaga. Jadi saat ini tidak ada satu orang musuhpun yang bisa keluar, dan tidak ada satupun yang bisa masuk. Ya, kecuali jika ada pria besar atau wakil komandan yang mengobrak-abrik formasinya.


Baru pula menghirup napas lega, tiba-tiba di atas langit terdengar ledakan seperti guntur. Kemudian ledakan lagi disertai kilatan-kilatan energi. Semua orang melihat ke atas, hal itu membuat telinga menjadi berdengung karena pekak.


“Geni dan pria itu telah bertarung dua jam lamanya, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda dari kedua orang itu akan kalah.” Wira Mangkubumi memperhatikan mereka berdua yang bergerak terus di atas udara.


Nasib beruntung dua orang itu bertarung di atas udara, dengan begitu tidak ada yang terlibat dengan serangan mereka.


Pertarungan mereka tidak kalah sengit dari pertarungan Sungsang Geni melawan Mungkarna. Hanya saja, baik Lemah Abang dan juga lima pendekar Surasena sudah mendapatkan luka di banyak bagian.


“Kita tidak bisa diam saja!” ucap Wira Mangkubumi. “Buka gerbang, biarkan musuh masuk!”


Mendengar perintah itu, ratusan orang di pintu gerbang membubarkan diri ke arah samping. Sehingga sekarang, prajurit Kelelawar Iblis bisa leluasa masuk berduyun-duyun. “Tutup gerbang!” ucap Wira, setelah hampir lima ratus musuh masuk. “Bunuh mereka!”


Sama hal seperti sebelumnya, tombak panjang berhasil membunuh musuh dengan mudah. Wira Mangkubumi berpikir, musuh tidak akan menyadari taktik sesederhana ini karena mereka semua bodoh. Semua prajurit Kelelawar Iblis hanya memiliki satu tujuan, yaitu menyerang siapapun yang ada di depan mereka.


Tidak ada yang cukup pintar kecuali mereka yang berada di level berbeda. Barangkali hanya pasukan yang ada di dalam hutan yang terdiri prajurit-prajurit tangguh lagi cerdas. Wira Mangkubumi bisa menebak kekuatan yang tersimpan di dalam hutan.


Setelah hampir tiga ribu pasukan kelelawar Iblis mati di dalam Tembok. Wira meminta puluhan orang mengambil gerbang cadangan. Gerbang tadi sudah hancur berkeping-keping karena hantaman pria besar, jadi sekarang kesempatan untuk membenahinya.

__ADS_1


Dengan sangat gesit, ratusan orang membawa gerbang yang beratnya mungkin 5 ton. Terbuat dari balokan pohon besar. Meski bersusah payah, akhirnya gerbang berhasil dibangun.


Untuk sementara mereka bisa bernafas dengan lega, sebelum pasukan susulan kembali datang. Di luar Gerbang sekitar 5 ribu pasukan musuh masih berusaha mendekati tembok, tapi para pemanah yang jumlahnya hampir satu ribu orang tidak henti-hentinya menghujani mereka dengan panah api.


Wira Mangkubumi kembali lagi ke atas tembok. Dari tempat ini, dia bisa melihat Sabdo Jagat dan Mahesa bertarung sengit melawan dua manusia besar yang entah kenapa tidak mati-mati setelah mendapatkan serangan bertubi-tubi.


“Apa mereka memiliki banyak nyawa?” tanya Siko Danur Jaya, wajahnya terlihat panik ketika melihat tongkat penghancur gunung miliki Sabdo Jagat bisa dihentikan dengan kepalan tinju.


“Mereka pasti memiliki kelemahan, hanya saja Mahesa dan Sabdo Jagat belum menemukannya,” jawab Wira Mangkubumi.


“Tapak Dewa Perang!” Teriak Mahesa.


Sebuah cahaya berwarna kuning muncul dari telapak tangan pria itu, cahaya itu berbentuk seperti telapak tangan seorang raksasa. Melaju dengan cepat dan berhasil menghantam lawannya hingga terpukul mundur sampai ke ujung parit.


Pria besar jatuh berguling-guling, menghantam apapun termasuk prajuritnya sendiri. Sepuluh giginya patah karena serangan itu, darah kehitaman keluar dari dalam mulutnya. Pria besar sekarang mendadak menjadi ompong.


Tapi dia tidak mati, sial sekali. Mahesa menjadi kesal, kekuatan itu harusnya bisa membuat lawannya luka lebih parah daripada kehilangan 10 gigi.


“AHKKK...AHKKK!” pria besar berteriak keras, berlari dengan cepat dengan membawa kepalan tinju yang diisi energi luar biasa.


“Kau pikir aku akan mundur!” Mahesa bukannya menghindar malah ikut berlari dengan kepalan tinju yang terisi tenaga dalam.


Beberapa saat kemudian, dua kepalan tinju beradu. Gelombang bertekanan rendah berhasil membuat kayu dan ranting berhamburan seperti kapas, bahkan senjata-senjata yang tergeletak diantara ribuan mayat ikut terbawa arus.


Bumm...Bummm....sebuah kilatan tercipta, membuat pusaran angin puyuh untuk beberapa saat. Debu berhamburan saat itu, sehingga tidak ada yang tahu siapa gerangan yang berhasil selamat. Atau mungkin sama-sama tewas.

__ADS_1


__ADS_2