
Sungsang Geni mulai melangkah perlahan, meniti jembatan kayu sementara Siko Danur Jaya dan juga Ratih Perindu tampak memperhatikan pemuda itu dengan rasa penasaran.
Ketika berada tepat di hadapan mereka berdua, Sungsang Geni tersenyum kecil, “Bagaimana kabar kalian berdua? Sepasang kekasih?”
Baik Siko Danur Jaya maupun Ratih Perindu sama-sama terkejut. Mereka berdua tidak ingat pernah mengenal seorang pemuda dengan peliharaan srigala hitam. Tapi kenapa pemuda itu tampak sangat mengenal mereka?
“Apa kita pernah bertemu?” tanya Siko Danur Jaya.
Sungsang Geni tidak langsung menjawab, dia kembali menyunggingkan senyum sambil menepuk pundak Siko Danur Jaya. “Sepertinya kalian tidak mengenalku sama sekali?”
“Kami tidak pernah bertemu dengan pemuda seperti dirimu.” Ucapan Ratih Perindu terdengar datar.
“Bagaimana kabar Cempaka Ayu?” tanya Sungsang Geni.
“Bagaimana kau mengenal namanya? Jangan-jangan...”
Siko Danur Jaya mundur tiga langkah dari hadapan Sungsang Geni, dia menarik 5 jarum dari balik jubahnya.
Ratih Perindu mencengkram gagang kapaknya sangat kuat. Mereka berdua sekarang mengira, pemuda dengan seekor srigala adalah mata-mata dari Kelompok Kelelawar Iblis.
“Aku bukan musuh kalian...” Sungsang Geni tertawa kecil, melangkah meninggalkan kedua orang tersebut, masuk kedalam gerbang. “Tanda dikening Cempaka Ayu, akulah yang memasangnya...”
Sontak saja Siko Danur Jaya menjadi terkejut, tidak pernah ada yang tahu mengenai siapa yang membuat segel di kening Cempaka Ayu, kecuali anggota perguruan Lembah Ular itu sendiri. Bahkan serikat pendekar hanya menganggap segel di kening gadis itu sebagai hiasan saja.
“Tidak mungkin, jika kau adalah...” Siko Danur Jaya menghadang langkah Sungsang Geni, “Kenapa wajahmu sama sekali tidak mirip dengannya?”
“Akhirnya kalian mengenaliku...”Sungsang Geni menarik napas lega. “Banyak kejadian sulit yang aku alami setelah bertempur dengan Banduwati. Bagaimana keadaan paman Guru Sabdo Jagat?”
Siko Danur Jaya menoleh ke arah Ratih Perindu, kemudian kembali menoleh kearah Sungsang Geni. Dia beberapa kali mengedipkan bola mata, hanya memastikan pengelihatannya tidak salah.
“Apa kau tidak mempercayaiku?” Sungsang Geni menunjukkan tanda matahari di lengan kanannya. “Tanganku sedikit berubah, tapi tanda ini masih menunjukkan siapa diriku....”
__ADS_1
Seketika Siko Danur Jaya memeluk Sungsang Geni dengan perasaan haru, tidak pernah ada yang menyangka pemuda itu masih hidup setelah setahun lamanya hilang bak ditelan bumi.
“Kami kira kau sudah...” Ratih Perindu tidak sanggup menahan air matanya.
Setelah beberapa menit mereka bertukar cerita, Siko Danur Jaya mengajak Sungsang Geni menuju kediaman mereka. Pemuda matahari itu meminta agar identitas dirinya tetap menjadi rahasia hingga dia tiba di pusat pengungsian.
Sungsang Geni tiba di salah satu tenda cukup besar, ada beberapa peralatan didalam tenda itu dan juga beberapa perlengkapan perang.
Sekarang Siko Danur Jaya dan Ratih Perindu telah resmi menjadi sepasang suami istri. Karena kemampuan mereka akhirnya Siko Danur Jaya diberi wewenang oleh Serikat Pendekar untuk memimpin 200 pendekar dan menjadi garda terdepan mengurusi para pengungsi.
Bisa dilihat semua bawahan Siko Danur Jaya adalah pendekar yang cukup baik, setidaknya Sungsang Geni bisa mengetahui mereka semua berada pada level kelas tanding dan sebagian lagi sudah berada pada level tanpa tanding.
"Hanya satu yang kurang, yaitu pengalaman...." gumam pemuda itu
Siko Danur Jaya sendiri sudah berada pada level tanpa tanding, dengan satu cakra yang telah terbuka. Pertarungan besar yang terjadi di Lembah Ular, membuat dia berlatih dengan giat hingga berhasil mencapai level tersebut.
“Sekarang apa yang akan kau lakukan, Geni? Apa langkah yang akan kau ambil dengan kondisi kita seperti ini?” tanya Siko Danur Jaya.
“Setelah itu apa yang akan kau lakukan?”
“Aku dengar Raja Lakuning Banyu berniat meminta pertolongan kepada kerajaan Suarnadwipa, bagaimana hasilnya?”
Siko Danur Jaya menarik napas berat sebelum bercerita. Rencana Raja Lakuning Banyu belum mendapatkan hasil hingga saat ini. Mereka tidak pernah bisa melewati pegunungan karakatau.
Pegunungan itu dihuni oleh siluman kera yang sakti mandraguna. Itulah pula kenapa mereka menyebut pegunungan yang menghubungkan dataran java dengan Swarnadwipa sebagai 'karakatau', yang artinya 'perkataan para kera.'
Jumlah siluman itu hampir 200 ekor, semuanya memiliki kemampuan yang luar biasa. Mereka tidak bisa ditaklukan, sebab selain kuat mereka juga sangat cerdas. Medan pegunugan yang terjal juga menjadi alasan utama kenapa orang yang dikirim Lakuning Banyu tidak bisa menembus jalur pegunungan itu.
Sejauh ini tidak ada cara lain untuk tiba ke dataran Swarnadwipa, selain melewati pegunungan itu.
“Melewati lautan juga bukan solusi yang bijak, sebab arus laut yang tidak menentu dan badai yang selalu terjadi,”sambung Ratih Perindu. “Ditambah jarak yang sangat jauh, membuat ilmu meringankan tubuh terasa mustahil bisa tiba di seberang sana sebelum tenaga dalam habis.”
__ADS_1
“Nampaknya memang tidak ada cara lain, kecuali mengalahkan para siluman kera itu bukan?” tanya Sungsang Geni, dia mengelus dagunya dan kening sedikit mengkerut.
“Gerr...gerr...” tiba-tiba Panglima Ireng masuk ke dalam tenda, membuat Siko Danur Jaya terkejut bukan kepalang. “Gerr..gerr...”
Sungsang Geni sontak berdiri, kemudian berlari ke luar tenda dan melayang menuju menara pengintai. Siko Danur Jaya yang belum memahami situasinya, terpaksa mengikut pemuda matahari itu.
“Geni, apa yang terjadi?”
“Ada pasukan besar yang datang dari sana.” Sungsang Geni menyipitkan mata, pandangan tajamnya bisa melihat hampir 1000 prajurit dari kelelawar Iblis mulai memasuki jalan setapak di tengah hutan gambut.
“1000 orang?” Siko Danur Jaya tidak percaya. “Tidak ada yang lemah dari prajurit kelelawar iblis, kita dalam bahaya.”
Benar yang dikatakan Siko Danur Jaya, tidak ada yang lemah dari prajurit Kelelawar Iblis, umumnya level terendah prajurit mereka adalah kelas tanding.
Pria itu menatap sesuatu di ujung matanya, tapi belum menemukan pasukan besar yang dikatakan Sungsang Geni. Namun melihat tatapan serius dan kegelisahan pada srigala hitam, Siko Danur Jaya dapat memastikan perkataan Sungsang Geni adalah benar.
“Aku harus menyelamatkan para pengungsi!” Siko Danur Jaya kemudian membunyikan lonceng peringatan, membuat semua orang menjadi panik.
Para pengungsi yang masih terlihat kelelahan terpaksa berkumpul, wajah-wajah mereka terlihat sangat menyedihkan. Bahkan tidak jarang dari anak-anak menangis histeris.
“Ma'afkan aku, tapi kalian semua harus kembali melanjutkan perjalanan.” Siko Danur Jaya memberi instruksi. “Musuh kita sudah bergerak mendekat, mungkin beberapa menit lagi mereka akan tiba dan menghancurkan kita semua.”
Mendengar ucapan itu, semua orang semakin ketakutan. Situasi nampak sangat tegang tak terkendali, bahkan perkataan Siko Danur Jaya sudah tidak mereka dengarkan lagi.
“Dengarkan aku kalian semua!” ucap Sungsang Geni. “Dengarkan, dan tetap tenang!”
Suara Sungsang Geni yang di ikuti dengan tenaga dalam berhasil membuat mereka diam, kemudian aura hangat yang keluar dari tubuh pemuda itu perlahan menenangkan pikiran kalut mereka.
“Semuanya akan baik-baik saja.” Sungsang Geni berkata kembali. “Sekarang kalian harus pergi dari tempat ini, secara tenang dan tertib. Kami pasti akan menyelamatkan kalian semua.”
Author rekomendasi novel bagua judulnya, pendekar seruling bambu. Dibaca ya, genre nusantara.
__ADS_1