
Keesokan harinya, Buyung Upiak membawa 1200 pasukan menuju markas kecil di seberang sungai.
Dia hanya menyisakan 10 penjaga yang paling setia untuk menjaga gudang hartanya. Sementara itu seluruh tawanan di kunci di dalam sel tahanan.
Prajurit itu berpakaian lengkap, menggunakan zirah perang berwarna hitam, topeng perang dan juga sepatu dan sarung tangan baja.
Hanya satu yang kurang dari pasukan besar itu, mereka tidak membawa bendera Kelelawar Iblis, mungkin karena mereka berada dalam satu golongan.
Buyung Upiak menunggang kuda hitam paling besar, berjalan lebih dahulu di iringi 4 bawahannya yang kuat. 4 bawahan itu tidak begitu mengerti kenapa Buyung Upiak ingin sekali menyerang markas kecil di seberang sungai.
Menurut Buyung Upiak dia tidak perlu terlalu memberikan alasannya, sebab mereka berempat adalah orang-orang bodoh. Tapi orang tua itu menjanjikan semua wanita dan arak di sana untuk mereka berempat. Ini membuat keempat orang itu senang.
Derap langkah kaki kuda mereka menderu, laksana angin topan yang menerjang pemukiman penduduk, menakutkan dan memekakkan.
Ketika pasukan itu baru saja melewati sebuah wilayah, wilayah itu menjadi hilang karena debu jalanan yang dihasilkan oleh kaki kuda.
Beberapa jam kemudian, 5 buah kapal besar di pinggir sungai sudah siap berlayar. Kapal itu tidak mungkin mengangkut pasukan itu sekaligus, karenanya mereka akan bergiliran.
“Aku akan pergi lebih dahulu!” Buyung Upiak tidak sabar lagi untuk berperang, terlihat dari perangainya yang selalu emosian sejak dari kemarin.
Orang tua itu bersama 100 prajurit lainnya berlayar lebih dahulu, kemudian di ikuti 400 prajurit yang lain. Keadaan Sungai saat ini sangat jernih dan tenang, buih air membuntuti bagian belakang kapal, seperti mutiara yang berkilauan.
Setelah hampir 2 jam semua prajurit telah berada di seberang sungai, Sungsang Geni dan pasukannya bisa melihat mereka seperti sepasukan semut hitam. Berjalan berbaris-baris melewati jalan utama lalu kemudian hilang di tanjakan.
“Sekarang giliran kita!” Mahesa lebih dahulu naik di atas rakit yang mereka buat ala kadarnya.
__ADS_1
Kemudian diikuti oleh yang lainnya bersama dengan kuda mereka. Ada 10 rakit yang berhasil mereka buat, yang mampu membawa 5 orang beserta kudanya.
Sementara itu Sungsang Geni dan Cempaka Ayu lebih memilih menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk tiba di seberang sungai.
“Andaikan ilmu meringankan tubuh kita sehebat mereka berdua, kita tidak perlu menaiki kuda.” Dirga bergumam pelan di telinga Mahesa.
“Aku benar-benar menyesal tidak bisa menguasai ilmu itu.” Mahesa terlihat paling kesal diantara yang lainnya.
Sementara itu, Siko Danur Jaya dan Ratih Perindu mungkin bisa saja menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka, tapi tenaga dalam yang mereka miliki tidak sebanyak Sungsang Geni ataupun Cempaka Ayu. Jadi keputusan bijak mereka berdua menaiki rakit saja.
Setelah semua rombongan tiba di seberang, Sungsang Geni melayang di atas pohon paling tinggi. Matanya mulai mencari dimanakah letaknya markas kecil itu, tapi tidak ditemukan. Markas itu mungkin terletak cukup jauh dari sungai ini.
Namun demikian dia bisa melihat para serdadu yang dipimpin Buyung Upiak berbaris rapi sepanjang jalan, mungkin hanya membutuhkan 1 jam lagi pasukan itu akan tiba di salah satu kampung pertama.
Setelah cukup puas memperhatikan, Sungsang Geni segera turun dari pohon.
“Markas mereka mungkin masih cukup jauh, aku belum bisa melihat keberadaannya.” Sungsang Geni menaiki punggung Panglima Ireng. “Kita akan mengikut jejak Buyung Upiak dan pasukannya, tapi jangan terlalu dekat, mereka akan mencurigai kita.”
***
Setelah tengah hari, pasukan Bayangkara tiba di sebuah kampung yang sudah kacau balau, rata dengan permukaan tanah. Beberapa api masih membumbung tinggi, dan ada lebih banyak mayat yang bergelempangan di tanah.
Puluhan mayat itu adalah prajurit Kelelawar Iblis, tapi ada pula beberapa diantaranya mayat warga yang tidak bersalah. Sungsang Geni segera turun dari bokong Panglima Ireng, diikuti Mahesa dan Siko Danur Jaya.
Mereka bertiga menyelusuri perkampungan kecil itu, mencari jika saja ada yang masih selamat.
__ADS_1
Sementara itu semua prajurit bayangkara mengumpulkan mayat dalam satu lubang besar yang diciptakan Ratih Perindu.
“Jika kita tidak menguburkannya, tempat ini akan menjadi sarang penyakit.” Ratih Perindu memberi alasan.
Sungsang Geni tidak masalah dengan hal itu. Tapi bagi Mahesa, lebih baik dibakar saja mayat-mayat ini, karena tidak layak untuk diberikan pemakaman.
“Geni! Ada orang yang masih selamat.” Cempaka Ayu baru saja menemukan sekelompok warga yang bersembunyi di balik rumpun semak di dekat kampung mereka.
Mereka berjumlah sekitar 20 orang, terdiri dari pemuda-pemuda dan beberapa wanita muda. “Apa kalian tawanan atau warga ditempat ini?” Cempaka Ayu mengulurkan tangan pada sosok gadis di depannya. “Jangan takut, kami bukan pasukan Kelelawar Iblis, keluarlah dengan perlahan, kami tidak akan menyakiti kalian.”
Orang-orang itu tampak sedikit ragu, tapi pada akhirnya mereka memberanikan diri untuk keluar dari persembunyian. Rupanya para pria lebih banyak dari wanita, ada 15 orang pria dan 5 orang wanita.
Pakaian mereka tidak kalah usang dari warga-warga yang lain yang mereka temui, penuh dengan tambalan dan juga berbau masam. Mungkin sudah lama tidak di cuci.
Cempaka Ayu bergegas mengambilkan dua lembar bajunya, kemudian diberikan kepada dua gadis yang nyaris seperti telanjang. Mereka begitu dekil, kumuh dan hitam. Ketika Cempaka Ayu merasakan telapak tangan gadis itu, rasanya seperti bukan miliki seorang gadis, penuh dengan kapalan.
“Apa kalian warga di desa ini?” tanya Siko Danur Jaya, dia juga memberikan selembar baju pada seorang pemuda yang paling kurus diantara yang lainnya.
“Bukan tuan, kami sebenarnya bukan warga disini. Kami adalah prajurit yang ditahan, kami berasal dari Kerajaan Tumenang.” Pemuda yang satunya lagi berkata, dia yang paling besar dan sedikit berotot dibanding teman-temannya.
“Kerajaan Tumenang dari Lembah Hantu?” Sungsang Geni mengernyitkan keningnya, kemudian dia ingat mengenai tempat itu. “Aku mengenal pangeran Miksan Jaya dan juga Nyai Bidara. Bagaimana keadaan mereka?”
Sungsang Geni tidak melihat Kerajaan Tumenang berada di benteng pengungsian bersama dengan Surasena. Dia baru saja sadar mengenai hal itu.
Orang itu tidak menyangka Sungsang Geni mengenal Pangeran Miksan Jaya , dan juga pengawal setiannya, Nyai Bidara. Tapi tentu saja bukan hanya Sungsang Geni yang mengenal nama itu, Mahesa juga mengenal kedua orang itu.
__ADS_1
Wajah pemuda itu kemudian mendadak sayu, cukup lama dia mengatur napasnya hingga akhirnya membuka suara. “Kerajaan Tumenang sudah lama hilang, bersamaan dengan Raja dan Pangeran Miksan Jaya. Kami telah dikudeta oleh paman dari pangeran Miksan Jaya, atau adik kandung sang Prabu Kalara. Nyai Bidara berhasil membawa Pangeran Miksan Jaya, tapi hingga hari ini tidak ada yang mengetahui dimana mereka bersembunyi.”
Hem...semoga kalian suka, dengan terus memberi dukungan.