The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 330


__ADS_3

Erland yang melihat tatapan Puri terus menuju kearah Edrea pun ia kini mendekati Edrea.


"Re, kasih tuh anaknya ke dia. Emaknya udah lihatin dari tadi noh," ucap Erland yang membuat Edrea kini mengalihkan pandangannya kearah Puri yang justru kini mendudukkan kepala.


"Udah sana, kasih bayinya dari pada nanti dia ngamuk dan ngelukain lo lagi kayak dulu kan gak lucu nanti," ujar Erland dengan mendorong pelan tubuh adiknya itu.


Edrea berdecak sebal kearah Erland tapi setelahnya ia melangkahkan kakinya mendekati Puri yang masih menundukkan kepalanya.


"Ehemmm. Mau nyusuin dia?" tanya Edrea sekedar basa-basi saja. Dan pertanyaan dari Edrea itu membuat Puri kini menengadahkan kepalanya.


"Nih. Dia kelihatannya juga lagi haus," ucap Edrea dengan perlahan memindahkan bayi itu ke gendongan Puri.


Dan setelah menyerahkan bayi tersebut, Edrea langsung memutar tubuhnya dan menghadap orang-orang yang ada di sana terutama kearah para laki-laki.


"Yang merasa laki-laki balik badan dong. Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan," ujar Edrea. Para laki-laki yang paham kenapa Edrea menyuruh mereka untuk balik badan pun mereka segera membalikkan badan mereka tak terkecuali dengan Daddy Aiden juga dua polisi yang sedari tadi berdiri tegap di ruangan tersebut juga mengikuti perintah dari Edrea tadi.


Dan setelah memastikan jika para laki-laki itu membalikkan badan mereka, Edrea kembali menatap kearah Puri.


"Sudah aman," ujar Edrea.


"Terimakasih," ucap Puri yang diangguki oleh Edrea. Lalu setelah itu Puri mulai menyusui bayi tersebut dengan tubuh Mommy Della, Edrea, dan Zea yang melingkari dirinya untuk menutup tubuh Puri agar semakin tak bisa di lihat oleh kaum Adam di ruangan tersebut.


...****************...


Beberapa jam kini telah berlalu, Puri yang tadinya menyusui dan memompa ASI-nya pun telah selesai dan perempuan itu kini tengah memandangi bayi perempuannya itu sebelum dirinya harus berpisah dengannya karena saat itu juga dia harus kembali ke penjara sedangkan bayinya terpaksa harus ia serahkan ke keluarga Abhivandya.


Hingga tatapan matanya beralih saat suara salah satu polisi terdengar di telinganya.


"Waktumu tinggal 10 menit lagi," ucap polisi tersebut yang diangguki oleh Puri. Lalu setelah itu ia menatap kearah keluarga Abhivandya yang tengah duduk di sofa di ruangan tersebut, lebih tepatnya ia menatap kearah Edrea.


Dan dengan ragu ia memanggil Edrea, "Rea."

__ADS_1


Edrea yang merasa dirinya dipanggil pun ia mengalihkan pandangannya dari ponsel kearah Puri. Dan tanpa di minta, Edrea melangkahkan kakinya mendekati Puri.


"Kenapa?" tanya Edrea saat dirinya sudah berdiri di depan Puri.


"Titip dia ya. Dan maaf karena aku dulu pernah melukaimu. Maaf atas semua kesalahan yang aku buat dulu. Memang perkataan maaf ini sama sekali tidak bisa menebus semua kesalahanku ke kamu. Tapi aku mohon maafkan aku," ucap Puri dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar menyesali apa yang dulu pernah ia perbuat.


Edrea yang melihat tatapan Puri tampak tulus mengatakan hal tersebut ia pun tersenyum dan bergarak untuk memeluk tubuh Puri.


"Udah gak papa, itu juga udah masa lalu kita berdua. Tapi gue pesan sama lo, berubahlah jadi orang yang lebih baik dari diri lo yang dulu, bukan demi gue tapi demi putri lo. Gue juga udah maafin lo, jadi lo tenang aja gue gak akan balas dendam ke lo kok," ucap Edrea dengan cengiran di bibirnya sembari ia melepaskan pelukannya tadi.


Puri yang mendengar permintaan dari Edrea itu pun ia menganggukkan kepalanya dengan tangan yang bergerak untuk menghapus air matanya yang telah menetes.


"Terimakasih," ucapnya.


"Iya. Udah ih jangan nangis lagi. Nanti baby-nya ikut nangis lho lihat Mamanya sedih gini. Oh ya btw kalau boleh tau, lo mau namain dia siapa?" Puri menundukkan kepalanya, menatap wajah bayi perempuan itu.


Dan dengan usapan lembut di pipi bayi itu, Puri menjawab, "Alana Gantari."


Tapi senyuman itu hilang saat dua orang polisi kembali mendekati dirinya.


"Waktu sudah habis," ucap salah satu polisi yang membawa kursi roda.


Puri kini menghela nafas berat sebelum dirinya mengangguk kemudian menatap wajah Edrea kembali.


"Tolong jaga dia. Aku tau kalau tes DNA-nya sudah keluar, dia sudah beralih tangan ke ayah biologisnya. Tapi aku mohon sebelum tes DNA-nya keluar jaga dia seperti anggota keluargamu sendiri Re. Aku mohon," ucap Puri penuh permohonan.


"Lo tenang saja, gue bakal jagain dia," ujar Edrea dengan senyumannya.


Beberapa saat setelahnya Puri menyerahkan sepenuhnya Alana ke Edrea.


"Titip dia, Re. Maaf sudah merepotkanmu. Dan jika nanti tes DNA-nya sudah keluar, aku minta ke kamu untuk kasih tau aku siapa ayah kandung dia." Edrea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari permintaan dari Puri tadi.

__ADS_1


Setelah melihat persetujuan dari Edrea tadi, Puri mengecup pipi gembul Alana cukup lama sebelum dirinya mendudukkan tubuhnya di kursi roda yang telah di bawa salah satu polisi tadi.


Dan saat kursi roda itu mulai berjalan, Puri menolehkan kepalanya kearah bayi yang berada di gendongan Edrea.


"Jadi anak yang berbakti dengan orangtua dan orang-orang terdekatmu ya nak. Maafin Mama yang tidak bisa menemanimu untuk tumbuh dan berkembang. Dan jika suatu saat nanti kita bertemu, Mama harap kamu mengenali Mama. Walaupun itu tidak mungkin. Dan perlu kamu tau sayang, Mama sangat menyayangimu lebih dari diri Mama sendiri. Maaf atas kesalahan yang Mama dulu lakukan ke kamu, sayang. Maaf dan selamat bertemu beberapa tahun lagi sayang. Mama akan selalu merindukanmu," batin Puri dengan mata yang terus menatap kearah Alana hingga ia sudah benar-benar keluar dari kamar inap tersebut dan matanya sudah tak bisa melihat putrinya kembali.


Dan hal tersebut membuat dirinya kini menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air matanya yang sudah membasahi pipinya.


"Tuhan, jangan hukum dia atas kesalahan yang dulu pernah hamba lakukan ke semua orang di dunia ini, cukup hukum hamba saja Tuhan. Apapun hukumannya akan hamba terima, asal dia jangan merasakan hukuman apapun dari engkau. Biarkan dia bahagia. Jangan berikan dia kesusahan dalam hidupnya. Berikan dia kebahagiaan di hidupnya. Lindungi dia, Tuhan dimanapun dia berada. Hamba tau hamba penuh dosa dan tidak pantas meminta segalanya dari engkau. Tapi kali ini hampa mohon kabulkan permohonan hamba ini Tuhan, karena engkaulah maha pemurah lagi maha penyayang," batin Puri penuh permohonan.


Disisi lain tepatnya di kamar inap tadi, Edrea menatap wajah Alana dengan senyum yang mengembang.


"Jadilah anak baik, anak Sholehah dan berbakti dengan orangtua," gumam Edrea dengan mengecup gemas pipi gembul Alana hingga membuat bayi itu terusik dari tidurnya.


Dan saat dirinya mulai menimang-nimang bayi itu, Edrea merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Bayinya lucu ya," ucap Leon yang sekarang sudah berada di samping Edrea.


"Iya. Lucu banget," timpal Edrea.


"Lebih lucu lagi kalau itu benaran anak kita berdua yang lahir dari rahim kamu," ucap Leon yang justru membuat Edrea memutar bola matanya malas. Jika sudah mengkode seperti ini pasti ujung-ujungnya laki-laki itu nanti akan merengek kepadanya entah ngajak nikah atau membuat baby segara. Dan sebelum hal itu terjadi, Edrea kini mengalihkan pandangannya kearah Mommy Della dan Daddy Aiden yang masih saja bersantai di sofa kamar tersebut jangan ketinggalan dengan adegan romantis yang mereka perlihatkan.


"Mom, Dad. Mau pulang tidak?" tanya Edrea yang berhasil membuat dua orang itu mengalihkan pandangan kearah Edrea.


Daddy Aiden berdecak karena ia merasa terganggu, sedangkan Mommy Della, ia memilih untuk beranjak dari tempat tersebut.


"Pulang dong. Oh ya baby-nya biar Mommy aja yang gendong. Kalau kamu yang gendong sampai parkiran, Mommy takut tulang-tulang di tubuh bayi ini remuk semua secara kamu kan banyak tingkah." Edrea mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan dari Mommy Della tadi. Tapi tak urung ia kini menyerahkan Alana ke gendongan Mommy Della.


"Ck, Rea tuh gak banyak tingkah tau Mom," ucap Edrea menyangkal perkataan Mommy Della tadi.


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya lho, Rea tuh cuma kebanyakan tenaga aja jadinya ya kayak reog, gak bisa diem. Hehehe," ujar Edrea dengan cengiran di bibirnya. Dan hal tersebut membuat Mommy Della menggelengkan kepalanya. Lalu tanpa menimpali ucapan dari Edrea tadi, Mommy Della langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Edrea yang tengah mencebikkan bibirnya sembari menghentakkan kakinya sebal, sebelum dirinya ikut melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut diikuti dengan anggota keluarga Abhivandya lainnya yang tengah menggelengkan kepalanya melihat tingkah Edrea tadi.


__ADS_2