PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Chandrak vs Buyung Upiak


__ADS_3

Panah dan pedang saling berseliweran, prajurit-prajurit sudah mulai tumbang dan meregang nyawa, kemudian ada lebih banyak lagi yang terluka. Teriakan memenuhi markas itu, dan sekekali terdengar rintihan.


Kismojoyo beserta 3 temannya melesat dengan cepat, mereka membunuh prajurit lebih banyak dari yang lainnya. Begitu brutal dan kejam.


Pada saat ini, Kismojoyo melayang beberapa saat ke atas, kemudian dia melemparkan 8 pedang dari hasil rampasan. 8 pedang melayang dengan cepat, hampir saja mengenai sasaran jika bukan Darshini berhasil menangkisnya.


Kemudian dengan cara yang sama, Darshini melepaskan 4 tombak yang diambilnya dari tangan bawahan Kismojoyo.


Kismojoyo tidak memiliki momentum bagus untuk menghindari serangan Darshini, karena berada di atas angin. Jadi salah satu dari 4 tombak itu berhasil merobek kerah baju kanannya, dan masih melaju hingga membunuh 3 orang bawahannya.


Darshini tersenyum kecil melihat pria itu memeriksa batang lehernya. “Kismojoyo, aku tahu bahwa pimpinanmu adalah orang tua bodoh, tapi aku tidak tahu rupanya kau sama bodohnya dengan dia.”


Kismojoyo menaruh ekspresi marah di wajahnya, lantas mengeluarkan sebilah golok dan menyerang lawannya.


Darshini tidak tinggal diam begitu saja, dia juga memiliki pedang yang kuat. Jadi pria sedikit botak itu menarik pedang dan menyambut serangan demi serangan yang dilancarkan Kismojoyo.


Setiap senjata beradu mengeluarkan suara dentingan, dan gelombang kejut bertekanan kecil. Kismojoyo berusaha mendominasi pertarungan dengan mengerahkan tenaga dalam pada goloknya.


Sekekali kedua orang itu menebaskan senjatanya pada prajurit rendahan yang mengganggu pertarungan mereka.


Kismojoyo menebas ke samping, tepat pada bagian leher Darshini.


Tapi pria itu menekankan telapak kaki kanannya, dan menangkis serangan Kismojoyo dengan mata pedangnya. Pada saat yang sama, dia berputar dengan cepat melakukan tebasan balasan.


Serangan itu tidak cukup hebat, buktinya Kismojoyo bisa menghindarinya dengan sangat mudah. Setelah serangan itu, Kismojoyo mundur tiga langkah ke belakang, kemudian tiba-tiba goloknya berwarna keunguan.


“Golok Setan penebar maut!” Kismojoyo melepaskan serangan sangat dahsyat, memaksa Darshini terpundur 20 langkah dari tempatnya semula.


Wajah Darshini sedikit kesal, tangannya bergetar menangkis serangan itu. Tapi tidak berlangsung lama, pria itu juga melakukan serangan dengan jurus andalan yang dia miliki.


“Pedang pengintai nyawa.”

__ADS_1


Serangan Darshini tidak berupa kilatan energi, tapi lebih mirip seperti cahaya kunang-kunang yang berterbangan di sekitar Kismojoyo.


Tentu saja Kismojoyo berusaha menebas cahaya mirip kunang-kunang itu, tapi ketika mata golok menyentuh cahaya itu. Ledakan besar tidak dapat dihindari. Celakanya ledakan satu akan memicu ledakan cahaya yang lain.


Sekitar 20 cahaya kunang-kunang meledak di tubuh Kismojoyo. Membuat pria itu dipenuhi dengan asap tebal di sekujur tubuhnya.


Setelah asap itu hilang diterpa angin, terlihat Kismojoyo sudah tidak memiliki baju lagi, semuanya gosong bersama luka bakar di sekujur tubuhnya.


“Ah, kau masih hidup?” Darshini mengejek pria itu. “Tidak banyak orang yang sanggup bertahan setelah menerima jurus itu. Aku mungkin harus sedikit lebih keras lagi.”


***


Disisi lain, 3 orang teman Kismojoyo harus menghadapi 9 orang prajurit dibawah komando Darshini.


Kekuatan tiga orang itu sangat hebat, tapi menghadapi 9 orang pendekar yang telah membuka satu cakra di dalam tubuhnya, seperti menghadapai pemimpin markas kecil. Tiga orang itu sangat kerepotan dibuatnya.


Dalam beberapa menit saja, mereka sudah bertukar hampir 200 gerakan yang mematikan, dan sudah lebih dari 4 jurus .


Di sisi lain, prajurit dibawah komando Buyung Upiak sudah mengalahkan hampir setengah pasukan Chandrak. 1000 lebih melawan 500 orang, tentu saja sudah bisa ditebak siapa pemenangnya.


Tapi rupanya tidak seperti itu, prajurit yang dikomandoi oleh Chandrak lebih pintar daripada prajurit yang dibawahi Buyung Upiak.


Ketika merasa kekuatan mereka tidak sebanding untuk menghadapi lawannya, pasukan Chandrak menaiki tembok utama dan mengganti pedang dengan panah.


Untuk menghindari musuh mengejar, mereka menjatuhkan tangga-tangga. Kemudian menghujani musuh dengan panah api.


Tentu saja mereka menyadari, panah api mungkin akan membakar markas mereka pula, tapi akan setimpal dengan keberhasilan yang mereka dapatkan.


Namun cara itu tidak berlangsung lama, Buyung Upiak melayang di atas tembok dan mulai menebas semua prajurit yang ada disana. Tanpa ampun, dan tanpa belas kasihan.


Teriakan prajurit di atas tembok memekakkan telinga, tembok berwarna abu-abu sekarang bermotif merah karena darah. Buyung Upiak juga tidak segan menjatuhkan lawan-lawannya dari atas tembok.

__ADS_1


Namun kemudian, Chandrak melayang dengan melepaskan satu serangan kuat yang berhasil membuat Buyung Upiak jatuh dari tembok utama.


Chandrak tidak tinggal diam, pria itu melesat dengan cepat ketika melihat Buyung Upiak dalam keadaan lengah.


Dua tusukan cepat hampir saja menanggalkan leher Buyung Upiak, tapi tusukan ketiga berhasil membuat lengan orang tua itu tergores tipis.


“Orang tua, Buyung Upiak.” Chandrak memperhatikan mata tombaknya yang dipenuhi darah. “Semua orang tahu kau adalah kakek yang rakus, tapi apa masalahmu hingga datang menyerang kami. Apa kau tidak takut dengan markas cabang?”


“Jangan berlagak suci kau, Chandrak. Aku sudah tahu semua akal busukmu, sekarang terima saja kematianmu hari ini.”


Buyung Upiak menyerang Chandrak dengan brutal. Mereka berdua saling menujukkan kebolehan dengan menggunakan sejata masing-masing.


Jika dihitung dengan tenaga dalam, Buyung Upiak adalah pemenangnya, tapi jika dilihat dari gerakan Chandrak terlihat lebih lentur dan lincah. Mungkin faktor usia.


Dalam beberapa kali Chandrak hampir berhasil mendaratkan mata tombak di leher Buyung Upiak, tapi orang tua itu bisa mengantisipasi serangan seperti itu dengan tenaga dalamnya.


Di sisi lain, Serangan Buyung Upiak terkesan lambat tapi memiliki kekuatan yang berat. Terbukti setiap kali senjata mereka beradu, tangan Chandrak selalu bergetar kecil.


Chandrak adalah orang jenius, jadi dia sebisa mungkin menghindari benturan tombaknya, dan lebih berhati-hati dalam menyerang. Pria itu sekarang lebih banyak menghindar daripada menyerang.


Buyung Upiak terlalu menghambur-hamburkan tenaga dalam pada setiap serangannya. Sementara itu Chandrak malah sebaliknya.


Buyung Upiak meluncur ke samping, dan melepaskan serangan ke bagian pinggang tapi Chandrak menghentakkan kakinya, dan melayang beberapa depa dari permukaan tanah dengan posisi kepala dan tangan ke bagian bawah.


Mungkin hanya 5 detik paling lama, Chandrak sekali lagi berhasil melukai pundak Buyung Upiak. Meski tidak terlalu dalam, tapi sudah bisa membuat Buyung Upiak kehilangan senyum di wajahnya.


Di sisi lain, ketika pertarungan itu sangat sengit. Ratusan pasang mata menatap di kejauhan dari celah-celah pohon di rimba kecil yang mengelilingi tempat itu.


Sungsang Geni masih menunggu beberapa waktu lagi untuk menyerang, hingga pasukan musuhnya benar-benar tidak berdaya. Pada saat itu serangan kejutan akan membuat musuh kalang kabut, dan mudah dikalahkan.


Empu Pelak mengambil kendi labu berisi arak dari pinggangnya, menegak arak beberapa kali hingga terdengar 'ah' dari mulutnya. “Ketika dua pohon mangga mati, maka jamur akan mengambil alih batangnya.”

__ADS_1


__ADS_2