
Saat kelima orang tadi masih memata-matai pergerakan orang-orang yang berada di ruangan yang sama dengannya, berbeda dengan Mommy Della yang berada di ruangan lainnya yang sedari tadi sudah sadar dari pingsannya. Bahkan ia saat ini tak merasa gugup sama sekali dengan apa yang tengah ia alami saat ini, mengingat dulu ia sering mengalami hal yang sama dengan keadaan saat ini.
"Apakah orang-orang di dunia ini tidak memiliki ide lain selain penculikan seperti ini? Muak juga lama-lama di culik terus kayak gini." Mommy Della terus saja menggerutu dengan menyalahkan orang-orang yang tak memiliki ide yang lebih kreatif lagi.
Gerutuan Mommy Della terhenti saat pintu di ruangan yang ia tempati itu terbuka dan menampilkan satu perempuan yang menjadi ketua dari barisan para laki-laki berbadan kekar di belakangnya.
Mommy Della memincingkan alisnya saat ia kenal dengan satu laki-laki yang ada di samping perempuan tersebut dan seketika senyum miringnya terbit di bibirnya.
"Cih penghianat dan ternyata selama ini dia mata-mata," gumam Mommy Della yang terus menatap kearah laki-laki itu sebelum satu perempuan yang sama sekali tak ia kenal itu mendekati dirinya. Dan hal tersebut membuat Mommy Della mengalihkan pandangannya.
Perempuan itu kini berdiri tepat di depan Mommy Della yang tengah diikat di kursi kayu dengan sorot mata yang tampak meremehkan.
"Hay mantan camer. Gimana keadaannya sekarang? Masih pusing karena efek obat bius dari kita atau sekarang sudah kembali sadar sepenuhnya?" tanya perempuan tersebut dengan membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Mommy Della.
Mommy Della yang di tanya seperti itu pun tak ada niatan sama sekali untuk menjawabnya dan tanpa rasa takut sedikitpun ia menatap tajam tepat di manik mata perempuan tersebut.
"Cih, anda sombong sekali. Sampai-sampai tidak mau menjawab pertanyaan dari saya tadi. Atau jangan-jangan anda ingin merasakan menjadi seseorang yang berkebutuhan khusus? Kalau anda ingin mencobanya, baiklah akan saya kabulkan sekarang," ucap perempuan tersebut. Lalu setelahnya tangannya memberikan kode kepada salah satu anak buahnya yang tadi mengikutinya agar ia segera mendekat ke arahnya.
Dan tak berselang lama salah satu anak buahnya itu mulai mendekatinya dengan membawa gunting juga pisau di tangannya. Kemudian ia segera menyerahkan kedua benda tajam itu kepada perempuan tersebut.
Setelah perempuan itu memegang keduanya, ia kembali menatap Mommy Della bahkan ia kini berjongkok di depan Mommy Della sembari tangannya mengacungkan kedua benda tersebut.
"Mau pakai yang mana? Gunting atau pisau? Kalau gunting mungkin sedikit lebih lama untuk memotong lidah anda, tapi kalau pisau hmmmm sepertinya lebih seru," ujar perempuan tersebut.
Dan saat ia sudah menentukan ingin memakai pisau, gunting tadi ia lempar ke sembarang arah dibelakang Mommy Della. Lalu setelahnya ia memainkan mata pisau itu dengan senyum devil.
"Mau menjulurkan lidah sendiri atau perlu bantuan saya?" ucap perempuan tersebut yang lagi-lagi tak mendapat respon apapun dari Mommy Della. Dan hal tersebut membuat perempuan tersebut berdecak sebal.
"Ck, lama," ujarnya dan kemudian ia berdiri kembali dari Jongkoknya, lalu kemudian tangan kirinya bergerak untuk mencengkeram rahang Mommy Della, berniat mulut Mommy Della terbuka. Tapi sayangnya apa yang ia lakukan tadi justru membuat Mommy Della semakin mengatupkan bibirnya.
__ADS_1
"Buka mulut lo, sialan!" geram perempuan tersebut yang semakin menguatkan cengkeraman di rahang Mommy Della.
"Buka!" teriaknya seperti orang kesetanan. Tapi setiap apa yang ia lakukan sama sekali tak membuahkan hasil sedikitpun hingga akhirnya kemarahan perempuan tersebut benar-benar sudah berada di puncaknya.
"Baiklah, sepertinya anda ingin bermain-main sedikit dengan saya. Oke, saya akan mengiris bibir anda terlebih dahulu sebelum saya memotong lidah anda," ujar perempuan tersebut yang sudah mengulurkan pisau yang berada di tangannya ke arah bibir Mommy Della. Dan saat dirinya ingin menggoreskan pisau tadi di bibir Mommy Della, suara seseorang yang baru datang ke ruangan itu menghentikan aksinya tersebut.
"Bos!" teriak orang tersebut yang merupakan salah satu anak buahnya. Perempuan tersebut yang merasa kegiatannya terganggu pun ia menggeram kesal. Dan dengan tatapan mata membunuhnya ia menolehkan kepalanya kearah anak buahnya yang tengah mengontrol deru nafasnya itu. Namun saat ia melihat tatapan mata tak bersahabat dari bosnya itu, ia segera menegakkan tubuhnya kembali.
"Bisakah kamu tidak mengganggu kegiatan saya dulu!" geram perempuan tersebut yang membuat anak buahnya tadi menundukkan kepalanya takut.
"Maaf bos. Bukan maksud saya untuk menganggu kegiatan Bos, tapi---" belum sempat orang tersebut menyelesaikan ucapannya, perempuan tersebut dengan sesuka hatinya memutus ucapan tersebut.
"Saya tidak butuh permintaan maaf dari kamu. Dan kamu tau sendiri konsekuensi yang akan kamu dapatkan saat menganggu saya," ucap perempuan tersebut yang kini berjalan mendekati anak buahnya itu. Orang tersebut yang tau konsekuensi yang akan ia dapatkan, ia kini tampak menelan salivanya dengan susah payah. Dan saat perempuan tersebut sudah berada di hadapannya, jantungnya semakin berdebar. Lalu ketika perempuan tersebut mulai mengangkat tangannya dengan pisau yang akan ia gunakan untuk menusuk anak buahnya sendiri, lagi-lagi aksinya harus terhenti saat ia mendengar ucapan dari anak buahnya yang hampir ia habisi itu.
"Saya tidak bermaksud menganggu bos, tapi tuan besar sudah sampai dan beliau sekarang sudah berada di ruangan biasanya," ucap orang tersebut dengan memejamkan matanya saat pisau itu hampir saja mengenai lehernya.
"Arkhhhh kenapa dia sudah datang sih! Gue belum ngelukain perempuan ini sama sekali. Sialan!" geram perempuan tersebut sembari melempar pisau tadi dengan kasar.
"Dan beliau sudah menunggu bos disana," ucap orang tersebut yang memberanikan diri untuk menyampaikan amanat dari tuan besar mereka.
Dan ucapannya tadi lagi-lagi justru mendapat tatapan tajam dari perempuan tersebut.
"Saya juga tau dia kesini buat ketemu sama saya!" ucap perempuan tersebut lalu setelah mengucapkan hal itu ia berniat untuk keluar dari ruangan tersebut. Tapi langkahnya harus terhenti saat anak buahnya yang menyebalkan itu kembali angkat suara.
"Tunggu bos." Dengan perasaan dongkol perempuan itu memutar tubuhnya untuk menatap kearah anak buahnya itu. Sedangkan anak buahnya itu kini menampilkan cengiran di bibirnya.
"Jangan main-main dengan saya!" ucap perempuan tersebut penuh dengan penekanan.
"Eh, tidak bos. Saya tidak ingin bermain-main dengan bos. Tapi ucapan saya yang sebelumnya itu belum sepenuhnya selesai," ujar orang tersebut. Dan dengan helaan nafas, orang itu melanjutkan ucapannya tadi, "Kata tuan besar, nyonya ini juga harus dibawa kesana. Beliau mau lihat katanya," ucapnya.
__ADS_1
Perempuan itu kini memutar bola matanya malas.
"Kalau kamu mau bawa dia, bawa aja sana. Banyak bicara kamu. Buang-buang waktu saja," tutur perempuan tersebut dengan galaknya. Lalu setelahnya ia melenggang pergi begitu saja diikuti para anak buahnya tadi selain satu orang yang menyebalkan tadi.
Sedangkan satu orang tadi yang di tinggal sendirian disana pun ia kini menghela nafas sebelum tatapan matanya menatap kearah Mommy Della yang juga tengah menatapnya. Dan hal tersebut lagi-lagi membuat dirinya kembali menghela nafas sebelum akhirnya ia mendekati Mommy Della.
"Kenapa dia sangat menyebalkan sekali ya nyonya? Padahal kan saya cuma menyampaikan pesan saja dari tuan besar. Eh dia malah marah-marah tak jelas seperti tadi. Mentang-mentang di bos jadi seenaknya di memarahi anak buahnya seperti tadi. Dia pikir saya tidak punya hati apa? yang jika di perlakukan seperti tadi tidak sakit hati. Huh bos sialan mati aja deh, saya ikhlas walaupun nanti saya jadi pengangguran," ucap orang tersebut terus saja mengomeli perempuan tadi sembari tangan yang bergerak untuk melepaskan ikatan di tubuh Mommy Della.
"Kamu memang benar, dia sangat menyebalkan. Kenapa juga kamu ikut bekerja dengannya? Memangnya tidak ada kerjaan lain apa?" tanya Mommy Della.
"Tuh kan nyonya saja juga merasakan hal yang sama seperti saya. Ck, saya ikut dia karena terpaksa nyonya, tuntutan ekonomi. Maklumlah saya kan sobat misquin jadinya apapun yang bayarannya besar saya akan lakukan," jawab orang tersebut.
"Tapi bukan dengan perkejaan seperti ini juga. Percuma gaji besar tapi nyawa kamu yang jadi taruhannya," ujar Mommy Della.
"Cari pekerjaan itu yang halal, gaji sekecil apapun kalau kamu bersyukur pasti akan terasa bahagia. Hidup kamu juga akan aman dan tentram karena tidak terbayang-bayang akan orang yang akan membunuhmu lagi," sambung Mommy Della.
"Ck, nyonya bawel deh seperti ibu saya. Haish jadi rindu kan saya," ujar orang tersebut yang sudah menggiring Mommy Della keluar dari ruangan tadi.
"Nah, kamu kan masih punya ibu, jadi---"
"Ibu saya sudah tidak ada nyonya. Makanya saya rindu dengan beliau," putus orang tersebut dengan ekspresi sedihnya.
"Eh maaf."
"Haishhhhh tak apa nyonya. Santai saja. Sudahlah jangan bahas itu lagi, kita langsung ke ruangan tuan saja ya. Soalnya saya takut kena semprot sama Mak lampir lagi kalau saya telat ngantar nyonya kesana," ujar orang tersebut yang tak melepaskan tangan Mommy Della dari genggaman tangannya.
Sedangkan Mommy Della yang mendengar ucapan dari orang disampingnya itu pun merasa terhibur dengan kecerewetannya itu. Bahkan didalam batinnya ia mengucapakan banyak-banyak terimakasih kepada laki-laki yang mungkin umurnya hampir sama dengan triplets, karena berkat dirinya yang tadi menyela aksi perempuan gila itu, bibir dan lidah Mommy Della tak jadi terkena sasaran dari dia.
Bahkan Mommy Della yakin jika laki-laki yang kini tengah menggandeng tangannya itu sebenarnya adalah orang baik yang di tuntut untuk menjadi jahat agar kebutuhan yang serba kekurangan itu terpenuhi dengan ia bekerja kotor seperti saat ini. Atau bisa di bilang ia sudah buntu untuk menghasilkan uang yang halal, mengingat jika saat ini mencari pekerjaan tidak semudah membalik telapak tangan dan mungkin karena pendidikannya juga yang tak memenuhi syarat untuk mencari pekerjaan.
__ADS_1
...****************...
1500 lebih kalau likenya dikit hmmmm sedih sih author pastinya... yuk ah kencengin like, vote, hadiah dan komennya. See you next eps bye 👋