
Setelah terjadinya perperangan besar itu, Surasena masih was-was jika saja ada serangan susulan. Mereka memutuskan untuk tetap bersembunyi di tepi lembah sebelah utara reruntuhan Tembok Surasena.
Di sana, suasana masih begitu asri. Pada rumput yang luas, menghadap pada sungai besar yang mengalir jernih di penuhi batu-batu raksasa. Gemuruh air terjun menderu tepat di sudut lembah itu, menjadi tempat paling di sukai Sungsang Geni.
Sudah dua hari pemuda itu bertapa tepat di jatuhnya air terjun, bertelanjang dada hanya mengenakan celana pendek. Tiada orang yang berani mengusik pemuda itu. Ya, dia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya sendiri.
Bertapa di tengah air bukanlah hal yang di sukai pendekar dengan aura panas itu. Tapi untuk kali ini, rasa dingin yang sangat dibenci pemuda itu malah menjadi pelampiasan.
Boleh dikata Surasena menang menghadapi serangan Kelelawar Iblis. Kemenangan yang benar-benar tiada pernah di duga sebelumnya.
Sejauh puluhan depa dari air terjun, tenda darurat berdiri ala kadarnya. Beratap ilalang kering, dahan dan ranting sebagai penopang bangunan itu. Mereka tentu saja kesulitan mencari sumber makanan- kecuali ikan mudik yang besarnya tidak seberapa, tapi air melimpah di tempat itu.
Ketika matahari masih sedikit condong ke timur -cahayanya belum terlalu panas- di tenda darurat Lakuning Banyu, telah berkumpul beberapa orang pendekar hebat.
“Bagaimana keadaan Sungsang Geni?”Bertanya Ki Lodro Sukmo, entah kenapa pak tua itu mulai menyukai pemuda matahari itu.
“Kondisinya sangat baik.” Menjawab Ki Alam Sakti. “Ya, kecuali penyakit anak muda.”
“Penyakit anak muda?” Bergumam kecil Bangau Putih.
Mendengar hal itu, Ki Lodro Sukmo segera menyenggol pundak temannya, mulutnya sedikit monyong. “Apa kau tidak pernah merasakan asmara? Umurmu sudah tua, kelak akan kucarikan janda anak tujuh untukmu.”
Bangau Putih senyum kecut, menyadari bahwa dengan umur setua ini, dia masih melajang.
Untuk sesaat suasana di tenda darurat menjadi sedikit hangat, ada sedikit gelak tawa para penghuni bangunan tak layak huni itu.
“Paduka Raja...” Ki Alam Sakti tampak berpikir sejenak, mencari kalimat tepat untuk di ucapkan. “Meski saat ini kita sudah berhasil mengalahkan mereka, tapi aku yakin akan ada serangan susulan. Kelelawar Iblis tidak akan melepaskan kita begitu saja.”
__ADS_1
“Yang kau maksud mungkin, kita harus menyusun lagi rencana. Benarkah?” menyahut Kaki Lohor Sukmo.
Semenjak kematian Darma Guru, tampkanya posisi Mahapatih secara tidak langsung di duduki oleh Ki Alam Sakti. Dialah sesepuh yang paling layak menemani Lakuning Banyu, sebab selain sakti, Guru Sungsang Geni itu memiliki pengalaman banyak di dalam pemerintahan.
Belum menjawab Lakuning Banyu, tiba-tiba Mahesa memberikan sebuah masukan. Menurutnya, mereka lebih baik berlindung di Markas Petarangan. Untuk sesaat dia yakin Kelelawar Iblis tidak akan menyerang mereka.
Bagaimanapun, musuh mengalami kerugian yang luar biasa banyak. Ada lebih dari dua puluh ribu pasukannya tewas dalam perang. Menurut Mahesa, mereka saat ini pasti sedang menimbang sebuah rencana.
“Yang kau katakan ada benarnya...” Lakuning Banyu mengelus dagunya beberapa kali. “Markas Petarangan yang kau maksud, mungkin solusi terbaik untuk berlindung. Bagaimanapun kita membutuhkan makan dan tempat tinggal untuk saat ini.”
“Tapi...” Sabdo Jagat terlihat ragu untuk berkata. “Begini, Sungsang Geni berniat pergi mencari Cempaka Ayu. Apa tanggapan kalian mengenai keputusan pemuda itu?”
Semuanya kembali terdiam untuk beberapa saat. Ki Lodro Sukmo tidak bernafsu menegak sisa arak di dalam kendi labunya, ketika hal itu terjadi Bangau Putih segera menyambar arak itu dan menegaknya banyak sekali.
“Menurutku, biarkan pemuda itu mencari Cempaka Ayu.” Berkata mantap Bangau Putih. “Aku tidak begitu tahu mengenai dunia anak muda, tapi menurutku dia harus mencarinya. Seperti itulah!” Pria tua itu menegak sekali lagi arak, kepalanya clingak clinguk untuk beberapa kali ketika mendapati teman-temannya menaikkan alis. “Ada yang salah?”
Lakuning Banyu tersenyum kecil, dia tidak mengatakan apapun tapi dia tidak akan melarang Sungsang Geni untuk pergi meninggalkan Surasena.
***
Bersama Ratih Perindu, Panglima Ireng dan Siko Danur Jaya duduk di atas batu besar menghadap ke arah Sungsang Geni. Tentu saja mereka bertiga lebih tahu dari siapapun perasaan pemuda itu, karena Cempaka Ayu merupakan teman karib mereka.
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng bergeram pelan, ekornya mengepak kiri-kanan dengan tatapan sayu.
“Aku dengar Geni, akan mencari Cempaka Ayu,” ucap Siko Danur Jaya.
“Begitulah, aku berniat ikut menemaninya tapi kupikir itu bukan pilihan terbaik.” Ratih Perindu berujar pelan. “Dewi Bulan tidak akan mengenali kita, untuk saat ini kita tidak tahu apakah Cempaka Ayu telah sadar atau masih dalam kendali Dewi Bulan.”
__ADS_1
“Ada hal yang aku takutkan.” Siko Danur Jaya menoleh ke arah Ratih Perindu. “Bagaimana Jika Kelelawar Iblis menangkap gadis itu, maksudku Dewi Bulan. Bukankah mereka menginginkan kekuatan itu, Banduwati pernah mengatakan Dewi Bulan adalah potongan kekuatan Topeng Beracun.”
Seketika wajah Ratih Perindu menjadi buruk. Bagaimana dia lupa mengenai hal itu? Karena menginginkan Dewi Bulan, Banduwati menyerang Perguruan Lembah Ular setahun yang lalu.
Mereka semua tidak ada yang sanggup menjawab pertanyaan itu. Hingga akhirnya matahari mulai condong ke barat, sesaat lagi akan malam. Sungsang Geni menghentikan laku semadinya, melompat dari tempat dia duduk selama dua hari ini dan hinggap tepat di hadapan tiga temannya.
“Geni, apa tenaga dalammu sudah kembali?” Siko Danur Jaya memberikan baju tipis untuk pemuda itu.
Sungsang Geni tersenyum kecil, tampak tidak lagi terlihat kegusaran di wajahnya. Dia mengenakan pakaian yang diberikan Siko Danur Jaya, sebelum akhirnya duduk berjejer menghadap pada ribuan prajurit yang sedang melakukan banyak aktivitas.
Gemuruh air terjun menjadi pendengaran tersendiri, menenangkan perasaan mereka berempat. Siko Danur Jaya hendak berbicara, tapi pada akhirnya memilih untuk diam.
Sementara itu Panglima Ireng menyodorkan moncong hitamnya beberapa kali, kemudian merebahkan tubuhnya di samping Sungsang Geni. Hal yang biasa dia lakukan agar pemuda itu bisa menghangatkan tubuhnya.
“Yang aku khwatirkan sama hal dengan dirimu.” Sungsang Geni mulai berucap. “Aku khawatir jika Dewi Bulan tidak mengembalikan kesadaran Cempaka Ayu. Lebih khawatir lagi, jika Pemimpin Kelelawar Iblis menemukan kekuatan itu.”
“Kapan kau akan pergi?” tanya Ratih Perindu.
“Aku akan mencarinya ketika matahari besok mulai terbit.” Padahal Sungsang Geni berniat mencarinya saat ini juga, setelah kekuatannya mulai kembali, tapi menunggu waktu hingga besok pagi tampaknya bukan keputusan yang buruk. Semua orang harus bersabar dalam bertindak.
“Apakah kami boleh ikut?” tanya Ratih Perindu, dia bertanya padahal sudah tahu jawabannya.
Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, dia menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Kemudian Panglima Ireng menggerakkan ekornya untuk beberapa kali, wajahnya langsung memelas.
“Ya..ya...kau boleh saja ikut.” Sungsang Geni menepuk moncong hitam mahluk itu. “Tapi mungkin kita tidak memiliki cadangan makan, apa kau sanggup menahan lapar?”
“Gerr...gerr...”
__ADS_1
“Hahahaha....Aku akan memegang perkataanmu.”