
Edrea yang belum membersihkan tubuhnya dengan terpaksa ia menyelesaikan pekerjaannya yang di berikan Leon tadi kepadanya. Tapi sudah hampir satu jam lamanya, pekerjaan itu tak kunjung usai juga hingga membuat Edrea menggerutu terus menerus. Bahkan yang awalnya mereka ingin kembali ke rumah keluarga Abhivandya sepertinya mereka urungkan dan untuk malam ini mereka akan menginap di rumah pribadi Leon itu.
Sedangkan disisi lain, di tempat yang sama Leon diam-diam menyiapkan air hangat untuk Edrea dan setelah ia menyiapkan semuanya, ia segera menghampiri Edrea yang masih di dalam walk in closetnya.
"Sayang," panggil Leon.
"Apa panggil-panggil?" jawab Edrea dengan galaknya.
"Mandi dulu sana gih, udah hampir Maghrib soalnya," ucap Leon.
"Nanti," jawab Edrea dengan singkat padat dan jelas. Bahkan suaranya itu tampak ketus.
"Kalau nanti airnya keburu dingin lagi. Buruan sana mandi. Tinggalin tuh kerjaannya," tutur Leon yang membuat Edrea kini terpaksa menuruti ucapan kekasihnya tersebut. Dan tanpa berterimakasih Edrea pergi dari ruangan tersebut bahkan ia hanya melewati Leon begitu saja. Hingga hal tersebut membuat Leon menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat di rumah pribadi Leon, Edrea di buat marah dan jengkel karena mendapat hukuman, berbeda dengan Azlan yang kini dibuat kebingungan saat mencari sesuatu yang sangat penting baginya yang sekarang entah kemana barang itu berada.
"Haishhhhh kemana sih tuh benda. Giliran di butuhkan gak nongol, tapi kalau gak dibutuhkan malah nongol," sebal Azlan.
"Apa jangan-jangan benda itu sekarang sama Erland?" tanya Azlan kepada dirinya sendiri.
"Ya, mungkin memang dia yang mengambilnya," ujarnya kemudian tanpa mengulur waktu lagi, Azlan kini bergegas pergi dari kamarnya menuju ke kamar Erland.
Dan tanpa permisi terlebih dahulu, Azlan langsung masuk begitu saja kedalam kamar saudara kembarnya itu.
"Er, bangun!" ucap Azlan saat ia melihat Erland yang sekarang tengah tertidur di atas ranjangnya.
"Hmmmm," gumam Erland dengan membalikan badannya agar tak di ganggu lagi oleh Azlan.
"Er, bangun dulu bentar. Gue mau tanya ini," ujar Azlan sembari menepuk-nepuk pipi Erland.
Erland yang merasa sebal karena tidur tampannya itu terganggu pun ia kini berdecak sebal.
"Ck, apaan?" tanya Erland dengan mata yang masih tertutup.
__ADS_1
"Buka mata lo dulu!" geram Azlan.
"Ck, kalau mau tanya ya tanya aja jangan kelamaan!" tutur Erland yang membuat Azlan menghela nafas panjang.
"Lo tau gak dimana lencana yang dulu pernah gue temuin jaman dulu?" tanya Azlan.
"Lencana apaan?" tanya Erland dengan sedikit membuka matanya.
"Ck, itu lho yang gue di temuin di gedung kosong di Eropa beberapa tahun lalu. Apa lencana itu Lo bawa?"
"Oh itu. Ada di laci," jawab Erland.
"Laci mana?"
"Laci nakas situ. Cari aja sendiri bisa kan. Banyak tanya mulu dari tadi," geram Erland yang kembali menutup matanya.
Sedangkan Azlan yang mencoba untuk tetap sabar pun dengan sekuat tenaga ia menahan dirinya untuk tidak memukul Erland. Dan daripada ia melakukan hal tersebut, ia memilih untuk segera mencari barang tersebut.
Ia membuka satu-persatu laci nakas tersebut hingga ia menemukan apa yang ia cari sedari tadi. Lalu setelahnya ia segera membawanya kembali ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan Erland.
"Shitt mereka kembali lagi," umpat Azlan saat ia sudah memastikan jika kedua simbol tersebut memang lah sama, tak ada bedanya sama sekali. Dan hal tersebut langsung membuat Azlan dengan berlari kecil keluar dari kamarnya dan kembali ke kamar Erland.
Dan dengan membuka pintu dengan kasar Azlan memasuki kamar tersebut. Hingga karena ulahnya tersebut membuat Erland terperanjat kaget bahkan ia sampai membuka matanya.
"Bisa gak sih lo kalau mau masuk tuh ketuk pintu dulu. Gue tau lo Abang gue tapi tolong hargai privasi gue yang punya kamar ini. Jangan asal masuk aja kayak tadi. Kurang adab banget sih lo," omel Erland.
"Bacotan lo gak penting sama sekali. Yang penting sekarang adalah ini," ujar Azlan sembari mengangkat sapu tangan dan lencana di tangannya.
"Cuma itu aja apa pentingnya coba. Yang lebih penting tuh jantung gue yang masih disko karena ulah lo tadi. Untung aja gue gak punya riwayat jantung. Kalau punya lo udah kehilangan gue," ucap Erland.
Azlan yang tak mau terus menerus mendengar omelan dari Erland, ia sekarang melempar dua barang tersebut tepat di wajah saudara kembarnya itu.
"Samakan simbol di kedua benda itu dan lihat baik-baik," ujar Azlan sebelum ia membiarkan Erland melontarkan umpatannya.
__ADS_1
Walaupun begitu tetap saja Erland mengumpati Azlan walaupun tak begitu jelas terdengar sembari ia mengambil dua barang tersebut dan mulai melihatnya.
"Simbol ini kenapa sama?" tanya Erland dengan tampang bodohnya.
"Kalau simbol ini sama, berarti---" ucapan Erland menggantung dan ia sekarang justru membelalakkan matanya dan perlahan ia mengalihkan pandangannya kearah Azlan.
Azlan yang tau arti dari tatapan Erland pun ia menganggukkan kepalanya. Dan hal tersebut berhasil membuat Erland langsung turun dari tempat ternyamannya.
"Lo dapat sapu tangan ini darimana?" tanya Erland.
"Gue dapetin itu di rooftop sekolah. Saat kalian tadi pergi gue lihat benda itu tergeletak disana," jawab Azlan.
"Sialan. Berarti yang nyerang sekolah tadi mereka?" tanya Erland.
"Gue gak tau pastinya. Tapi setelah lihat bukti ini, bisa jadi mereka yang melakukannya," ujar Azlan yang membuat tangan Erland kini mengepalkan tangannya.
"Kurang ajar, mereka maunya apa sih sebenarnya? Sampai-sampai mereka nekat datang kesini dan buat kekacauan seperti tadi," geram Erland yang tak habis pikir dengan kelakuan para oknum yang dulu sempat mengusik kehidupan keluarganya.
"Kalau lo mau tau alasan kenapa mereka niat kesini dan bikin kekacauan, jawabnya diantara dua pilihan. Pertama mereka melakukan hal seperti tadi hanya untuk mengalihkan perhatian Leon agar mereka bisa bertemu dengan dia. Dan yang kedua mereka kesini mengincar nyawa Edrea, seperti yang mereka lakukan sebelumnya," ucap Azlan.
"Sial. Kalau begini kita mau bagaimana?" tanya Erland yang tiba-tiba otak cerdasnya itu tidak bisa ia ajak untuk memikirkan cara agar ia bisa mencegah apapun yang akan ia alami nantinya.
"Gue juga bingung. Karena kalau kita bergerak sendiri tanpa Daddy tau dan membalas serangan mereka, gue jamin kita akan kalah telak," ujar Azlan yang sekarang tengah dilanda dilema.
"Benar juga yang lo katakan. Kita tidak bisa sembarangan bergerak begitu saja tanpa meminta persetujuan dari Daddy," tutur Erland.
"Apa lebih baik kita tanya Daddy saja bagaimana baiknya untuk menangani supaya kasus yang dulu tidak kembali terulang," sambung Erland.
"Sepertinya memang kita harus mendiskusikan ini sama Daddy," ujar Azlan.
"Ya sudah kalau begitu tunggu apa lagi, kita kasih tau Daddy sekarang," tutur Erland dan tanpa menunggu persetujuan dari Azlan, ia bergegas pergi dari kamarnya disusul oleh Azlan di belakangnya.
...****************...
__ADS_1
Saya, Yeni Erlinawati dan segenap keluarga besar mengucapkan selamat hari raya idul Fitri 1443 H... Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin 🤗