
Edrea masih terdiam tak ingin menjawab perkataan dari kedua saudara kembarnya itu yang tengah menatap intens kearahnya.
"Edrea!" gertak Azlan yang sudah muak dengan diamnya Edrea.
Edrea semakin dalam menundukkan kepalanya.
"Kalau lo gak mau jawab. Gue akan selidiki semuanya sendiri dan mulai detik ini juga lo gue antar jemput dan mulai hari ini uang bulanan dari gue akan berhenti," ucap Erland final.
Edrea yang mendengar hal tersebut kini memberanikan diri untuk menatap kedua Abangnya.
"Gue juga akan berhentiin kartu kredit lo. Gue akan sita semua fasilitas yang lo punya," tutur Azlan yang ikut mengancam Edrea.
Edrea menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Jangan dong bang. Kalau semua fasilitas Rea Abang sita, Rea gak akan bisa hidup," jawab Edrea dramatis.
"Mau lo hidup atau gak, keputusan kita berdua gak bisa lo ganggu gugat kalau lo gak cerita yang sebenarnya," tutur Azlan.
Edrea lagi-lagi terdiam. Sebenarnya ia tak ingin menceritakan masalahnya tadi malam dengan siapapun. Apalagi dengan keluarganya. Jika keluarganya itu tau terutama sang Daddy, bisa-bisa dirinya akan hidup dibawah pantauan orangtuanya juga kedua saudara kembarnya. Ditambah lagi pasti ada bodyguard yang selalu berada disisinya dan hal itu bisa membuka rahasia yang telah Edrea sembunyikan dari teman-temannya tentang keluarganya. Haish membayangkannya saja sudah membuat Edrea stress sendiri apalagi hal itu sampai terjadi, bisa-bisa Edrea masuk rumah sakit jiwa kali.
"Gue kasih waktu 5 detik. Kalau lo gak mau cerita, it's oke, gak masalah. Kita gak akan maksa lagi tapi ingat saat gue tau kebenarannya, lo gak akan bisa kemana-mana lagi. Seperti lo hidup bagaikan burung didalam sangkar," ucap Erland.
Edrea kini tampak menghela nafas panjang kemudian ia menegakkan kepalanya kembali.
"Oke, Rea akan cerita," ucap Edrea akhirnya.
"Jadi Rea tadi malam tuh main ke salah satu cafe karena dirumah gak ada siapa-siapa saat Rea pulang dari latihan band. Ditambah Rea juga suntuk dirumah alhasil Rea pergi ke cafe itu pakai mobil bang Erland karena mobil Rea bannya bocor. Saat Rea berangkat gak ada hal yang mencurigakan dan aman-aman aja karena Rea milih jalan yang lumayan rame. Tapi sayang saat Rea pulang dari cafe itu dan memilih jalan yang sangat sepi karena Rea pikir lewat jalan itu cepat sampai dirumah. Rea juga kalau ke cafe itu pulangnya pasti lewat jalan itu yang menurut Rea aman-aman aja makanya Rea berani. Bukan kayak tadi malam saat Rea sampai di jalan yang sangat sepi tiba-tiba ada mobil yang ngikutin Rea. Awalnya Rea kira itu mobil pengendara lain yang juga memilih jalan itu, tapi semakin Rea perhatikan lagi, mobil itu semakin lama semakin menyusul Rea dan saat mobil itu disamping mobil bang Erland, penumpang yang berada di samping kemudi menurunkan kaca mobilnya tapi hanya sedikit dan menyodorkan pistol ke arah Rea."
Azlan dan Erland sempat melebarkan matanya saat mendengarkan cerita Edrea tadi. Kemudian mereka berdua menghampiri Edrea.
"Lo gak ada yang luka kan?" tanya Erland sembari memutar tubuh Edrea untuk mencari apakah ada luka di tubuh sang adik.
"Ck, pusing lah bang. Cerita Rea juga belum selesai. Dengerin dulu ih," geram Edrea sembari menghentakkan kakinya.
Erland melepaskan tangannya dari tubuh Edrea.
"Lanjutkan," ucapnya.
__ADS_1
"Ck, tadi aja kayak singa sekarang dah kayak panda," gerutu Edrea.
"Lanjutin buruan," gertak Azlan.
Edrea mencebikkan bibirnya tapi ia berancang-ancang untuk melanjutkan ceritanya yang sempat terputus itu.
"Nah saat penjahat itu udah narik pelatuk pistolnya, Rea bisa menghindar dan alhasil peluru itu meleset jauh dari sasaran. Tapi mereka terus saja ngikutin Rea dengan tembakan yang terus mengarah ke mobil bang Erland."
"Kenapa lo gak telepon orang rumah?" tanya Azlan.
"Abang ih, dengerin dulu. Arkh jadi kesel sendiri kan gue," ucap Edrea yang sudah mulai kesal dengan kedua Abangnya yang selalu memutus ceritanya.
"Oke-oke lanjut," tutur Azlan.
"Sampai mana coba Rea tadi ceritanya, lupa kan jadinya. Abang sih. Kalau Rea lagi cerita itu dengerin dulu lah ah elah, nyebelin," kesal Edrea.
"Oke, maaf," ucap Azlan.
"Ck, kasih tau buruan sampai mana Rea cerita tadi!" ucap Edrea.
"Sampai mereka ngikutin lo dengan tembakan yang terus mengarah ke mobil gue," tutur Erland.
Disetiap cerita yang Edrea sampaikan tadi, Azlan maupun Erland sudah mengepalkan tangannya.
"Orang misterius?" Edrea menganggukkan kepalanya.
"Siapa orang itu?" tanya Erland.
"Ya Allah bang. Rea tadi kan bilang gak tau siapa orangnya. Kalau Rea tau, Rea gak bakal sebut orang itu dengan sebutan orang misterius. Gimana sih, kesel sendiri gue jadinya," tutur Edrea.
Erland kini hanya mengangguk menanggapi ucapan Edrea tadi.
"Lo ingat nomor mobil itu?" tanya Azlan.
"Rea gak ingat dan disana juga pencahayaannya minim banget," jawab Edrea.
"Oh ya awalnya Rea juga berniat untuk nelpon Abang tapi Rea gak sempat dan takut konsentrasi Rea terbagi yang akhirnya akan membuat mereka dengan mudah mengalahkan Rea. Tapi bang Az dan bang Er tenang aja, penjahat itu udah masuk ke dalam jurang kok," sambung Edrea.
__ADS_1
"Masuk dalam jurang?" Edrea menganggukkan kepalanya.
"Tapi anehnya gak ada berita tentang hal itu tadi pagi. Biasanya kan kalau ada kecelakaan dan sebagainya langsung masuk berita tapi kali ini kok gak ya?" tutur Edrea penasaran. Walaupun jika penjahat itu ditemukan tim kepolisian dan membuat Edrea akan menjadi saksi, Edrea sudah siap untuk memberikan saksi dan bercerita apa adanya. Tapi sayangnya sejak tadi subuh ia menunggu berita itu, tak ada satupun stasiun televisi, koran dan web yang biasanya merangkum berita-berita tak menampilkan kasus ini.
"Katakan dimana jurang itu berada!" perintah Erland.
"Dijalan Cempaka putih blok C," jawab Edrea.
Azlan dan Erland sama-sama mengangguk.
"Kita ke lokasi itu. Lo juga harus ikut," ucap Azlan.
"Gak mau. Abang aja yang kesana. Habis ini Rea mau berangkat sekolah," tolak Edrea.
"Lo mau berangkat sekolah pakai apa?"
"Pakai mobil Mommy lah."
"Mobil Mommy, gue pakai," tutur Erland.
"Gak bisa gitu dong. Orang Rea duluan yang pinjam."
"Mau lo atau gue duluan, pokoknya gue yang bawa. Lo berangkat sama gue." Edrea berdecak setelah mendengarkan penuturan dari Erland tadi.
"Abang kan bisa pakai motor Abang," rengek Edrea.
"Mata lo gak lihat barang bawaan gue segini banyaknya," tutur Erland.
"Ya kalau gitu Abang nebeng aja sama bang Azlan."
"Gak bisa," ucap Azlan dan juga Erland serempak.
"Jangan protes mulu. Waktu kita mepet. Mau gak mau Lo harus berangkat bareng gue," ucap Erland kemudian ia bergegas untuk masuk kedalam rumah untuk mengambil kunci mobil milik sang Mommy.
Setelah mendapatkan kunci itu, Erland segera menuju ke garasi kembali dan langsung mengemasi barang-barang yang ia bawa nanti dan menaruhnya di bagasi.
"Naik buruan!" ucap Erland saat dirinya sudah mau masuk kedalam mobil tersebut.
__ADS_1
Edrea mendengus kesal kemudian ia menghampiri mobil Mommy Della dengan hentakan kaki di setiap jalannya.