The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 352


__ADS_3

Zico perlahan mendudukkan tubuhnya di kursi yang sudah tersedia disamping brankar di ruangan tersebut dengan mata yang tak ingin melepaskan pandangannya dari titik fokus yang mencuri perhatiannya sedari tadi. Dan saat dirinya sudah duduk di kursi tadi, ia menghela nafas saat matanya beralih menatap kearah kening perempuan tersebut yang terbalut perban. Dan dengan perlahan, tangannya kini bergerak untuk menyentuh pelan perban tersebut.


"Maaf," gumamnya. Bohong jika dirinya sekarang tak menyesali perbuatannya yang mengakibatkan perempuan cantik itu terluka. Bahkan ia sempat berandai-andai, jika saja dirinya tadi tak melamun, pasti kejadian tadi tak terjadi dan perempuan yang sayangnya namanya saja belum ia ketahui itu sekarang tak terbaring di dalam ruangan serba putih itu. Dan kemungkinan jika ia tadi memfokuskan pandangannya, ia bisa bertemu dengan perempuan itu dalam kondisi jauh lebih baik dari pertemuannya saat ini. Tapi sayangnya itu hanya angan-angan Zico saja, dan lihatlah semua sudah terlanjur dan tak bisa di ulang lagi.


Tangan Zico terus mengelus perban di dahi perempuan tersebut hingga perlahan tangannya kini berpindah ke pipi kanan perempuan itu yang tampak lebam. Tapi baru saja ia menyentuh pipi tersebut, perempuan itu menggeliatkan tubuhnya.


Zico yang melihat hal tersebut pun langsung menjauhkan tangannya kembali dengan harap-harap cemas menunggu perempuan tersebut membuka matanya. Tapi sayangnya hal yang ia tunggu-tunggu tak kunjung juga ia lihat bahkan tubuh perempuan itu kembali tenang dengan mata yang masih setia tertutup.


Zico yang memperlihatkan perempuan itu sedari tadi pun ia kini mengerutkan keningnya.


"Ini orang gak pingsan lagi kan?" tanya Zico pada dirinya sendiri. Dan untuk memastikan ucapannya tadi, Zico mencoba menggenggam jari lentik dari perempuan tersebut dan perlahan memainkannya hingga beberapa saat gerakan dari tubuh perempuan itu kembali ia lihat dan hal tersebut membuat dirinya menghela nafas lega dan senyumannya bahkan kembali terbit di bibirnya.


Dan dengan usapan lembut di rambut perempuan tersebut, ia mendekatkan wajahnya hingga tepat di samping telinga perempuan itu, ia mulai berucap, "Selamat tidur peri cantik. Mimpi indah," ujarnya dan setelah mengucapkan hal tersebut Zico kembali menjauhkan tubuhnya dari samping wajah perempuan itu. Lalu setelah itu, ia mulai mengendarkan pandangannya menatap ke seluruh ruangan tersebut.


"Dia bawa ponsel atau identitas dia gak ya? Kasihan juga kalau keluarga dia nyariin nanti," gumam Zico dengan tatapan mata yang terus menyapu di sekitaran ruangan tersebut. Namun ia sama sekali tak mendapatkan apa yang sedari tadi ia cari.


"Apa mungkin ketinggalan di dalam mobil? Sepertinya iya." Zico kini mulai berdiri dari duduknya dan sebelum dirinya pergi dari ruangan tersebut, ia memanggil salah satu suster menggunakan salah satu tombol yang memang tersedia di ruangan tersebut. Hingga tak berselang lama, satu suster masuk kedalam ruang inap perempuan tersebut.


"Sus, saya minta tolong jagain dia dulu ya. Saya mau keluar sebentar," ujar Zico yang diangguki oleh suster tersebut.


Dan setelah mendapat persetujuan itu, Zico kini benar-benar pergi dari sana menuju ke tempat parkiran di rumah sakit tersebut.


Tapi lagi-lagi saat dirinya mengecek keseluruhan bagian dalam mobilnya ia sama sekali tak menemukan barang apapun selain barang miliknya. Dan hal tersebut membuat dirinya mendengus lelah.


"Kalau begini, gimana aku bisa kasih tau kelurganya sedangkan aku sendiri aja tidak tau dia siapa, Haishhhhh," gerutu Zico dengan mengacak rambutnya frustasi.


Dan karena ia sudah benar-benar tidak menemukan apapun, ia akhirnya kembali ke ruang kamar perempuan itu.


"Saya sudah selesai Sus, kalau mau melanjutkan pekerjaan suster, silahkan. Terimakasih," ujar Zico dengan mengulas senyumnya kepada suster yang telah membantunya untuk menjaga perempuan tersebut. Suster tersebut membalas senyumnya sebelum ia pergi dari hadapan Zico.


Dan saat suster terus pergi, satu hal yang Zico rasakan saat ini yaitu sunyi sepi. Di dalam ruangan itu seperti tak ada makhluk hidup di sana. Dan untuk mengalihkan rasa bosannya, Zico berniat memainkan ponselnya.


"Astaga, lowbat," ucap Zico yang baru sadar jika ponselnya sedari tadi mati kehabisan daya baterai. Dan berhubung dirinya tidak membawa charger ke kamar inap tersebut dan ia sangat malas untuk mengambilnya, akhirnya ia memilih untuk menuju ke salah satu sofa di ruangan tersebut dan mulai membaringkan tubuhnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang hari ini benar-benar terasa sangat lelah apalagi dengan pikirannya yang terus saja menggerogoti otaknya itu.


Dan saat dirinya sudah terlelap untuk menghilangkan bayang-bayang negatif yang menghantuinya itu, berbeda di rumah keluarga Abhivandya yang suasananya semakin tak kondusif.


"Mommy, Jio hiks," gumam Vivian sedari tadi dengan tangis yang tampak tersedu-sedu.


"Iya sayang. Jio pasti ketemu kok. Kamu tenang saja ya." Mommy Della yang terus memeluk tubuh Vivian kini semakin mengeratkan pelukannya.


Hingga beberapa saat setelahnya, terdengar langkah kaki yang memasuki rumah tersebut dan ternyata langkah kaki itu dari Azlan.


Vivian yang melihat Azlan telah kembali pun dengan cepat ia melepaskan pelukannya dari sang Mommy dan bergegas menghampiri Azlan.


"Dimana Jio? Dia sudah kembali kesini kan?" Azlan yang mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Vivian pun ia mengigit bibir bawahnya. Ia sangat takut mengatakan perkiraan dari penemuannya tadi.


"Az. Jawab pertanyaan Kakak. Jio sudah kamu temukan kan? Dia sekarang sudah kembali kesini kan?" ulang Vivian dengan mengguncang-guncangkan lengan Azlan.

__ADS_1


"Kak," panggil Azlan sembari memegang kedua tangan Vivian yang berada di lengannya itu. Lalu setelahnya ia menarik tangan tersebut untuk menjauh dari lengannya.


"Kita duduk dulu ya," ajak Azlan dan berniat untuk menuntun Vivian kembali duduk di salah satu sofa di ruangan tersebut. Namun sayang, Vivian tak bergeming di tempatnya dan sekuat tenaga dirinya menahan tubuhnya agar tak mengikuti tarikan dari Azlan tadi.


"Gak, hiks. Aku gak mau duduk. Aku maunya Jio. Jio sekarang dimana? Katakan Az!" Azlan memejamkan matanya saat suara Vivian mulai meninggi. Dan dengan helaan nafas, Azlan akhirnya melepaskan genggaman tangannya tadi dari lengan Vivian.


Dan dengan menatap lekat wajah Vivian, Azlan mulai berucap, "Maaf Kak. Azlan tidak menemukan dia. Tapi saat Azlan, Erland sama Leon menelusuri keberadaan Jio. Kita menemukan salah satu hal yang kemungkinan ini berhubungan dengan Jio."


"Kemungkin apa maksud kamu? Katakan Az dan tolong jangan berbelit-belit," pinta Vivian.


"Saat kita tadi menelusuri setiap jalanan, kita menemukan satu kejadian yang mungkin saat kita bertiga melewati lokasi itu, kejadian itu baru beberapa menit terjadi," ucap Azlan.


"TO THE POINT, AZ!" geram Vivian. Azlan yang mendengar teriakan lantang dari Vivian itu pun ia sempat terkejut tapi sesaat setelahnya ia menormalkan kembali detak jantungnya yang sempat terpacu kencang.


"Kejadian apa yang kamu maksud, Az?" Kini Mommy Della itu menimbrung percakapan kedua anaknya itu.


"Kecelakaan." Jawaban dari Azlan itu mampu membuat semua orang disana terkejut bukan main apalagi Vivian yang sekarang tubuhnya mulai limbung, tapi untungnya Azlan yang berada di dekat perempuan itu dengan sigap menangkap tubuh Vivian agar tak jatuh mencium lantai.


"Ke---kecelakaan?" beo Vivian dengan suara yang benar-benar terdengar lemah.


"Kakak tenang dulu. Itu semua cuma perkiraan kita bertiga. Dan untuk memastikan semuanya, Erland sama Leon sekarang lagi menuju ke rumah sakit terdekat di daerah itu. Jadi kita sekarang nunggu kabar dari mereka dan Kakak harus tenang dulu, oke. Jangan kayak begini. Kalau sampai nanti saat Jio berhasil kita temukan, takutnya kita semua dapat amukan dari dia saat melihat keadaan Kakak kayak gini. Emangnya Kakak mau Jio jadi jahat lagi? Dan apa Kakak juga mau lihat Jio menyakiti keluarga Kakak sendiri?" Dengan keadaan lemah Vivian menggelengkan kepalanya.


"Nah kalau Kakak gak mau semua yang aku katakan tadi terjadi, Kakak harus berhenti nangis dan tenangkan pikiran Kakak. Coba untuk berpikir positif tentang Jio. Kakak bisa kan?" Vivian tampak terdiam. Bagaimana bisa ia harus tenang dengan pikiran yang positif jika kabar yang di berikan oleh Azlan tadi benar-benar tak mengenakan di dengar siapapun.


Azlan yang melihat keterdiaman dari Vivian pun perlahan ia menuntun Vivian menuju ke salah satu sofa disana dan mendudukkan tubuhnya dan tubuh Vivian di sofa tersebut. Bahkan ia tak segan-segan untuk memeluk tubuh Kakak kandungnya itu.


Disisi lain, Leon dan Erland kini telah sampai di rumah sakit yang ke tiga. Ya, mereka telah mencari Zico ke beberapa rumah sakit tapi hasilnya selalu saja nihil. Dan rumah sakit yang ia datangi kali ini adalah rumah sakit terakhir yang dekat dengan lokasi kejadian yang sempat mereka lewati tadi.


"Jika di sini kita gak nemuin Jio. Terpaksa kita harus pulang dulu. Dan pencariannya kita lanjutkan besok," ujar Erland yang diangguki setuju oleh Leon sembari terus berjalan menuju kearah suster yang menunggu tempat pendaftaran.


"Maaf mengganggu sebentar, Sus," ucap Erland membuat suster yang tadinya tengah sibuk dengan komputer di depannya pun kini penglihatannya ia alihkan kearah Erland.


"Iya, bisa saya bantu Kak?" tanya suster tersebut.


"Saya mau tanya, apakah disini ada pasien yang bernama Zico?"


"Tunggu sebentar ya Kak. Saya carikan dulu." Erland menganggukkan kepala untuk menimpali ucapan dari suster tersebut yang sekarang tengah mengotak-atik komputer di depannya.


Hingga beberapa saat setelahnya mata suser tadi kembali menatap kearah Erland.


"Maaf Kak, nama lengkapnya kalau boleh tau siapa ya. Masalahnya disini ada dua Zico," ujar suster tadi yang membuat Erland menggaruk tengkuknya. Ia tak tau nama lengkap Zico siapa. Dan hal tersebut membuatnya bingung sendiri.


"Lo tau gak nama lengkap dia siapa?" tanya Erland yang ia tujukan kepada Leon yang sedari tadi hanya diam saja.


"Lo aja gak tau, apalagi gue," jawab Leon yang membuat Erland kini menghela nafas panjang.


"Ck, terus gimana dong?" keluh Erland. Leon tampak terdiam, ia juga tak tau harus gimana sekarang.

__ADS_1


"Jadi nama asli orang yang Kakak cari siapa?" Pertanyaan dari suster tersebut membuat keduanya kini saling tatap sebelum mereka berdua dengan kompak menghela nafas berat.


"Kita berdua tidak tau nama panjang dia siapa Sus. Tapi gini saja diantara dua nama itu yang merupakan pasien dari kejadian tabrakan yang mana ya?" tanya Leon.


"Hmmmm setau saya, mereka berdua hanya sakit medis bukan karena kecelakaan," ujar suster tadi.


"Oh begitu ya Sus. Ya sudah kalau begitu kita berdua pamit dulu. Maaf karena sudah mengganggu pekerjaan suster. Terimakasih dan selamat malam," ucap Erland yang di balas anggukan serta senyuman dari suster tadi.


Dan dengan langsung lelah kedua orang tadi mulai keluar dari rumah sakit tersebut menuju ke arah parkiran mobil di sana.


"Kalau kita pulang dan belum bisa nemuin Jio. Yakinlah Kak Vi pasti tambah kepikiran sama dia nanti," ucap Erland dengan membayangkan kesedihan di raut wajah perempuan tersebut.


"Ya mau gimana lagi. Kalau kita lanjut cariin dia yang ada kita nanti gak tidur. Ini juga sudah jam 11 malam," ujar Leon sembari menepuk-nepuk pundak Erland untuk memberikan semangat kepada calon Kakak iparnya yang kini tampak kehilangan semangat hidup itu.


Dan saat mereka berdua hampir saja masuk kedalam mobil masing-masing, mata Erland yang awalnya sayu, kini kembali terbuka lebar saat melihat sebuah mobil yang sangat familiar tak jauh dari tempatnya saat ini.


Pintu mobil yang awalnya sudah terbuka, kembali Erland tutup dengan kasar. Lalu kemudian ia berlari mendekati mobil yang ia lihat tadi. Dan apa yang Erland lakukan itu, tak luput dari pandangan Leon yang sekarang tengah mengernyitkan dahinya.


Saat Erland sudah berada di depan mobil tersebut, ia memperlihatkan plat mobil tersebut dengan seksama.


"Leon!" teriak Erland menggema memenuhi parkiran tersebut yang membuat Leon kini menggerakkan kakinya mendekati laki-laki tersebut.


"Ck, apaan? Lain kali kalau mau manggil gue jangan teriak-teriak. Lo pikir gue budek apa?" geram Leon dengan mengelus telinganya yang berdengung karena ulah Erland tadi.


"Ck, jangan protes dulu. Lihat mobil nih. Lo ingat kan ini mobil siapa?" ujar Erland dengan menunjuk kearah mobil tadi.


Leon mengikuti arah tunjuk Erland.


"Mana gue tau ini mobil punya siapa. Lagian yang punya mobil kayak gini kan banyak. Masak iya gue harus cari tau satu persatu siapa orang di seluruh Indonesia ini yang punya mobil kayak gini dan hafalin satu-satu nama mereka," ucap Leon yang langsung mendapat geplakan di kepalanya oleh Erland.


"Goblok, lihat tuh di plat mobilnya bukan di bodynya," geram Erland yang tak habis pikir dengan calon adik iparnya itu.


Leon yang mendapat geplakan itu, ia sempat meringis kesakitan tapi sesaat setelahnya ia memilih untuk mengikuti perintah dari Erland tadi.


"Hmmmm sepertinya plat mobil ini gak asing," gumam Leon yang masih memperhatikan jejeran nomor polisi didepannya itu.


"Ahhhhh gue tau ini mobil punya siapa," ujar Leon.


"Punya siapa coba?"


"Punya Jio kan?" Erland yang mendengar jawaban dari Leon yang sangat tepat sekali pun ia kini menjentikkan jarinya.


"Pintar sekali," ujar Erland.


"Terus kalau mobil Jio ada disini berarti?" sambungnya.


"Jio juga ada disini lah." Lagi dan lagi Erland menjentikkan jarinya untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Benar sekali. Maka dari itu jangan lama-lama lagi. Kita cari dia di rumah sakit ini. Jangan biarkan dia kabur lagi," ujar Erland penuh semangat. Kemudian ia mulai berjalan menuju ke dalam rumah sakit itu kembali, diikuti oleh Leon di belakangnya.


Dan di tengah perjalanan mereka berdua tiba-tiba saja Erland memiliki firasat yang nantinya akan membuat dirinya kesal setengah mati, dan hal tersebut membuat dirinya kini mulai membatin,"Kalau sampai gue nemuin lo dalam keadaan sehat, siapa-siapa aja, gue bakal kasih Lo pelajaran, Jio. Karena Lo udah bikin orang satu rumah panik dan bikin gue begadang seperti ini. Mana besok gue harus ke kantor bokap lagi, sialan!" batin Erland menjerit lelah saat ia mengingat jika dirinya sekarang sudah mendapat tugas yang cukup berat. Dan jika ia begadang seperti ini sudah di pastikan dirinya besok bangun kesiangan dan berakhir ia juga akan telat pergi ke kantor Daddy Aiden yang tentunya akan mendapat ceramah panjang lebar dari bapak negara itu. Dan semua itu tak luput dari seorang Jio yang dengan seenak jidatnya main kabur-kaburan seperti seorang perawan yang tengah merajuk karena tak di izinkan untuk membeli seperangkat alat makeup. Menyebalkan!


__ADS_2