
Tapi saat Edrea dan Leon sudah memasuki area lobby, Edrea dibuat terkejut saat dirinya terkena lemparan telur tepat di punggungnya.
"Oh ini, perempuan murahan yang sudah bikin Kayla putus hubungan dengan Erland? Eh bukan cuma Erland saja tapi Azlan pun juga ikut kena embat dia, untung saja Zea masih bisa mempertahankan hubungan kalau tidak, dia bisa patah hati seperti Kayla sekarang. Tapi gue yakin Zea juga merasa sakit di hatinya. Dan tanpa merasa bersalah sedikitpun setelah melukai hati dua perempuan, lihatlah dia hari ini sudah berganti pasangan lagi. Ck Ck Ck, ternyata di sekolah elit seperti ini masih aja menerima wanita murahan seperti dia. Apa pihak sekolah tidak berpikir panjang tentang dampak setelah menerima siswa seperti dia ini? Apa pihak sekolah tidak memikirkan reputasi sekolah ini jika ulah dia sampai didengar oleh orang luar? Gue gak habis pikir dengan sekolah ini yang semakin lama semakin hancur saja," ucap salah satu siswi dengan suara lantang bahkan tatapannya kini terlihat sinis nan meremehkan.
Leon yang tak terima dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut perempuan di hadapan Edrea saat ini pun, kini ia berniat untuk memberikan pelajaran kepada perempuan tersebut tapi belum sempat ia melangkahkan kakinya, Edrea lebih dulu mencegahnya.
"El, jangan macam-macam. Ingat dia perempuan. Jadi biarkan gue sendiri yang nanganin perempuan ini," ujar Edrea. Lalu tanpa menunggu persetujuan dari Leon, ia kini berjalan mendekati siswi tadi.
Dan saat jarak mereka tinggal beberapa senti saja Edrea menghentikan langkahnya itu dengan tatapan yang tak lepas dari wajah siswi tadi.
"Apakah sudah puas bicaranya? Apa sudah puas juga memfitnah seseorang tanpa ada buktinya?" tanya Edrea yang membuat perempuan tersebut menampilkan senyum sinisnya dan dengan tangan yang terlipat di depan dada, perempuan itu melangkah kakinya satu langkah kedepan.
Dan setelah ia berhadapan dengan Edrea tangannya kini bergerak untuk mencengkram kuat rahang Edrea lalu ia menolehkan kepala Edrea kearah mading yang tak jauh dari mereka.
"Lihat baik-baik yang tertempel di mading itu. Dan setelah lo lihat itu, lo sudah tak bisa mengelak lagi," ujar perempuan tersebut dan kini ia melepaskan cengkeramannya tadi dengan kasar.
Dan dengan kepalan tangannya Edrea kini bergerak menuju kearah mading di tempat tersebut yang membuat semua orang yang tadinya mengerumuni mading itu kini langsung memberikan jalan kepada Edrea. Hingga akhirnya Edrea kini telah berdiri di depan mading tersebut yang ternyata tengah menginformasikan tentang gosip dirinya. Dengan di bumbui beberapa foto kebersamaan dirinya dengan kedua Abangnya.
__ADS_1
Edrea yang sudah membaca sekilas isi berita itu pun ia hanya memutar bola matanya malas, lalu setelahnya dengan hati yang masih panas, Edrea tak segan-segan untuk memukul kaca mading tersebut hingga pecah.
Leon yang melihat aksi nekat dari Edrea pun ia segera berlari menuju ke arah perempuan kesayangannya itu.
"Apa yang lo lakuin, Edne? Lo boleh marah, Lo juga boleh ngelarang gue buat tidak ikut campur masalah ini tapi jangan sampai lo ngelukain diri lo sendiri seperti ini," ucap Leon sembari melihat luka di tangan kanan Edrea yang sudah dipenuhi oleh darah itu.
Tapi ucapnya itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Edrea, bahkan ia kini melepas kertas yang tertempel di mading tadi lalu dengan langkah lebar Edrea kembali mendekati perempuan tadi yang sekarang tengah tersenyum sinis kepadanya.
Sedangkan Leon yang ucapannya hanya dianggap angin lalu oleh Edrea pun, ia memijit pangkal hidungnya.
"Kalau sudah begini, jangan salahkan gue kalau tuh perempuan akan habis di tangan calon istri," gumam Leon dan karena semua yang telah ia lakukan tak di dengar oleh Edrea, ia memilih untuk berdiri, bergabung dengan para penonton lainnya. Menyaksikan aksi perempuan kesayangannya itu. Tapi jika Edrea sudah dalam bahaya maka Leon akan bertindak dan ia tak akan peduli jika lawannya saat itu adalah perempuan, dia akan tetap menghabisinya.
"Jika tidak tau kebenarannya, jangan terlalu berasumsi yang berlebihan karena saat lo nanti tau kebenarannya, lo akan malu sendiri. Dan jika lo heran kenapa manusia model gue begini bisa diterima di sekolah ini? Gue juga sama herannya sama lo, bahkan jauh lebih heran lagi, kenapa ada setan modelan lo ini di ciptakan di dunia ini dalam wujud manusia? Dan gue tegasin sekali lagi sama lo, jika mau menyebarkan sebuah informasi yang merugikan satu pihak, tolong dicari tahu dulu lebih dalam sebelum bertindak," ucap Edrea sembari tersenyum miring kearah perempuan tadi saat ia melihat gerombolan motor dari kedua abangnya itu tengah memasuki area sekolah tersebut.
"Dan mungkin setelah ini, lo akan habis di tangan kedua laki-laki yang juga telah di rugikan karena ulah lo ini," ujar Edrea sembari menujuk kearah parkiran motor disekolah tersebut.
Disisi lain saat Azlan, Erland, Zea dan beberapa teman-teman kedua laki-laki itu baru turun dari motor, terlihat ponsel milik Azlan berbunyi yang menandakan sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
__ADS_1
📨 : Leon
"Kalian cepat masuk kedalam kerumunan orang-orang di sekitar loby. Edne lagi dapat masalah dan dia sekarang tengah terluka."
Azlan yang sudah membaca pesan dari Leon itu pun ia kini menatap ke arah kerumunan orang-orang tadi. Dan hal itu membuat dirinya mengepalkan tangannya.
"Er, masuk, ikut gue sekarang," ujar Azlan yang membuat Erland yang tadinya tengah memainkan ponselnya pun kini ia mengalihkan pandangannya kearah saudara kembarnya itu.
"Kemana? Gue lagi malas kalau harus buru-buru masuk ke kelas," tutur Erland.
"Bukan ke kelas tapi lihat situasi di dalam. Dan lo perlu tau kalau yang menjadi sumber tonton itu adalah Edrea. Dia sekarang ada masalah dan dia juga terluka," ujar Azlan yang membuat Erland kini menghentikan aktivitasnya tadi lalu dengan cepat ia memasukkan ponselnya di saku celana.
"Sialan, siapa yang sudah berani ganggu Rea?" geram Erland juga dengan kepalan tangannya.
"Dia berani buat Rea luka, maka hidup dia tidak akan pernah tenang," sambungnya dan setelah berucap seperti tadi, Erland kini berjalan menuju kerumunan orang-orang tadi diikuti oleh Azlan, Zea dan yang lainnya.
Dan saat semua orang telah melihat kedua laki-laki yang turut terlibat dalam masalah itu pun, mereka langsung membuka jalan untuk Azlan, Erland dan yang lainnya.
__ADS_1
"Astaga, Rea!" teriak Zea saat ia melihat darah yang terus mengalir dari tangan Edrea. Dan hal itu membuat semua orang kini mengalihkan pandangannya kearah sumber suara tadi. Dan Leon yang sudah melihat kedatangan kedua saudara kembar Edrea pun, ia langsung mendekati Edrea dan tangannya kini mengelus lembut lengan Edrea untuk memberikan ketenangan kepada gadis itu.
"Sudah ya marah-marahnya. Kita obatin dulu luka kamu itu dan biarkan Azlan dan Erland yang nanganin masalah ini," ucap Leon dengan lembut dan perlahan ia menarik Edrea menjauh dari hadapan perempuan tadi menuju ke pinggir. Jangan salah, walaupun Leon tadi hanya membiarkan aksi Edrea itu, tapi saat dia tau jika Edrea terluka, ia langsung berlari menuju ke ruang UKS di sekolah tersebut untuk meminjam kotak P3K untuk mengobati luka Edrea, karena ia tau perempuannya itu nanti tidak akan mau diajak ke UKS sebelum dirinya menyaksikan penyelesaian masalah tadi dengan mata kepalanya sendiri.