The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 85


__ADS_3

Di suatu rumah yang sangat sepi dengan penuh kegelapan terdapat seseorang yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Dengan memain-mainkan ponsel menggunakan satu tangannya. Tak lupa dengan beberapa pendamping di sisi kanan dan kirinya.


Tak berselang lama ada seorang anak buahnya datang menghampirinya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Gimana hasilnya?" tanyanya dengan sinis.


"Maaf bos, rencana kita gagal total," jawab laki-laki yang berada di hadapannya saat ini.


Orang yang dibilang dengan sebutan bos tadi kini berdiri dari duduknya dengan menggebrak meja di depannya.


"Bisa-bisanya gagal lagi. Kamu hanya menghadapi seorang wanita bukan seorang pira dan bukan juga preman. Kenapa bisa gagal lagi hah? Emang kalian kalau bekerja gak ada yang becus semua!" murkanya dengan teriakan yang memenuhi rumah tersebut.


"Maaf bos, sebenarnya tadi kita hampir saja berhasil tapi saat Gudi mau masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang membawa senjata api dan langsung menembak kepala Gudi hingga tewas ditempat. Belum sempat saya keluar untuk membawa tubuh Gudi dan wanita itu, laki-laki yang menembak Gudi tadi berlari kearah mobil yang saya pakai. Alhasil demi rahasia ini tak terungkap saya memilih untuk kembali menghadap bos," ucap anak buah tadi dengan menundukkan kepalanya.


"Sial! siapa laki-laki itu yang berani menghancurkan rencana Ku!" geramnya.


"Kamu pakai mobilnya kesini?" tanyanya kearah anak buahnya tadi.


"Tenang saja bos, mobil itu sudah saya lenyapkan," jawab anak buah tersebut.


"Bagus. Semua yang bersangkutan dengan apa yang laki-laki tadi lihat harus segera dimusnahkan. Termasuk kamu," tuturnya menatap horor.


Anak buahnya itu kini meluruhkan tubuhnya dan bersujud di bawah kaki bosnya, memohon ampun agar dirinya bisa diberi kesempatan hidup untuk yang kedua kalinya.


"Saya mohon jangan lenyapkan saya juga bos. Laki-laki itu tidak melihat wajah saya karena saya belum sempat keluar dari mobil tadi. Saya mohon beri saya kesempatan bos. Saya yakin saya pasti bisa melenyapkan wanita yang sedang bos incar nyawanya. Saya mohon bos," ucap anak buah tersebut dengan getaran di tubuhnya.


"Seberapa yakinnya kamu bisa melenyapkan wanita itu hmmm?" tanyanya dengan menendang tubuh anak buahnya hingga menjauh dari kakinya.


"Saya yakin 100% bos. Saya mohon beri kesempatan kedua buat saya."

__ADS_1


Orang yang di sebut bos tadi menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dengan kepala yang mengangguk-angguk.


"Oke baik. Segera menyusun rencana, jika tak berhasil lagi, nyawa kamu jadi taruhannya. Paham!" bentaknya.


"Paham bos. Terimakasih sudah memberi saya kesempatan untuk yang kedua kalinya. Saya janji rencana saya ini akan berhasil untuk menyeret wanita itu ke hadapan bos."


"Jangan banyak bacot. Pergi sekarang dan lakukan segera!" Anak buah tersebut berdiri dari posisi duduknya tadi.


"Saya permisi bos." Bos tersebut menganggukkan kepalanya sembari mengibas-ibaskan tangannya untuk menyuruh anak buahnya itu keluar.


Saat anak buahnya tadi keluar, ia kembali menggebrak meja yang membuat seluruh orang yang berada di ruangan yang sama dengannya terperanjat kaget.


"Cari tau siapa laki-laki yang berani ikut campur dalam masalah ini! Lumpuhkan dia dan seret dia kesini secepatnya!" perintah Bos tersebut kepada anak buahnya yang masih stand by di ruangan tersebut.


"Baik bos," ucap beberapa anak buahnya tadi secara serempak kemudian mereka segera keluar. Meninggalkan bos mereka sendirian yang sekarang tengah mengepalkan tangannya juga menggertakkan giginya.


"Lihat saja. Sebentar lagi nyawa kalian berdua akan segera berakhir di tanganku," gumamnya penuh dengan kobaran api kebencian.


Waktu kini sudah menunjukkan pukul 5 sore, tepat dimana sore itu juga Edrea sudah di perbolehkan untuk pulang kerumah. Dan kini dirinya tengah berada di dalam mobil Mommy Della yang di kemudikan oleh Erland.


"Bang," panggil Edrea.


"Hmmm."


"Abang jangan kasih tau masalah ini sama Mommy dan Daddy ya," tutur Edrea untuk memastikan saja jika abangnya itu masih ingat atas ucapannya tadi untuk merahasiakan masalah ini ke kedua orangtuanya.


"Gue udah bilang tadi. Kalau masalah ini bisa gue dan bang Azlan selesaikan maka gue gak akan kasih tau ke Mom dan Dad. Tapi kalau gue ataupun bang Az gak bisa mecahin masalah ini sendiri maka gue akan bilang ke Daddy. Itu udah jadi kesepakatan antara gue dan bang Az. Jika Lo keberatan, maka diam saja!" ucap Erland penuh dengan penekanan diakhir kalimatnya.


Edrea kini hanya bisa menghela nafas pasrah atas kehendak abangnya itu.

__ADS_1


Tak berselang lama, kini mobil yang ditumpangi oleh Erland juga Edrea telah sampai di lingkungan rumah Abhivandya.


Tapi saat Erland baru saja turun dari mobil, tiba-tiba dering ponselnya menghentikan langkahnya untuk segera masuk kedalam rumah tersebut.


Ia segera merogoh ponselnya kemudian segera mengangkat telepon dari anak buahnya yang ia tugaskan untuk mencari keberadaan mobil dengan nomor plat yang di berikan oleh Leon tadi.


"Bagaimana?" tanya Erland to the point.


📞 : "Maaf Tuan. Saya juga yang lainnya sudah melacak keberadaan mobil itu. Tapi pencarian kita harus terhenti kala GPS yang berada di mobil itu kita retas menunjuk ke suatu jurang yang dibawahnya langsung teraliri oleh arus sungai yang tengah deras-derasnya saat ini. Kemungkinan besar mobil itu sengaja di lenyapkan dari barang bukti yang kita punya agar pelaku dari balik ini semua tak ketahuan dimana dirinya berada," jelas anak buah Erland.


Erland tampak menghela nafas berat.


"Ya sudah kalau begitu kalian segera kembali dan jika kondisi di jurang itu aman segera cari kembali walaupun yang kalian temukan hanya bangkai mobil itu saja," ucap Erland.


📞 : "Baik Tuan."


Setalah itu, Erland segera mematikan sambungan telepon tadi.


"Gimana?" tanya Azlan yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Erland.


"Astagfirullah, Lo bisa gak sih permisi dulu gitu," geram Erland.


"Ck, bacot banget lo. Tadi yang telepon lo anak buah Lo kan?" Erland menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Azlan tadi.


"Terus gimana hasilnya?" tanya Azlan lagi.


"Kata mereka GPS yang berhasil mereka retas menunjukkan terakhir kali mobil itu berada didalam sebuah jurang, tapi entah jurang itu dimana lokasinya karena gue tadi lupa tanya sama mereka, hehehe." Azlan berdecak kemudian dengan reflek ia memukul kepala Erland.


"Stupid," umpat Azlan kemudian ia beranjak untuk masuk kedalam rumah tersebut menyusul Edrea yang sudah sedari tadi masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


"Anjir, sakit banget heh. Makanya gue bodoh orang kepala gue sering dijadiin samsak sama keluarga sendiri. Untung Lo Abang gue, kalau gak udah gue bantai sampai tinggal nama saja," geram Erland sembari mengelus kepalanya yang terasa begitu nyut-nyutan karena ulah Azlan tadi.


Beberapa saat ia meredam rasa nyut-nyutannya itu hingga matanya kini terbelalak saat ingat ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Azlan. Tak mau mengulur waktu lagi, Erland kini segera berlari menyusul abangnya tadi.


__ADS_2