
Mobil Jeep yang dikendarai Edrea kini berhenti di pinggir jalan yang disana juga terdapat beberapa motor sport yang terparkir tapi pemilik dari motor-motor itu entah kemana dia tak tau. Dan satu hal yang akhirnya membuat dirinya memberanikan diri untuk turun dari mobil itu saat matanya melihat dua motor sport yang ia yakini motor itu adalah motor kedua Abang.
Dengan langkah santai sembari punggungnya terus membawa tas harta karun, ia mendekati motor tersebut. Ia menyandarkan tubuhnya di motor Erland sembari menatap sekitar.
"Ini orang-orang pada kemana sih? ya kali dia ditangkap sama anak buah Zico. Gak mungkin banget," gumam Edrea.
"Apa gue telepon aja ya? ya ya ya gue harus telepon." Edrea merogoh saku celana pendeknya yang dimana disitulah ponselnya berada. Dan saat dirinya tengah sibuk mengotak-atik ponselnya lalu mulai menghubungi nomor Azlan, terdengar suara teriakan yang memanggil dirinya.
"Edrea! Lo dimana?" teriakan itu menggema hingga masuk kedalam indra pendengaran.
Edrea pun menoleh ke kanan, ke kiri, depan dan belakang bahkan ponsel yang ia tempelkan terus terhubung tapi tak kunjung diangkat oleh sang empu.
"Edrea!" teriakan itu terdengar kembali tapi semakin terdengar sangat dekat dengannya.
Edrea kini mematikan sambungan telepon tadi yang sama sekali tak diangkat oleh Azlan walaupun sudah berulangkali ia terus menghubunginya.
"Rea!!" Suara itu, suara yang sangat ia kenali. Edrea tersenyum kembali lalu ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum membalas teriakan orang tadi.
"Abang! Rea ada disini! di dekat motor-motor kalian!" balas Edrea.
Tak berselang lama terdengar derap kaki yang berlari menuju kearahnya. Edrea semakin melebarkan senyumnya saat sudah melihat kedua Abangnya itu dari kejauhan, ia juga sempat melambaikan tangannya kearah mereka.
Azlan dan Erland yang melihat keberadaan Edrea pun mereka berdua menambah kecepatan larinya hingga sampailah mereka didepan Edrea. Dan tanpa aba-aba, keduanya langsung memeluk tubuh Edrea dengan sangat erat. Bahkan saking eratnya Edrea sampai kesusahan untuk menghirup oksigen.
"Maaf. Maafkan kita berdua Rea. Maaf kita belum bisa jaga lo dengan baik, kita belum bisa jadi Abang yang terbaik buat lo dan kita juga belum bisa jadi Abang yang bisa lo andalkan. Maaf Rea. Kita benar-benar menyesal karena udah egois dan sempat mengabaikan lo," ucap Azlan yang juga mewakili Erland. Ia yakin saudara kembar laki-lakinya itu juga akan berbicara seperti perkataannya tadi.
Edrea membalas pelukan mereka berdua.
"Abang gak salah. Rea yang salah. Rea lah yang udah egois gak mau nurut sama Abang padahal Abang gak bolehin Rea pakai mobil dan lain sebagainya itu buat kebaikan Edrea. Tapi Rea benar-benar egois dan membangkang semua ucapan dan perintah kalian. Maafin Rea bang," tutur Edrea diakhiri dengan suara yang sendu bahkan air matanya menetes. Mata hatinya benar-benar terbuka setelah mendengar cerita dari orang misterius tadi bahwa tindakannya yang sempat membangkang dan menentang kedua Abangnya itu benar-benar sangat salah. Ditambah ia juga merasa bersalah setelah melihat penampilan berantakan dari kedua Abangnya saat ini, sungguh tak enak di pandang sama sekali. Tapi keturunan dari Daddy Aiden dan Mommy Della tak pernah mengecewakan, walaupun tampilan mereka berantakan tapi tak membuat keduanya terlihat jelek. Mereka akan selalu terlihat tampan dalam keadaan sekacau apapun tampilan mereka.
__ADS_1
Azlan dan Erland kini melepaskan pelukannya dari tubuh Edrea yang sudah mulai bergetar karena menahan isak tangisnya agar tak terdengar oleh orang lain. Tak lupa kepala Edrea menunduk. Ia takut jika abangnya masih marah dengan. Walaupun tadi dia sudah mendengar suara yang begitu tulus dari Azlan tapi bukan berarti ia harus percaya begitu saja karena ia tau sifat asli dari kedua kembarnya itu yang selalu keras kepala dan cenderung sulit memaafkan orang yang sudah membuat kesalah kepada mereka berdua.
Erland yang kebetulan berhadapan langsung dengan Edrea kini tangannya bergerak untuk menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi Edrea. Dan setelah itu ia kembali membawa tubuh Edrea kedalam pelukannya sedangkan Azlan, ia mengelus kepala Edrea dengan lembut.
"Kita sudah maafin lo. Jadi jangan nangis lagi ya. Abang gak suka lihat mata lo itu ngeluarin air mata kesedihan. Dan jangan dibahas masalah itu, yang perlu kita bahas sekarang keadaan lo gimana? ada yang sakit? luka? atau yang lainnya? katakan." Edrea melepas pelukannya dan sudut bibirnya kini terangkat membentuk sebuah senyuman saat melihat raut wajah khawatir dari kedua Abangnya itu.
"Rea gak papa kok. Gak ada yang sakit dan luka sama sekali. Jadi bang Az sama bang Er gak perlu khawatir. Oh ya gimana keadaan Mommy sama Daddy?" tanya Edrea.
"Ya mungkin keadaan mereka sama seperti yang lo bayangkan. Mommy terus nangis dan Daddy juga gak kalah kacaunya dengan kita," jawab Azlan. Mata Edrea mulai berkaca-kaca, rasa bersalahnya semakin besar setelah mendengar ucapan dari Azlan tadi.
"Bang, Rea mau pulang sekarang. Rea mau lihat keadaan Mom sama Dad," tutur Edrea.
Azlan pun mengangguk.
"Mau ikut gue apa Erland?" tanya Azlan yang sudah mulai memakai helm full facenya.
Azlan dan Erland sama-sama mengernyitkan dahinya didalam helm full face mereka.
"Lo dapat mobil itu dari mana?" tanya Erland penasaran.
"Dari rumah penculik lah," jawab Edrea kelewat santai yang justru membuat kedua saudara kembarnya itu membelalakkan matanya.
"Astaga," tutur Erland kemudian ia berlari kecil menuju mobil tersebut disusul oleh Edrea dan Azlan di belakangnya.
Saat sampai di mobil Jeep itu mata Edrea terus menatap kearah Erland yang seakan-akan tengah mencari sesuatu di mobil tersebut.
"Abang cari apaan sih sampai sedetil itu lihatin mobilnya?" tanya Edrea.
"Udah, Lo diam aja. Erland lagi ngelakuin apa yang seharusnya ia lakuin," tutur Azlan sembari mengacak rambut Edrea.
__ADS_1
Edrea yang sebenarnya tak paham dengan ucapan Azlan tadi pun hanya menganggukkan kepalanya dan matanya terus menatap kearah Erland.
"Sialan!" umpat Erland yang langsung membuat Azlan dan Edrea merapatkan jarak mereka kearah Erland.
"Ada apa?" tanya Azlan penasaran.
"Tuh lihat sendiri didalam mobil bagian belakang," titah Erland yang langsung diikuti oleh Azlan. Azlan kini mengintip isi mobil tadi dan betapa terkejutnya dia saat mendapati sebuah kardus yang sialnya sudah dibuka oleh Erland tadi dan alhasil membuat Azlan ingin sekali muntah.
Edrea yang penasaran pun ingin juga melihat apa yang Erland tadi temukan. Tapi sayangnya, matanya lebih dulu ditutup oleh tangan besar Azlan dan tubuhnya juga ditarik menjauhi dari mobil tersebut.
"Ih Abang apaan sih? Rea kan juga mau lihat," gerutu Edrea dengan bibir yang maju kedepan.
"Jangan. Nanti lo gak bisa makan, minum atau tidur karena terbayang sama barang yang ditemukan Erland tadi," cegah Azlan yang mati-matian menahan mualnya.
Mata Edrea yang sudah terbebas dari tangan kekar dari Azlan pun kini menatap Abang pertamanya itu penuh tanda tanya.
"Emangnya apa sih? kok sampai berdampak sama makan, minum dan tidur segala?" tanya Edrea semakin penasaran.
"Pokoknya jangan lihat. Cukup diam disini biar Erland yang nanganin itu semua."
"Ish Abang mah. Pelit." Edrea menghentak-hentakkan kakinya, persis seperti anak kecil dan hal itu sangat disukai oleh Azlan maupun Erland.
Erland yang sedari tadi mendengar ucapan dari kedua kembarnya itu pun kini angkat bicara.
"Ini mau kita apain?" teriak Erland dengan sesekali bergidik ngeri saat matanya melirik beda itu.
"Telepon polisi. Biar mereka yang nyelidiki!" Edrea mengerutkan keningnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? kenapa harus panggil polisi segala? sedangkan dirinya sudah terbebas dan kembali bersama keluarganya.
Oh shittt!! Edrea baru ingat jika dia sebelum pergi dari rumah Zico, ia sempat mencuri. Apa jangan-jangan abangnya itu sudah tau dan berniat memenjarakannya akan tindakan pencurian yang ia lakukan? Tapi masak mereka tega menjebloskan adik mereka sendiri kedalam penjara? gak mungkin bukan. Toh dia mencuri sebagai ganti rugi saat dirinya disekap dan jauh dari keluarganya selama satu hari. Jadi baginya apa yang ia lakukan itu tak salah di matanya.
__ADS_1