
Edrea telah kembali ke dalam kamarnya dengan gerutuan di bibirnya yang tak pernah lelah sedikitpun untuk mengumpati Mr. Misterius. Pasalnya saat dirinya tadi sudah berada di depan gerbang, tiba-tiba saja ia mendapat sebuah pesan yang sangat membuatnya ingin memukul si pengirim pesan tersebut.
Bagiamana dia tidak merasa semakin sebal setelah dirinya mengkhawatirkan keadaan Mr. Misterius yang ia yakini tengah mengalami kecelakaan itu, justru sang empu malah dengan santainya membalas pesan dari Edrea tadi seperti ini, "Bukannya lo tadi marah sama gue? Kenapa sekarang malah khawatir tentang keadaan gue? Jangan bilang lo udah mulai suka sama gue? Jujur saja tak apa, kalau lo jujur tentang perasaan lo ke gue. Gue mulai sekarang akan pikir-pikir terlebih dulu. Mau nerima lo atau gak. Ah satu lagi kalau lo mau bunuh gue, mending di pikir-pikir dulu karena gue belum tau ukuran pakaian dalam lo. Dan lebih baik sekarang lo kasih tau ke gue ukuran pakaian dalam lo sebelum lo bunuh gue."
Begitulah kira-kira balasan dari Mr. Misterius yang semakin membuat Edrea sebalnya bukan main. Dan gara-gara hal itu, rasa khawatirnya tadi mendadak hilang dan berakhir dirinya kembali masuk kedalam rumah tadi dan mengurungkan niatnya untuk mencari tahu tentang kecelakaan tadi.
"Mati aja sekalian lo tadi kalau benar-benar kecelakaan. Bumi ini juga gak butuh manusia mesum kayak dia. Huh bikin emosi aja," gerutu Edrea sembari membanting tubuhnya diatas ranjangnya.
Dan baru saja ia memejamkan matanya sekilas untuk meredakan emosinya, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk seseorang.
Tok tok tok!!
Mata Edrea kembali terbuka dan dengan langkah malas Edrea berjalan kearah pintu kamar tersebut lalu membukanya.
Dan belum sempat Edrea mempersilahkan dua orang yang berada di depan pintu tadi masuk kedalam kamarnya, dua orang itu lebih dulu nyelonong masuk begitu saja. Edrea yang melihat hal itu hanya berdecak sebal lalu setelahnya ia menutup kembali sebelum mengikuti langkah dua orang tersebut yang sekarang sudah terduduk di sofa kamarnya.
"Ada apa Mom, Dad?" tanya Edrea saat dirinya sudah ikut duduk bersama kedua orangtuanya itu.
Mommy Della dan Daddy Aiden kini saling pandang sebelum mereka memajukan badan mereka dengan tatapan tajamnya.
Edrea yang mendapat tatapan tersebut pun kini tubuhnya menegang bahkan ia sempat berpikir, apa kesalahan yang telah ia perbuat sehingga membuat kedua orangtuanya itu menatapnya dengan tatapan seakan-akan ingin memangsanya.
"Ehemmm Mom, Dad bisa gak natap Rea jangan kayak gitu," ucap Edrea.
__ADS_1
"Menakutkan sekalian tau," sambung Edrea dengan suara lirih.
Daddy Aiden dan Mommy Della yang tadi mencondongkan tubuhnya kini tubuh itu telah kembali ke posisi semula dan juga tatapan tajam mereka kini sudah mulai melembut lagi.
"Ada yang perlu Dad bicara sama kamu," ucap Daddy Aiden tiba-tiba yang membuat Edrea mengangkat kedua alisnya.
"kamu tau kan kalau temanmu yang udah nyelakain kamu saat ini sudah berada di penjara?" tanya Daddy Aiden yang membuat Edrea menganggukkan kepalanya. Pasalnya saat tadi pagi ia melihat televisi, hal pertama yang muncul saat layar televisi itu menyala adalah berita tentang keluarga Handoko dan juga kasus penangkapan Puri. Jadi tanpa kedua orangtuanya itu beritahu, Edrea sudah tau lebih dulu.
"Iya, Rea tau dari berita tadi. Emangnya kenapa sih Dad? Apa dia sekarang kabur dari penjara?" tanya Edrea.
"Tidak. Dia masih aman di penjara," jawab Daddy Aiden.
"Kalau dia masih aman di penjara. Terus ada hal apa yang buat Daddy sama Mommy kayak tengah memikirkan sesuatu tentang dia?" tanya Edrea dengan tatapan curiga.
"Hmmm Mom mau tanya, apa kamu tau kalau dia sekarang tengah hamil?" tanya Mommy Della yang membuat Edrea melebarkan matanya sempurna.
"Hah? Dia hamil? Kok bisa? Sejak kapan? Perasaan pertemuan terakhir kemarin, perut dia rata aja tuh, gak kelihatan kalau lagi hamil. Tapi kalau benaran dia hamil, sama siapa dia ngelukain begituan?" tanya Edrea tanpa memberikan kesempatan Mommy Della untuk menjawab satu-persatu pertanyaan tadi.
"Satu-satu kali Rea. Mommy jadi pusing sendiri dengar pertanyaan kamu itu," ujar Mommy Della yang dibalas dengan cengiran oleh Edrea.
"Mom sama Dad tadi udah tanya ke pihak kepolisan yang kemarin mengantar teman kamu itu ke rumah sakit. Dan kata beliau, dia tengah hamil dengan usia kandungan baru memasuki usia 2 bulan. Dan diusia kandungan segitu memang belum kelihatan buncit kecuali dia hamil anak kembar. Kalau kamu tanya kok bisa dia hamil, ya jelas bisa kalau dia melakukan hal begituan tanpa pengaman. Dan jika kamu tanya sama siapa dia berbuat begituan, Mommy juga gak tau," tutur Mommy Della.
"Dan satu lagi, dia kemarin malam mencoba bunuh diri tapi untungnya salah satu polisi melihat aksinya itu," sambung Mommy Della.
__ADS_1
"Astaga. Kalau sampai dia bunuh diri kasihan anaknya dong, belum sempat lihat dunia udah diajak ke akhirat aja," tutur Edrea.
"Jadi setelah mengetahui kalau Puri hamil, apa yang akan Mom sama Dad lakuin?" tanya Edrea sembari menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
"Dad sama Mom juga lagi mikirin hal ini," jawab Daddy Aiden.
"Apa Dad sama Mom berniat buat cabut tuntutannya?" tanya Edrea yang membuat kedua orangtuanya dengan serempak menoleh kearahnya.
"Enak aja. Ya gak lah. Kalau kita cabut gugatan itu yang ada dia nanti kembali berulah dan lebih parahnya dia bisa gugurin kandungan dia," ujar Daddy Aiden.
"Kalau Dad sama Mom gak mau cabut gugatannya, terus gimana sama nasib bayinya nanti kalau udah lahir. Karena aku yakin Puri akan mendapat hukuman beberapa tahun dipenjara atas hukuman berlapis. Masak iya Dad sama Mom tega lihat bayinya tumbuh dan berkembang di dalam jeruji besi padahal dia gak salah apa-apa," tutur Edrea yang membuat Daddy Aiden menghela nafas.
"Kita juga gak akan biarin bayi itu tubuh dan berkembang di penjara, Rea. Makanya Dad sama Mom kesini mau tanya kamu, apa kamu tau tentang laki-laki yang pernah tidur sama teman kamu itu? Atau setidaknya kamu pernah mendengar desas-desus tentang hal itu dari teman sekolahmu yang lain?" ucap Daddy Aiden.
"Rea gak tau pasti ayah bayi itu siapa Dad. Pasalnya dia dari gosip yang beredar sering banget gonta-ganti pasangan. Jadi kalaupun kita mencari tahu hal ini, pastinya harus menunggu bayi itu lahir dan barulah kita kumpulin semua laki-laki yang udah pernah tidur sama dia dan barulah kita lakuin tes DNA," ujar Edrea yang mendapat anggukan dari kedua orangtuanya.
"Tapi kalau kita melakukan tes DNA, pasti biayanya gak dikit. Dan jika yang pernah tidur sama Puri lebih dari 10 laki-laki yang ada kita bangkrut," sambung Edrea.
"Kita gak akan bangkrut Rea. Uang yang bakal kita gunakan buat tes DNA itu nantinya pasti akan di ganti lebih sama Tuhan karena kita menghambur-hamburkan uang itu untuk menolong seseorang. Jadi tak perlu takut sama kebangkrutan toh harta yang kita miliki semua adalah titipan. Dan memangnya kamu tega lihat bayi itu lahir tanpa tau ayahnya siapa?" Edrea menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Daddy Aiden itu.
"Nah kan kamu aja gak tega apalagi Daddy sama Mommy. Jadi buat kebaikan bayi itu, kita lakukan apa yang kamu katakan tadi setelah bayi itu lahir nanti. Dan satu lagi, kamu kasih tau ke abang-abang kamu, suruh mereka cari tahu laki-laki mana saja yang sudah tidur dengan temanmu itu. Dan jika mereka sudah menemukannya, suruh lapor ke Daddy," ucap Daddy Aiden yang diangguki oleh Edrea.
"Ya udah kalau gitu kita keluar dulu. Kamu segera bersih-bersih badan kamu sana," tutur Mommy Della yang lagi-lagi hanya mendapat anggukan kepala saja dari Edrea.
__ADS_1
Dan setelah itu kedua orang tersebut kini pergi dari kamar Edrea. Sedangkan Edrea, ia kini menghela nafas panjang. Ingin sekali ia tertawa atas penderita Puri itu tapi disisi lain ia juga merasa kasihan pada bayi yang di kandung Puri saat ini. Dia tidak tau apa-apa tapi sudah merasakan dampaknya saat di dalam kandungan wanita itu.