PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Raja Baru


__ADS_3

Semua penduduk Tombok Tebing berkumpul di halaman Istana dengan harap-harap cemas. Kabar tentang kematian Raja Puntura dan Warkudara adalah kejutan bagi mereka, tapi mendengar Singasana sekarang ini diduduki oleh seorang pemuda membuat pikiran mereka menjadi risau.


Beberapa prajurit yang tersisah meski ada yang bergembira, tapi tidak dapat menyembunyikan kegusaran di hatinya.


Seluruh prajurit elit mungkin telah tewas bersamaan dengan Raja Puntura tapi, beberapa prajurit kelas 3 dan 2 masih berjaga di sana.


Setelah mendapat kabar dari burung merpati yang menebarkan selebaran surat terbuka untuk Tombok Tebing dari Surasena, keadaan Kerajaan sedikit kacau. Rakyat mulai mendesak pejabat Kerajaan untuk mencari kebenarannya.


Beberapa dari mereka mengatakan setuju saja, jika tahta Tombok Tebing diduduki oleh seorang pemuda.


Tapi sebagian yang lainnya merasa keberatan, dengan alasan pemuda itu tidak memiliki latar belakang yang jelas.


Tapi yang paling tidak menerima adalah, mereka pejabat yang korup. Mereka cukup kaya dengan uang yang Puntura bagikan kepada mereka, tapi jelas aliran keping emas akan hilang dengan bergantinya raja yang baru.


“Raja Puntura memang bertangan besi, tapi bagaimana dengan pemuda itu, apakah perangainya lebih baik dari Raja Puntura?” salah seorang rakyat berteriak-teriak tiada henti, meminta jawaban dari prajurit yang berjaga tapi tentu mereka juga sedang menunggu kepastian berita tersebut.


Hari ini adalah waktunya Sungsang Geni kembali ke Tombok Tebing, dengan dikawal 30 prajurit berlevel 1 dan ditambah 20 prajurit lagi dari Surasena.


Senopati Datu Wenda hendak mengawal kepulangan Sungsang Geni, tapi pemuda itu lebih menyarankan agar Datu Wenda mengawal Putra Mahkota Dewangga minggu lusa ke Majangkara.


Begitu pula dengan Dewangga, pengantin baru itu hendak pergi bersamanya, tapi Sungsang Geni menganggap itu bukan tindakan baik.


Dewangga harus mengurusi beberapa hal yang sangat penting, dan perlu di ingat dia adalah bagian dari keluarga Surasena saat ini. Lagi pula ini adalah waktunya bulan madu.


Bersamaan dengan kembalinya Sungsang Geni dari Surasena, Putra Mahkota Nala Setya juga berniat kembali ke Negrinya. Mereka pergi hampir bersamaan, tapi Nala Setya tidak menyebrangi sungai, kerajaannya satu daratan dengan Surasena.


Sebagai imbalan atas jasa Barakuna melindungi keluarga Kerajaan, akhirnya kerajaan Duayu mendapatkan potongan upeti sebesar 10% dari 15%. Setidaknya Nala Setya masih mempunyai muka untuk bertemu dengan Ayahandanya.


***


“Yang Mulia, kita telah tiba di wilayah Tombok Tebing!” Rerintih berseru dari luar kereta kuda, dia masih mengenakan cadarnya agar semua prajurit dan rakyat Tombok Tebing mengenalinya sebagai Senopati.


Sungsang Geni selalu merasa risih dengan hal seperti ini, duduk di kereta kuda, menjadi raja, duduk di Singasana atau berpidato di depan rakyatnya. Pemuda itu tidak terbiasa dengan semua kemewahan itu.

__ADS_1


Setibanya di gerbang utama Istana, ribuan rakyat telah menunggu kedatangan Raja Baru Mereka.


Tidak ada yang menyambut, tidak ada taburan bunga juga tidak ada tarian persembahan. Hal ini membuat Rerintih menjadi kesal.


“Itu adalah raja baru kita!”


“Dimana orangnya?”


“Entahlah, dia terlihat sombong sampai tidak berniat menunjukan wajahnya. "


Suara Rakyat mulai memekakan, beberapa orang terlihat terang-terangan menggunjing Sungsang Geni tanpa rasa takut. Bahkan jelitan Rerintih tidak membuat nyali mereka menjadi ciut.


“Apa kita harus menerima orang sombong itu menjadi Raja?” gumam Mereka.


Kereta kuda akhirnya tiba di depan Istana Kerajaan, ada sekitar 20 pejabat Istana yang berdiri menghadang mereka.


Beberapa prjurit yang dibawa Sungsang Geni berniat memberi pelajaran bagi 20 pejabat itu, jika bukan Mahesa menahannya.


Sungsang Geni menggarut rambutnya, kepalanya terasa pusing mendengarkan celoteh para rakyat, sekarang lebih pusing lagi mendengar celoteh para pejabat.


“Mahesa, sepertinya kita tidak disambut di tempat ini.” Bisik Sungsang Geni.


Rerintih yang mendengar perkataan Sungsang Geni segera naik darah, “Yang Mulia Raja, izinkan aku menebas semua kepala para pejabat ini!”


“Kau akan membuat suasana semakin sulit,” ucap Sungsang Geni, “Sekarang bukan saatnya bertindak dengan kekerasan, Kita adalah orang baru disini, aku memahami perasaan mereka semua.”


Melihat tidak ada perlawanan dari pihak Sungsang Geni, Tulung Agung lebih percaya diri lagi, “Sebaiknya kau segera pergi saja dari sini! urusan Tombok Tebing biarkan kami sendiri yang mengurusnya, kami tidak peduli dengan titah Surasena. Raja kami telah berjuang dari belenggu Surasena tapi kau telah membunuhnya.”


Seorang lagi pejabat berbicara, “Prajurit usir mereka dari sini!”


Prajurit yang di perintahakan adalah prajurit yang tersisah di Tombok Tebing, sedangkan prajurit yang bersama Sungsang Geni hanya terseyum kecil mendengar ucapan itu.


“Semua prjurit berada dibawah kendaliku!” ucap Rerintih, “Tidak ada yang bisa memerintahkan mereka saat ini.”

__ADS_1


Saat ke 20 orang pejabat itu mulai berbicara sesuka hatinya dan merasa bahwa seluruh rakyat mendukung mereka, tiba-tiba Sungsang Geni keluar dari kereta kuda.


Setengah dari masyarakat terkesima melihat wajah pemuda itu yang sangat berwibawa.


“Perkenalkan namaku Sungsang Geni, aku menyadari apa yang kalian inginkan, tapi percayalah menjadi raja bukan keinginanku, tapi seperti yang kalian lihat aku terpaksa melakukan hal ini.” Ucapan Sungsang Geni berhasil membuat mulut semua orang di sana membungkam, “Berbicaralah tanpa menyinggung, karena suasana hatiku tidak begitu baik saat ini.”


Kedua puluh pejabat Kerajaan tidak ada yang berbicara, termasuk Tulung Agung. Tidak, setelah menyadari bahwa pemuda didepan merekalah yang mampu membunuh Puntura.


Wajah Tulung Agung itu terlihat pucat, dengan kaki yang bergetar. Di lain sisi, Mahesa tersenyum melihat tindakan Sungsang Geni.


“Tidak ada yang mau berbicara?” tanya Sungsang Geni, “Baiklah!”


Pemuda itu lalu berbalik badan menatap semua rakyatnya, “Kalian menginginkan kebenarannya, aku telah membunuh raja kalian Puntura, itu adalah kebenaran. Kemudian Surasena memberi titah agar aku memimpin kalian semua, dan itu adalah kebenaran.”


Sungsang Geni diam sejenak, menunggu jika ada orang yang berani berbicara, tapi rupanya semua hanya terdiam.


“Jadi sekarang siapapun yang tidak menyukai orang asing ini memimpin kalian, angkat tangan kalian. Aku akan berterima kasih kepada orang itu, kerena membebaskan aku dari beban ini.” Sungsang Geni kembali terdiam, menunggu jika saja ada orang yang bersedia mengangkat tangannya. Dan kali ini ada yang berani melakukannya.


Seorang pria paruh baya mengangkat tangan lalu berjalan diantara kerumaman orang menuju Sungsang Geni. beberapa prjurit berniat menghadang, tapi pemuda matahari itu mempersilahkan pria tua itu mendekatinya.


“Yang Mulia!” pria tua berkata lirih, “Bisakah kau menurunkan pajak bagi kami rakyat yang miskin ini, kami tidak memiliki apapun untuk diberikan kepada Istana. Raja Puntura mengambil anak-anak kami, cucu-cucu kami yang masih kecil sebagai pengganti pajak, untuk dilatih menjadi prjaurit. Bisakah kau mengembalikan anak-anak kami, Yang Mulia?”


Sungsang Geni menoleh Rerintih, “Apakah bener anak-anak kecil dipaksa menjadi prajurit?”


“Benar Yang Mulia.” Rerintih berkata pelan.


“Baiklah kalian dengarkan perkataanku, mulai hari ini aku akan membebaskan kalian dari pajak apapun, dan mengembalikan anak-anak kalian.” Sungsang Geni berkata dengan suara menggema, semua orang yang mendengarnya terdiam beberapa saat sebelum kemudian teriakan kebahagian menggema di penjuru Tombok Tebing.


“Jayalah kau, Yang Mulia Raja Sungsang Geni!”


Semua orang berteriak riang, menggiring pemuda itu memasuki Istana Kerajaan. namun sebelum itu, Sungsang Geni berbisik di telinga Tulung Agung, membuat wajah pria itu sebiru langit, saking takutnya.


‘celaka, kami harus segera bergegas meninggalkan Kerajaan ini.’ batin Tulung Agung memekik.

__ADS_1


__ADS_2