
Brukkk!!
Tubuh Erland terhempas jatuh dari ranjang tempat tidurnya yang membuat sang empu meringis memegangi bokongnya yang tadi lebih dulu mendarat di lantai dengan cukup keras.
Dengan susah payah ia bangkit dari jatuhnya kemudian ia menatap tajam pelaku yang membuat tubuhnya terjun bebas begitu saja dari ranjang.
"Blangsak banget sih tidur lo," geram Erland sembari memukul kaki Edrea yang tengah menguasai tempat yang ia gunakan tidur tadi.
Edrea yang merasakan sakit di kakinya kini terbangun dan langsung terduduk sembari mengerucutkan bibirnya, tak lupa tangannya ia gunakan untuk mengelus kakinya yang masih terasa sakit itu. Ia tau pelakunya adalah Erland yang tengah menatapnya seakan-akan laki-laki itu ingin memakannya mentah-mentah.
"Sakit tau bang," ucap Edrea lirih takut dengan tatapan Erland itu.
"Lebih sakitan gue yang jatuh dari tempat tidur karena ulah lo," geram Erland.
"Kok ulah Rea. Orang Rea aja gak tau apa-apa kok."
"Kalau lo gak tau apa-apa. Terus siapa yang nendang gue sampai jatuh. Di samping gue cuma ada lo anjir. Ini udah kesekian kali tubuh gue jadi tumbal tendangan lo itu. Sekarang lo keluar dari kamar gue sebelum gue seret," tutur Erland yang masih kesal dengan kejadian tadi. Ya siapa yang tidak kesal, baru saja dirinya memasuki alam mimpi eh seperkian detik setelahnya tubuhnya malah di tendang oleh Edrea yang membuat dirinya jatuh. Untung saja kepalanya tak membentur nakas tadi.
Edrea dengan malas turun dari ranjang Erland dan sebelum ia keluar dari kamar tersebut ia sempat menatap Erland.
"Apa lihat-lihat." Edrea yang mendengar ucapan tak bersahabat dari Erland pun mencebikkan bibirnya dan dengan hentakan kaki ia keluar dari kamar Erland.
__ADS_1
Saat Edrea sudah benar-benar keluar dari kamarnya, Erland berlari ke arah pintu kamarnya kemudian dengan cepat ia mengunci pintu tersebut. Takut-takut si bontot kembali lagi.
Sedangkan Edrea yang mendengar kuncian pintu di kamar Erland, membuat bibirnya semakin maju beberapa senti kedepan. Setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya tapi belum sempat ia masuk ke dalam kamar, pikirannya tiba-tiba tertuju ke suatu tempat. Dan dengan segera ia berlari menuju tempat tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah kamar Azlan, si korban kedua untuk ia ganggu tidurnya.
"Semoga gak di kunci, semoga gak di kunci," gumam Edrea sembari memegang gagang pintu untuk ia buka.
Ceklekk!!!
"Yesss," jerit Edrea tertahan.
Perlahan ia menutup kembali pintu tadi kemudian ia masuk kedalam kamar tersebut dengan langkah yang mengendap-endap seperti pencuri saja. Dan setelah dirasa aman, bahkan sang empu juga tak bergerak dalam tidur nyenyaknya, Edrea langsung menyikap selimut yang tadi membungkus tubuh Azlan yang hanya memakai celana bokser saja tanpa baju atasan. Hal itu sudah sering Edrea lihat maka dari itu sang empu tak kaget dengan tubuh atletis Azlan maupun Erland.
Edrea kini tersenyum saat sudah berhasil masuk kedalam selimut yang sama dengan Azlan dan berbaring disamping Abang pertamanya. Setelah itu ia ikut terlelap menyambung mimpi yang tadi sempat terputus.
Pagi harinya Azlan mengerjabkan matanya saat merasakan ada sesuatu yang jatuh cukup keras di perutnya.
"Anjir," umpat Azlan menyambut pagi hari yang indah ini saat melihat kaki seseorang yang berada di perutnya saat ini.
Ia berdecak saat mengetahui pemilik kaki tersebut walaupun belum melihat wajah sang empu. Setelah itu ia menyingkirkan kasar kaki Edrea dari perutnya kemudian ia mendudukkan tubuhnya lalu membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Edrea.
Dengan perasaan dongkol Azlan mencubit hidung Edrea hingga sang empu gelagapan dan bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Aaaaa lepasin bang. Rea gak bisa nafas," ucap Edrea sembari memukul-mukul tangan Azlan yang enggan menjauh dari hidungnya.
"Siapa yang ngizinin Lo masuk ke sini?" tanya Azlan dengan menjauhkan tangannya dari hidung Edrea saat melihat sang adik benar-benar kesusahan untuk bernafas.
Edrea mengerucutkan bibirnya sembari mengelus hidungnya. Sial sekali memang dirinya saat ini, hanya ingin tidur bersama dengan saudara kembarnya saja ia sudah mendapatkan satu pukulan di kakinya dan pagi harinya ia malah mendapat cubitan yang hampir saja membuat dirinya kehabisan pasokan oksigen di tubuhnya.
"Jawab! siapa yang ngizinin lo masuk kesini?"
"Gak ada. Rea cuma mau numpang tidur aja bang," tutur Edrea.
"Lo punya kamar sendiri Rea."
"Ck, kasur Rea di masukin tikus bang. Rea kan takut, belum lagi saat Rea tidur suara tikus itu semakin kedengaran. Alhasil Rea gak bisa tidur dan untuk menghindari omelan Mommy kalau tau Rea gak tidur, kan lebih baik Rea numpang tidur di kamar bang Az. Lagian saat Rea mau izin bahkan tadi malam Rea ngetuk pintu berulang kali bang Az juga gak bukain pintunya. Dan untungnya pintu kamar bang Az tadi malam gak di kunci. Jadi Rea masuk aja deh," jelas Edrea santai.
Azlan memijit pangkal hidungnya. Ia sebenarnya tau jika ucapan Edrea tadi hanya akal-akalan wanita itu. Karena jika di pikir secara logis, rumah yang selalu bersih itu tak mungkin disukai oleh tikus. Jika pun tikus-tikus itu berada di rumah ini tak mungkin sampai menggerogoti kasur Edrea.
Azlan menghela nafas, ini semua juga kecerobohannya. Kenapa dia tadi malam sampai lupa tak mengunci pintu. Alhasil si pembuat onar menerobos masuk kedalam kamarnya jadinya.
"Keluar sekarang," perintah Azlan tak terbantahkan. Edrea yang mendengar suara datar nan dingin dari Azlan pun segera bangkit dari rebahannya dan langsung berlari keluar dari kamar tersebut sebelum sang empu meluapkan emosinya yang sudah berada di ujung kepalanya.
"Gini amat punya adik cewek. Kalau yang lain mah gak mau deket-deket sama abangnya lah dia nempel terus kek parasit," gumam Azlan sembari beranjak dari duduknya dan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.
__ADS_1
Sedangkan Edrea, ia sekarang tengah mengatur nafasnya yang memburu saat sudah sampai di dalam kamarnya.
"Hufttt, punya Abang dua gak ada rasa simpati sedikit pun sama adik sendiri. Dikit-dikit KDHS, kekerasan dalam hubungan saudara terus, mana gak ada rasa bersalah lagi setelah melakukan KDHS. Huh, awas aja ya kalau kalian nanti kangen saat-saat seperti ini, kangen sama kejahilan Rea, kangen sama tingkah konyol Rea. Awas aja gue pites kalian berdua," gerutu Edrea sembari berjalan menuju ruang walk in closed dikamarnya untuk mencari handuk baru untuk ia gunakan nanti. Setelah itu ia baru menuju kamar mandi, masih dengan perasaan yang super duper dongkol karena ulah kedua Abangnya itu.