
Kepala sekolah yang sudah mulai muak dengan tingkah Bu Erni pun kini memijat pelipisnya. Jika guru wanita itu terus mengoceh seperti saat ini, permasalahan tersebut bukan cepat selesai melainkan malah tambah keruh saja.
"Saya mohon, Bu Erni tidak ikut campur lebih dalam lagi dengan masalah ini," ucap kepala sekolah dengan tegas dan penuh penekanan.
"Bagaimana saya tidak ikut campur, kalau saya sendiri tadi juga menjadi saksi di sana. Dan lewat mata kepala saya sendiri, Puri terlihat sangat ketakutan bahkan sampai tidak bisa mengatakan apapun untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri yang terus-menerus difitnah sama Edrea," ujar Bu Erni yang sekarang malah meninggikan suaranya.
Kepala sekolah tersebut tampak memejamkan matanya sesaat untuk mengontrol emosinya yang kapanpun siap meledak.
"Saya peringatkan sekali lagi. Jika anda masih ingin berada didalam ruangan saya untuk ikut andil dalam memecahkan masalah ini, saya mohon stop berbicara dan menggiring opini yang merugikan satu pihak sebelum adanya bukti," ujar kepala sekolah tersebut dan saat Bu Erni ingin angkat suara karena tak terima pun harus terhenti saat kode tangan dari Papa Puri mengintruksi dirinya.
"Dimana anak itu sekarang?" tanya Papa Puri dengan suara tegasnya. Mungkin ia mulai terpancing dengan cerita yang dibuat oleh Bu Erni tadi.
"Edrea masih mendapat penanganan di UKS karena lengannya luka," jawab kepala sekolah tersebut.
"Luka?" tanya Papa Puri.
"Hisk dia ngelukain dirinya sendiri biar semua drama yang dia buat terlihat nyata Pa, Ma hiks," ujar Puri.
"Kurang ajar tuh anak. Belum tau apa kamu itu anak dari siapa. Bisa-bisanya dia ngelakuin itu sama kamu," ucap Mama Puri dengan menggebu-gebu.
"Katakan dimana letak UKS itu. Saya mau ketemu sama anak itu yang udah bermain-main dengan anak saya," sambungnya sembari berdiri dari kursinya tadi.
"Tolong ibu tenang sebentar, anaknya nanti juga akan kesini. Dan untuk orangtuanya sepertinya beliau tidak bisa hadir karena nomor teleponnya tengah tidak aktif," ujar kepala sekolah yang sedari tadi masih berusaha untuk menghubungi orangtua Edrea.
"Itu pasti di sengaja karena mereka malu dengan sikap anaknya yang pasti sudah mereka hafal. Dan mungkin juga malu kalau mau berhadapan dengan kita, secara kita lebih terpandang dari keluarga anak itu," ucap Mama Puri yang membuat kepala sekolah dan juga para guru selain Bu Erni menghela nafas. Ingin sekali mereka mengusir keluarga sombong itu jika saja mereka tak memiliki sopan-santun didiri mereka. Biarkan saja sekolah itu kehilangan seorang donatur walaupun donatur itu tergolong donatur yang paling besar. Tapi setidaknya menyingkirkan orang-orang tersebut akan membuat sekolah itu tentram di kemudian hari. Tapi ya apa wewenang mereka untuk menghentikan donatur tersebut dan mereka berharap jika pemilik sekolah mengetahui kesombongan mereka, pemilik sekolah itu langsung akan memutuskan kerjasama antar sekolah dan keluarga tersebut.
Saat suasana di ruang kepala sekolah tengah memanas, berbeda lagi dengan suasana di depan UKS sekolah tersebut.
__ADS_1
"Gimana? videonya udah selesai lo edit?" tanya Leon sembari menghampiri Yesi.
"Udah nih baru aja selesai," jawab Yesi.
"Bagus," ucap Leon.
Sesaat kemudian tak ada lagi obrolan dari mereka semua hingga Jojo kembali angkat suara.
"Kenapa lama banget sih?" ujarnya tak sabaran.
"Sabar kali, gue lihat tadi luka Edrea cukup dalam jadi mungkin lebih teliti lagi dalam penanganannya," tutur Galuh.
"Ck, tapi kasihan tau neng geulis sampai luka gitu. Gimana kalau orangtuanya lihat nanti pasti akan histeris kayak emak gue kalau gue bonyok dikit hebohnya sekampung," ucap Jojo.
"Hmmm mungkin lebih heboh dari emak Lo. Tapi btw orangtua Edrea benar-benar gak bisa kesini kah?" tanya Galuh sembari menatap kearah Leon.
"Terus kalau gitu gimana nasib Rea dong nanti. Duh dia yang kena masalah gue yang ketar-ketir," tutur Faisal.
"Ada gue yang ada di belakang dia," ucap Leon.
"Iya gue tau. Bahkan bukan cuma lo doang yang ada di belakang Rea tapi kita semua. Tapi kan lo tau sendiri kalau orang lain gak boleh terlalu dalam mencampuri masalah orang lain disekolah ini. Jadi Rea mau gak mau harus punya wali dari salah satu keluarga, Om, tante atau Kakek dan neneknya misalnya. Karena kalau kita gak panggil salah satu dari wali Edrea, yakinlah masalah ini langsung di beratkan ke Edrea. Kalian tau sendiri dimana ada uang disitu ada pembelaan. Dan gue yakin, kepala sekolah sekarang hanya punya akses buat hubungi orangtua Edrea saja bukan anggota keluarga lainnya. Jadi kita disini yang harus berinisiatif untuk menghubungi wali Edrea secara pribadi," ujar Faisal dengan otak encernya yang membuat Leon berdecak, karena niatnya tadi tak ingin melibatkan keluarga Edrea yang lain selain orangtua gadis itu apalagi dengan tiga abangnya yang pasti akan langsung mengamuk nantinya apalagi saat lihat Edrea terluka.
Tapi Leon tak punya pilihan lain karena apa yang di katakan oleh Faisal tadi ada benarnya juga.
"Baiklah, gue telepon Abangnya Rea dulu," ujar Leon kemudian ia menjauhi teman-temannya untuk menelepon Azlan.
Azlan yang berada disekolahannya dan tengah bermesraan dengan Zea pun kini harus terganggu dengan dering teleponnya.
__ADS_1
"Angkat dulu, siapa tau penting," ujar Zea sembari mengelus lembut kepala Azlan yang sedari tadi di pangkuannya.
Azlan yang tadi memejamkan matanya sembari menikmati belaian lembut dari Zea pun kini ia berdecak lalu merogoh ponselnya.
"Ck, ganggu," gumam Azlan saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Dan setalahnya ia langsung menggeser ikon telepon yang berwarna hijau hingga sambungan telepon terhubung.
"Apaan?" tanya Azlan ngegas.
📞 : "Kesini sekarang juga. Rea dapat masalah," ujar Leon.
Azlan kini mendudukkan tubuhnya dengan rambut acak-acakan yang justru semakin membuat dirinya terlihat tampan.
"Masalah?" tanyanya.
📞 : "Iya. Bahkan masalah itu juga buat dia luka."
"Luka? kok bisa? Dia yang ngelukain dirinya sendiri atau di lukain orang?" tanya Azlan yang masih mode cerewet.
📞 : "Ck, jangan banyak tanya dulu. Buruan kesini sebelum adik lo dipojokkan sama seseorang yang mengaku korban tapi justru orang itu yang sebenarnya menjadi tersangka," ucap Leon yang sepertinya bisa dipahami oleh Azlan karena laki-laki itu kini telah memancarkan aura menyeramkan bahkan tangannya kini terkepal erat.
"Gue sama Erland kesana sekarang. Dampingin adik gue jangan sampai ada yang ngerendahin dia," ujar Azlan kemudian ia mematikan sambungan tersebut tadi tanpa menunggu persetujuan dari Leon. Dan kini ia menghela nafas sebelum mengalihkan pandangannya kearah Zea.
Tangan Azlan kini terulur untuk mengelus pipi Zea.
"Aku tinggal dulu, gak papa kan? Nanti pulangnya aku jemput kalau urusan aku udah selesai. Kalaupun belum, nanti ada anak buah aku yang bakal jemput kamu," ujar Azlan yang diangguki oleh Zea.
Dan hal itu membuat Azlan tersenyum hangat, beruntung sekali dirinya memiliki seorang kekasih yang tak selalu menuntut dirinya untuk selalu ada disisinya dan tak merengek seperti gadis lain saat ditinggal oleh pacarnya padahal sudah jelas-jelas jika pacarnya itu memilikinya urusan lain selain dirinya. Dan sebelum Azlan meninggalkan Zea, ia sempatkan untuk mencium kening gadisnya itu dan barulah ia pergi meninggalkan Zea di rooftop sekolah tadi untuk mencari keberadaan Erland yang mungkin anak itu juga tengah berduaan dengan Kayla walaupun cintanya belum diterima tapi sifat bucin Erland sudah tak bisa dikendalikan.
__ADS_1