
Zea yang melihat Edrea mulai menjauh dari perempuan tadi, ia dengan cepat langsung berlari kearah Edrea sedangkan Azlan dan Erland mereka melangkahkan kakinya sembari menatap tajam kearah perempuan tadi.
Dan berkat tatapannya tadi, mampu membuat perempuan yang mencari gara-gara kepada Edrea pun tampak panik. Terlebih saat dua orang tersebut sudah berada di hadapannya.
"Apa yang sudah Lo lakukan ke Edrea? Katakan!" sentak Azlan yang sudah terpancing emosi.
"Gu---gue gak ngelakuin apapun sama perempuan itu. Gue dari tadi cuma bicara apa adanya. Bahkan semua orang disini bisa menjadi saksi atas ucapan gue tadi," ujar perempuan tersebut yang mencoba untuk tenang.
"Perkataan apa yang lo katakan ke dia? Dan kenapa dia bisa luka?" tanya Erland yang masih bisa mengontrol emosinya.
"Kalau lo mau tau perkataan apa yang gue katakan tadi, lihat aja sendiri tuh di kertas itu. Semuanya sudah tertuang jelas dalam rangkuman berita disana. Dan dia mendapatkan luka itu juga karena ulahnya sendiri yang sok jago pakai mukul kaca mading segala buat ambil kertas itu," ujar perempuan itu masih dengan angkuhnya.
Azlan yang kebetulan berada di dekat kertas yang dimaksud oleh perempuan didepannya itu, dengan cepat ia mengambil kertas tersebut dan membaca informasi yang tertuang didalam kertas itu.
Dan setelah Azlan selesai membaca berita tersebut, ia meremas kertas tadi dengan tatapan mata yang kembali menatap kearah perempuan tersebut.
"Bawa Reza kesini, sekarang!" perintah Azlan dengan lantang dan hal itu membuat teman-temannya bergerak untuk mencari keberadaan orang yang dimaksud oleh Azlan.
Tak berselang lama, teman-teman Azlan telah kembali sembari membawa Reza bersama mereka.
"Ini ada apa?" tanya Reza tak mengerti dengan situasi di sekitarnya itu.
"Jangan banyak bacot. Tetap berdiri disitu dan jawab semua pertanyaan dari Azlan ataupun Erland!" perintah Hito yang membuat Reza dengan seketika menutup bibirnya.
Azlan yang melihat pengurus mading sudah bergabung di dalam lingkaran itu pun, ia kini mendekati laki-laki berkaca mata itu dengan membawa bukti ditangannya.
"Lo yang buat berita murahan ini?" tanya Azlan dengan suara rendahnya. Dan hal itu membuat Reza menundukkan kepalanya dengan sesekali ia melirik kearah perempuan tadi.
__ADS_1
"Gue ulangin sekali lagi, Lo yang buat berita murahan ini?" ulang Azlan yang sama sekali tak di jawab oleh Reza. Hingga akhirnya Azlan yang sudah tak memiliki kesabaran pun ia mencengkram kuat kerah laki-laki itu dengan satu tangannya.
"Jawab sialan!" sentak Azlan.
"Iy---iya gue yang buat berita itu," jawab Reza.
Dan tak berselang beberapa detik setelahnya, kepalan tangan Azlan mendarat di pipinya hingga membuat dirinya tersungkur.
"Sialan! Siapa yang beri izin lo membuat berita murahan seperti ini hah?" geram Azlan dengan tangan yang sudah kembali mencengkeram kerah baju Reza.
"Gue gak pernah izinin lo buat berita seperti ini tantang gue, Erland, Edrea ataupun murid lainnya! Gue juga gak pernah ganggu hidup lo, tapi kenapa lo dengan berani menabuh genderang perang dengan gue? sialan!" Sambung Azlan dan saat kepala tangannya itu ingin kembali mendarat di pipi laki-laki itu, Reza lebih dulu membuka suaranya dengan mata yang tertutup rapat.
"Tunggu. Tunggu sebentar Az, sebenarnya gue cuma disuruh seseorang saja untuk membuat dan memasang berita itu di mading," tutur Reza yang membuat Azlan menghentikan aksinya tadi.
"Katakan siapa orang yang nyuruh lo!" tanya Azlan.
"Dia yang sudah nyuruh gue. Awalnya gue gak mau membuat berita yang tidak ada manfaatnya itu dan juga merugikan orang lain, tapi dia mengancam kalau gue gak buat berita tentang ini, dia bakal nyiksa gue sampai gue mati," ujar Reza.
Azlan maupun Erland kini tatapan mereka menatap perempuan tadi yang masih saja tenang.
"Kenapa lo ngelakuin ini? Apa kelakuan kita bertiga merugikan hidup lo?" tanya Erland.
"Kalau lo tanya alasan gue kenapa lakuin ini semua, ya karena gue gak mau banyak korban seperti Kayla yang di tinggalkan laki-laki kesayangannya demi wanita murahan seperti dia," ujar perempuan itu dengan berani. Dan hal itu benar-benar sudah membuat Erland kehabisan kesabarannya. Dan sesuai dengan perkataannya tadi, mau lawannya laki-laki atau perempuan, ia tak akan memberi ampun ke lawannya jika mereka sudah keterlaluan.
Tapi belum juga dirinya memberikan pelajaran kepada perempuan didepannya itu, sebuah tamparan sudah lebih dulu mendarat di pipi perempuan tersebut.
Erland yang sempat terkejut dengan tamparan itu pun ia kini menolehkan kepalanya kearah sampingnya untuk melihat perempuan pemberani itu yang ternyata adalah Zea.
__ADS_1
"Tutup mulut busuk lo itu, wanita sialan! Jangan berbicara tanpa melihat secara nyata semua kejadiannya. Dan perlu lo dan kalian semua tau, Erland tidak pernah berniatan untuk meninggalkan Kayla demi perempuan lain, entah perempuan itu secantik apapun, Erland tetap memilih Kayla untuk dijadikan sebagai tempat berlabuh cintanya. Tapi sayangnya kesetiaan Erland selama ini hanya dijadikan permainan saja oleh Kayla. Erland selama ini di gantung perasaannya oleh Kayla tanpa mendapat kepastian sedikitpun dari dia. Dan sampai akhirnya kemarin, Kayla menolak Erland didepan mata kepala gue dan Azlan. Bukan karena dia cemburu dengan kebersamaan Erland dan Edrea tapi dia punya laki-laki lain di belakang Erland selama ini," ujar Zea dengan suara lantangnya. Ia tak peduli jika Kayla mendengar ucapannya, bahkan dia berharap perempuan yang dia maksud itu benar-benar mendengarkannya hingga perkataannya tadi bisa membuat Kayla tersadar atas tingkahnya yang salah itu.
"Dan satu lain yang perlu kalian semua tau kalau Azlan, Erland dan Edrea adalah saudara kembar," lanjut Zea yang sudah tidak tahan lagi melihat fitnah yang dilakukan oleh perempuan tadi kepada Edrea. Dan dengan mengumpulkan keberanian yang tinggi dengan terpaksa ia mengungkapkan identitas itu kesemua orang disana.
Dan sesuai dengan ekspektasi dari Zea sebelumnya, jika semua orang termasuk perempuan tadi kini tengah melongo tak percaya.
Sedangkan triplets, mereka bertiga tampak biasa saja, bahkan Azlan kini mendekati Zea lalu ia mengacak rambut Zea gemas.
"Thanks," ucap Azlan dengan senyum manisnya dan ucapannya tadi dibalas anggukan kepala dan senyuman pula oleh Zea.
Tapi beberapa saat setelahnya senyuman itu hilang saat dirinya sudah kembali menatap perempuan dihadapannya itu.
"Bagiamana? Sudah malu sekarang? Dan apa lo juga sudah puas menjelek-jelekkan dan menebar fitnah?" tanya Azlan dengan memincingkan alisnya.
"Ma---mana mungkin kalian saudara kembar sedangkan wajah kalian saja tidak ada mirip-miripnya sama sekali?" ucap perempuan tersebut yang masih tak percaya.
Dan hal itu membuat Zea berdecak, kemudian ia kini merogoh ponselnya dan dengan lincah ia mencari sebuah foto yang mungkin bisa dijadikan bukti atas ucapannya tadi.
Setelah ia menemukan foto yang dimaksud, ia langsung menunjukkannya dihadapan perempuan itu.
"Ini adalah foto yang kita ambil kemarin. Dua orang yang duduk disamping gue adalah orangtua mereka bertiga. Dan mata lo juga gak buta kan? Bisa lihat dibelakang gue tuh ada tiga manusia yang jadi topik hangat berita hari ini. Kalau lo masih gak percaya, gue telepon Mommy mereka, biar beliau datang sekalian bawa akte kelahiran dan surat keluarga. Biar kalian puas," ujar Zea dengan menggebu-gebu.
Perempuan itu tampak terdiam dengan wajah yang pucat saat melihat foto tadi, terutama ia melihat wajah kedua orangtua triplets yang sering ia lihat di dalam televisi.
"Makanya kalau disuruh seseorang buat menghasut orang lain tuh cari dulu informasinya jangan asal mau karena dapat uang aja. Ck, kalau kayak gini kan lo sendiri yang malu! Huuuuu," timpal Odi diakhiri dengan sorakan yang tak berselang lama, sorakan itu di sambut sorak-sorai oleh semua orang yang sedari tadi berada di sekeliling loby tadi.
Dan karena sorak-sorai itu membuat perempuan tadi kini berlari menjauh dari kerumunan orang-orang tadi dengan wajah yang ia tutupi dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Hoy! Wanita bayaran! Mulai detik ini, hidup lo tidak akan tenang!" teriak Hito untuk mewakili ucapan dari Azlan maupun Erland. Karena ia tau bahwa kedua laki-laki itu ingin sekali berbicara seperti yang ia ucapkan tadi tapi belum sempat mereka berbicara, perempuan itu sudah lebih dulu kabur, menjauh dari mereka semua.