The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 53


__ADS_3

"Udah Yes," ucap Edrea menenangkan.


Yesi mencebikkan bibirnya kemudian ia mengalihkan pandangannya menghadap kearah Edrea kembali.


"Siapa suruh mereka berbual mengenai uang," tutur Yesi.


"Iya-iya gue juga tau. Udah ngomel-ngomelnya bentar lagi bel masuk ini," ucap Edrea dan baru saja ia mengatupkan bibirnya, suara bel pun berbunyi nyaring yang membuat para siswa segera masuk kedalam kelas masing-masing.


Dan selang beberapa menit setelah bel berbunyi, guru yang mengajar kelas Edrea kini memasuki kelas tersebut dan memulai kegiatan belajar mengajar mereka.


...****************...


"Astaga lama sekali sih bel istirahatnya," gerutu Yesi yang duduk disamping Edrea.


"Sabar, tinggal hitungan 10 detik lagi," ucap Edrea berbisik sembari matanya menatap detikan jam di dinding kelas tersebut.


"5, 4, 3, 2, 1."


Teng teng teng!!!


Edrea dan Yesi saling pandang saat mendengar bunyi tersebut.


"Wanjir, itu apaan weh. Bel sekolah sini kah? ya ampun kayak bel waktu SD jaman dulu yang belum memasuki era modern," ceplos Yesi dengan cukup kencang dan hal itu mampu membuat semua orang disana tertawa.


"Sudah-sudah berhenti tertawa. Ibu tutup dulu pelajaran hari ini, dan ibu ucapkan terimakasih. Selamat siang dan selamat beristirahat," tutup guru yang mengajar tersebut dan setelah guru itu keluar dari kelas, semua siswa yang sudah kelaparan bergegas menuju kantin sekolah.


Tak terkecuali dengan Edrea dan dua sahabatnya tapi mereka bertiga memilih untuk menunggu hingga situasi tak lagi berdesakan baru mereka akan keluar dari kelas tersebut.


"Kalian berdua tunggu disini aja. Gue yang akan pesan," tutur Yesi saat mereka telah berada di kantin sekolah tersebut.


"Oke. Pesanin gue kayak biasanya!" teriak Resti karena Yesi sudah menjauh dari mereka berdua.


Saat menunggu Yesi kembali dengan pesanan mereka, Edrea menyibukkan diri dengan ponselnya begitu juga dengan Resti.

__ADS_1


Tapi ditengah-tengah ketenangannya, dari kejauhan ada seseorang yang mengincarnya dan tanpa ada angin, ada hujan orang tersebut berjalan menghampiri Edrea dan Byur!


Tubuh bagian belakang Edrea tersiram air kopi yang masih panas. Edrea mendesis merasakan panas di punggungnya.


"Heh lo apa-apaan sih," geram Resti tak terima dengan menggebrak meja yang mengakibatkan semua orang disana mengarahkan pandangannya kesumber keributan yang sebentar lagi akan terjadi.


"Ups, gue gak sengaja. Sorry," tutur orang tersebut dengan centil.


"Alasan ya lo. Gue lihat pakai mata kepala gue sendiri kalau lo sengaja nyiram punggung Rea," ucap Resti sembari menghampiri Edrea dan berhadapan langsung dengan orang tadi.


Saat sudah berada di samping Edrea, Resti menatap orang tersebut dengan tatapan tajam seolah-olah ia sudah siap menerkam mangsa di hadapannya.


Sedangkan Yesi yang baru selesai membeli makanan untuk dirinya dan kedua sahabatnya pun mengerutkan keningnya saat meja Edrea sudah terjadi keributan.


"Sial," umpat Yesi saat melihat punggung Edrea telah basah.


Kemudian ia dengan segera menghampiri meja tersebut dan setelah sampai ia menaruh makanan disamping Edrea, lalu ia berdiri di depan Edrea guna melindungi sang sahabat. Siapa tau jika orang tersebut berniat jahat lagi ke Edrea.


"Lo kalau gak cari masalah sama kita sehari aja bisa gak sih hah?" geram Yesi.


"Lo pikir gue percaya sama otak licik lo itu. Dan yang setuju sama argumen lo juga cuma cecunguk lo."


"Iya ish. Kalian juga mau aja dijadiin babu sama Puri. Emang kalian di kasih apa sama dia? kasih uang juga kagak," cibir Resti. Yap orang yang menyiram Edrea tadi adalah Puri, si tukang rusuh dan tak mau tersaingi oleh Edrea ataupun orang lain.


"Kalian kali yang dijadiin babu sama wanita murahan, sok kaya lagi padahal orangtuanya paling-paling juga kerjanya dipinggir jalan dengan meminta-minta uang orang lain. Dan mobil yang dia pakai sekarang paling punya om-om kaya yang dia plorotin hartanya. Cih," tutur Puri.


Edrea yang mendengar Puri merendahkan orangtuanya pun kini mengepalkan tangannya. Jika dirinya yang direndahkan, ia akan bersikap biasa saja tapi ini, orangtuanya yang sudah mati-matian menjaga dan merawatnya hingga sekarang direndahkan oleh orang luar yang tak tau kebenaran tentang hidupnya.


Saat Yesi yang juga sudah mulai geram dengan ucapan dari Puri tadi, ia meraih gelas yang berisi jus miliknya untuk ia siramkan ke tubuh Puri itu, namun sayang Edrea dengan sigap menghentikan aksi Yesi.


"Rea, apaan sih. Lepasin gak tangan lo, gue mau guyur dia pakai jus ini," protes Yesi.


"Hahaha majikan lo gak berani ya karena yang gue ucapin tadi memang benar adanya. Ck kasihan sekali sih anak pemulung," ejek Puri tanpa ada habisnya dan perkataan dari Puri tadi menjadi perbincangan hangat siswa lainnya.

__ADS_1


"Taruh lagi gelas itu!" perintah Edrea kepada Yesi.


"Nanti gue bakal taruh saat isinya udah pindah tempat."


"Yesi," tutur Edrea. Yesi nampak menghela nafas kecewa kemudian ia meletakkan kembali gelas tadi dan mengurungkan niatnya.


Setelah memastikan bahwa Yesi tak memegang gelas tadi, Edrea kini memutar badannya walaupun punggungnya masih terasa perih, kemudian ia berdiri dari duduknya. Lalu ia mendekati Yesi.


"Mau apa lo deket-deket gue? jauhan sana lo bau sampah," ucap Puri sembari mendorong tubuh Edrea.


Edrea berhenti dan kini tangannya meraih lengan Puri.


"Heh apa-apaan lo. Lepasin tangan kotor lo dari lengan gue!"


"Maaf, tapi gue cuma berniat buat bantu lo duduk di sini dan gue mau layanin lo sama teman-teman lo," tutur Edrea.


Resti dan Yesi yang sedari memperhatikan Edrea pun tampak melongo tak percaya dengan ucapan Edrea yang masuk kedalam telinga mereka.


"Rea, Lo apa-apa sih!" geram Yesi.


Edrea mengacuhkan ucapan dari Yesi tadi.


"Nah gitu dong, dari dulu kek layanin guenya," ucap Puri kemudian ia duduk di kursi yang Edrea tadi duduki.


"Oh ya pesanin gue bakso dong, sekarang ya gak pakai lama!" perintah Puri dan hanya diangguki oleh Edrea kemudian ia bergegas membeli pesanan dari Puri tadi dan tak berselang lama Edrea kembali dengan membawa satu mangkuk bakso dengan kuah yang masih mengepul.


Tapi tanpa di duga oleh siapapun. Saat Edrea telah berada tepat di belakang Puri, Edrea melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Puri tadi kepadanya, menyiramkan kuah bakso ke punggung Puri.


"Ahhhh panas, panas, panas," jerit Puri sembari berdiri dari duduknya.


"Ups, gue gak sengaja," tutur Edrea dengan senyum smriknya.


"Edrea!" teriak seseorang dari belakang Edrea. Edrea yang di panggil pun menolehkan kepalanya kearah sumber suara yang ternyata adalah Zico. Salah satu orang yang sedari tadi melihat kejadian di kantin tersebut.

__ADS_1


Zico perlahan mendekati Edrea, Puri dan para sahabatnya mereka masing-masing. Saat Zico telah berada di tengah-tengah Edrea dan Puri, ia menatap Edrea dengan lekat.


"Zico hiks, punggungku sakit banget gara-gara wanita ini udah nyiram aku pakai kuah bakso yang masih panas," adu Puri sembari bergelayut manja di lengan Zico. Ia berharap Zico berada di pihaknya dan dengan aduannya tadi, Zico akan marah besar kepada Edrea bahkan sampai membenci Edrea kemudian Zico akan kembali ke genggamannya lagi seperti dulu tanpa ia harus berusaha keras untuk menghancurkan Edrea atau melenyapkan rivalnya itu dari muka bumi ini untuk mendapatkan hati Zico.


__ADS_2