
Azlan terdiam, apakah ucapannya tadi memang menyakiti hati Zea? Jika iya, dia benar-benar menyesal dan jika bisa ia akan menarik semua perkataannya tadi.
Ia menghela nafas dan melirik ke arah Zea yang masih menundukkan kepalanya.
"Ze," panggil Azlan.
Zea yang di panggil tak langsung menatap kearah Azlan melainkan ia semakin menundukkan kepalanya.
"Zea," ulangnya dan matanya telah menatap wajah Zea dari samping walaupun wajah tersebut tertutupi oleh rambut Zea. Bahkan mobil yang ia kendarai sudah menepi dari tengah jalan.
"Maaf kalau ucapan gue tadi bikin lo sakit hati dan tersinggung," ucap Azlan.
Zea menghentikan tangannya yang tadi ia gunakan untuk meremas rok seragamnya.
"Ze, gue tadi gak bermaksud begitu," tutur Azlan kembali.
"Gue benar-benar minta maaf Ze," sambungnya.
Tubuh Zea tampak bergetar dan perlahan ia menatap wajah Azlan dengan linangan air mata.
"Hiks, Lo gak salah Az hiks," ucap Zea sesegukan.
"Hey, kenapa malah nangis. Gue benar-benar minta maaf atas ucapan gue tadi Ze. Udah ya jangan nangis lagi," tutur Azlan menenangkan.
"Hiks gue minta maaf Az. Gue mohon jangan benci gue," takut Zea.
Azlan kini melepas seat beltnya dan perlahan tangannya ia ulurkan untuk menghapus air mata Zea.
"Gue gak benci sama lo, Ze. Gak ada alasan buat gue benci sama lo. Ucapan gue tadi cuma candaan doang. Udah ya jangan nangis lagi, jelek kalau lo nangis apalagi tuh ingus lo keluar," goda Azlan agar Zea berhenti menangis.
Zea menghentikan tangisnya dan dengan cepat ia mengusap ingusnya menggunakan tangannya.
"Ih jorok," tutur Azlan sembari mengambil tisu di depannya dan ia langsung mengulurkan tangannya untuk membersihkan punggung tangan Zea yang terkena ingus tadi dengan telaten. Setelah selesai membersihkan tangan Zea, Azlan beralih untuk membersihkan ingus Zea yang masih berada di sekitar hidung mancung perempuan tersebut.
"Udah gak ada lagi ingusnya. Lain kali hapus ingusnya pakai tisu bukan tangan, baju dan sebagainya. Paham!" ucap Azlan. Dan seperti anak kecil Zea mengangguk paham.
"Az," panggil Zea.
__ADS_1
"Hmmm," dehem Azlan.
"Lo gak marah lagi kan sama gue?"
"Ze, gue dari tadi gak marah sama lo," jawab Azlan.
"Beneran?" Azlan mengangguk dan dengan reflek Zea memeluk tubuh Azlan dari samping dengan senyum leganya.
Sedangkan Azlan, ia malah terbengong sekaligus kaget dengan aksi Zea tadi yang secara tiba-tiba memeluk tubuhnya.
"Makasih Az," ucap Zea.
Azlan mengerjabkan matanya agar kembali fokus.
"Az, Lo gak pingsan kan?" tanya Zea penasaran karena Azlan tak kunjung menimpali ucapannya tadi.
"Ah, gak kok gue masih sadar," tutur Azlan.
Zea kini melepaskan pelukannya dan kembali duduk di kursinya. Begitu juga dengan Azlan yang langsung memasang kembali seat beltnya dan menjalankan mobilnya.
"Az, Lo belum jawab ucapan gue lho tadi."
"Yang gue bilang makasih sama lo." Azlan menghela nafas.
"Sama-sama Zeaquel Ataura," tutur Azlan jengah yang malah membuat Zea tersenyum manis.
"Eh btw Az. Darimana lo tau nama lengkap gue?" tanya Zea penasaran.
"Name tag baju seragam lo," jawab Azlan apa adanya.
Zea menganggukkan kepalanya paham dan setelah itu tak ada lagi percakapan dari keduanya hingga mobil milik Azlan sampai di depan pagar rumah Zea.
"Mau mampir dulu gak?" tanya Zea setelah keluar dari mobil Azlan dan membungkukkan badannya untuk melihat Azlan melalui kaca mobil yang telah di turunkan.
"Lain kali aja. Ini udah malam gak enak sama tetangga dan orangtua lo," ucap Azlan.
"Ya udah kalau gitu loh hati-hati di jalan," tutur Zea.
__ADS_1
"Assalamualaikum," pamit Azlan.
"Waalaikumsalam," jawab Zea dan setelah itu mobil Azlan perlahan meninggalkan Zea yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya.
Zea menghela nafas sebelum masuk ke area rumahnya.
"Siap-siap kesepian lagi," gumam Zea sembari membuka gerbang rumahnya di bantu dengan satpam rumah tersebut.
"Non Zea baru pulang ternyata," tutur satpam tersebut.
"Hehehe iya Pak. Zea masuk rumah dulu ya Pak, semangat kerjanya," ucap Zea dengan ekspresi wajah ceria seperti biasa. Walaupun ia terlihat ceria tapi di hatinya terus saja merasa kosong.
"Baik Non. Selamat istirahat." Zea tersenyum setelah itu ia segera masuk kedalam rumah yang masih saja sepi seperti tak ada penghuni.
Dan saat ia sudah sampai di kamarnya, Zea merebahkan tubuhnya keatas kasur king size miliknya sembari menatap langit-langit kamar tersebut.
"Ma, Pa. Apa kalian gak rindu sama Zea? Apa kerjaan kalian lebih penting daripada hidup Zea? Ma, Pa, jika Zea diberi pilihan antara harta dan kehangatan dari kalian, Zea akan pilih kehangatan dari kalian. Semua harta yang Zea dapat tak akan pernah menggantikan kalian berdua. Zea gak butuh kemewahan ini Ma, Pa. Zea hanya butuh kasih sayang dari kalian walaupun hidup dalam kesederhanaan dan kehilangan harta ini semua," gumam Zea, tak terasa air matanya lagi-lagi harus menetes. Namun sedetik kemudian dengan kasar Zea mengusap air matanya dan beranjak dari tidurannya menuju kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.
...****************...
Di sisi lain, Azlan baru sampai di rumah dan saat dirinya baru ingin membuka pintu, terdengar deruman mobil milik Erland yang juga baru sampai di rumah tersebut.
Azlan mengurungkan niatnya dan menunggu saudara kembarnya menghampiri dirinya.
"Assalamualaikum," salam Erland setelah sampai di depan Azlan.
"Waalaikumsalam. Darimana aja lo?" tanya Azlan dengan tatapan intimidasi.
"Kepo," jawab Erland sembari melenggang membuka pintu utama rumah tersebut dan baru saja pintu itu terbuka lebar, keduanya sudah disambut dengan tatapan tajam dari Edrea.
"Darimana aja kalian hmmm? Jam segini baru pulang, mana tuh baju masih pakai seragam sekolah lagi di tambah pulang telat gak ngabarin dan izin dulu sama Mom atau Dad. Kalian merasa keren gitu kalau ngelakuin hal kayak gini? Gak, gak ada kerennya sama sekali malah terlihat seperti berandalan tak bermoral," cerca Edrea.
"Bawel," tutur keduanya dan saat ingin masuk kedalam, tangan Edrea, ia rentangkan untuk menghalangi langkah mereka.
"Kalau gue bawel emang kenapa hah? Lo berdua kalau gue telat pulang padahal gue udah izin sama Mom dan Dad bahkan udah mengantongi izin mereka berdua juga akan sama seperti yang Rea lakuin sekarang, bahkan ngasih petuah panjang lebar sama tinggi tapi nyatanya yang ngasih petuah malah gak menerapkan apa yang dia katakan," tutur Edrea tanpa koma.
"Mau apa hah? mau protes lagi iya?" sambung Edrea saat mulut Azlan sudah bersiap untuk menyanggah ucapan Edrea tadi.
__ADS_1
"Kalian berdua harusnya kasih contoh yang baik buat gue bukannya malah kasih contoh yang minus kayak gini terus saat gue contoh kelakuan kalian berdua, kalian dengan kompak marahin gue seenak jidat kalian," oceh Edrea tanpa ada habisnya.