
Edrea yang melihat Leon tengah dilanda kegelisahan atas pilihan yang diberikan oleh Daddy Aiden tadi pun ia kini mengelus lengan Leon hingga membuat kekasihnya itu menolehkan kepalanya kearah Edrea.
"Mantapkan hati kamu. Aku tidak akan pernah mengekang kamu untuk membela keluargamu sendiri. Aku hanya berpesan jika menang kita ditakdirkan untuk tidak bersama dan berakhir kita akan saling membunuh nantinya, siapapun yang hidup entah itu aku ataupun kamu, tolong jaga Callie baik-baik dan jika salah satu diantara kita sudah memiliki pasangan nanti jangan pernah lupakan kenangan yang sudah kita buat ini. Dan jika Callie bertanya kepadaku ataupun kepadamu tentang keberadaan salah satu dari kita, jawab saja jika kita tengah bekerja ke luar negeri, tapi katakan kepadanya juga jika kita tetap sayang kepadanya tanpa berkurang sedikitpun," ucap Edrea sembari melirik kearah Callie sampai ia tak menyadari jika tatapan Leon terus mengarah ke dirinya. Hingga beberapa saat setelahnya Leon membawa tubuh Edrea kedalam pelukannya.
Azlan yang melihat hal tersebut tampak ingin memisahkan pelukan mereka, tapi Daddy Aiden lebih dulu mencegah hal tersebut terjadi.
"Biarkan mereka menyelesaikan urusannya sendiri. Jangan ikut campur dan kembali fokus untuk cari Mommy," ujar Daddy Aiden yang membuat Azlan menghela nafas panjang.
Sedangkan Edrea yang sedari tadi berada di dalam pelukan Leon pun tangannya terus mengelus punggung laki-laki tersebut hingga terlihat Leon sudah mulai tentang dengan kegundahan hatinya tadi. Bahkan sepertinya dia sekarang juga sudah menentukan pilihannya.
"Thanks," ucap Leon kepada Edrea saat pelukan keduanya terlepas dan ucapannya tadi dibalas anggukan dan senyuman dari Edrea.
Dan setelahnya Leon memutar tubuhnya kearah tiga laki-laki yang tengah sibuk dengan laptop dihadapan mereka masing-masing.
"Dad," panggil Leon yang berhasil membuat ketiga orang tersebut menatapnya.
"Ada apa? Kamu sudah menentukan pilihanmu?" tanya Daddy Aiden yang diangguki oleh Leon.
"Jadi?" sambungnya.
Leon kini menghela nafas dengan tangan yang bergerak untuk menggenggam tangan Edrea dengan sangat erat.
"Leon memilih untuk bersama keluarga ini," ujar Leon yang membuat Edrea menatapnya dengan kerutan di keningnya.
__ADS_1
"Alasannya?" tanya Daddy Aiden yang sepertinya mewakili ketiga anaknya yang juga tengah kepo kenapa Leon memilih keluarga Abhivandya daripada keluarganya sendiri.
"Jika Leon ditanya alasannya, Leon akan menjawab jika Leon sudah bukan bagian dari keluarga itu lagi," ucap Leon yang membuat Daddy Aiden menghela nafas.
"Tapi perlu kamu ingat, walaupun kamu tidak menganggap mereka sebagai keluarga. Darah mereka mengalir di tubuh kamu. Dan darah lebih kental daripada air. Jadi sebenci-bencinya kamu dengan mereka, mereka tetap keluarga kamu. Tapi jika kamu memilih untuk tetap di keluarga ini, Dad hormati pilihan kamu. Dan Dad harap kamu tidak menjadi penghianat di keluarga ini, karena penghianat lebih menakutkan daripada lawan di depan mata," ujar Daddy Aiden.
"Leon masih punya akal sehat untuk melakukan hal licik seperti itu Dad," tutur Leon yang diangguki oleh Daddy Aiden sebelum laki-laki paruh baya itu kembali ke aktivitas sebelumnya.
Sedangkan Edrea yang sekarang tengah bertatap mata dengan Leon pun ia melempar senyum kepada kekasihnya tersebut dengan membalas genggaman tangan Leon.
Tapi saat Edrea mengalihkan pandangannya ke seluruh rumah tersebut, dahinya di buat mengkerut saat ia baru menyadari keberadaan seseorang yang sedari tadi tak disekelilingnya.
"Apakah selain Mommy dan para pekerja, pacar bang Azlan juga ikut di culik sama keluarga El?" tanya Edrea yang berhasil membuat Azlan melebarkan matanya.
Dan setelah mengatakan hal tersebut, Azlan langsung beranjak dari duduknya. Namun disaat dirinya ingin pergi, suara Erland menghentikan langkahnya.
"Lo mau kemana?" tanya Erland.
"Cari Zea lah."
"Mau cari dimana? Dirumah ini? Jangan bodoh, kita tadi sudah melihat seluruh ruangan di dua rumah ini tapi hasilnya kita tidak menemukan satu manusia pun di kedua rumah ini. Kalau lo mau cari dia di luar rumah, mau cari dimana? Orang dia aja sekarang lagi disembunyikan sama seseorang yang tempat persembunyiannya itu tengah kita cari sekarang," ucap Erland.
"Jadi daripada buang-buang waktu, mending kita terus melacak keberadaan mereka. Siapa tau salah satu alat pelacak yang Daddy berikan kepada pekerja disini tidak dihancurkan semua oleh mereka karena gue yakin alat pelacak yang berada di kalung dan anting Mommy sudah hancur ditangan mereka. Oh ya, lo kasih benda seperti itu ke Zea tidak?" tanya Erland.
__ADS_1
Azlan tampak berpikir sesaat sebelum dirinya menjawab pertanyaan dari Erland tadi.
"Gue pernah ngasih benda begituan tapi alat itu akan memberikan sinyal jika Zea menekan tombol kecil di balik gelangnya. Kalau dia tidak menekan tombol itu gue gak bisa tau dia ada dimana sekarang," ujar Azlan yang membuat tangan Erland dengan reflek menoyor kepala Azlan.
"Sialan," umpat Azlan yang tak terima jika di diperlakukan seperti itu oleh Erland.
"Hehehe maaf tangan gue akhir-akhir ini suka refleks solnya. Lagian lo juga sih, kenapa kasih yang gak otomatis malah pakai cara di tekan segala," ucap Erland.
"Ck, gue kan juga gak tau kalau bakal ada kejadian seperti ini. Kalau gue tau, gue juga akan kasih dia seperti yang kita punya sekarang," tutur Azlan.
"Iya juga sih. Ya sudah lah, mau gimana lagi semuanya juga sudah terlanjur dan kejadian ini juga tidak ada yang menduganya. Dan kita cuma bisa berusaha untuk menemukan mereka di imbangi dengan doa semoga mereka tidak ada yang kenapa-kenapa," ujar Erland yang diangguki semua orang disana kecuali Leon yang pikirannya kini sedang terpecah belah. Bukan memikirkan tentang keputusannya tadi, melainkan ia tengah memikirkan cara agar dirinya dan mereka semua menemukan seluruh anggota keluarga Abhivandya secepatnya sebelum anggota keluarganya melakukan hal yang tak seharusnya orang-orang itu terima.
"Dad," panggil Leon.
"Sepertinya Leon tau caranya agar mereka bisa keluar dari persembunyiannya," ucap Leon yang membuat dahi Daddy Aiden berkerut.
"Jika memang benar dalang dari kejadian ini adalah mantan keluarga Leon, maka cara satu-satunya adalah mengorbankan diri Leon sendiri," ucap Leon.
"Mengorbankan? Maksud kamu apa? Jangan berpikir hal gila ya Leon. Dad, tidak mau jika sampai ide kamu ini menyangkut nyawa kamu sendiri. Karena saat kamu nanti mati, Dad yakin Rea akan menangis 7 tahun lebih 7 bulan gak akan ada berhentinya," ujar Daddy Aiden.
"Tenang saja Dad, ide Leon ini tidak akan membahayakan nyawa Leon, ya walaupun Leon tidak bisa menjaminnya sih. Tapi Leon yakin ide Leon ini aman," tutur Leon.
"Baiklah kalau kamu menganggap ide kamu itu aman maka katakan, apa ide itu?" tanya Daddy Aiden yang membuat Leon kini duduk di salah satu sofa yang kosong di ruangan tersebut dan kemudian ia memulai membahas ide yang ada di pikirannya tersebut.
__ADS_1