The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 71


__ADS_3

Mereka berdua terus berjalan tanpa menghiraukan setiap bisikan para manusia kurang kerjaan itu. Dan entah dengan sengaja atau tidak, tangan Zico dan Edrea saling terpaut. Hal itu membuat seluruh fans Zico terlihat semakin kepanasan, sama halnya dengan Puri yang sedari tadi mengepalkan tangannya.


"Sepertinya lo mengabaikan ancaman gue. Cih, berbahagialah untuk sekarang, karena sebentar lagi lo bakal hancur di dunia ini," batin Puri.


Kemudian ia bergegas keluar dari lingkungan sekolah, menuju kesalah satu tempat yang cukup jauh dan terpencil yang memakan waktu 1 jam hingga sampai di tempat tersebut.


Puri kini menghentikan laju mobilnya saat sudah sampai di depan rumah orang yang ia cari. Setelahnya ia keluar dari mobilnya dan segera menuju depan pintu utama rumah tersebut.


Tok tok tok!!


Ia mengetuk pintu utama tersebut hingga pintu itu terbuka dan langsung memperlihatkan seorang laki-laki tinggi, gagah, rambut sebahu, tindik yang sangat banyak di telinganya dan juga tato di sekitar lengan tangannya, tepat seperti seorang preman.


Tanpa di perintahkan terlebih dahulu untuk masuk kedalam rumah tersebut, Puri lebih dulu nyelonong begitu saja.


"Ada perlu?" tanya pria tersebut yang terkenal dengan nama Edo setelah mendudukkan tubuhnya di depan Puri, yang dengan angkuhnya duduk di sofa rumah tersebut.


"Gue butuh bantuan lo untuk menghancurkan salah satu wanita," tutur Puri.


Edo menghisap rokok yang baru saja ia nyalakan sembari menyenderkan tubuhnya di senderan sofa. Dan Puri kini sibuk mengotak-atik ponselnya dan setelah ia mendapatkan foto Edrea, ia menyerahkan ponsel tadi kehadapan Edo.


"Itu orangnya," ucap Puri.


Edo meraih ponsel tersebut dan setelah melihat wajah Edrea, ia tersenyum smrik. Kemudian ia melempar ponsel tersebut di atas meja didepannya.


"Alasan lo mau nyingkirin wanita cantik seperti dia apa? Lo kalah saing?" tanya Edo meremehkan.


"Tutup mulut lo. Di dunia ini gak akan ada wanita yang bisa nyaingin gue. Gue hanya gak suka lihat dia selalu dapat perhatian lebih oleh orang yang selalu gue suka." Lagi-lagi Edo tersenyum meremehkan.


"Itu sama saja lo kalah saing sama dia. Toh kalau dilihat-lihat juga cantik kan dia kemana-mana. Jadi kalau orang yang lo sukai lebih suka ke dia ya wajar lah berarti mata mereka cukup normal." Puri kini membelalakkan matanya.


"Cukup. Lo jangan berani-berani muji dia didepan gue. Katakan sekarang Lo mau bantu gue atau tidak?"


"Apa yang akan lo kasih kalau gue bersedia bantu lo hancurin wanita cantik itu?" tanya Edo sembari mencondongkan tubuhnya kedepan.


"Apapun yang lo mau."

__ADS_1


"Baik, siapkan uang 100 juta," tutur Edo.


"Oke gak masalah."


"Dan juga tubuh lo," sambung Edo. Puri berdecak kala ucapan Edo masuk kedalam indra pendengarannya.


"Jika lo gak mau. Ya sudah cari orang lain yang bisa lo andelin," ucap Edo saat melihat keraguan di wajah Puri.


"Oke tidak masalah," ucap Puri.


Edo sekarang mematikan rokoknya dan perlahan mendekati Puri yang membuka kancing baju seragamnya satu persatu.


"Heh, tak sabaran sekali," bisik Edo tepat di telinga Puri. Setelah itu bibirnya kini menjelajah leher jenjang Puri tak lupa ia meninggalkan beberapa bekas kemerahan disana. Setelah puas dengan area leher, ia mengalihkan bibirnya ke arah bibir Puri hingga ciuman yang tadinya biasa saja kini menjadi lebih panas lagi. Kini Edo merebahkan tubuh Puri di sofa tersebut dan dengan ganasnya ia melucuti semua pakaian Puri yang masih tersisa di badan wanita tersebut kemudian ia juga melepaskan pakaiannya sendiri hingga keduanya sekarang tak memakai sehelai benang di tubuhnya. Setelah itu Edo perlahan memasukan juniornya kedalam area sensitif Puri. Hingga terdengar ******* kenikmatan yang keluar dari mulut dua manusia itu.


...****************...


Tak terasa waktu cepat berlalu dan kini para siswa/siswi SMA Gredia tengah menikmati makan siang mereka. Tak terkecuali dengan Zico dan juga Edrea yang sekarang tengah duduk diantara siswa lainnya di kantin sekolah.


Saat mereka berdua tengah sibuk menikmati makanan di depannya, tiba-tiba ada salah satu siswa yang berlari kearah meja mereka.


"Edrea!" panggil orang tersebut. Edrea kini mengalihkan pandangannya dan menatap siswa yang sekarang tengah mengatur nafasnya di sampingnya.


"Huft. Gini, gue butuh batuan lo," jawabnya. Edrea mengerutkan keningnya.


"Bantuan apa? kalau gue mampu, gue bantu lo tapi kalau gue gak mampu ya gue coba dulu deh. Jadi apa katakan."


"Gue butuh lo jadi vokalis band sekolah ini. Karena 1 minggu lagi akan diadakan perpisahan untuk Kakak kelas, Lo pasti juga tau hal ini. Dan gue dengar-dengar dari anak-anak lain, suara lo bagus. Jadi gue mohon Lo bantuin gue ya," tutur Sifa.


Edrea kini melongo tak percaya, Sifa mencarinya karena ingin menjadikan dirinya sebagai vokalis. Yang benar saja, dirinya saja tak pernah bernyanyi di hadapan publik dan apa tadi katanya? Sifa mengetahui jika Edrea bisa bernyanyi dari siswa lain. Hais cara apa lagi yang mereka ingin perbuat untuk mempermalukan Edrea.


"Gimana? Lo mau kan?"


"Gue gak bisa, Sif. Lo cari aja yang lain," tolak Edrea.


"Mau cari kemana lagi Re, gue dari kemarin nawarin siswi lainnya buat jadi vokalis pada gak mau dan Lo satu-satunya harapan gue. Ayolah Rea, gue mohon."

__ADS_1


"Bukannya band sekolah ini udah ada vokalisnya ya?"


"Ya emang ada, tapi kita butuhnya dua vokalis. Please Rea, Lo mau ya. Kalau lo mau jadi vokalis gue janji deh bakal traktir lo apapun yang lo mau gimana," sogok Sifa.


"Lo kan tau sendiri kalau suara gue cempreng. Gak enak kalau buat nyanyi."


"Iya gue tau tapi setidaknya di coba dulu lah Rea. Bukannya lo tadi bilang kalau lo gak mampu akan coba dulu." Edrea menghela nafasnya. Benar juga sih setidaknya ia mencoba terlebih dahulu, siapa tau kan setan didalam kamar mandinya merasuki pita suaranya saat bernyanyi nanti.


"Huh, baiklah gue akan coba." Sifa kini menatap dengan penuh kesenangan kearah Edrea kemudian ia memeluknya.


"Uhhhh thanks you cantik, primadona SMA Gredia," tutur Sifa.


"Ck, Lo muji gue kalau lo ada maunya aja." Sifa kini melonggarkan pelukannya.


"Eh siapa bilang. Gue mah selalu muji lo."


"Baiklah, Lo anggap gue percaya aja deh sama lo. Tapi kenapa gak lo aja sih yang jadi vokalis, kan lo udah terkenal tuh dengan suara cetar membahana lo itu," tutur Edrea.


"Lo tau sendiri kan semenjak gue jadi ketua OSIS jadi sibuk sana sibuk sini. Hanya sekedar kumpul sama lo, Yesi dan Resti aja susahnya minta ampun. Apalagi ini akan diadakan acara perpisahan yang cukup besar, sudah pasti gue banting tulang kesana kemari nanti saat acara dimulai. Bagaimana bisa nyanyi coba kalau kayak gitu? haish. Jadinya gue cari lo, walaupun gue belum pernah dengar lo nyanyi selama gue jadi temen lo. Tapi gue yakin pasti lo bisa."


"Baiklah, berhubungan lo teman gue. Gue akan bantu lo. Tapi kalau gue nanti hancurin acara itu jangan salahin gue," tutur Edrea.


"Gue percaya sama lo. Udah dulu ya gue mau urus yang lain dulu. Btw gue tunggu pajak jadian kalian berdua," ucap Sifa sembari tersenyum kearah Edrea juga Zico.


"Heh, pajak-pajakan segala. Disini gak ada yang jadian ya," tutur Edrea.


"Doain langsung kepernikahan aja," timpal Zico.


"Wowwwww, langsung gas ya bang ya. Uhuyyyy gak pakai lama pokoknya. Gue doain hubungan kalian semakin lancar. Gue pergi dulu bye sayangnya akoh, bye Zic. Gue tunggu undangannya ya," ucap Sifa sembari berdiri dari duduknya.


"Sekolah dulu wehhh," timpal Edrea.


"Iya sekolah dulu kok, tapi setelah lulus gue lamar lo." Sifa yang masih mendengar ucapan dari Zico tadi terkekeh geli kemudian ia kabur begitu saja meninggalkan mereka berdua.


"Sangat percaya diri sekali anda. Belum tentu gue juga nerima lo jadi pasangan hidup gue," tutur Edrea sembari beranjak dari tempat itu.

__ADS_1


"Eh Lo mau kemana?" teriak Zico.


"Ke kelas lah. Hitungan detik lagi bel masuk bunyi." Benar saja saat Edrea menyelesaikan ucapannya, bunyi bel tersebut berbunyi nyaring yang membuat Edrea melambaikan tangan ke Zico sebelum berlari menuju kelasnya. Sedangkan Zico, ia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Setelahnya ia juga beranjak menuju kelasnya.


__ADS_2