
Tidak ada hal lain yang tersisah dari tubuh Cempaka Ayu, seluruh tubuhnya dibalut dengan cahaya putih yang dingin dan menekan. Tekanan yang bisa membuat seorang pendekar pilih tanding memaku. Atau mungkin membuat mereka seketika tak sadarkan diri.
Sungsang Geni merasakan energi hebat berusaha lepas dari tubuh gadis itu, belum pernah dia merasakan energi sehebat ini sebelumnya. Jika energi itu sampai keluar seutuhnya, Sungsang Geni tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi kemudian.
Cempaka Ayu mulai kehilangan kesadarannya, dan ini tidak baik. Sekarang saja tubuh Sungsang Geni mulai terdorong beberapa meter dari tempatnya semula. Ada semacam dinding tak kasat mata yang terbentuk melindungi Cempaka Ayu.
Sungsang Geni berusaha melangkah lebih dekat, tapi dia tidak sanggup mendekat lebih dari 5 meter dari tubuh Cempaka Ayu.
“Pendekar Muda!” teriak Sabdo Jagat, “Menjauhlah dari dirinya!”
Sungsang Geni tidak mendengar teriakan Sabdo Jagat, dia masih berusaha mendekati Cempaka Ayu meski harus mengerahkan tenaga dalam yang besar. Tidak ingin menunggu lama, atau tidak ada yang bisa menghentikan wanita itu.
Cempaka Ayu melayang ke udara, nampaknya akan semakin buruk. Sungsang Geni tidak bisa menjangkaunya jika wanita itu berada di awang. Beberapa gubuk mulai terangakat mengikuti dirinya, ratusan kerikil dan beberapa benda mengelilingi tubuh Cempaka Ayu seperti sebuah cincin.
Dia menatap Sungsang Geni, mata putihnya sekarang terlihat lebih menakutkan. Kemudian dengan kerlitan mata, pemuda matahari itu segera dihujani dengan ratusan kerikil, puing-puing bangun dan beberapa senjata.
Seranganan yang sangat kuat, cepat, dan berat, Sungsang Geni tidak akan sanggup untuk menghindari serangan dalam erea seluas itu.
“Tidak ada pilihan lain, dia dikendalikan oleh kekuatannya sendiri!” gumam Sungsang Geni, dia menganggkat telapak tangannya keatas, sebuah cahaya merah berbentuk payung, muncul dari telapak tanganya menghalau serangan itu.
Berhasil, beberapa benda yang tidak cukup keras hancur menjadi abu namun beberapa yang terbuat dari bahan keras seperti bilahan logam masih pecah menjadi bagian-bagian kecil.
Sungsang Geni memejamkan mata, pikirannya sekarang terbayang pada gerakan mahapatih Darma Guru dalam teknik pedang emas. Tujuannya, tentu saja memanggil Pedang watu kencana yang masih berada di pohon bringin hitam. Namu tidak berhasil, konsentrasi pria itu terganggu oleh serangan Cempaka Ayu.
Sekarang Sungsang Geni sibuk menghindari beberapa serangan yang datang tak berkesudahan. Hingga dia lengah, sebuah batu besar menghantam tubuhnya, membuat pemuda itu terpental puluhan meter jauhya.
Dia terbatuk pelan, jika dia terlambat melindungi tubuh dengan tenaga dalam, organ dalamnya pasti telah remuk.
Pemuda itu berusaha berdiri, cukup sulit menyeimbangkan tubuhnya, tapi sekarang jangkauan serangan Cempaka Ayu nampakanya tidak sampai ketempatnya saat ini.
__ADS_1
Namun tentu tidak akan bertahan lama, sebelum Gadis mengerikan itu melayang mendekati, dan menghujani tubuhnya dengan benda-benada lain.
Sungsang Geni mengerahkan seluruh energi mataharinya, mencipatkan sebuah cambuk api berukuran besar. Dia mengayunkan energi itu kearah Cempaka Ayu. Nampaknya ini adalah satu-satunya cara agar dia bisa mendekati Cempaka Ayu.
Meski energi itu sedikit kesulitan untuk menembus dinding kuat yang melindungi gadis itu, pada akhirnya energi matahari berbentuk cambuk berhasil melilit pinggang Cempaka Ayu.
Sungsang Geni segera melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam, lalu menarik cambuk api untuk mendekati Cempaka Ayu. Setelah berhasil mendekap tubuh gadis itu, Sungsang Geni meletakan kelima jari kanannya tepat di kepala gadis itu, dengan posisi ibu jari berada di kening.
Cambuk api mendadak hilang, Cempaka Ayu berusaha meberontak, tapi tiba-tiba dari telapak tangan pemuda itu memancarkan cahaya kuning, masuk kedalam kepala Cempaka Ayu dan mulai menyebar di seluruh tubuhnya.
“Aku yakin kau ada di dalam sana!” ucap Sungsang Geni, “Sadarlah, kau harus bisa mengendalikan kekuatanmu.”
Perlawanan dewi bulan dalam tubuh Cempaka Ayu membuat Sungsang Geni kesulitan untuk mempokuskan pikirannya. Tapi pada akhirnya, pemuda itu berhasil menekan energi dewi bulan hingga kembali terlelap.
Energi putih yang menyelimuti Cempaka Ayu mendadak pecah, menciptakan gelombang kejut dan menghempaskan benda-benda yang semula terangkat.
Mata Cempaka Ayu yang semula terlihat putih, sekarang berangsur-angsur menunjukan bola mata indahnya. Wanita itu menatap Sungsang Geni dengan air mata berlinang, tanpa sadar dia menyodorkan kepalanya di dekapan Sungsang Geni membuat jantung pemuda itu berdegup kencang.
“Dengan ini, kau tidak akan kehilangan kesadaranmu. Tanda itu adalah segel agar kekuatanmu tidak keluar dan mengambil alih tubuhmu.” Ucap Sungsang Geni.
Setelah mengatakan demikian, tiba-tiba saja Sungsang Geni dan Cempaka Ayu terjatuh dari udara. Bukankah pemuda itu tidak bisa terbang? pada saat momen seindah ini dia malah merusaknya.
“Aw...!” pekik Cempaka Ayu, mendarat kasar pada perut Sungsang Geni, “Ma’afkan aku, aku tidak sengaja!”
“A’ a...tidak usah dipikirkan!”
***
Setelah kejadian itu, mereka mulai berbenah kembali. Ada banyak gubuk yang melayang akibat kekuatan Cempaka Ayu. Namun demikian, orang-orang menjadi sedikit tenang, mengetahui bahwa Sungsang Geni telah menyegel kekuatan mengerikan gadis itu.
__ADS_1
Sungsang Geni tidak begitu paham mengapa api yang dimilikinya bisa menekan kekuatan Dewi Bulan. Tapi dia berpikir, mungkin karena matahari adalah siang dan bulan adalah malam, tidak mungkin malam datang ketika matahari masih bersinar?
Disisi lain, watak Cempaka Ayu memang sedikit berubah dari keras sekarang menjadi sedikit lembut. Tapi ada beberapa waktu, dia kembali menunjukan perangai buruknya. Namun yang paling mengejutkan semua orang, gadis itu mendadak ingin berpakaian wanita dan berdandan.
“Apa kau mulai menyukainya, pangeran penyelamatmu itu?” Rati Perindu mulai menggoda Cempaka Ayu sambil menyisir pelan rambut sahabatnya itu.
“Tidak, jangan berkata bodoh. Tentu saja aku tidak menyukai Sungsang Geni.” Bantah Cempaka Ayu, ‘aduh, kenapa aku jadi malu ketika Rati Perindu membahas masalah Sungsang Geni.’
“Aku tidak mengatakan ‘Sungsang Geni’ kau yang mengatakannya!” Rati Perindu tertawa kecil, “Lihatlah semenjak pemuda itu menyelamatkanmu, kau jadi lebih suka berdandan, menyisir rambutmu, dan mengenakan baju miliku. Kau harus mengganti bajuku suatu saat nanti!”
“Kenapa tiba-tiba kau pelit dengan pakaianmu, kau ini!” Cempaka Ayu mendesah pelan, “Tapi, apakah dulu sebelum kau menjalin cinta dengan Siko Danur Jaya? Kau juga merasakan perasaan aneh. Ah....lupakan hal itu.”
Rati Perindu tertawa cekikikan, dia menghentikan perbuatannya lalu menarik wajah Cempaka Ayu menghadap dirinya. Dipandanginya tanda di kening gadis itu, terlihat menawan dan sangat cocok dengan wajah cantik Cempaka Ayu.
“Dengarkan aku, jika kau tidak menyukai dirinya, kau akan kehilangan dirinya. lihatlah dia! Pemuda itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, aura yang memikat. Jika kau tidak berusaha, maka akan banyak gadis lain yang ingin menggantikan posisimu.”
Setelah mengatakan hal itu, Rati Perindu tertawa kecil. Cempaka Ayu memang lebih hebat dari dirinya dalam hal mengalahkan musuh atau merusak bangunan, tapi jika urusan percintaan, Rati Perindu adalah pemenangnya. Mungkin karena itulah Siko Danur Jaya jatuh cinta setengah mati dengannya.
Disisi lain, Sungsang Geni sedang duduk termenung di belekang puing gubuk yang selama ini ditinggalinya. Pemuda itu memikirkan banyak masalah, tapi dari tadi dia belum menemukan satu solusipun pada setiap masalahnya.
Hingga tiba-tiba dia dikagetkan oleh kedatangan Sekar Arum. Gadis kecil itu menepuk pundak Sungsang Geni, “Paman apa kau memikirkan bibi Cempaka Ayu?”
Ekspresi Sungsang Geni langsung berubah, wajahnya jadi sedikit tegang bicaranyapun menjadi gagap. “Hem...anu...ya, tidak...”
“Ternyata kau memikirkanya!” Sekar Arum tertawa kecil.
Sungsang Geni hanya mendesah napas pelan, dia sadari memang memikirkan Cempaka Ayu dalam waktu-waktu tertentu. Tapi untuk saat ini, dia tidak sedang memikirkan Gadis itu, tapi memikirkan hal lain. Hal yang berhubungan dengan Kelelawar Iblis.
“Tapi tentu saja, kau memikirkan bibi Cempaka Ayu. Wajahmu menjadi merah saat aku mengatakan namanya!” goda Sekar Arum dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
Sebelum man teman baca capter selanjutnya, mohon untuk like dulu capter ini. Kebiasaan man teman hanya like capter terakhir aja. Sebelumnya terimakasih