The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 343


__ADS_3

Zico menghentikan mobilnya tepat di butik milik Vivian. Tapi saat dirinya keluar dari mobilnya, justru kegelisahan yang melanda dirinya semakin membuncah kala melihat banyaknya orang yang mengerumuni butik tersebut. Bukan karena ingin membeli pakaian disana melainkan orang-orang itu seperti tengah menatap seseorang yang berada di dalam.


Zico yang sudah tak bisa membendung rasa khawatirnya pun ia segera berlari membelah jejeran manusia yang menghalangi jalannya. Hingga saat dirinya sudah berada di ambang pintu butik tersebut matanya terbuka lebar.


"Kak Vi!" teriak Zico sembari berlari kearah sang Kakak yang kini tengah terduduk di salah satu sofa di dalam butik tersebut.


Vivian yang tadinya meringis karena kakinya tengah mendapat pijatan dari salah satu karyawannya, kini ia merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum saat ia melihat Zico berada disana.


Zico yang sudah berada dihadapan Vivian, menatap penampilan Kakaknya dari atas sampai bawah. Baju yang sudah kotor dengan bercak darah di beberapa titik, celana jeans yang sobek di bagian lututnya dan sepatu yang hanya tinggal satu. Benar-benar terlihat sangat kacau.


"Kakak kenapa? Kenapa bisa luka seperti ini?" tanya Zico dengan mendudukkan tubuhnya di samping Vivian dengan menelisik wajah cantik Kakaknya itu yang terdapat luka memar di dagunya.


"Kakak gak papa, Jio. Kakak tadi hanya jatuh dari motor," jawab Vivian dengan suara lembut agar Zico tak marah kepadanya ataupun kepada seseorang yang tadi menabraknya. Ya, dia bukan jatuh sendiri melainkan ia tertabrak sebuah motor saat dirinya ingin menyeberang jalan tepat di depan butiknya.


Tapi sepertinya alibinya itu mampu di baca oleh Zico.


"Bohong. Kakak bohongin Jio. Jawab jujur Kak. Siapa yang sudah nabrak Kakak sampai kayak gini? Dimana orangnya?" geram Zico dengan kedua tangan yang sudah terkepal erat. Ia paling tidak suka jika orang tersayangnya terluka dan penyebab luka itu adalah orang lain.


Saat Zico ingin beranjak dari duduknya, Vivian lebih dulu mencekal lengan Zico.


"Kalau mau Kakak jujur, duduk dulu," ujarnya dengan menarik pelan lengan Zico hingga laki-laki itu kembali terduduk.

__ADS_1


"Kakak memang tadi di tabrak sama seseorang saat Kakak mau beli minuman di minimarket depan," ucap Vivian yang akhirnya jujur dengan apa yang telah terjadi tadi.


"Terus kemana orang yang nabrak Kakak? Dia kabur dan gak mau tanggungjawab atas apa yang sudah dia lakukan? Sialan, Jio akan cari tau orang yang sudah mencelakai Kakak," ujar Zico dengan kabut amarah yang terpancar di dalam matanya.


Vivian yang sudah mengenal betul jika Zico orang yang tak bisa menahan emosinya pun tangannya kini terulur untuk mengelus lengan Zico.


"Sudah lah jangan cari dia. Karena yang nabrak Kakak tadi juga terluka bahkan lukanya jauh lebih parah dari Kakak. Dia sekarang juga lagi di bawa ke rumah sakit. Karena setelah nabrak Kakak tadi, orang itu juga nabrak mobil yang lagi melintas saat itu juga. Jadi sudah jangan mempermasalahkan hal ini lagi. Kakak baik-baik saja dan Kakak justru kasihan sama yang nabrak Kakak tadi. Kakak yakin dia tidak sengaja. Dan Kakak juga salah tadi karena nyebrang gak lihat kanan kiri dulu. Jadi ya terjadilah hal seperti itu," terang Vivian yang sepertinya membuat Zico kini lebih tenang dengan helaan nafas yang laki-laki itu lakukan.


"Baiklah kalau gitu. Jio gak akan mempermasalahkan lagi hal ini jika apa yang Kakak tadi ucapkan memang benar adanya." Vivian yang mendengar penuturan dari Zico justru ia kini memelototkan matanya kearah adiknya itu.


"Lho kamu gak percaya sama Kakak?"


"Sebenarnya sih enggak. Tapi ya sudahlah Jio mencoba untuk percaya saja. Daripada kena ceramah nanti," ucap Zico diakhiri dengan suara hatinya.


"Kalau orang yang nabrak Kakak di bawa kerumah sakit. Kenapa Kakak gak sekalian ikut?" Lagi-lagi Vivian memelototkan matanya kearah Zico.


"Maksud Jio tuh kenapa Kakak gak kesana biar luka Kakak di obati di rumah sakit. Sekalian di periksa lebih lanjut, takutnya ada luka dalam," ujar Zico meluruskan ucapannya tadi yang sepertinya mendapat artian lain dari Vivian.


Vivian kini menghela nafas.


"Kakak gak kenapa-napa Jio. Kakak hanya luka ringan aja. Cuma ada beberapa goresan kecil sama memar aja kok. Gak lebih dari itu," ucap Vivian.

__ADS_1


"Masak? Coba Jio lihat." Zico kini bergerak melihat setiap inci tubuh Vivian yang sekiranya dapat ia lihat.


Dan sepertinya benar apa yang dikatakan Vivian tadi bahwa ia hanya luka ringan saja, luka yang hanya terdapat di lulut sebelah kanan, dua luka yang berada di tangan kanan, lebam di siku kirinya dan yang terakhir lebam di dagu Vivian.


"Sekarang udah percaya kan kalau Kakak baik-baik saja," ucap Vivian saat Zico kembali duduk disampingnya.


"Ck, iya luarnya sih baik-baik aja tapi gak tau di dalamnya bagaimana. Jadi lebih baik kita ke rumah sakit sekarang," ujar Zico.


"Gak. Kakak gak mau ke rumah sakit. Kakak baik-baik aja Jio. Kamu jangan lebay deh."


"Bodoamat, mau di bilang lebay atau tidak. Jio gak peduli. Ke rumah sakit sekarang," kekeuh Zico.


"Baiklah-baiklah Kakak nanti kerumah sakit setelah ketemu keluarga Daddy Aiden dulu. Bukannya niat kamu tadi kesini mau ngajakin Kakak kesana? Dan ahhhh Kakak lupa kasih tau kamu kalau triplets sudah lulus sekarang. Kamu gak mau gitu kasih bingkisan untuk mereka sebagai ucapan selamat atas kelulusan mereka bertiga?" tanya Vivian yang tak mendapat respon apapun dari Zico. Bahkan laki-laki itu kini terlihat memajukan bibirnya.


Dan hal tersebut justru membuat Vivian gemas sendiri. Dan sebelum dirinya melanjutkan ucapannya tadi, Vivian melirik kearah salah satu karyawannya untuk membawa partner kerja dia menjauh dari mereka berdua. Untuk masalah orang-orang yang tadi melihat kondisi Vivian, mereka sudah sedari tadi pergi dari depan butik Vivian.


Saat memastikan semuanya terlihat menjauh, Vivian memeluk tubuh Zico dari samping.


"Tanggal 20 Mei 2022, jam 10 waktu Rusia. Akalanka Zico Bagaskara, adik Kakak yang paling tampan telah lulus dari bangku sekolah menengah. Congratulation little boy-nya Kakak," ucap Vivian dengan mengecup pipi Zico.


Zico yang tadinya mengerucutkan bibirnya untuk merajuk karena ia pikir Kakaknya itu tidak tau hari kelulusannya dan lebih tau tentang triplets kini ia tersenyum kemudian bergerak membalas pelukan dari Vivian.

__ADS_1


"Terimakasih Kakakku yang paling cantik sedunia. Jio pikir Kakak gak tau hari kelulusan Jio."


"Kakak gak tau kamu lulus? Impossible sayang. Perlu kamu tau walaupun kamu jauh dari Kakak, Kakak selalu update perkembangan kamu disana. Jadi Kakak tau semuanya tentang kamu," ujar Vivian yang semakin membuat Zico melebarkan senyumnya. Padahal saat awal-awal dirinya disana dulu, ia takut Vivian akan melupakan dirinya dan menjauh darinya karena kejadian satu tahun lalu yang mungkin membuat Vivian juga takut kepadanya. Tapi nyatanya dirinya salah besar, Kakaknya masih sama dengan yang ia kenal dulu. Kakak yang penuh dengan perhatian, kehangatan, dan kelembutan. Tak ada yang berubah dari Vivian walaupun Zico dulu memiliki dua kepribadian. Vivian tetap sayang kepada dirinya. Tanpa ada rasa benci sedikitpun. Tapi entah untuk beberapa jam kedepan. Apakah Kakaknya itu akan tetap sama atau justru sebaliknya? Entahlah Zico hanya bisa memohon agar ketakutannya tak terjadi untuk saat ini ataupun untuk kedepannya.


__ADS_2