
Setelah kepergian dari perempuan tadi, Azlan, Erland dan Zea bergegas menuju kearah Edrea yang lukanya sudah selesai di obati oleh Leon.
"Re," panggil Azlan yang membuat Edrea kini mengalihkan pandangannya kearah kedua abangnya itu.
"Hmmm?" jawab Edrea dengan deheman.
Azlan kini mendudukkan tubuhnya disamping Edrea dengan terus menatap wajah Edrea yang kini tengah mengerutkan keningnya.
"Lo ingat sama gue kan? Ingat sama Erland, Leon, Zea dan semua keluarga kita kan?" tanya Azlan.
"Astaga bang, gue tadi gak kebentur dan gak amnesia lagi. Luka gue cuma ini doang gak ada yang lain," ujar Edrea sembari mengacungkan tangannya yang terluka itu.
"Tapi bukannya tadi malam lo udah di kasih tau tentang masa lalu lo itu sama Leon?" tanya Azlan penasaran.
"Oh itu. Iya, gue tadi malam emang di kasih tau masa lalu gue itu sama El, tapi gue gak kenapa-napa tuh. Gue gak amnesia lagi seperti yang kalian semua ucapkan sebelumnya. Bahkan gue sempat ingat sedikit tentang masa lalu itu walaupun belum semuanya," jawab Edrea yang membuat Azlan dan Erland yang sedari tadi malam tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan keadaan Edrea pun kini mereka bisa bernafas lega setelah mengetahui jika ketakutan mereka berdua tak terjadi lagi.
Erland yang sedari tadi berdiri disamping Leon pun tangannya kini menepuk pundak laki-laki itu.
"Thanks," ucap Erland.
"Buat?" tanya Leon yang tak mengerti ucapan terimakasih dari Erland itu.
"Buat semua yang udah lo lakuin ke Edrea. Terlebih lo juga bisa dengan sabar nunggu Edrea sampai dia mau tau sendiri masa lalunya itu tanpa lo paksa sedikitpun," ujar Erland yang mendapat anggukan dari Leon.
__ADS_1
"Oh ya, Lo juga udah tau tentang Callie?" tanya Erland.
"Hmmm, tadi pagi El juga udah kasih tau semuanya tentang Callie. Karena perlu kalian tau, secara tidak langsung Callie lah yang bikin gue sama El ketemu," ujar Edrea.
"Oh ya?" Tanya Azlan yang diangguki oleh Edrea.
"Jadi gimana, apa lo masih mau angkat dia sebagai anak angkat lo sama El?" tanya Azlan dengan suara pelan agar para siswa-siswi disekolah tadi yang sebagian masih berada di loby tak mendengar perkataannya tadi.
"Ya masih lah. Walaupun gue gak tau gimana cara ngurus anak, tapi akan gue coba dulu. Toh Callie juga udah punya baby sitter jadi gue gak terlalu kerepotan lah ngurus dia nanti," ujar Edrea.
"Baguslah kalau begitu. Tapi ingat walaupun lo udah punya Callie dan kemungkinan kalian berdua juga akan sering ketemu, jangan pernah kalian khilaf sedikitpun apalagi sampai membuat Callie junior. Kalau semua itu sampai terjadi, Leon gue sunat sampai habis ikan lelenya dan lo gue buang ke ujung dunia," ancam Erland yang membuat Edrea dan Leon kini memutar bola matanya malas.
"Tenang aja, gue masih waras buat ngelakuin itu di luar ikatan pernikahan. Dan gue juga gak akan menghancurkan masa depan Edne karena keegoisan gue dan menuruti napsu sesaat itu. Kalaupun mau, lebih baik gue jajan tuh di club-club malam daripada merusak tubuh Edne," ujar Leon.
"Kalau lo berani jajan di luar, gue gak akan segan-segan buat cincang tuh burung biar hilang sekalian," ujar Edrea yang terlihat marah. Dan setelahnya ia melangkahkan kakinya menjauh dari orang-orang tadi.
"Ciaelah, calon istri cemburu. Mana kalau lagi cemburu gemesin, kan kalau gini jadi pengen nafkahin. Duh adek, mas gemes," ujar Leon sembari menyusul langkah Edrea.
Dan perkataannya tadi membuat Azlan dan Erland kini dilanda mual dan hampir memuntahkan isi perutnya.
"Cih, alay banget woy!" teriak Azlan.
"Anjir, tuh orang bucin banget. Mana manggilnya adek sama mas lagi. Kalau begitu kan semua orang jadi gak yakin kalau dia bule tulen gak ada campuran darah Indonesianya," ujar Erland yang diangguki setuju oleh Azlan.
__ADS_1
"Mana rambutnya juga udah gak ada pirang-pirangnya lagi, gak kayak waktu bocil dulu," timpal Azlan.
"Beda banget emang dia yang dulu sama yang sekarang. Tapi ya sudahlah, itu mungkin juga yang terbaik buat dirinya agar gak dikenal oleh anak buah keluarganya saat mereka mencari keberadaannya sampai negara ini," tutur Erland.
"Tapi gue takut saat Rea udah bahagia sama Leon, permasalahan yang dulu pernah terjadi akan terulang kembali," ucap Azlan diakhiri dengan helaan nafas berat dan dengan tatapan yang tampak kosong, menatap kearah Edrea dan Leon yang tengah bercengkrama.
Erland yang juga memiliki kekhawatiran yang sama seperti Azlan pun, ia kini menepuk-nepuk bahu kembarannya tersebut.
"Yakinlah semua yang terjadi di masa lalu tidak akan terulang lagi untuk sekarang. Dan yakinlah Leon yang sekarang sudah bisa melindungi Rea jika terjadi sesuatu dengan Edrea suatu hari nanti," ujar Erland mencoba untuk menenangkan Azlan.
Zea yang sedari tadi hanya menyimak percakapan keempat orang tadi pun kini ia mengelus lengan Azlan saat ia melihat wajah kekasihnya tampak sedih.
"Aku tidak tau masalah dan masa lalu yang pernah kalian dan Edrea alami. Tapi yakinlah, Edrea akan baik-baik saja. Dia perempuan cerdas yang mampu menggerahkan semua idenya saat ada seseorang yang berniat mencelakai dirinya. Toh dia juga sepertinya terlihat jago bela diri, jadi dia bisa melindungi dirinya dari ancaman dengan ilmu bela dirinya itu. Terlebih ada kalian berdua, ada Daddy, ada Mommy dan ada laki-laki yang sepertinya kekasih Edrea itu yang siap menjaga Edrea 24 jam lamanya," tutur Zea yang turut membantu Erland untuk menenangkan Azlan yang emosinya masih naik turun.
"Dan daripada kita mikirin yang belum tentu tejadi, mending kita sekarang cari tau siapa yang nyuruh perempuan tadi untuk melakukan semua ini. Karena setelah aku dengar perkataan dari Odi tadi, sepertinya perempuan itu juga disuruh oleh seseorang untuk melakukannya. Dan kemungkinan Odi tau dalang dari permasalahan ini," sambung Zea.
"Benar, apa yang kamu katakan. Mending kita pecahkan permasalahan hari ini daripada memikirkan yang belum tentu terjadi," ujar Azlan dan kini ia berdiri dari duduknya, lalu ia memutar badan untuk melihat keberadaan teman-temannya tersebut.
"Lho kok mereka gak ada. Kemana perginya mereka semua?" ucap Azlan yang heran dengan kepergian para teman-temannya itu. Biasanya saja saat Azlan dan Erland belum pergi, mereka juga tidak akan pergi walaupun sudah diusir sekalipun.
"Mungkin mereka lagi nongkrong di rooftop," ujar Zea.
"Sepertinya juga begitu. Ya sudah lah, kita kesana sekarang," tutur Erland dan tanpa menunggu persetuju dari kedua orang itu, ia lebih dulu melangkahkan kakinya menuju kearah rooftop disekolah tersebut.
__ADS_1