
Kilatan Ungu kembali menyala beberapa saat di sekitar tubuh Pendekar Pemabuk, lalu 2 larik cahaya keluar dari bola matanya yang hitam, menuju Sungsang Geni.
Pemuda Matahari kini tidak tinggal diam, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya jadi serangan itu bisa dihindari dengan amat mudah.
Sungsang Geni melompat di atas tembok beton, dua larik cahaya hanya menghantam puing markas. Kilatan ungu kembali memancar, tapi kali ini Sungsang Geni melemparkan pedang energi untuk menghalau serangan Pendekar Pemabuk.
Gelegar, bising telinga mendengar suara ledakan energi di awang-awang. Sungsang Geni kembali melepaskan satu pedang energi dari telapak tangan kanannya, berwarna kuning terang, kemudian melepaskan pedang dari telapak tangan kirinya berwarna hitam.
Dua pedang melesat dengan cepat, Sungsang Geni mengikuti pedang itu ketika tepat berada di depan Pendekar Pemabuk, satu pedang berhasil di hindari pak tua itu, tapi satu lagi berhasil menggores pelipis mata kirinya.
Ringisan Pendekar Pemabuk seperti guntur, tapi segera terhenti setelah Sungsang Geni meletakkan telapak tangan tepat di bagian jantungnya. Energi bening baru saja menerobos tubuh orang tua itu, terus melaju hingga tersibak sedikit awan hitam yang menutupi langit. Setelah melakukan serangan itu, Sungsang Geni mendarat di tembok beton.
Mula-mula tidak ada kejadian, Pendekar Pemabuk tampak tidak terluka sama sekali. Dia menatap Sungsang Geni dengan bangga, lalu terbang menukik menuju pemuda matahari itu.
Belum sampai kuku tajamnya di wajah Sungsang Geni, tiba-tiba gerakannya terhenti seketika. Wajah bangganya mulai menyurut.
5 detik kemudian dia berteriak kesakitan, tubuhnya tersungkur di permukaan tanah, kedua tangannya mencengkram dada dengan kuat. Pak tua itu berguling tak karuan, darah segar keluar menodai pakaian.
Ketika hal itu terjadi, Sungsang Geni tidak ingin menunggu lama, segera dia melesat di udara. Dia melepaskan dua buah pedang tepat mengenai kaki orang tua itu, hingga tubuhnya terpasak di tanah, lalu dua buah lagi pedang secara bersamaan mengenai bahu kiri dan kanan.
Pendekar Pemabuk dalam kondisi terlentang, pedang energi tertancap dalam dan terasa panas membara. Tangannya berusaha melepaskan dua pedang yang menancap di bahunya tapi tidak mampu.
Nampak belum menyerah, kilatan ungu memancar sesaat lalu dua larik cahaya melesat menuju Sungsang Geni, tapi kali ini pemuda itu dapat menangkisnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, suasana di tempat itu menjadi panas bak di atas mulut kawah berapi. Sungsang Geni melepaskan aura api dari tubuhnya, diteruskan dengan jurus Murka Naga Bayangan.
Satu ekor naga berwarna bening keluar dari pedang, lingkar tubuhnya mungkin sebesar roda kereta kuda. matanya merah bara, gigi taring tajam runcing serta kumis laksana cambuk para dewa.
“Kau tidak bisa membunuhku, kau tidak bisa!” Teriak Pendekar Pemabuk, matanya mendelik, tapi tatapan mata hitamnya segera sayu karena takut. “Kau, kau tidak akan membunuhku dengan serangan seperti itu.”
Sungsang Geni tidak menjawab kecuali dengan senyum kecil.
Melesatlah Naga Bayangan bergerak meliuk-liuk di udara, masuk ke dalam gelapnya awan hitam. Dia turun dari langit, seperti jatuhnya bintang meteor membuka tirai awan gelap seukuran tubuhnya.
Lalu, “AHKKKK! Terkutuklah kau Kunyuk Jahanam!” teriakan Pendekar Pemabuk memekakkan telinga.
Tubuh hitamnya sekilas mengeluarkan kilatan cahaya tapi kemudian tenggelam dalam rahang Naga Bayangan. Cahaya kuning merah menyala beberapa lama tepat di depan Sungsang Geni.
Bumi bergoncang pelan, angin menderu akibat gelombang kejut yang dihasilkan dari serangan itu. Hawa panas merayap dengan cepat mencekik ribuan orang yang masih berada di wilayah Markas Utama.
2 menit berlalu, pedar cahaya hilang pula, goncangan bumi reda dan aura panas yang tiba-tiba mencekik lenyap seolah tiada pernah terjadi.
Sungsang Geni melayang dan berdiri tepat di sisi sebelah kanan Pendekar Pemabuk. Orang tua itu belum mati, masih terlihat dadanya kembang kempis. Matanya yang berwarna hitam dingin dan tajam telah hilang, berganti mata tua sayu dan sendu.
Tubuhnya yang berotot dengan rambut keras riap-riap sekarang kembali seperti sedia kala. Jari dengan kuku tajam sekarang hanya tinggal jari keriput.
“Aku sudah siap mati, anak muda...” Pendekar pemabuk berkata terbata-bata, matanya yang buram dapat melihat sekarang dia berada dalam cekungan besar.
__ADS_1
Ya, akibat serangan Sungsang Geni tadi, tanah menjadi cekung seperti kawah kering. Tiada lagi markas utama berdiri di tanah itu, kecuali tanah gersang yang berdebu, sementara Pendekar Pemabuk berada tepat di tengah-tengah cekungan.
“Lakukan dengan cepat...aku...aku sudah banyak melakukan kejahatan.” Pendekar Pemabuk menatap langit, sekarang awan hitam mulai mengikis dan pergi menjauhi sang Surya. Matahari kembali menyinari bumi, serta aura kegelapan telah hilang.
Sungsang Geni mengangkat pedangnya yang bercahaya, belum sempat dia menikam jantung Pendekar Pemabuk tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita.
Sungsang Geni segera menoleh ke belakang, terlihat Jambon Barat berlari tergesa-gesa bahkan jatuh tersungkur mendekati Sungsang Geni.
Wanita itu menjatuhkan diri tepat di bawah kaki pemuda itu, dengan air mata berurai dia berkata lirih. “Ampuni nyawanya, ampuni nyawa Guruku, aku mohon...”
“Jambon....” Pendekar Pemabuk memanggil muridnya. “Kenapa kau berada di sini, kenapa kau tidak lari dari tempat ini. Pergilah Jambon...! Tanganku penuh dengan dosa, bahkan nyawaku tidak berharga untuk menebusnya.”
Jambon Barat terisak sedih, dia mendekati tubuh Pendekar Pemabuk, mengelap darah di sekitar mulut gurunya dengan lengan baju panjangnya. Kemudian kembali menghambur dan sujud tepat di hadapan Sungsang Geni dengan isak tangis pilu.
“Semenjak kami lahir, tiada orang lain yang memperhatikanku beserta saudariku. Kami adalah yatim piatu tanpa bapak dan ibu, hidup menggelandang sampai usia kami remaja dan di menjadi bagian dari Prajurit Negri Sembilan.”
“Jambon hentikan ratap tangismu...” Suara Pendekar Pemabuk mulai serak, ada kilauan air mata membasahi wajah keriputnya.
Jambon Barat seperti tidak peduli, dia masih sujud di bawah kaki Sungsang Geni dengan isak tangis pilu. “Tiada orang pernah mengasihiku selain Eyang Guru Pendekar Pemabuk. Kami memang salah, ya kami akui hal itu. Tapi ketika bencana terjadi di Majangkara, Eyang Guruku membiarkan Pangeran Majangkara melarikan diri, padahal dengan kekuatannya dia bisa saja membunuh mereka semua.”
Sungsang Geni terpaku bagai patung mendengar perkataan Jambon Barat. Sepintas dia teringat dengan Gurunya Ki Alam Sakti yang begitu peduli dengan kehidupannya. Tampaknya nasip dirinya tidak terlalu jauh dengan nasip Jambon Barat.
Beberapa saat kemudian pedang energi lenyap sudah dari telapak tangan Sungsang Geni. Pemuda itu mengangkat tubuh Jambon Barat sambil tersenyum kecil, kemudian mendekati Pendekar Pemabuk.
__ADS_1
“Jika kita punya sedikit waktu hidup di dunia ini, mungkin bisa bersulang arak suatu saat nanti.” Sungsang Geni meletakkan telapak tangannya tepat di kening kakek tua itu, lalu energi alam merayap ke sekujur tubuh tuanya, bersamaan dengan itu keluar batu hitam dari kening pak tua itu.
3 buah susuk magandana, Sungsang Geni segera meremasnya menjadi abu. “Pergilah pak tua, kau beruntung memiliki murid yang berbakti.”