PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 14


__ADS_3

Cukup lama, Pramudhita akhirnya berhasil bergerak lagi setelah seluruh energinya terkuras habis. Tapi di ujung mata, lawannya terlihat tidak sanggup untuk bangkit. Itu artinya Lemah Abang sudah kalah? Entahlah, tapi Pramudhita bergerak dengan sisa-sisa tenaga mendekati Lemah Abang.


Semua orang memperhatikan tubuh Lemah Abang menjadi berubah seperti manusia pada umumnya. Mata hitamnya kembali lagi seperti manusia, kemudian seluruh kuku tajam seolah-olah tanggal dari jari-jemari.


Ketika Pramudhita datang, Lemah Abang bahkan tidak memiliki niat untuk bertarung. Itu adalah Lemah Abang yang sebelumnya, Ayahanda dari Wulandari.


Ya Wulandari. Entah kenapa saat ini dia merindukan kehadiran anak gadisnya, dia rindu ingin bertemu. Pada saat detik-detik ajalnya akan tiba, pria itu malah tidak ingat akan putra angkatnya, Tanjung Benawa.


“Kaukah yang telah membebaskan tubuh ini...?” Lemah Abang menatap wajah Pramudhita dengan linangan air mata. “Aku bersyukur tidak menjadi kegelapan selama-lamanya...”


Pramudhita hanya tersenyum kecil, dia duduk berlutut di dekat Lemah Abang. Sementara itu,beberapa ratusan orang Surasena tidak sanggup mendekati mereka berdua.


“Sekarang beristirahatlah dengan tenang...!” ucap Pramudhita.


“Wu...lan...dari...” kata-kata Lemah Abang terbata-bata, kemudian seluruh tubuhnya berubah menjadi butiran debu dan hilang diterpa oleh angin.


Pramudhita menoleh ke atas, pertarungan Resi Irpanusa berlangsung sangat sengit. Tampaknya level Lemah Abang berbeda jauh daripada pria yang dilawan oleh Resi Irpanusa.


“Aku tidak bisa tinggal lebih lama...” gumam Pramudhita.


“Ya, kita harus kembali saat ini, aku juga sudah bertahan diluar batas kemampuanku...” Tabib Nurmanik datang di dekat Pramudhita, beberapa muridnya sudah banyak yang kembali ke alam lelembut, karena kehabisan energi.


“Apakah kau sudah berhasil menyembuhkan mereka semua?” tanya Pramudhita.


“Ya, semua orang yang masih bernyawa berhasil kita selamatkan, beruntung teman-teman Sungsang Geni banyak yang memahami pengobatan, membuat pekerjaan kami jadi lebih cepat.” Yang dimaksud oleh Tabib Nurmanik adalah pendekar medis.


Setelah beberapa saat kemudian, seluruh bangsa lelembut lenyap dari dunia manusia kecuali Resi Irpanusa. Pramudhita sendiri sebenarnya masih berniat berada di alam ini, membantu Sungsang Geni yang bertarung sengit jauh di dalam hutan.

__ADS_1


Pemuda mata hari itu, mengerti pertarungan mereka akan membahayakan nyawa semua prajurit Surasena, jadi dia membawa Topeng Beracun pergi sejauh mungkin.


“Semoga kau bisa memenangkan pertarungan ini...” gumam Pramudhita, kemudian lenyap seperti asap dan hilang laksana embun yang diterpa panas.


“Kita tidak bisa hanya melihat saja...” ucap Darma Cokro, menyadari ada banyak prajruit Kelelawar Iblis yang kembali menyusun serangan. “Kita akan melanjutkan pertarungan yang kedua, sebelum hari benar-benar malam.”


“Aku setuju...” Ki Lodro Sukmo mengepal dua tangannya, sekarang karena jumlah prajurit Surasena dengan musuh sudah seimbang, pak tua itu menjadi lebih bersemangat lagi.


Yang tersisa dari musuh adalah pendekar-pendekar tangguh, tapi nasip baik masih berpihak ke Surasena. Sebelum pergi, rupanya bangsa siluman ular sudah meletakkan bisa mereka di pakaian musuh. Sekarang, mereka tidak memiliki satu zirah perang yang menutupi tubuh. Dan itu akan lebih memudahkan Surasena untuk melawannya.


“Aku akan melawan pria di sana!” Darma Cokro terbang lebih dahulu, incarannya adalah wakil komandan paling kuat yang pernah ada di Kelompok Kelelawar Iblis.


Seorang pria berambut gimbal tengah menyiapkan pasukannya untuk bertahan. Mendapati seorang berkecepatan tinggi datang, pria itu segera menyiapkan senjata dan memasang kuda-kuda.


***


Jika saja Darma Cokro tidak lebih kuat dari sekarang, tentulah akan mati dengan mudah ditangan Brangasan. Senjata Brangasan bukan sebuah pedang, bukan pula sebuah tombak atau kapak, tapi sebuah ranting bambu berwarna keunguan.


Terlihat sangat lemah dan rapuh, tapi rupanya tampilan dapat menipu kenyataan. Ranting itu tidak patah saat menahan pedang naga emas miliki Darma Cokro, hanya melentik dan kembali lagi seperti semula.


Ketika dia menyapu tanah dengan rantingnya, muncul energi tak terduga berjalan didalam permukaan tanah. Kemudian setelah berada pada jarak tertentu, energi itu keluar dan mengejar Darma Cokro.


Darma Cokro harus berputar beberapa kali di udara, melompat di atas pohon dan turun ke tanah. Energi itu bisa mengejar musuhnya untuk beberapa saat sebelum meledak.


“Bahaya, jika tidak cepat serangan pria ini bisa mencelakaiku...” ucap Darma Cokro penuh perhitungan.


“Bukan hanya pedang emasmu yang bisa mengejar musuh...” ucap Brangasan tersenyum kecil dan meludah ke tanah. “Aku juga bisa mengendalikan serangan untuk mengejar lawan-lawanku.”

__ADS_1


Kemudian dia melakukan kuda-kuda aneh, dengan mengangkat satu kaki dan mengarahkan ranting bambunya ke arah Darma Cokro. “Kibasan kematian dari langit...” ucap pria itu.


Dari setiap ujung ranting kering miliknya keluar cahya warna-warni dengan kecepatan luar biasa tinggi. Cahaya itu tidak besar, tapi kecepatannya patut di perhitungkan. Darma Cokro bergerak ke samping, serangan itu berhasil dihindari.


Serangan pria itu meluncur terus dan menghantam sepuluh pohon di belakang Darma Cokro. Biasanya pohon yang terkena serangan akan meledak, tapi yang kali ini tidak. Energi itu melubangi pohon besar sangat rapi, meski hanya sebesar ibu jari, tapi energi itu tidak serta merta hilang. Dia kembali lagi menyerang Darma Cokro dari segala arah.


Ada lima larik cahaya yang menyerang Darma Cokro, dari arah belakang, kiri-kanan dan dari arah atas, serta dua larik cahaya datang dari arah depan. Darma Cokro menyadari sekarang posisinya terkepung, serangan pria itu menutup jalan untuk melarikan diri.


“Pelindung emas...” Darma Cokro berteriak, dari tubuhnya keluar energi mirip seperti lonceng yang berputar cepat. Lima serangan itu menghantam energi pelindung. Dan kali ini, tercipta dentuman karena benturan dua kekuatan itu.


“Kau memiliki pertahanan yang baik...” Brangasan tersenyum kecil. “Berhati-hatilah dengan serangan yang datang dari arah tak terduga.”


Darma Cokro belum bisa menelaah apa yang dikatakan Brangasan, tapi lima detik kemudian dia sadar ada celah dari pelindung emasnya. “Serangan dari bawah tanah,” gumam Darma Cokro.


Sudah terlambat untuk menyadarinya, serangan berasal dari dalam tanah keluar dan meledakkan Darma Cokro beserta pelindung emasnya. Pria itu terpental ke arah langit, dengan kepala terdongak dan luka parah tepat di bagian kakinya.


“AYAH!” Pekik Benggala Cokro, melihat pemandangan buruk yang terjadi di ujung matanya. “KURANG AJAR, AKAN KUBUNUH KAU!”


Mahesa terlambat untuk mencegah Benggala Cokro melakukan tindakan gegabah, pemuda itu sudah lenyap dari tempatnya dan menyerang ke arah Brangasan.


“Apa yang kau lakukan?” pekik Mahesa.


“Terbelah!” ucap Benggala Cokro, seketika pedang miliknya terbelah menjadi tiga bagian. Dengan pedang itu dia menyerang Brangasan sekuat tenaga.


Biasanya Benggala Cokro menggerakkan senjatanya dengan jari telunjuk, tapi kali ini dia tidak akan tinggal diam. Sepuluh jarinya bergerak cepat, membuat aliran laju tiga pedangnya semakin cepat dan tak bisa ditebak.


Dentingan energi beradu di udara, bergema dan meciptakan gelombang kejut bertekanan sedang. Angin berpusar halus, mnghantam dedaunan yang ada di sekitar mereka. Benggala Cokro tiba di dekat Ayahnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2