The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 72


__ADS_3

Sepulang sekolah Edrea berkumpul terlebih dahulu dengan beberapa siswa yang bersangkutan dengan band sekolah tersebut untuk membicarakan masalah perform untuk 1 minggu kedepan.


"Jadi, apakah ada ide dari kalian untuk lagu yang akan kita nyanyikan nanti?" tanya Leon sang vokalis asli band tersebut.


Tampak semua orang disana terdiam sembari berfikir tak terkecuali dengan Edrea yang nantinya akan turut berpartisipasi.


"Ini untuk duet kan bukan solo?" tanya Diki sang gitaris.


"Iya, kita nanti akan bawain lagu yang duet karena udah ada Edrea," jawab Leon sembari melirik kearah Edrea.


"Hmmm gimana kalau melukis senja saja," usul Edrea.


"Karena lagu itu bisa mewakili perasaan Kakak kelas yang akan berpisah dengan teman-temannya yang udah berjuang bersama-sama hingga 3 tahun terakhir. Walaupun lagunya emang bukan untuk duet tapi bisa lah di bagi part-partnya," jelas Edrea. Semua orang disana tampak mengangguk setuju.


"Hmmm boleh juga. Ya udah kalian sekarang bisa berlatih. Gue sama Rea diskusi dulu tentang pembagian part," tutur Leon. Semua orang disana kini berpencar menghampiri alat musiknya masing-masing. Sedangkan Leon, ia mendekati Edrea dan duduk disampingnya.


"Kita bahas sekarang aja karena waktunya sudah sangat mepet," ujar Leon sembari membuka laptop untuk mencari lirik lagu tersebut.


Selama 1 jam akhirnya mereka telah selesai berlatih dan kini mereka semua telah bersiap untuk pulang ke rumah.


"Lo bawa mobil sendiri kan Rea?" tanya Leon.


"Hmmmm kebetulan tadi pagi gue berangkat bareng sama Zico," tutur Edrea.


"Dan kayaknya Zico juga udah pulang karena dia tadi WA gue kalau ada urusan," sambungnya.


"Bareng gue aja. Toh gue sering lihat lo belok di gang yang sama dengan gang rumah gue," tawar Leon.


"Jadi lo tau rumah gue?" tanya Edrea.


"Iya gue tau. Bahkan gue juga sering ke rumah lo." Edrea membelalakkan matanya.


"Hah? kerumah gue? ngapain lo?"


"Gue temennya Erland, kembaran lo." Edrea tambah syok saat Leon mengatakan hal itu.


"Jadi lo temennya bang Er. Astaga kenapa gue baru tau sih. Tapi gue gak pernah tuh lihat lo di rumah," tutur Edrea.


"Gimana lo mau tau kalau lo cuma di kamar terus. Dah lah, pulang yuk udah mau gelap ini." Leon kini beranjak keluar dari ruang musik di ikuti Edrea yang kini berusaha menyesuaikan langkah kakinya.


"Gue belum selesai tanya sama lo."

__ADS_1


"Mau tanya apa lagi?"


"Kenapa lo bisa tau kalau gue kembaran bang Erland. Padahal foto di rumah cuma ada di ruang keluarga aja."


"Re, gue tuh udah mengelilingi rumah lo. Bahkan gue hampir tau semua tata letak setiap ruangan di rumah lo itu," tutur Leon.


Edrea menganggukkan kepalanya.


"Gak nyangka gue, bang Erland kalau cari temen selalu aja high class, tampan semua. Gak ada yang gagal kalau masalah wajah. Walaupun agak berandalan dikit," batin Edrea.


Mereka berdua kini telah sampai di parkiran mobil sekolah tersebut.


"Masuk gih," ucap Leon setelah membuka pintu mobil untuk Edrea.


"Thanks." Edrea kini masuk kedalam mobil tersebut tepat disebelah kemudi.


Tak berselang lama Leon telah duduk dan mulai menjalankan mobil tersebut.


"Mau mampir kemana dulu gak? Sekalian biar lo gak keluar lagi nanti," tanya Leon.


"Hmmm enggak dulu deh. Langsung pulang aja." Leon menganggukkan kepalanya.


Dan tak berselang lama, mobil yang dikendarai oleh Leon kini sampai di depan gerbang rumah Edrea.


"Lo juga mau ikut masuk?" tanya Edrea saat melihat Leon melepaskan seat beltnya.


"Iya. Gue sekalian mau balikin jam tangan Erland yang ketinggalan di rumah gue," ucap Leon.


Edrea menganggukkan kepalanya kemudian ia keluar dari mobil tersebut. Tapi ia takut jika kedua Abangnya itu salah paham kepada Leon nantinya. Bisa panjang nanti urusannya.


"Kenapa masih diam disitu? Takut nanti Erland sama Azlan marahin lo? Tenang aja Re, ada gue," ucap Leon yang juga sudah keluar dari mobilnya.


"Ck, Lo gak tau aja kalau mereka marah gimana."


"Marahnya mereka udah jadi makanan gue sehari-hari Re. Gue tau luar dalam dua kembaran lo itu." Edrea bergidik ngeri saat mendengar kata Luar Dalam dari mulut Leon. Pikirannya pun juga mengarah ke hal negatif. Dasar anak bontot.


Tuk!


Leon menyentil kening Edrea. Ia sepertinya tau apa yang ada dipikiran Edrea saat ini.


"Jangan berpikir yang negatif Re. Gak baik," tutur Leon. Setelahnya ia melangkahkan menuju pintu utama rumah tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Edrea, ia mengerucutkan bibirnya hingga beberapa senti kedepan. Tapi kemudian ia menyusul Leon yang sekarang sudah mulai mengetuk pintu rumah tersebut.


"Ya elah gak usah di ketuk lagi. Kan ada gue," tutur Edrea kemudian ia membuka pintu rumah tersebut.


"Silahkan masuk," sambung Edrea.


"Thanks." Leon kini menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah tersebut. Dan baru saja beberapa langkah kedepan, suara Mommy Della menyambut kehadirannya.


"Leon, anak Mommy, setelah kesekian bulan purnama akhirnya datang juga," teriak Mommy Della heboh sembari memeluk tubuh Leon.


"Hehehe kemarin-kemarin lagi sibuk jadi gak bisa main kesini. Oh ya Erland ada di rumah kan Mom?" tanya Leon.


"Ck, itu anak sekarang pulangnya telat terus. Gak tau kemana, tapi kalau sekarang saat pulang kerumah udah gak bonyok lagi mukanya," tutur Mommy Della.


"Duduk gih. Atau mau makan dulu, Mom tau perut kamu pasti lapar kan?" sambungnya.


"Ah gak usah Mom. Leon bentar lagi juga mau pulang. Hanya mau nganterin jam tangan Erland yang ketinggalan di rumah." Leon menyodorkan jam tangan tersebut kearah Mommy Della.


"Makan dulu lah. Mom nanti sedih lo kalau kamu nolak permintaan Mom," tutur Mommy Della dramatis.


Edrea yang sedari tadi berdiri, diam mematung dengan pertanyaan yang menghantui otaknya. Apakah dirinya baru keluar dari goa hingga ia tak tau hubungan antara Leon juga Mommynya sudah cukup dekat? Bahkan ia baru kenal Leon tadi saat berkumpul dengan anak-anak band. Sebenarnya ia tau nama Leon disekolah karena laki-laki itu cukup terkenal dikalangan para cewek-cewek pengagum visual dan ditambah Leon juga menorehkan beberapa penghargaan berkat suaranya yang sangat merdu itu yang menambah kepopulerannya. Tapi karena Edrea cukup cuek dan hanya terfokus dengan Zico saja, hingga ia tak memperdulikan orang lain yang ternyata berada cukup dekat dengan jangkauannya.


Edrea kini tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara dramatis milik Mommy Della tadi.


"Ehem Mom, ngomong-ngomong disini ada Rea lho," ucap Edrea yang merasa diacuhkan oleh Mommy Della.


"Eh, hay anak Mom yang paling cantik tapi lebih cantikan Mommy. Gimana hari ini? cukup happy atau cukup terpotek berkali-kali?" Edrea berdecak.


"Ck Mom apaan sih. Udah ah, Rea males sama Mommy. Bye." Edrea kini meninggalkan Mommy Della juga Leon yang tengah menatapnya heran.


"Ya ampun tuh anak kenapa kayak gitu coba, padahal Mom tadi nanyanya baik-baik," gerutu Mommy Della yang membuat Leon tersenyum.


"Mom, Leon pamit dulu ya," pamit Leon dengan sopan sembari mencium tangan Mommy Della.


"Lah beneran mau pulang kamu. Gak makan atau ngemil-ngemil dulu disini?"


"Lain kali aja Mom."


"Ya sudah kalau gitu kamu hati-hati dijalan ya." Leon mengangguk.


"Assalamualaikum," salamnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Mommy Della sembari mengantar Leon hingga depan rumahnya.


__ADS_2