The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 77


__ADS_3

Kini Edrea berada di jalan menuju rumahnya setelah mencari ketenangan di cafe tadi. Awalnya perjalanannya nampak biasa-biasa saja, sangat tenang dan tak ada kendala apapun sampai di salah satu jalanan yang cukup sepi, tiba-tiba saja ada satu mobil yang mendekati mobilnya bahkan jarak kedua mobil tersebut sangat mepet sekali.


"Hish ini orang kenapa sih mepet-mepet kayak gini. Padahal jalanan banyak yang kosong, buta apa gimana sih matanya," gumam Edrea kesal.


Ia kini menambah kecepatan mobilnya dan mobil yang tadinya berada disamping tetap mengikuti dirinya. Hingga saat dijalanan yang sangat sepi mobil lawan Edrea tadi menurunkan sedikit kaca mobil itu dan hanya memperlihatkan sebuah pistol yang menghadap kearah Edrea.


Edrea yang melihat pistol tadi membelalakkan matanya. Dan ketika pelatuk pistol tersebut telah ditekan pelaku yang tak diketahui oleh Edrea, dengan cekatan Edrea menancapkan gas mobil tersebut yang mengakibatkan peluru yang sudah keluar dari tempatnya tak mengenai Edrea dan meleset jauh dari sasaran.


"Sial," umpat Edrea saat mobil tadi masih mengikuti dirinya bahkan terdengar beberapa kali tembakan yang mengarah ke mobilnya.


Tapi sayang satu peluru pun tak bisa mengenai mobil Edrea karena ia selalu saja menghindari.


Edrea terus saja melajukan mobilnya dan berharap ia lebih cepat sampai di rumahnya kalau tidak ya setidaknya ia menemukan kantor polisi agar ia bisa berhenti sebentar disana untuk melindungi dirinya. Dan ia juga berharap agar mobil yang ia kendarai saat ini bahan bakarnya tak habis ditengah jalan.


Bohong jika dirinya tak merasakan takut dan perasaan yang lainnya. Tapi mau bagaimana lagi, ia hanya bisa berdoa dan berusaha untuk menghindari setiap serangan orang yang tak ia kenal itu. Kalau ia ingin menghubungi keluarganya disaat yang begitu menegangkan ini, takutnya dirinya lengah dan akan berakhir tragis nantinya.


Mobil lawan kini berhasil mensejajarkan mobil Edrea dan ketika pelaku ingin menarik pelatuk pistol tadi, Edrea dengan memberanikan diri menyenggol mobil lawannya dengan cukup keras. Dan hal itu membuat mobil lawan oleng dan peluru di tangan pelaku tadi berhasil jatuh ke jalanan.


Dan tak berselang lama sopir mobil tadi membalas perlakuan Edrea hingga kedua mobil kini tengah beradu sengit.


"Sial, ayo lah. Jangan kalah," geram Edrea saat mobilnya tak cukup kuat dari mobil lawannya.


"Arkh," erangnya saat mobilnya kini sudah sangat mepet dengan pembatas jalan yang dibawahnya sudah terdapat jurang yang cukup dalam.

__ADS_1


"Ayolah, come on," ucap Edrea menyemangati dirinya sendiri. Walaupun ia tak yakin jika dirinya hari ini akan selamat dari maut tapi setidaknya berusaha terlebih dahulu, masalah hasil ia akan serahkan ke yang berhak atas hidupnya.


Tapi usahanya sepertinya gagal karena tak ada pergerakan sama sekali bahkan mobilnya kini sudah berada di bibir jurang disisi jalan tersebut. Ia kini sudah pasrah dengan apa yang akan menimpanya nanti.


"Ya Allah jika memang hari ini adalah hari dimana Edrea sudah harus menemuimu. Edrea mohon kuatkan orang-orang yang menyayangi Edrea. Edrea mohon jaga orangtua Edrea. Edrea ikhlas jika ini sudah menjadi takdir Edrea," batin Edrea.


"Mom, Dad maaf belum bisa bikin kalian bahagia. Bang Az, bang Er maafin Edrea yang suka bikin masalah sama kalian. Jaga diri kalian baik-baik. Edrea sangat sayang kalian," gumam Edrea.


Dan saat dirinya sudah benar-benar pasrah, tiba-tiba terdengar suara tembakan yang cukup keras dan mengenai mobil disamping Edrea. Dan mungkin tembak itu pula telah mengenai sopir mobil tersebut pasalnya, setelah terdengar tembakan tadi, mobil lawan malah semakin melajukan mobilnya dan hilang kendali yang berakhir masuk kedalam jurang tadi.


Edrea yang masih syok dengan kejadian yang ia lihat di depan mata juga yang menimpa dirinya tadi kini menghentikan mobilnya dan mengatur nafasnya yang tengah memburu.


Ucapan syukur juga terus ia lafal kan atas keselamatannya tadi. Saat mengatur nafasnya juga menangkan ketakutannya, suara notifikasi ponselnya mengalihkan perhatiannya. Dengan tangan bergetar, Edrea mengambil ponselnya yang berada di tas kecil yang ia bawa tadi. Kemudian ia segera membaca pesan masuk tersebut.


"Segeralah pulang. Semua sudah aman. Jangan takut lagi, gue ada bersama lo*."


Edrea menghela nafas kemudian ia menurunkan kaca mobilnya dan menoleh ke kanan, kiri, depan dan belakang. Tapi ia tak bisa menemukan orang misterius itu ditambah penerangan yang cukup minim disekitarnya.


"Siapapun Lo, gue ucapin terimakasih!" teriak Edrea berharap teriakannya tadi bisa orang misterius itu dengarkan.


Setelah berteriak, Edrea perlahan menjalankan mobilnya dengan perasaan yang sudah cukup tenang.


Sedangkan disisi lain, ada seseorang yang tersenyum mendengar ucapan Edrea tadi.

__ADS_1


"Gue gak akan biarin lo celaka. Sebisa mungkin gue akan jagain lo sekalipun nyawa gue yang jadi taruhannya," gumam orang misterius tadi sembari menatap mobil Edrea yang semakin lama menghilang dari hadapan. Setelah dirasa mobil Edrea semakin menjauh ditandai dengan sorot lampu mobil Edrea yang sudah tak bisa ia lihat lagi, baru orang misterius tadi mengikuti Edrea dari belakang dengan jarak yang begitu jauh.


Tak berselang lama akhirnya Edrea sampai di kediaman keluarga Abhivandya yang tampaknya sudah kembali ada penghuninya. Terlihat dari mobil orangtuanya, mobil Azlan juga motor Erland yang sudah terparkir rapi di garasi rumah tersebut.


Edrea kini menatap nanar ke body mobil yang ia gunakan tadi.


"Mati gue. Bang Er pasti marah kalau lihat ini," gumam Edrea gelisah. Ya bagaimana tak gelisah ketika melihat kondisi mobil Erland yang cukup mengenaskan itu. Apalagi jika dipikir-pikir biaya yang akan dikeluarkan nanti untuk memperbaiki goresan di mobil tersebut sangat fantastis, bisa buat beli mobil baru yang setara dengan mobil yang ia pakai sehari-hari.


"Haish sudahlah pikir nanti aja," tutur Edrea lalu ia beranjak masuk kedalam rumahnya.


"Assalamualaikum, anak gadis yang paling cantik pulang dengan keadaan sehat sentosa," teriak Edrea seperti biasa. Seolah-olah ia tadi tak melewati satu kejadian yang sangat menegangkan.


"Berisik Rea," ucap Erland yang baru keluar dari dapur.


Edrea kini mendekati Erland dan tanpa permisi ia merebut botol minuman yang berada ditangan Erland kemudian menengguknya hingga kandas.


"Ck, Lo tuh bisa gak sih ambil minuman sendiri. Di kulkas masih banyak tuh. Jangan asal nyomot punya orang lain, kebiasaan," ucap Erland sebal.


"Bawel banget sih bang. Abang juga tinggal ambil lagi apa susahnya coba. Dan ketika ada yang mengucapkan salam, Abang gak jawab. Abang akan mendapatkan dosa lho," tutur Edrea yang membuat Erland berdecak semakin sebal dan kesal.


"Waalaikumsalam," jawab Erland.


Edrea tersenyum kemudian ia menyerahkan kembali botol minum yang sudah tak ada isi itu juga kunci mobil ketangan Erland, lalu ia mencium pipi Abang keduanya sebelum berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


"Astagfirullah, dosa apa gue punya kembaran yang bentukannya begitu. Bisa di tukar gak sih, sama apa gitu kek. Capek gue punya adek laknatnya tingkat dewa," gerutu Erland sembari beranjak menuju dapur kembali untuk mengambil minuman yang sama seperti yang Edrea tadi minum.


__ADS_2