
"Hay Kak Alice. Apa kabar? Aku kira waktu itu Kak Alice sudah tidak bisa diselamatkan tapi ternyata Kak Alice bisa berjuang untuk bertahan hidup. Syukurlah kalau begitu," ucap Leon yang membuat Alice kini menatap kearahnya.
"Oh ya Kak Alice memangnya tidak rindu denganku? Tidak mau peluk aku?" sambung Leon sembari tersenyum kearah perempuan tersebut yang kini berlari kearahnya lalu setelahnya ia memeluk tubuh Leon.
"Maafin Kakak, El," ucap Alice.
"Untuk apa Kakak minta maaf? Kakak tidak memiliki salah apapun dengan El," ujar Leon dengan membalas pelukan dari perempuan tersebut.
"El justru bersyukur karena Kakak bisa bertahan hidup disaat sudah sekarat. Dan justru El yang harus meminta maaf kepada Kakak karena tidak bisa menyelamatkan Kakak dan keluarga Kakak. Jika saja El waktu itu tidak telat, mungkin keluarga Kakak masih ada di dunia ini dan Kakak tidak perlu berjuang melawat kematian yang sudah ada didepan mata. Oh ya El juga berterimakasih ke Kakak karena sudah membunuh si bajingan itu," sambung Leon yang tak peduli jika ucapannya tadi melukai salah satu orang disana.
Dan setelah mengucapkan hal tersebut Leon melepaskan pelukannya kemudian menatap wajah perempuan tersebut.
"Terimakasih sudah bertahan Kak," ujar Leon yang di angguki oleh Alice. Lalu setelahnya Leon kini menatap kearah Edrea.
"Sayang sini," ucap Leon yang membuat Edrea menunjuk dirinya sendiri sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju ke sisi lainnya di brankar Leon.
"Kak kenalin ini perempuan yang dulu sering El ceritakan ke Kakak. El dulu pernah berjanji dengan Kakak kalau mau mengenalkan dia tapi waktu itu keadaan justru kacau balau akhirnya El tidak bisa membawa dia dan mengenalkannya kek Kakak. Tapi sekarang El akan memenuhi janji El. Kak Alice kenalin ini Edrea kekasihku sejak kecil sampai sekarang," ucap Leon yang membuat kedua perempuan yang tengah berhadapan dan hanya terhalangi brankar Leon di tengah-tengah keduanya pun mereka saling tatap dan melempar senyum satu sama lain sebelum Alice mengulurkan tangannya yang langsung di balas oleh Edrea.
"Alice," ucapnya.
"Edrea," balas Edrea.
"Gimana cantik kan pacar aku?" sombong Leon.
"Iya cantik sekali. Sangat cantik malah," puji Alice yang membuat Edrea tersipu malu.
"Nah kan Kakak saja mengakui kalau dia cantik makanya El mau memiliki dia seumur hidup El," ujar Leon yang membuat Alice menganggukkan kepalanya sedangkan keempat orang yang masih berdiri jauh dari brankar Leon yang merupakan keluarga Abhivandya hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Oh ya, sayang. Kamu pasti penasaran siapa dia kan? Dia seseorang yang aku ceritakan waktu kamu tanya siapa Callie sebenarnya," ujar Leon yang membuat Edrea melebarkan matanya sedangkan Alice mengerutkan keningnya.
"Kamu cerita apa tentangku? Dan kenapa aku di sangkut pautkan dengan anak kalian?" tanya Alice.
"Callie memang anakku dengan Edrea tapi hanya anak angkat sedangkan Kakak dan si penurut ini adalah orangtua kandungnya," ucap Leon sembari melirik kearah Azzo yang tengah mengerutkan keningnya.
Sedangkan Alice, ia kini melongo tak percaya. Jadi anak yang dulu pernah ia lahirkan ternyata masih hidup di dunia ini. Ia pikir dulu saat ia menitipkan anaknya kepada Leon, anaknya itu akan di bunuh juga oleh tuan Grissham tapi tak ia sangka ternyata Leon yang dulunya masih kecil sangat pintar sekali menyembunyikan keberadaan Callie dan Leon juga membuktikan janjinya yang dulu pernah laki-laki itu ucapkan kepadanya untuk selalu melindungi Callie. Dan karena ia mengingat di masa-masa sulitnya itu juga rasa haru yang menyerangnya saat ini, Alice tak bisa lagi untuk membendung air matanya hingga tanpa permisi cairan bening itu menetes juga.
Sedangkan Azzo yang belum paham dengan ucapan dari Leon tadi pun ia mulai angkat suara.
"Apa maksud dari ucapanmu tadi?" tanya Azzo yang lagi-lagi mendapat lirikan mata dari Leon.
"Sepertinya kamu sudah cukup pintar untuk mengerti apa yang aku ucapkan tadi jadi aku tidak perlu untuk mengulanginya lagi," ujar Leon yang masih terlihat sebal dengan laki-laki yang merupakan Kakak kandungnya itu.
Dan tatapan mata Azzo kini menatap kearah Alice yang tengah terduduk di brankar Leon.
"Alice, katakan apa yang dimaksud oleh El tadi," ucap Azzo dengan memegang kedua lengan Alice.
"Ca---Callie itu anak kandung kita Zo," jawab Alice dengan terbata-bata yang membuat Azzo kini membeku di tempat.
__ADS_1
"Jadi anak kita masih hidup?" Alice menganggukkan kepalanya dan dengan seketika Azzo memeluk tubuh perempuan tersebut.
"Maaf," satu kalimat yang keluar dari bibir Azzo bahkan laki-laki itu kini meneteskan air matanya.
"Maaf karena aku tidak becus menjadi suami serta ayah untuk kamu dan Callie. Maaf aku tidak bisa melindungi kalian berdua. Aku benar-benar bodoh hanya karena ancaman dari bajingan itu aku sampai meninggalkan kamu begitu saja dengan Callie tapi ternyata ancaman itu juga dilakukan oleh si brengsek itu. Aku menyesal, maafkan aku," sambung Azzo.
"Jangan minta maaf ke aku tapi ke Callie. Kamu tidak memiliki salah apapun ke aku tapi kita berdua memiliki salah yang begitu besar kepada Callie," ujar Alice sembari melepaskan pelukannya tadi. Lalu setelahnya ia menolehkan kepalanya kearah Leon yang tengah tersenyum kearah mereka berdua.
"El, terimakasih karena berkat kamu, Callie masih ada di dunia ini," ucap Alice yang justru mendapat gelengan kepala oleh Leon.
"Kakak jangan berterimakasih kepadaku karena sebenarnya yang merawat Callie dari kecil itu adalah mereka." Leon kini menunjuk kearah Daddy Aiden dan Mommy Della yang masih berada di ruangan tersebut. Dan kedua orang itu kini mengikuti arah tunjuk dari Leon tadi.
"Leon hanya membantu mereka sedikit saja," sambung Leon.
Dan karena ucapannya tadi Alice dan Azzo kini melangkahkan kakinya menuju Daddy Aiden dan Mommy Della yang tampak mengeluarkan senyum canggungnya.
"Kenapa Leon harus ngebut kita segala sih?" bisik Daddy Aiden kepada Mommy Della.
"Iya ih kan kita malu jadinya," balas Mommy Della.
Dan saat kedua pemuda itu berdiri didepan Mommy Della dan Daddy Aiden, mereka langsung membungkukkan badannya.
"Terimakasih atas kebaikan tuan dan nyonya yang dengan lapang dada dan dengan tangan terbuka mau merawat Callie. Jika saya harus mengganti semua biaya yang telah tuan dan nyonya keluar kan untuk anak kami, kita akan menggantinya saat ini juga," ucap Azzo dengan tubuh yang masih membungkuk.
Daddy Aiden dan Mommy Della yang melihat hal tersebut pun keduanya saling pandang satu sama lain sebelum mereka bergerak untuk menegakkan kembali tubuh kedua orang yang ada di depannya itu.
"Sudah, kalian tidak perlu membungkukkan badan kalian lagi. Ucapan terimakasih kalian kita terima tapi tidak dengan uang yang kalian maksud tadi untuk menggantikan biaya yang kita keluarkan untuk Callie. Callie selama ini sudah saya anggap seperti anak kita sendiri jadi semua yang dia butuhkan akan kita penuhin tanpa rasa pamrih ataupun penyesalan sama sekali. Kita ikhlas merawat Callie dan kita juga ikhlas membantu kalian berdua," jelas Daddy Aiden yang diangguki oleh Mommy Della.
"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas semua kebaikan hati tuan dan nyonya. Kita hanya bisa mengucapakan terimakasih saja dan biarkan Tuhan yang membalas kebaikan tuan dan nyonya," ujar Azzo sembari membungkukkan tubuhnya kembali diikuti oleh Alice tapi kali ini mereka hanya beberapa detik saja sebelum akhirnya mereka menegakkan kembali tubuhnya. Dan ucapan dari Azzo tadi dibalas dengan anggukan kepala serta senyuman dari Daddy Aiden dan Mommy Della.
"Kalau begitu izinkan kita bertemu dengan Callie," ucap Azzo lagi.
"Silahkan," ujar Daddy Aiden mempersilahkan kedua orang tersebut menyusul Callie yang entah dibawa kemana oleh Erland tadi. Dan setelah mendapat persetujuan dari mereka berdua, Azzo dan Alice langsung bergegas menuju pintu keluar tapi saat mereka ingin membuka pintu ruangan tersebut, suara Leon menghentikan keduanya.
"Ketemu boleh tapi jangan dibawa kabur. Callie juga anak aku soalnya!" teriak Leon.
"Bodoamat," balas Azzo dan tanpa menunggu balasan dari Leon yang ia yakini laki-laki itu akan mengumpati dirinya habis-habisan itu, Azzo lebih dulu membuka pintu tersebut dan dengan menggenggam tangan Alice, ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
"Sialan!" umpat Leon yang langsung mendapat pukulan di lengannya dari Edrea.
"Ish sakit tau sayang. Kamu mah KDRT mulu dari tadi. Tau ah aku ngambek sekarang," ucap Leon.
"Gak ada acara ngambek-ngambekan segala. Malu tau dilihat sama Mommy kamu," tutur Edrea dengan suara lirih.
"Bodoamat aku gak peduli. Mau ada pak presiden sekalian kalau mau ngambek ya ngambek aja ngapain malu," ucap Leon dengan kerucutan di bibirnya dan terdengar suaranya juga begitu ketusnya.
"Ck, ya udah ngambeknya dipending dulu. Biar Mommy kamu bicara sama kamu. Kalau udah kelar permasalahan kamu sama keluargamu, kamu mau ngambek sampai bulan depan terserah," ujar Edrea.
__ADS_1
"Gak ada hal yang penting buat di bicarakan sama dia," tutur Leon.
"Ish El, gak boleh gitu. Itu Mommy kamu sendiri lho. Kualat baru tau rasa kamu," ucap Edrea yang membuat Leon berdecak sebal sebelum akhirnya ia memulai bersuara kepada Mommy Elia walaupun tanpa menatap kearah perempuan tersebut.
"Mau bicara apa? Buruan karena saya tidak punya waktu lebih untuk mendengarkan pembicaraan anda," tutur Leon yang lagi-lagi mendapat geplakan dari Edrea.
"El, gak boleh gitu," ujar Edrea.
"Sudah tidak apa-apa Rea. Biarkan saja dia bersikap seperti itu karena saya memang banyak salah kepada dia," ucap Mommy Elia menengahi sepasang kekasih itu.
"Tuh dengar sendiri. Dianya aja gak masalah aku begini kenapa kamu yang ngomel mulu dari tadi," timpal Leon.
"Aku hanya mengingatkan biar kamu tidak jadi anak durhaka dan biar restu dari Mommy kamu yang sudah kita pegang dibatalkan sama beliau," ujar Edrea yang membuat Leon kini menatap kearah Edrea.
"Kita sudah dapat restu dari dia?" Edrea menganggukkan kepalanya.
"Iya, makanya bersikaplah baik ke Mommy kamu sebelum restu itu hangus gitu aja. Memangnya kamu mau hubungan kita berjalan tanpa adanya restu? Kalau aku sih gak mau dan milih buat putus aja karena perlu kamu tau restu orangtua itu penting buat sebuah hubungan apalagi hubungan yang memiliki niatan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Restu itu harus ada dan sangat penting bagiku. Tapi kalau kamu menganggap remeh restu itu dan memilih untuk terus mengedepankan ego kamu, juga terus bersikap seperti ini yang mengakibatkan restu kita hilang. Aku tidak akan segan-segan buat memutuskan hubungan ini," ucap Edrea.
"Lho kok gitu. Kamu lagi ngancam aku ini?"
"Iya, memangnya kenapa? Kalau kamu masih mau egois seperti ini, ya sudah lo-gue end mulai sekarang," ujar Edrea yang membuat Leon membelalakkan matanya.
"Gak, gak mau. Aku gak mau putus sama kamu sayang," ucap Leon sembari menggelengkan kepalanya. Bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Kalau gak mau putus jangan egois makanya. Jangan ketus lagi sama Mommy kamu," tutur Edrea.
"Tapi---"
"Oh ya udah kita pu---" belum sempat Edrea melanjutkan ucapannya, Leon lebih dulu memutus perkataannya.
"Iya-iya aku nurut sama kamu. Aku gak akan egois lagi. Tapi aku mohon jangan mutusin aku," pinta Leon dengan puppy eyesnya.
"Oke, aku gak akan mutusin kamu kalau kamu benar-benar bisa merubah sikapmu itu," ujar Edrea yang langsung diangguki oleh Leon.
"Ya udah kalau gitu tunggu apa lagi, bersikap baik sama Mommy kamu," sambung Edrea yang membuat Leon kini merubah posisi berbaringnya agar ia mudah untuk melihat Mommy Elia yang masih berdiri di samping kanannya.
Dan tingkah Leon tadi tak luput dari penglihatan keempat orang dari keluarga Abhivandya yang tengah menahan tawa mereka. Orang segarang Leon bisa tak berkutik juga dihadapan Edrea ternyata, batin mereka.
Sedangkan Leon yang kini sudah berhasil merubah posisi tidurnya dan sudah beradu pandang kearah perempuan tersebut, Leon langsung merentangkan kedua tangannya. Kode jika perempuan tersebut sudah diperbolehkan untuk memeluk dirinya.
Mommy Elia yang paham atas kode itu pun ia tak membuang kesempatan tersebut sehingga dirinya kini langsung bergerak untuk memeluk tubuh Leon.
"El maafin Mommy. Tapi kesalahan yang Mommy dulu buat jangan diulangi lagi. Jika Mommy ulangi, jangan harap Mommy mendapat maaf dari El sampai kapanpun bahkan sampai El mati, El tidak akan pernah memaafkan Mommy," ujar Leon.
"Iya sayang. Mommy tidak akan mengulangi kesalahan Mommy. Maafkan Mommy ya nak, maaf," tutur Mommy Elia yang langsung diangguki oleh Leon.
"Iya El maafin Mommy. Btw El rindu sama Mommy tau. Jika Mommy tidak menyebalkan, El tadi pasti langsung minta peluk sama Mommy. Tapi berhubung El sekarang sudah tidak marah lagi sama Mommy, El bisa minta peluk Mommy. I Miss you," ucap Leon dengan mencium singkat pipi Mommy Elia sebelum ia kembali memeluk tubuh perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"I Miss too, sayang," balas Mommy Elia dengan memberikan kecupan singkat untuk Leon sebelum dirinya kini mengalihkan pandangannya kearah Edrea yang tengah tersenyum kearah dirinya dengan mengacungkan jari jempolnya sembari mengedipkan sebelah matanya. Dan hal tersebut membuat Mommy Elia tersenyum kearah perempuan yang merupakan kekasih putranya itu.
"Terimakasih." Satu kata itu yang terucap dari pergerakan bibir Mommy Elia tadi yang diangguki oleh Edrea dengan senyuman yang tak pernah luntur di bibir gadis itu.